Kantuk masih belum datang. Hanin bahkan di luar, duduk di kursi teras balkon. Tubuhnya dibalut baju hangat berlapis jaket tebal, pakai sarung tangan dan kaus kaki juga, terus ada selimut yang melilit. Semakin malam makin dingin saja, tetapi Hanin ingin di sana. Sekali pun air teh panas dalam cangkirnya mulai mendingin oleh suhu udara. Aneh. Hanin betah. Dia pejamkan mata. Namun, terdengar suara pintu dibuka. Saat Hanin menoleh, Januarlah yang dirinya temukan. "Dingin. Ayo masuk." "Mas." Tatapan Hanin sayu. Januar mendekat. "Bicara di dalam." "Mas kalau pada akhirnya cuma mau bikin aku berharap, tapi ternyata Mas sendiri PHP ... sebaiknya kembali ke setelan awal kita nikah aja." Januar terdiam. Sorot matanya lurus di Hanin yang meneruskan bilang, "Meski aku tahu ... kehilanganku

