Pintu kamar rawat terbuka pelan. Hanin yang sedang menyelimuti Nael menoleh.
Januar berjalan masuk. Kemeja kerjanya masih melekat rapi, hanya dasinya sudah tidak lagi melingkar di leher. Dan entah ada di mana dasi itu. Tadi pagi Hanin yang memasangnya.
"Bagaimana kondisinya?" Tatapan Januar berpindah ke Nael.
Sorot mata Hanin terhunus dingin. "Nggak sampai bikin papanya khawatir."
Januar menatap mata itu, datar. "Syukur kalau memang nggak parah."
Rahang Hanin mengeras.
Januar menarik kursi, lalu duduk.
Sesaat Hanin membuang ego yang sebetulnya tak tahan untuk dia bendung lagi, terlebih Januar malah mengeluarkan ponsel dari saku.
"Nael nanyain Mas terus."
"Hm," timpal Januar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Hati Hanin seketika mencelus. Posisinya ada di seberang ranjang membuat dia tidak bisa melihat apa yang sedang Januar lakukan di ponsel hingga datang-datang langsung menaruh perhatian ke sana alih-alih pada anak yang sakit.
Dan Hanin memilih tidak mengacuhkan suaminya. Dia duduk di sofa, lalu memejamkan mata. Rasanya Hanin tidak ada energi untuk terus merasa kecewa pada setiap tingkah laku Januar.
Atau lebih tepatnya, untuk malam ini saja ... Hanin menekan luapan emosinya.
Ponsel itu pun Januar letakkan di nakas.
Hanin yang tak benar-benar tidur mengintip dari balik kelopak mata. Januar masih duduk di tempat semula dan tatapan lelaki itu tidak lepas dari Nael.
Namun, lama Hanin perhatikan, Januar bahkan tidak mendekat atau mencoba menyentuh sebentar saja dahi putranya sekadar ingin merasakan suhu tubuh anak itu.
Hingga tiba-tiba Nael meringis lirih dalam tidurnya. Refleks Hanin bangkit menghampiri dengan gerakan secepat kilat, dia mengusap pelan rambut sang anak. "Mama di sini, Sayang ...."
Beberapa detik kemudian wajah Nael kembali tenang.
Sementara itu, Januar hanya melihat. Padahal tempatnya jauh lebih dekat dengan Nael. Lagi-lagi dadaa Hanin terasa sesak.
Lama terdiam, Januar bicara, "Kenapa bisa sakit?"
Hanin mendengkus. Menjawab tanpa menatap papa Nael. "Infeksi."
"Infeksi apa?"
"Masih nunggu hasil pemeriksaan lanjutan."
Bertepatan dengan itu, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk dan berkata, "Permisi, Bu, Pak. Cek infus dulu, ya. Sekalian ukur suhu dedeknya."
"Oh, iya. Silakan, Sus," timpal Hanin, nyaris seperti bisikan. Dia mundur, memberi ruang untuk perawat menuju tiang infus.
"Tiga puluh delapan koma enam, Bu. Sudah mulai turun."
Hanin mengembuskan napas lega. Syukurlah ....
"Kalau nanti demamnya naik lagi, pencet bel saja, ya, Bu."
"Iya, Sus. Terima kasih."
Perawat pamit keluar. Ruangan kembali sunyi.
Januar akhirnya berdiri. Dia mendekati ranjang, lalu menyentuh pelan ujung selimut Nael, membenarkannya sedikit. "Cepat sembuh."
Hanin memperhatikan tanpa berkomentar.
"Kamu tidur saja." Januar melirik istrinya. "Nael biar Mas yang jaga."
"Nggak." Hanin lekas berpindah ke sisi sang suami, meraih kursinya. "Mas aja yang tidur. Kayaknya capek habis meeting sampai malam."
Januar menatap Hanin.
Tidakkah nada suaranya terdengar penuh penekanan?
Hanin menarik kursi itu perlahan, kemudian duduk di sana.
"Cuma minta tolong kalau Nael bangun nanti, Mas jangan ke mana-mana dulu," pesan Hanin. "Soalnya dia nyebut papa-papa terus selama aku bawa ke sini."
Sudah.
Itu saja.
Hanin menatap Januar. "Bisa, kan, Mas?"
***
Keesokan hari, Nael terlihat semakin membaik. Dia ceria lagi, malah seperti tidak sedang demam.
"Pa, Papa! Nael dipuji bu guru waktu di sekolah kemarin. Katanya tulisan Nael bagus!"
Hanin tersenyum.
"Nael juga udah makin lancar sebut huruf R. Nih, Pa. ERRR!"
Januar menyodorkan suapan terakhir untuk anak itu. "A dulu. Sesuap lagi. Habis itu minum obat dan cepat sembuh."
Senyum Hanin memudar. Kecewa lagi oleh respons Januar.
Nael baru saja bercerita dengan mata berbinar, tetapi yang didapatnya hanya suapan terakhir. Sedikit memuji saja tidak. Namun demikian, Nael tampak masih semringah.
"Minumnya," sambung Januar. Menyodorkan gelas air ke mulut si kecil.
Nael patuh. Dia bahkan minum lebih banyak. Makan juga habis.
"Kalau seperti ini, Nael bisa cepat pulang."
"Iya, Papa. Nael nggak suka di sini, tangan Nael ditusuk jarum. Lihat!"
Dia tunjukkan punggung tangan kecilnya yang berbalut perban khas infusan anak-anak itu kepada sang papa. Mengadu.
Tatapan Januar berpindah ke sana sebentar, lalu menatap wajah Nael lagi. Januar usap-usap pelan kepala anaknya.
"Papa. Nanti Nael kalau udah sembuh, berangkat sekolahnya diantar Papa, ya?"
"Boleh."
"Janji?" Nael julurkan jari kelingking.
Januar menautkan kelingkingnya sembari berkata, "Janji."
Nael tersenyum cerah.
Hanin menggigit bibir bagian dalam. Semoga kali ini janji suaminya bisa dipegang.
"Sebentar. Papa angkat telepon dulu."
Hanin langsung menyergah, "Mas—"
Tapi apa?
Januar tetap melenggang.
Sementara, Nael mengangguk patuh.
"Papa pasti ditelepon orang kantor, ya, Ma?"
Hanin menoleh.
"Papa jadi nggak kerja gara-gara nemenin Nael."
"Nggak apa-apa." Hanin mengusap lembut rambut putranya. "Sekarang yang penting Nael cepat sembuh. Oh, ya, Mama mau buang sampah dulu ke depan."
"Nael mau boboan. Udah boleh, belum, Ma?"
"Tadi baru selesai makan, kan? Duduk nyender dulu aja, Sayang." Hanin aturkan ranjangnya, juga bantal Nael.
Lepas itu ....
"Mama ke depan dulu, ya."
Nael mengangguk.
Pelan, Hanin membuka pintu sembari membawa jinjingan kresek sampah bekas sarapan di tangan. Bukan tanpa alasan.
"... iya, Sya."
Belum apa-apa Hanin sudah mendapatkan jawaban dari praduganya.
Dan Januar menatap sang istri. Hanin melewati, langkahnya tenang. Memasukkan sampah ke tong yang ada di pojok lorong.
Menarik napas sejenak, Hanin berbalik. Tatapannya sontak beradu dengan Januar lagi. Kali ini lelaki itu sudah memasukkan ponsel ke saku.
"Tadi Syakila nelepon."
Iya, pasti wanita itu.
Langkah Hanin praktis berhenti.
"Anaknya sakit, suaminya nggak ada. Dan kondisinya agak berat."
"Mas mau ke sana?" To the point saja.
"Kamu tahu Syakila—"
"Aku tahu. Kalau Mas Tio nggak ada, dia memang biasanya cari suamiku."
Sesaat tak ada lagi yang bersuara.
Fine.
Hanin mengembuskan napas pelan. "Izin sama Nael, tapi jangan bikin dia kecewa."
Setelah itu barulah Hanin membuka pintu kamar, kembali menghampiri putranya.
Masihkah Hanin dan Nael kalah penting dari keluarga kecil milik orang lain?
Januar ikut masuk juga.
"Dicariin orang kantor, ya, Pa?"
Hanin tidak ikut menimpali. Dan sekarang ponselnya yang sejak tadi tergeletak di nakas itu menyala-nyala. Hanin melihatnya. Nama Syakila terpampang di layar.
"Nael," ucap Januar.
Jantung Hanin berdetak kencang.
Masing-masing sudah punya suami, tetapi kenapa Hanin merasa miliknya tidak utuh?
Oh, tidak.
Sejak awal Hanin memang hanya diberi setengah, salahnya yang menerima.
"Papa ke kantor dulu, ya?"
Hanin tepekur.
Kebohongan itu lagi.
Dan seperti biasanya, berhasil. Nael justru mengangguk penuh pengertian. "Tapi nanti ke sini lagi, kan, Pa?"
"Iya." Kemudian Januar melirik Hanin sesaat. Wanita itu diam saja, dengan tatapan yang sulit diartikan.
Namun, Januar tak pedulikan itu. Dia lekas membuat jarak.
"Hati-hati di jalan, Pa. Kalau bisa kirim Nael jajanan, ya!"
Hanin melengos.
Januar sudah berbalik menuju pintu.
Tanpa tahu bahwa tangan Hanin mengepal setelah itu.
***