"Makasih, ya, Nu."
Januar meletakkan tas jinjing sang sobat di dekat pintu kamar, cukup sampai di situ langkahnya.
"Hm."
"Aku nggak tahu lagi harus minta tolong siapa kalau bukan sama kamu atau Hanin."
Januar tersenyum. "Santai saja."
Lalu tatapannya alih ke Reynan, putra kecil Syakila yang seusia dengan putra sambungnya. Nael dan Reynan sama-sama berumur empat tahun.
Januar mengacak pelan rambut Reynan sembari tersenyum. "Cepat sembuh. Jangan bikin ibu khawatir."
"Iya, Om."
Om.
Hati Januar serasa diremas.
Untuk sesaat, dia justru ingin mendengar panggilan lain dari bibir bocah itu. Bukan Om.
Ada panggilan yang bahkan terasa lebih pantas untuknya.
"Bilang apa sama Om?" tutur Syakila, merangkul pundak anaknya.
"Makasih, Om Nunu."
Syakila tersenyum, lalu kembali menatap Januar. Lelaki itu juga senyum dan kali ini sembari mengusap-usap pipi Reynan.
Ah ... sayang sekali.
"Ya sudah. Om pulang dulu."
Reynan mengangguk.
Januar pun berlalu.
"Makasih juga buat Hanin, ya, Nu. Eh, tapi aku udah chat dia, sih. Tapi tetep bilangin Hanin kalau aku bener-bener makasih banyak ke kalian."
Baru sekian langkah, Januar langsung berhenti, memandang Syakila lagi. "Kamu chat Hanin?"
Syakila berkedip sekali. "Hm."
Januar terdiam.
"Aku nggak enak sebenernya sama Hanin. Walaupun dia sahabat aku kayak kamu juga, tapi kalian udah menikah ... cuma syukurlah Hanin bisa ngertiin." Syakila mengulas senyum tipis.
"Kapan chat-nya?"
"Semalam." Kening Syakila mengernyit. "Kenapa? Eh, apa dia marah, ya? Tapi balesannya fine-fine aja, kok. Nih ...."
Syakila langsung merogoh tas mengambil ponsel. Yang seketika itu pergerakannya dihentikan oleh cekalan lembut tangan Januar.
Hening untuk sesaat.
"Nggak perlu ditunjukkan, aku percaya." Vokal Januar rendah dan berat.
Syakila tersentak, segera menarik tangannya dan cekalan itu terlepas.
"Kalian langsung istirahat saja. Kasihan itu Reynan pasti ingin langsung tiduran," ucap Januar dengan raut datar. Melirik sekilas pada putra kecil di sisi Syakila setelahnya. "Om benar-benar pulang sekarang, ya."
"Hati-hati, Om. Nanti Ley main ke lumah Nael kalau udah sembuh."
Dia masih cadel.
Wajar, masih umur 4 tahun.
Januar mengangguk, lalu benar-benar melenggang selepas melirik Syakila sekali lagi.
"Ayo, Rey. Istirahat. Habis itu Ibu masakin bubur."
Mereka masuk kamar.
Seiringan dengan suara pintu depan yang terbuka dan tertutup, Januar telah pergi. Tak perlu diantar sampai teras lagi.
"Om Nunu baik, ya, Bu?"
Syakila menarik selimut, menutupi setengah badan sang anak. "Iya. Makanya Rey jangan lupa bilang makasih."
Bocah itu mengangguk. "Kalau ayah kapan pulangnya, Bu? Ley kangen ayah."
"Udah Ibu telepon. Katanya minggu depan ayah pulang."
"Asyiiik!" Reynan senang sekali. "Tapi nanti belangkat lagi, Bu?"
"Iya, dong. Kan, harus kerja."
"Yaah ...." Reynan menghela napas. "Bu. Jadi Nael enak, ya?"
"Hm?"
"Ayahnya ada di lumah telus."
***
"Apa kata dokter, Han?"
"Infeksi, Mi. Tapi syukurnya nggak parah. Ini demamnya udah makin turun." Hanin mengusap kepala Nael.
Realine, sang mami mertua, meletakkan tas tangannya di sofa. Sementara itu, Papi Jaya menyimpan parsel buah di nakas.
"Duduk, Pi, Mi."
Papi Jaya mengangguk, menarik kursi, lalu duduk di situ. Sementara, Mami Rea di tepi brankar. Mengelus cucunya.
Hanin tersenyum melihat mereka yang benar-benar terlihat sayang kepada Nael. Hati Hanin pun menghangat. Namun, perlahan jadi perih.
Ah ... sudahlah.
Hanin bergeser membuka parsel buah kiriman papi mertua. "Nael mau apel?"
"Mau, Ma."
"Oke. Mama kupasin."
"Kasihan banget cucu Oma, kecil-kecil mesti dirawat di rumah sakit. Aduh ... tangannya diinfus juga."
"Ditusuk jarum, Oma. Sakit!" adu Nael.
Segera omanya itu meraih tangan Nael, lalu ditiup-tiup bagian yang diinfus. "Pyuhhh! Simsalabim, cepat sembuh!"
Nael haha-hihi.
"Aamiin," kata Opa Jayanya itu. Mengusap-usap betis Nael.
Hanin melirik mereka, lagi-lagi dia tersenyum. Senang. Kalau melihat Mami Rea dan Papi Jaya, Hanin merasa keputusannya menerima tawaran Syakila untuk menikah dengan Januar itu sebuah tindakan yang sangat tepat.
Kedua orang tua Januar bahkan di hari pertama melihat Nael sudah langsung jatuh cinta, kelihatan sayang sekali. Mereka menerima Hanin dan Nael dengan tangan terbuka, tidak mempersoalkan bahwa anak itu lahir tanpa sosok ayah dan Hanin belum pernah menikah sebelum bersama Januar.
"Oh, iya. Pi, Mi, ini minum dulu."
"Hanin ... kok, kayak ke siapa aja kamu? Udah, fokus sama Nael aja kalau soal melayani. Mami sama papi bisa ambil sendiri, Sayang."
Pipi Hanin memanas disebut sayang, padahal itu bukan kali pertama.
"Januar sudah tahu Nael sakit?"
Hanin beralih ke papi. "Udah, Pi."
"Sekarang papa lagi ke kantor, Opa. Ditelepon sama bosnya."
Realine tertawa. "Siapa coba bosnya papa?"
Nael mengerjap lugu. Dia mana tahu. Cuma asal bicara, tetapi papanya betul-betul ke kantor dan itu setelah dapat telepon.
Hanin kembali mengupas apel. Untuk sesaat dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa putra mereka tidak sedang di kantor. Namun, pada akhirnya Hanin memilih diam.
***
Januar keluar dari halaman rumah Syakila dengan satu tangan memegang setir. Jalanan masih lengang. Lampu lalu lintas di persimpangan berubah merah.
Mobil berhenti.
Tanpa sadar, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan lingkar kemudi. Ucapan Syakila beberapa menit lalu kembali terlintas.
"... semalam."
Syakila menghubungi Hanin. Berterima kasih lewat pesan.
Berarti Hanin sudah tahu bahwa ucapannya soal 'ada urusan mendesak di kantor' itu bohong. Hanin tahu bahwa semalam Januar bersama Syakila dan sampai-sampai melewatkan banyak panggilan dari wanita itu.
Januar menghela napas, menyentuh kerah—refleksnya mau melonggarkan dasi, tetapi tak ada dasi di sana. Sekali lagi Januar menghela napas.
Oh, lampu berubah hijau.
Bertepatan dengan suara dering telepon, yang sempat Januar nonaktifkan mode silent-nya.
Syakila.
"Halo, Nu."
"Terjadi sesuatu?"
"Eh, nggak." Syakila terkekeh. "Dasi kamu ketinggalan di rumah sakit semalem, ini ada di aku. Lupa tadi nggak bilang. Barangkali kamu nyari."
Januar tak langsung menjawab, mobilnya kembali dia lajukan. "Nanti aku ambil."
"Oke."
Hening kemudian.
Tapi tak satu pun dari mereka mengakhiri sambungan nirkabel sampai di titik Syakila yang lebih dulu bilang, "Ya udah, Nu. Itu aja."
"Hm."
Barulah panggilan itu berakhir.
Sunyi sepi di dalam mobil.
Beberapa ratus meter kemudian, tangan Januar memutar setir ke arah berlawanan.
Dia putar balik. Kembali menuju rumah sakit, urung ke kantor.
Dan pikiran Januar sadar tak sadar kembali pada Hanin, mengira-ngira apa soal dasi pun wanita itu menyadarinya? Di saat dia tahu bahwa Januar datang ke tempat Syakila.
Lantas, kenapa perempuan itu tidak mengatakan apa-apa?
***