Kebencian

1455 Words
Gadis menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar. Kini tinggallah Gadis dan Rafindra berdua di ruangan itu. Pak Purnomo sengaja melakukan itu agar keduanya bisa saling berbicara. "Oh, jadi begini ya? Aku sekarang ngerti maksud kamu, Om. Om sengaja ngedeketin aku sama Papa aku. Dari awal Om emang sudah ngincar aku kan? Om harus tahu kalau kita gak akan bisa menikah. Selain umur kita yang terpaut sangat jauh, aku juga udah punya pacar, Om. Dan aku cinta sama dia." Ucap Gadis. "Gadis, dengarkan aku. Aku tidak akan memaksamu kalau kamu tidak mau. Tapi pikirkan itu sekali lagi." Kata Rafi. "Jawabannya tetap sama. Aku gak mau." Ucap Gadis menolak. Rafindra tersenyum. Baru kali ini seseorang menolak dirinya. Namun bukan Rafindra namanya kalau dia di tolak dan mudah menyerah. Dia akan terus berusaha membuat Gadis menjadi miliknya. "Baiklah. Terserah kamu. Datanglah ke rumahku kalau kamu berubah pikiran." Kata Rafi. Gadis bahkan tidak sudi menatap Rafi. Gadis membenci seseorang yang berpura-pura baik terhadapnya. "Aku pergi dulu. Beberapa pengawal ku akan berjaga disini sampai malam. Aku khawatir kalau mereka akan kembali dan mengganggu kamu lagi." Kata Rafi. Gadis mendengus kesal. Dia tahu kalau lelaki itu berbasa-basi agar mengambil simpati dari papa Gadis. "Gadis, kamu itu bodoh atau gimana sih, dek? Dia itu penolong satu-satunya kita. Kl kamu nikah sama dia, kita akan tertolong." Kata Aris. "b******k loe, bang. Kita kayak gini gara-gara kelakuan Abang. Dan sekarang Abang tega nyuruh Gadis nikah sama Om-om." Ucap Gadis. "Terserah loe, deh. Gue mau tidur aja." Kata Aris. "Gadis, kenapa kamu ketus gitu sama Rafi dan sama Abang kamu? Papa gak pernah ngajarin putri papa kayak gitu." Kata Pak Purnomo. "Gadis gak suka sama dia. Gadis punya pacar, pa." Kata Gadis merengek. "Baik. Sekarang papa tanya. Papa gak akan maksa kamu menikah dengan nak Rafi. Tapi apa mau pacar kamu itu menikahi kamu secepatnya? Bawa dia kesini dan temui Papa." Ucap pak Purnomo. "Gak bisa gitu, Pa. Dia masih SMA. Gak mungkin dia mau menikahi Gadis." Ucap Gadis. "Gak ada yang gak mungkin kalau dia punya kemauan." Kata Pak Purnomo. Gadis bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Yang Gadis tahu besok pagi dia harus menemui Randy di sekolah. Keesokan paginya, Gadis mencari-cari Randy di sekolah. Tapi tak kunjung bertemu orangnya. "Dis, Loe nyari apaan sih?" Tanya Nina. "Gue nyari Randy." Kata Gadis. Melihat Gadis yang sangat kacau, Nina lalu menanyakan penyebabnya. "Dis, apa yang terjadi sama Loe? Semalam gue gak angkat telepon Loe dan sekarang gue lihat kalau Loe itu kacau banget." Kata Nina bertanya. Gadis tak kuasa menahan tangisnya. Dia menceritakan semuanya pada Nina. Entah kenapa Nina justru setuju jika Gadis menikah dengan Rafindra dari pada menjalin hubungan dengan Randy . "Bantu gue cari Randy, Nin." Kata Gadis. Keduanya berpencar dan mencari dimana Randy berada. Namun tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Randy. "Gimana Nin? Ketemu?" Tanya Gadis. Nina menggeleng tidak tahu. "Anterin gue ke toilet aja, Nin. Gue mau cuci muka." Kata Gadis. Gadis dan Nina memasuki toilet wanita. Keadaab toilet itu sangat sepi. Sampai Gadis mendengar suara desahan di salah satu toilet. "Aah... Its Okay, Rand." Gadis terkejut mendengar suara desahan itu. Dia tahu kalau itu suara Aura. Gadis tidak membayangkan apa yang terjadi di dalam sana. Gadis menggedor pintu itu. "Siapa sih? Rese banget." Ucap Aura. Aura membuka pintu dan terkejut saat melihat Gadis memergokinya. Pakaian kedua insan itu sudah tidak karuan lagi. Yang Gadis tidak percaya, pacarnya Randy ternyata bersama Aura. Gadis membungkam mulutnya. Tak terasa air matanya jatuh. Nina yang menyaksikan itu juga tak percaya. "b******k ya Loe, Rand. Jadi ini alasan Loe menghindar beberapa hari ini? Ok. Mulai sekarang kita gak ada hubungan apa-apa lagi." Gadis menatap tak percaya. "Gadis, dengerin penjelasan aku." Kata Randy. "Gak perlu. Semuanya sudah jelas. Gue denger dan lihat semuanya." Kata Gadis. "Udah, Rand. Ngapain kamu masih mau sama cewek miskin kayak dia sih?" Ucap Aura. "Aku yang lebih bisa muasin kamu. Bukannya Gadis yang sok suci ini. Kamu tahu? Kenapa Randy mau sama aku? Dia bilang kalau kamu itu gak bisa disentuh, sedangkan Randy juga butuh kepuasan." Ucap Aura. "Sialan. Kalian emang gak punya hati. b******n loe, Rand." Kata Nina. "Ayo kita pergi, Dis. Loe berhak ngedapetin yang lebih baik dari pada cowok biadab kayak dia." Kata Nina. Randy menarik tangan Gadis. Namun Gadis malah melayangkan tamparan di wajah Randy. Sampai lelaki itu meringis kesakitan. " Cukup Rand. Gue udah gak bisa nahan lagi. Lepasin gue. Dasar murahan. Jadi ini alasannya?" Gadis pergi meninggalkan Randy dan Aura. "Gadis." Ucap Nina lalu memeluk sahabatnya. Selama ini Gadis dan Randy menjalin hubungan yang sehat. Saat Gadis menolak untuk melakukan hal intens, Randy tidak memaksa. Gadis pikir Randy lelaki yang berbeda. Ternyata dia sama saja. "Gue mau pulang dulu, Nin." Ucap Gadis. Nina tahu kalau sahabatnya itu sekarang sedang kacau. Nina yang khawatir lalu berniat mengantar Gadis. "Ayo gue antar, Dis. Jangan sedih. Loe masih punya gue." Kata Nina. Gadis menangis dalam pelukan Nina. Kemudian Nina mengantar Gadis dengan motor miliknya. Namun entah kenapa, saat sampai di depan rumah Gadis, sudah banyak polisi di sana. Gadis melihat papa dan kakaknya dibawa paksa oleh para polisi itu. "Papa, kenapa pa? Kenapa papa dibawa? Tanya Gadis. "Papa gak salah, nak. Papa di fitnah." Kata pak Purnomo. "Kami menemukan sabu-sabu dan ganja di rumah ini. Kami di beri informasi kalau kakak dan papa kamu itu pengedar." Jawab polisi. Gadis melihat ada pak Karno dengan seringai senyumnya menatap Gadis dengan tatapan m***m. "Papa saya gak mungkin salah." Kata Gadis. "Kalau mau bicara datang saja ke kantor." Suruh Polisi. Gadis melihat Papa dan kakaknya dibawa paksa. Sementara itu Gadis melihat tas ransel di depan rumahnya. "Rumah ini kami sita lebih cepat. Karena kamu bikin ulah semalam. Kamu pergi dari sini sekarang. Atau kamu pilih jadi istriku dan tinggal bersama Abang Karno." Ucapnya sambil tertawa. Gadis menangis dan membawa ranselnya. Nina ikut menangis saat melihatnya. Dia tidak tega melihat sahabatnya seperti itu. Malang sekali nasib dari Gadis. "Loe bisa tinggal di rumah gue. Sampai kapanpun bisa." Kata Nina. Mendengar itu Gadis terenyuh. Dia kemudian mengikuti Nina ke rumahnya. Gadis tahu kalau tidak selamanya dia akan bersama Nina. Gadis juga tahu kalau Nina hidup kekurangan. "Sekarang rencana Loe apa, Dis? Apa loe mau ngebiarin Papa sama Abang loe di sel tahanan?" Tanya Nina. Gadis menangis di tepian ranjang. Gadis berfikir sejenak. Menangisi kehidupannya yang sangat kacau dalam satu hari. Pacarnya selingkuh, papa dan kakaknya di tahan dan sekarang rumahnya disita. Gadis akan menjadi gelandangan kalau tidak ada Nina yang membantunya. Gadis tidak punya pilihan lain, dia harus meminta bantuan. Dan orang yang Gadis pikirkan saat ini hanya Satu, yaitu Rafindra Wiraatmaja. "Nin, loe bisa anterin gue lagi, kan? Ke kantornya Rafindra." Ucap Gadis. Nina kemudian mengantar Gadis menemui Rafindra. "Mbak, mau kemana?" Tanya Security. "Saya mau ketemu Rafindra." Ucap Gadis. "Tidak semudah itu, mbak harus buat janji dulu." Ucapnya. Gadis lupa untuk menelepon Rafindra. Gadis juga lupa membawa ponselnya. Ponselnya tertinggal di rumah Nina. "Pak. Tolongin teman saya. Ini penting." Kata Nina membantu. Tiba-tiba Yoga datang dan melihat Gadis yang kacau sehabis menangis. "Nona Gadis." Ucap Yoga. "Mas Yoga. Tolong mas. Izinin aku buat ketemu Om Rafi." Kata Gadis. "Ayo ikuti aku." Ucap Yoga. Nina menunggu Gadis di lobby kantor. Dia tidak mau ikut terlalu jauh. Nina hanya sekedar menolong saja, tidak lebih. Masalah antara Gadis dan Rafi biarkan menjadi urusan keduanya. Gadis memasuki ruangan Rafindra. Dia tercengang melihat ruangan itu. Baru kali ini Gadis melihat ruang kerja lengkap dengan ranjangnya. "Gadis.!!" Ucap Rafindra. Rafindra menatap Gadis yang teramat kacau saat ini. Matanya memerah karena habis menangis. "Om. Tolongin Gadis." Pinta Gadis bersimpuh di hadapan Rafindra. "Gadis, bangunlah. Jangan seperti ini." Kata Rafi "Tolong, Gadis. Aku gak tahu harus minta bantuan siapa lagi." Kata Gadis. "Duduklah." Rafindra menghampiri Gadis dan menariknya agar duduk di atas kursi. "Jelaskan apa yang terjadi." Kata Rafi. "Papa sama Abang aku di tahan. Rumah kami disita. Pak Karno menjebak mereka." Ucap Gadis. Mahendra sudah tahu semuanya. Dia sudah tahu sebelum Gadis memberi tahunya. "Aku bisa menyelamatkan Ayah dan kakakmu. Kau juga bisa mendapat rumahmu kembali. Tapi, dengan satu syarat." Ucap Rafi. "Syarat apa, Om?" Tanya Gadis. "Menikahlah denganku." Ucap Rafi. Gadis terkejut dengan ucapan Rafindra. Dia tak menyangka kalau lelaki itu memberikan syarat yang tak masuk akal. "Bagaimana Gadis? Kamu setuju atau tidak?" Tanya Rafi. Gadis bimbang dan sangat bingung. Satu-satunya jalan keluar saat ini hanyalah itu. Gadis menangis sebelum mengucapkan jawaban. "Baik, Om. Aku setuju. Asalkan Papa dan Abang ku dibebaskan." Kata Gadis pasrah. Rafindra tersenyum mendengar jawaban Gadis. Pucuk di Cinta Ulam pun tiba. Rafi menerima kedatangan Gadis dengan tangan terbuka. Sejak saat ini Rafi telah berjanji akan menjadikan Gadis wanita satu-satunya dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD