Kedatangan Reyna

1021 Words
Rafindra menatap Gadis yang membuka mata. Dia sedang meraba-raba tubuh Rafindra yang sedang ada di sampingnya. Dan saat kesadarannya penuh, Gadis malah berteriak. "Aaaa.... Ngapain Om disini?" Ucap Gadis. Rafindra jadi bingung dengan kelakuan Gadis. "Dasar om mesum." Ucap Gadis marah. "Kamu kenapa sih, Dis? Kan kumat lagi. Mana pakai manggil Om lagi." Ucap Rafi. "Om ngapain aku?" Tanya Gadis. "Seharusnya aku yang bertanya. Kamu ngapain ngeraba-raba aku?" Tanya Rafi balik. "Apa? Gak salah, Om? Ngapain Om tidur dekat aku?" Tanya Gadis tak mau kalah. "Kamu lupa semalam?" Tanya Rafi. "Emang semalam kita ngapain?" Tanya Gadis. "Kita sudah nikah, Dis. Di malam pertama kita kamu malah ninggalin aku tidur. Kamu pakai acara mengigau dan narik aku. Bahkan kamu meluk-meluk aku." Ucap Rafi menjelaskan. Hal itu memang sering terjadi pada Gadis. Bahkan tidak ada yang mau tidur dengannya karena kelakuannya yang menggelikan itu saat sedang tidur. Bahkan terakhir kali Nina sampai tidur di bawah saat menginap di rumah Gadis. "Seharusnya Om menghindar kan? Tidur di sofa kek." Ucap Gadis masih kesal. "Mana bisa begitu." Protes Rafi. "Aku emang kebiasaan begitu. Jadi Om yang harus ngerti." Gadis masih marah. "Ya gak bisa, Dis. Itu namanya keberuntungan buat aku." Kata Rafi menjawab dengan polosnya. "Yang penting saya gak ngapain kamu kok. Kalau kamu yang ngapain aku, berarti itu bonus buat aku." Kata Rafi sambil terkekeh. "Ih... Om ngeselin banget sih." Ucap Gadis sambil memukuli d**a Rafi. Merasa kesakitan, Rafi memegangi tangan Gadis dan justru memberikan ciuman secara tiba-tiba. Gadis diam membeku. Lagi-lagi laki-laki itu menciumnya secara tiba-tiba. Ingin marah tapi nyatanya mereka berdua memang sudah syah menjadi suami istri. Melihat Gadis yang sudah diam, Rafi menghentikan aktifitasnya. Gadis diam untuk sesaat. Sebelum mengatakan sesuatu lagi, Rafi lalu berkata. "Dis, jangan marah. Aku sudah bilang jangan panggil Om. Kamu tahu sendiri akibatnya kan?" Tanya Rafi. "Itu namanya morning kiss." Kata Rafi. Gadis yang sebal langsung masuk ke dalam kamar mandi. Namun saat sudah masuk, dia kembali keluar. "Mas, nyalain air hangat gimana? Aku gak paham. " kata Gadis. Rafindra kembali tertawa melihat tingkah polos Gadis. Diapun membantu Gadis di kamar mandi. "Mau sekalian aku mandikan, Dis?" Goda Rafi. "Keluar, mas. Ntar aku lempar sama gayung ya?" Ucap Gadis. Ah, Gadis lupa kalau disini tidak ada Gayung. Rafi kembali terkekeh. "Udah puas ngeledek-nya? Keluar sana. Aku mau mandi." Kata Gadis sambil memegang shampo yang hendak dia lemparkan ke arah Rafi. "Iya aku keluar. Makanya lihat dulu, ada gayung apa enggak di sana." Kata Rafi lalu keluar dengan masih terdengar gelak tawanya. "Aduh, gue lupa terus manggil Om. Kan gue sendiri yang rugi. Pokonya gak boleh lupa lagi." Gumam Gadis. ... Kini Gadis sudah sampai di kediaman Rafi. Alangkah kagetnya Gadis saat tahu kalau rumah itu sangat mewah dan begitu besar. Gadis sampai melongo di buatnya. "Rafi." Ucap Bu Lastri. Di rumah itu hanya tinggal dia dan juga ibunya. Sebenarnya Lastri tidak selalu ke sana karena sebenarnya dia juga punya rumah sendiri dengan mendiang suaminya. Ayah Rafi sendiri telah meninggal. Jadi terpaksa lelaki itu yang menjadi tulang punggung keluarga. Dia juga yang harus melanjutkan perusahaan papanya. "Mama." Ucap Rafi. Gadis menghampiri mamanya dan mencium tangannya. Lastri hanya diam tak menyapa anak menantunya. "Kenapa sampai se-sore ini?" Tanya Lastri seolah tak mengerti lelahnya pengantin baru. "Maaf, ma. Seharusnya mama mengerti." Kata Rafi. Lastri geleng-geleng kepala mendengar ucapan anaknya itu. Sebenarnya dia tidak suka kalau Rafi menikahi Gadis yang dari kalangan bawah, tapi karena dia takut kalau gosip anaknya Gay yang beredar itu benar, makanya dia menyetujui itu. Sebenarnya ada seorang wanita yang dia sukai dan dia rasa layak menjadi istri Rafi. "Rafi, kamu tega sekali. Kenapa kamu menikah tanpa menunggu kehadiranku?" Seorang wanita datang dari pintu depan dan langsung saja masuk kedalam rumah. Dia langsung menggandeng lengan Rafi dan menyandarkan kepalanya. "Reyna. Jangan seperti itu. Kenalkan, ini Gadis istriku." Kata Rafi. Gadis mencoba tersenyum, namun Reyna menatapnya dengan tatapan tidak suka. Reyna menelisik Gadis dari atas sampai bawah. Dia kemudian melepas lengan Rafi dan memeluk Lastri. "Hai Tante. Apa kabar? Tiga bulan aku tinggal, Tante makin cantik aja." Ucap Reyna. "Mama, mas. Aku mau ke kamar." Ucap Gadis. Kemudian Rafi mengantar Gadis ke kamarnya. "Ini kamar kamu. Disebelahnya kamarku." Kata Rafi. Gadis bernafas lega. Untung saja Rafi memberikan memberikan kamar yang berbeda. "Tapi kalau ada mama, kita harus satu kamar untuk sementara." Lanjut Rafi. "Mas, yang tadi itu siapa?" Tanya Gadis. "Itu Reyna. Rekan bisnis ku. Jangan terlalu dekat dengannya." Ucap Rafi. Tanpa diminta pun Gadis enggan untuk dekat dengan wanita itu. Reyna terlihat sangat tidak menyukai Gadis. Dan terlihat sangat jelas kalau wanita itu menyukai Rafindra. Entah kenapa Gadis sedikit kesal melihat perempuan itu. "Maafkan aku. Kamu masuk dulu. Biar aku menemui dia." Kata Rafi. Gadis hanya mengangguk saja lalu masuk kedalam kamar Rafi. Hal yang Gadis lihat pertama kali adalah dua foto. Fotonya dan juga foto wanita yang terlihat sangat cantik. Gadis tahu kalau itu foto mendiang istrinya Rafi, Aurel. Dan di sebelahnya ada foto Gadis. Entah darimana Rafi bisa mendapatkan foto itu. Gadis diam-diam mendengarkan perbincangan antara ketiga orang itu dari atas. "Tega kamu ya Raf. Aku yang sepuluh tahun nunggu kamu tapi kamu malah menikahi wanita lain. Dan aku lihat dia itu cuma perempuan biasa yang jauh dari aku." Kata Reyna. "Jaga ucapan kamu Rey. Kamu tahu sendiri kan kalau dari dulu aku cuma menganggap kamu sebagai teman aja. Gak lebih." Kata Rafi. "Tante. Kenapa Tante setuju? Padahal Tante tahu kan kalau aku juga cinta sama Rafi." Kata Reyna. "Maaf Reyna. Kemauan Rafi itu mutlak. Tante hanya mau yang terbaik untuk dia." Kata Lastri. "Lebih baik kamu cari pria lain. Aku mencintai Gadis. Dan aku gak bisa terima perasaan kamu." Kata Rafi. Reyna nampak kesal, namun dia tetap berusaha menahan emosi. "Terserah kamu, Raf. Tapi nanti kamu pasti nyesal gak nerima aku." Ucap Reyna lalu pergi. Dialah Reyna Andita Adiyaksa. Wanita berumur tiga puluh tahun yang sedari dulu mengejar-ngejar Rafi. Namun sayangnya Rafi tak pernah mencintainya. Reyna keluar dari kediaman Rafindra dengan hati yang kesal. Untuk kali ini dia telah kalah dua kali karena tak bisa memiliki Rafi. Dia menangisi takdirnya kembali. Bahkan karena seorang Rafi, dia tidak bisa memiliki hubungan dengan lelaki lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD