Pernikahan

1216 Words
Rafi sangat gemas saat melihat Gadis yang wajahnya merah merona seperti tomat. Sangat terlihat sekali kalau Gadis tidak pernah berciuman. Gadis melakukan itu agar Rafi tidak menyukainya dan menganggap kalau dia perempuan nakal. "Masih mau mencoba lagi?" Tanya Rafi menggoda dengan tersenyum. "Dasar messum. Itu namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan." Sindir Gadis. "Kamu dulu yang mulai." Kata Rafi. Gadis tidak menjawab dan justru membuang muka. Dia tidak tahu bagaimana nantinya jika harus melakukan malam pertama dengan Rafi. Gadis bergidik ngeri saat membayangkannya. "Gadis. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku tidak semessum itu. Aku tahu kalau saat ini kamu belum mencintaiku. Tapi cobalah membuka hati. Aku yakin kau pasti akan bisa mencintaiku." Kata Rafi. "Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu yang memintanya. Tapi aku yakin kalau nanti kamu yang akan meminta sendiri." Lanjut Rafi dengan yakin. "Kalau aku gak minta bagaimana? Apa kamu bisa janji gak akan nyentuh aku?" Tanya Gadis. "Iya. Aku bersumpah. Tapi kalau hanya untuk ciuman, tidak masalah kan?" Tanya Rafi. Gadis mendecak kesal. Sekali messum, lelaki itu akan tetap messum. "Enggak. Aku gak yakin kalau nantinya ciuman itu gak akan lanjut." Kata Gadis. "Kalau pun lanjut, berarti itu memang keberuntunganku." Ucap Rafi bangga. "Mas Rafi emang gitu ya sebenarnya? Narsis abis." Kata Gadis Gadis membuka sedikit tirai nya dan dia tersenyum saat melihat di pinggir jalan. "Mas, berhenti sebentar. Cepetan." Suruh Gadis. Rafindra menyuruh agar sopir berhenti dan menepikan mobil. "Dis, ngapain berhenti mendadak begitu, sih?" Tanya Rafi. "Ehm.. nanti aja ngomongnya, mas. Sekarang bagi uang dong. Berapapun yang ada di dompet." Ucap Gadis. Rafindra geleng-geleng kepala melihat kelakuan Gadis. Diapun mengeluarkan uang merah beberapa lembar. "Kebanyakan, Mas." Ucap Gadis. Dia hanya mengambil dua lembar saja dan buru-buru pergi. Rafindra yang melihat itu hanya ikut keluar dan mengawasi tunangannya itu. Dia melihat Gadis pergi ke tempat anak-anak jalanan yang kemarin pernah dia temui. Dimana pertama kali mereka bertemu. Gadis memberikan satu lembar uang merah itu dan menyuruh anak-anak itu untuk membeli makanan. Melihat itu Rafi bangga dan dia tidak salah memilih calon istri. Beberapa menit kemudian, Gadis pergi membeli teh Poci pinggir jalan. Dengan menenteng dua gelas teh di tangannya. Rafi segera masuk ke mobil dan berpura-pura tidak melihatnya. "Mas, pegangin satu." Suruh Gadis. Gadis kemudian masuk. Tangan satunya menyerahkan uang kembalian pada Rafindra. Rafi dibuat bengong dengan tingkah laku Gadis. "Ah, seger banget rasanya." Kata Gadis meminum tehnya. Gadis menatap Rafindra yang masih diam sambil menatapnya. Lelaki itu masih saja memegang es tapi belum meminumnya. "Minum, mas." Suruh Gadis. Rafi meminumnya. Rasanya masih sama. Minuman favorit Aurel dan juga Gadis. Bahkan minuman itu sangat sederhana namun rasanya menyegarkan. "Dis, lain kali jangan ngembaliin uang sama aku. Harga diriku hancur karena itu." Ucap Rafi. "Biasa aja, mas. Lagian aku minjam kok. Nanti aku ganti." Kata Gadis. "Hei. Kamu itu calon istriku. Pantang buat aku kalau kamu minjam. Ambil aja. Aku bisa kasih yang lebih banyak buat kamu." Kata Rafi. Rafi kemudian mengeluarkan beberapa kartu dan juga memberi semua uang yang ada di dompetnya. "Ini untuk kamu." Ucap Rafi. "Enggak, ah. Buat apa, mas? Aku gak mau." Kata Gadis. "Untuk kamu pakai belanja sama kebutuhan kamu." Kata Rafi. "Gak bisa. Aku belum jadi istrimu. Aku gak bisa terima, mas." Kata Gadis. "Kalau begitu ambil uang cash-nya saja." Kata Rafi. "Terlalu banyak, mas." Kata Gadis. Gadis berfikir sejenak lalu mengambil uang kembalian yang tadi ia berikan pada Rafi. "Ini aja, deh. Aku ambil yang ini." Kata Gadis. Rafi semakin tak paham dengan jalan pikiran Gadis. "Terserah kamu, Dis." Kata Rafi. "Mas, kita mau kemana sih? Ini bukan jalan ke rumahku." Kata Gadis. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Kata Rafi. Rafi membawa Gadis ke sebuah pemakaman. Awalnya Gadis merasa aneh, namun saat melihat sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Aurel, dia baru paham kalau itu makam mendiang istri Rafi. Rafi nampak sedih menatap makam itu. Hati Gadis menjadi terenyuh untuk sesaat. "Aurel, aku hanya ingin meminta izin mu. Aku akan menikahi Gadis. Aku sudah memenuhi janjiku padamu. Membuat diriku sendiri Bahagia." Kata Rafi sambil menabur bunga. Gadis hanya diam dan tak berani berkata apapun. Hatinya bertanya-tanya tentang apa alasan Rafindra yang terkenal setia itu justru mau menikah dengannya. Saat didalam mobil, semuanya senyap tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Lalu tiba saat Rafi membuka suara. "Alasanku menikahi mu karena Aurel pernah berpesan padaku agar aku bisa bahagia walau tanpanya. Dan alasanku memilih kamu karena kamu perempuan kedua yang mampu membuat hatiku berdebar. Percayalah padaku, aku mencintaimu." Kata Rafi. Gadis terdiam saat mendengar itu semua. Dia tak mampu menjawab apapun. Gadis hanya mampu melihat ketulusan di mata lelaki itu. .... Gadis keluar dengan di dampingi Nina dan juga Vania. Dia nampak sangat cantik saat itu. Rafindra yang melihatnya juga terpukau. Kini tiba saatnya Rafindra mengucap janji suci pernikahan dengan akad. Keduanya duduk bersama di depan penghulu. "Ananda Rafindra pradipta putra Wiraatmaja, saya nikahkan engkau dengan putriku, Gladis anastasya dengan mas kawin uang seratus juta dan cincin berlian senilai dua ratus juta dibayar tunai." Kata Pak Purnomo. "Saya terima nikahnya Gladis Anastasya binti bapak Purnomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Rafi dengan lantang. "Syah" Suara itu terdengar menggema di seluruh ruangan. Pak Purnomo sangat terharu karena akhirnya dia bisa melepaskan putri tersayangnya. Pesta pernikahan itu di hadiri oleh berbagai kalangan. Siapa yang menyangka jika cucu tertua Wiraatmaja akan menikah lagi. Gadis duduk terdiam dan merasa sangat lelah. Bayangkan saja dia seharian sibuk menyapa para kerabat dan tamu. Dia sekarang berada di kamar hotel bintang lima. Kamar yang di pesan khusus oleh ibu mertuanya. Namun Gadis meminta untuk menuju hotel terlebih dahulu karena dia sangat lelah. Dia tidak sanggup lagi kalau harus menunggu Rafi yang masih sibuk menemui tamu. Gadis mulai membuka pakaiannya dan segera beranjak ke kamar mandi. Dia ingin sekali berendam air hangat namun tidak tahu caranya. Akhirnya Gadis terpaksa menelepon Rafi. "Mas, kemarilah cepat. Aku butuh bantuan mu. Aku ingin mandi. Pokoknya cepat kesini." Kata Gadis. Rafindra yang menyalakan loud speaker terkejut dengan ucapan Gadis. Dan sekarang orang-orang yang ada di depannya tersenyum. "Wah, darah muda memang begitu. Gadis agresif sekali ya?" Kata Mahendra. "Dia memberimu kode untuk mandi bersama." Kata Adrian. "Hati-hati ya? Nanti lecet." Ucap Irfan. Ketiganya kemudian tertawa bersama. Rafindra lalu segera menuju ke hotel. Dia membuka pintu dan sudah melihat Gadis yang memakai jubah mandi. Sepertinya memang benar kalau dia menunggu Rafi. "Ada apa kau menelepon?" Tanya Rafi. Melihat Gadis berpakaian seperti itu membuat Rafi merasa sedikit panas. "Aku mau mandi." Ucap Gadis. "Kan tinggal mandi saja." Ucap Rafi. "Masalahnya aku ingin mandi air hangat tapi sayangnya tidak tahu caranya." Kata Gadis. Rafi sudah salah mengira. Dia pikir Gadis ingin mengajaknya mandi bersama. Namun ternyata dia hanya meminta tolong. Setelah selesai membantu Gadis, Rafi menyuruh Gadis untuk segera mandi terlebih dahulu, sedangkan dia akan mandi berikutnya. Gadis keluar dengan rambut basahnya. Kemudian Rafi menggantikan dia untuk mandi. Beberapa menit setelah itu Rafi juga selesai mandi, namun saat dia keluar dia sudah melihat Gadis yang tertidur sangat lelap di bawah selimut. Rafi bukannya marah tapi dia malah tersenyum. "Gadis, lagi-lagi kamu membuatku seperti ini." Ucap Rafi. Rafi terus melihat perempuan yang kini sudah syah menjadi istrinya itu dengan seksama. Dia tahu kalau saat ini Gadis terlalu lelah. Lagi pula Rafi sudah bertekad tidak akan menyentuh Gadis sebelum Gadis sendiri yang memintanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD