Gadis masih terkejut dengan apa yang Rafi lakukan padanya. Buktinya setelah marah, Gadis hanya diam tak berkata apapun.
"Kamu marah?" Tanya Rafi.
Gadis enggan menjawab. Gadis berfikir kalau ternyata Rafi itu lelaki yang m***m. Mengambil kesempatan dalam kesempitan yang ada.
"Gadis. Tersenyumlah, sebentar lagi kita akan sampai. Aku tidak mau keluargaku melihat kamu yang cemberut itu." Kata Rafi.
Kali ini Gadis benar-benar syok dengan apa yang Rafi katakan padanya.
"Apa? Keluarga? Sekarang?" Tanya Gadis.
"Ayo, makanya jaga sikap kamu. Aku mau bawa kamu bertemu dengan keluarga Wiraatmaja." Kata Rafi.
"Kenapa mendadak begitu sih, mas?" Tanya Gadis sebal.
"Aku sudah mengatakannya pada keluargamu saat kamu mandi, tadi." Kata Rafi.
Gadis menghembuskan nafas kesal. Sama sekali tak menyangka dengan apa yang dia dengar.
"Ok, ok. Jadi nanti apa yang harus aku katakan?" Tanya Gadis.
"Kamu hanya perlu tersenyum dan mengangguk saja." Kata Rafi.
"Baiklah, tersenyum dan mengangguk. Aku bisa." Kata Gadis.
Rafi dan Gadis menuju ke sebuah restoran mewah yang sengaja Rafi pesan untuk keluarganya.
Hal pertama yang Gadis lihat adalah orang-orang kaya yang menatapnya dengan teliti. Gadis mulai menyunggingkan senyumannya.
"Hai semua. Perkenalkan ini Gadis. Calon istriku." Ucap Rafi.
Gadis menyalami semua orang satu persatu. Nina yang melihat itu tersenyum.
"Kok lama banget, mas? Padahal calon mertuamu sudah datang lebih awal." Ucap Salsha.
"Sha, kamu kayak gak ngerti aja kalau mereka beda mobil itu berarti ngapain." Ucap bu Sinta.
"Ah, Gadis. Gak usah di ambil hati. Kita biasa bercanda disini." Ucap Vania.
"Kemana Adrian dan Mahendra?" Tanya Rafi.
"Sebentar lagi mereka kemari." Jawab Windy.
Gadis bertanya-tanya dalam hati. Tentang siapa yang Rafi tanyakan.
"Mereka sepupuku. Bagian dari keluarga Wiraatmaja." Kata Rafi seakan tahu isi hati Gadis.
Vania sedari tadi terus tersenyum ke arah Gadis. Begitu pula sebaliknya. Gadis kagum akan kecantikan yang di miliki oleh Vania.
"Gadis, apa pekerjaanmu?" Tanya Lastri, ibu dari Rafi.
Suara Gadis tercekat. Dia tidak bisa menjawab satu pertanyaan yang ibu Rafi berikan.
"Dia baru akan masuk kuliah, ma." Bukannya Gadis, tapi Rafi yang menjawab.
"Wah, masih muda dong. Umur kamu berapa? Tanya bu Sinta.
"Dua puluh tahun." Jawab Gadis sedikit ragu.
"Apa? Kamu masih dua puluh tahun?" Ucap Lastri sedikit terkejut.
"Tante." Ucap Salsha.
Bu Lastri menghembuskan nafas sejenak.
"Baiklah, karena putraku telah memilihmu, jadi aku setuju dengan apapun pilihannya. Bukan begitu pak Purnomo?" Tanya Lastri.
"Iya Bu. Kalau saya terserah keduanya saja."
Beberapa saat kemudian, Mahendra dan Adrian datang bersama Pak Sandi dan istrinya.
"Maaf, kami terlambat." Kata Pak Sandi.
Mahendra menarik satu kursi di samping Vania. Sedangkan Nina sedari tadi tidak berkedip. Dia tidak menyangka kalau para pewaris Wiraatmaja terlihat sangat tampan dan gagah.
"Yang manis ini siapa? Kenalkan juga diri kamu." Suruh Vania.
Nina merasa kikuk. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Bahkan berada di sana dengan keluarga konglomerat itu dia sudah bahagia.
"Saya Nina. Sahabatnya Gadis." Ucap Nina.
"Kamu manis, adik." Ucap Mahendra.
"Dia sudah Gadis anggap sebagai keluarga." Ucap Rafi.
Gadis menatap Rafi untuk sesaat. Kali ini Rafi melakukan sesuatu yang benar.
"Salam kenal semua." Ucap Nina.
Setelah selesai acara pertemuan itu, Rafi kembali mengantar Gadis pulang. Acara pernikahan sudah di tetapkan dan itu akan terjadi dua Minggu lagi karena Rafi yang memintanya.
"Dis. Kamu mau kemana?" Tanya Rafi saat Gadis hendak masuk kedalam rumah.
"Tentu saja mau masuk kedalam." Kata Gadis.
"Ah, begini. Aku kan sebentar lagi jadi suami kamu. Seharusnya kamu belajar untuk mencium tanganku." Suruh Rafi.
Gadis mencebik kesal. Dia terpaksa menuruti kemauan Rafindra.
Gadis masuk ke dalam rumah dan melihat banyak bingkisan untuknya dari para kakak iparnya saat pertemuan tadi. Nina bahkan sampai terpukau dengan hadiah-hadiah yang mereka berikan pada Gadis.
"Nin, loe ngerasa gak kalau mamanya Om itu gak suka sama aku?" Tanya Gadis.
"Enggak sih, Dis. Mungkin perasaan kamu aja." Kata Nina.
Gadis kembali berpikir namun tetap saja dia merasa kalau Bu Lastri tidak menyukainya.
...
Gadis datang ke kantor untuk melihat keberadaan Papanya. Namun dia terkejut karena beberapa orang berkata kalau Papanya sudah di pecat dari kantor itu. Gadis yang emosi karena merasa di bohongi oleh Rafindra datang dan masuk ke ruangannya tanpa permisi.
"Kenapa Om bohong? Papaku di pecat. Om udah gak nepatin janji, Om." Ucap Gadis tanpa jeda.
"Yoga, keluar. Biarkan kami bicara berdua." Kata Rafi.
"Kemari lah. Duduk ." Suruh Rafi.
Gadis duduk dan membuang muka. Dia sangat sebal dengan kelakuan Rafi.
"Kenapa kamu marah-marah?" Tanya Rafi.
"Papaku kenapa harus di pecat?" Tanya Gadis.
Matanya melotot seakan-akan ingin memakan Rafindra hidup-hidup saat itu juga.
"Iya memang benar. Papa kamu di pecat dan sudah tidak bekerja disini." Ucap Rafi.
"Kalau papa aku di pecat. Gimana dia bisa hidup, Om?" Ucap Gadis masih dengan amarahnya.
"Gadis. Aku sudah bilang jangan panggil Om lagi." Kata Rafi masih dengan kesabarannya.
"Terserah deh. Pokoknya aku mau papaku kerja disini lagi. Om harus menepati janji. Jangan jadi pembohong seperti itu." Ucap Gadis.
Rafindra sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Gadis. Matanya memerah seakan-akan hilang kendali. Gadia merasa takut melihat Rafi yang seperti ini sekarang.
Rafi menarik tangan Gadis agar dia berdiri. Tangan Rafi mulai menarik tubuh Gadis dan kini dia sudah ada dalam dekapan Rafi. Gadis memejamkan mata dan hanya diam. Dia sudah siap kalau nantinya Rafi akan memberikan tamparan untuknya.
Rafi menatap Gadis dengan seksama. Wajahnya semakin terlihat cantik dari dekat. Sekali-kali Rafi ingin bermain sedikit dengan gadis itu agar dia tidak cerewet lagi.
Rafi mulai melumat bibir Gadis dengan lembut untuk beberapa saat. Gadis terkejut dan diam membeku dengan apa yang dilakukan Rafi terhadapnya. Tangan Gadis sontak mendorong Rafi ke belakang.
"Sudah aku bilang. Taruhannya masih berlaku. Kalau kamu panggil aku dengan Om. Aku akan semakin beruntung." Kata Rafi.
"Ayo ikut aku. Agar kamu tidak salah paham lagi." Kata Rafi.
Awalnya Gadis menolak, namun Rafi memaksanya. Gadis lantas mengikuti kemana Rafi pergi. Beberapa menit setelah itu Rafi membawa Gadis ke sebuah restoran yang cukup mewah. Gadis ingin protes sekali lagi karena dia pikir saat ini Rafi hendak bermain-main dengannya.
Sebelum itu terjadi, Pak Purnomo menampakkan diri dan melihat itu Gadis jadi tidak marah.
"Papa. Kenapa ada disini." Kata Gadis.
"Papa lupa cerita sama kamu. Sekarang papa dan Abangmu akan mengurus restoran nak Rafi. Jadi papa tidak lagi bekerja sebagai OB." Kata Pak Purnomo.
Seketika itu juga Gadis merasa bersalah. Dia memandang Rafi yang sedari tadi hanya diam saja.
Setelah pulang dari restoran Gadis mulai meminta maaf.
"Maafin aku, mas. Aku sudah salah paham." Kata Gadis.
"Tidak masalah. Aku mengerti itu. Anak kecil sepertimu memang biasanya tidak bisa menahan emosi." Kata Rafi.
Kali ini Gadis emosi. Dia tidak terima jika Rafindra mengatainya anak kecil.
"Aku bukan anak kecil." Kata Gadis.
"Kamu masih kecil, Gadis. Buktinya saat berciuman saja kamu kaku." Ucap Rafi.
"Hahaha. Kamu Salah. Aku sudah berpengalaman." Ucap Gadis tak mau kalah.
Dia tidak mau kalau Rafi menyangka dia gadis ingusan yang bahkan berciuman saja tidak bisa.
"Jangan bohong. Aku tahu itu." Kata Rafi.
"Siapa bilang? Bahkan dulu mantan-mantanku sampai suka berciuman denganku." Kata Gadis.
"Benarkah?" Tanya Rafi.
"Benar. Tentu saja." Kata Gadis.
"Kalau begitu, buktikanlah." Kata Rafi.
"Maksudmu apa?" Tanya Gadis.
"Cium aku sekarang." Suruh Rafi.
Gadis mulai salah tingkah. Ucapannya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Kalau dia menolak, dia akan ketahuan kalau dia berbohong. Bahkan berciuman saja dia tidak tahu caranya. Gadis berpikir sejenak dan mulai mengingat adegan ciuman di film Titanic yang pernah dia tonton.
Gadis mulai memberanikan diri untuk mendekati Rafi dan menatapnya. Gadis tersenyum dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir Rafindra. Namun karena memang dia sebelumnya belum pernah mencium seseorang, perbuatan Gadis terhenti di sana. Rafindra yang merasakan itu justru yang bermain terlebih dahulu. Lidahnya menelusup masuk kedalam bibir Gadis. Lumatan kecil itu terjadi.
"Ini yang namanya ciuman." Ucap Rafi.