Semakin Tertarik

1411 Words
Rafi melangkahkan kaki dan masuk ke dalam kantor. Dia melihat Gadis yang sedang duduk di lobi perusahaannya. Rafi menyuruh para pengawalnya untuk membiarkan dia sendiri. Rafi menuju ke arah Gadis dan mendekatinya. "Hai." Kata Rafi. "Lho, Om yang kemarin ya?." Tanya Gadis. Rafi tersenyum dan mengangguk. Gadis lalu membalas senyuman Rafi. "Kamu ngapain disini?" Tanya Rafi. "Aku ada kepentingan, Om. Aku harus ketemu sama pemilik perusahaan ini." Ucap Gadis. "Untuk Apa?" Tanya Rafi. "Papa saya di pecat kemarin. Aku mau ngomong sama pemilik perusahaan agar papa bisa kerja lagi disini." Kata Gadis dengan polosnya. "Kamu tahu, siapa pemilik perusahaan ini?" Tanya Rafi Gadis menggeleng. "Oh, iya. Kan Om kerja disini. Pasti tahu, kan?" Tanya Gadis. "Pemilik perusahaan sangat sulit untuk di temui." Jawab Rafi. "Gadis gak akan menyerah, Om. Aku bakal nunggu disini." Kata Gadis. "Baiklah. Kamu sekarang pulang. Nanti akan aku pastikan papa kamu akan kembali bekerja disini." Kata Rafi "Beneran, Om?" Tanya Gadis. "Kamu jangan panggil aku Om. Aku masih cukup muda." Kata Rafi "Emang umur Om berapa?" Tanya Gadis "35 tahun." Jawab Rafi "Ya benar, Om. Aku harus panggil apa? Usia kita selisih 15 tahun. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku sudah mau masuk sekolah." Gadis berlari menuju ke sekolahnya. Bahkan sekarang Rafi tak dapat melihat Gadis walau dari jauh. Hati Rafi berdebar-debar. Rasanya makin tak karuan. Dia bertanya-tanya ada apa dengan dirinya saat ini. Ada sebuah rasa ketertarikan yang Rafi rasakan. Namun dia masih berpikir normal. Dia tidak mungkin suka pada Gadis yang umurnya terpaut jauh darinya. Bisa-bisa Rafi dikira Sugar Daddy. "Yoga, nanti siang tolong suruh pak Cipto ke ruangan saya." Kata Rafi. "Baik, pak." Jawab Yoga. Siang harinya, pak Cipto datang keruangan Rafi dengan raut wajah keheranan. "Masuk dan duduklah." Ucap Rafi. "Ada perlu apa, pak?" Tanya pak Cipto. "Pilihannya dua. Kamu berhenti bekerja disini atau kamu suruh pak Purnomo supaya bekerja lagi disini." Kata Rafi. "Maksud bapak apa?" Tanya pak Cipto kebingungan. "Tidak ada pertanyaan lagi. Lakukan atau kamu taruh surat pemunduran diri kamu di meja saya, besok." Ucap Rafi tegas. "Baik, pak." Ucap pak Cipto pasrah. .... Gadis memasuki area sekolah. Semua mata tertuju padanya. Bayangkan saja, semua seakan menghina Gadis karena beberapa bulan yang lalu keluarganya jatuh miskin. Sekolah di sebuah SMA favorit membuat Gadis tidak malu walau kini dia sudah tidak setara dengan teman-temannya yang lain. Gadis disambut gembira oleh seorang sahabatnya yang bernama Nina. Hanya dia satu-satunya sahabat yang Gadis miliki saat ini. Nina adalah salah satu siswa beasiswa yang memang dari kalangan tidak mampu. Semua teman-teman Gadis yang awalnya dekat dengannya setelah tahu kalau Gadis jatuh miskin malah menjauhinya. Hanya Nina yang masih bersedia menjadi sahabat terbaik untuk Gadis. "Dis, tumben hampir telat? Untung bel baru aja bunyi." Kata Nina. "Gue ada urusan bentar, Nin. Lagipula kan udah selesai ujian, ini cuma formalitas doang buat masuk sekolah." Kata Gadis. "Setelah ini Loe mau lanjut kemana?" Tanya Nina. "Gue juga nggak tahu, Nin. Kayaknya gue mau kerja aja." Jawab Gadis. "Kenapa loe gak coba kuliah ngambil jalur beasiswa aja, Dis." Suruh Nina. "Gue cuma pengen kerja biar bisa bantuin beban bokap gue. Kasihan dia, udah tua juga. Andai aja mama masih ada, mungkin bokap gue gak akan sesedih ini karena kelakuan abang gue." Kata Gadis. Nina menepuk pundak Gadis menandakan dia simpati pada sahabatnya itu. "Wah, hebat banget ya? Dua cewek miskin ada disini. Ngerusak pemandangan aja." Kata salah satu siswa yang bernama Aura. Dia salah satu siswa terkaya disekolah itu. Dari awal dia memang sudah tidak menyukai keberadaan Gadis. Dia pula yang mengompori semua teman-teman Gadis agar menjauh darinya. Tiba-tiba seorang siswa laki-laki datang membela Gadis. "Loe apaan sih. Suka banget loe gangguin Gadis. Emang dia salah apa sama loe?" Kata Randy. "Rand, loe yakin belain cewek miskin ini?" Tanya Aura. "Dia cewek gue. Dan gue bakalan belain dia. Loe jangan pernah ganggu dia lagi." Kata Randy. Gadis tersenyum senang mendengar kekasihnya membela dirinya. Sedangkan Aura pergi dengan rasa kesal dan kembali duduk di bangkunya. "Kamu baik-baik aja kan, Dis?" Tanya Randy. "It's okay. Aku baik-baik aja kok." Kata Gadis. "Cie, cie yang pacaran. Romantis abis deh." Kata Nina. "Apaan sih, Nin. Gue kan malu." Kata Gadis. Randy dan Gadis resmi menjadi sepasang kekasih sejak tiga bulan lalu. Randy salah satu siswa terkaya disekolah ini. Aura suka pada Randy tapi sayangnya Randy justru menaruh hati pada Gadis. Dan itu justru membuat Aura semakin benci pada Gadis. "Kamu gak usah dengerin Aura, ya? Dia itu memang suka banget bikin gara-gara sama kamu." Ucap Randy. "Santai aja, Rand. Udah biasa kok. " Kata Gadis. Randy mengusap puncak kepala Gadis. Aura yang melihatnya semakin tidak suka. Aura begitu iri pada sosok Gadis. Aura pikir dia lebih dari segalanya dari pada Gadis. Tapi entah kenapa dia selalu kalah dari segi apapun dari Gadis. Gadis selalu saja menjadi idola di sekolah. Tubuh Gadis yang sintal dan berisi membuat semua lelaki fi sekolah itu selalu mendambakan sosok Gadis. Bagi pria, dekat dengan Gadis menjadi hal yang di inginkan. Sedangkan para perempuan akan berlomba-lomba untuk menjelek-jelekkan Gadis. Selama ada Gadis, semua pria disekolah akan tergila-gila padanya. Siapa yang tidak suka pada Gadis. Tubuhnya elok dengan d**a yang menonjol. Matanya bulat indah. Rambutnya lurus panjang dan hitam. Tubuhnya tinggi dengan kulit putih bak porselen. Semua pria mengidamkan sosok Gadis. Randy menjadi pria beruntung yang berhasil menjadi kekasih Gadis. Dalam hal pelajaran tentu saja Gadis tidak usah dipertanyakan. Gadis cukup pandai walau masih nomer dua dibawah Nina. Bel istirahat berbunyi. Gadis dan Nina lekas menuju kantin. Mereka takut tidak kebagian tempat duduk. Sepanjang perjalanan, Semua pria banyak menggoda Gadis. Sedangkan para perempuan sibuk menggosipkan tentang Gadis. "Dis, ikut gue Dangdutan yukz nanti." Ucap salah satu pria menggoda Gadis. "Najis amat." Jawab Gadis Beberapa pria tertawa mendengar jawaban Gadis. Itu sudah hal biasa yang Gadis alami setiap hari. "Dis, seksi amat sih. Boleh dong jadi pacar kamu." Ucap satu pria. Kali ini Randy tidak tinggal diam. Dia menghampiri pria itu lalu memberinya peringatan. "Dengar ya. Loe harus tahu kalau Gadis itu cewek gue. Jangan sekali-kali loe gangguin dia. Atau loe bakal berurusan dengan Gue." Kata Randy. Randy menghampiri Gadis dan ikut bergabung dengan ketiganya. "Gini ya kalau punya cewek se populer kamu?" Ucap Randy. "Enggak ah, Rand. Aku cuma cewek biasa aja. Apalagi dengan keadaan aku yang sekarang." Ucap Gadis sedih. "Emangnya kenapa? Bagaimanapun keadaan kamu, aku tetap cinta sama kamu." Ucap Randy. "Makasih Rand." Jawab Gadis. "Udah ah. Gue berasa kayak nyamuk disini. Mending kita ngomongin masalah acara perpisahan Minggu depan ini. Loe gak lupa kan, Dis. Loe ada tanggung jawab buat nyanyi." Ucap Nina. "Aduh, Gue lupa Nin. Kenapa harus gue sih? Padahal gue gak sebagus itu kalau nyanyi." Ucap Gadis. "Suara loe bagus kok, Dis. Dari pada gue yang nyanyi ya mendingan loe. Kalau gue disuruh nyanyi yang ada panggungnya malah roboh." Kata Nina. "Sejak kapan loe tahu kalau gue bisa nyanyi?" Tanya Gadis penasaran. "Hehe. Waktu itu loe nyanyi dikamar mandi pas nginep di rumah gue." Kata Nina. "Oh iya? Jadi suara Gadis sebagus apa?" Tanya Randy. "Bagus banget Rand. Lihat aja nanti deh pas Pensi." Kata Nina. "Ok, gue tungguin." Kata Randy. ... "Pak Rafi. Ada undangan dari salah satu SMA favorit dalam acara perpisahan Minggu depan. Sekolah mengundang bapak karena sudah menjadi donatur tetap di sana." Kata Yoga. "Kamu kan tahu sendiri, kalau saya gak suka datang ke acara seperti itu. Kamu tahu kan kalau orang-orang itu hanya basa-basi saja. Supaya saya tetap berdonasi di sekolah itu. Tanpa itupun saya juga akan tetap berdonasi." Jawab Rafi. "Baiklah pak. Berarti kita harus melewati acara itu. Padahal SMA itu tempat dimana Nona Gadis sekolah. Dan saat itu juga hari kelulusan Nona Gadis." Ucap Yoga. Mendengar nama Gadis, Mata Rafindra menatap ke arah Yoga. "Saya gak salah dengar kan? Sekolahnya Gadis?" Tanya Rafi. Yoga menganggukkan kepala. Sepertinya Rafindra mengubah pikirannya. "Sepertinya sesekali boleh menghadiri acara seperti itu. Hitung-hitung mencari relasi baru." Ucap Rafi. Yoga diam dan melongo. Bosnya itu pandai sekali berdalih. "Kosongkan waktu beberapa jam untuk acara itu." Suruh Rafi masih dengan wibawanya. "Baik pak. Saya akan segera mengosongkan jadwal bapak." Ucap Yoga. Sebenarnya Yoga sengaja melakukan itu karena dia tahu kalau Bosnya itu tertarik pada nona berseragam yang beberapa kali bosnya temui. Selama beberapa tahun bekerja pada Rafi, baru kali ini Yoga melihat bosnya tertarik pada perempuan. Yoga memutuskan untuk membuat bosnya dekat dengan Gadis. Yoga berharap kalau Gadis akan membuat hidup Rafindra menjadi lebih berwarna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD