Rafindra terpaku saat melihat Gadis yang berdiri di depan sebuah toko pakaian. Gadis menatap sebuah pakaian di salah satu patung. Rafindra tahu kalau perempuan itu menginginkan gaun yang dipajang di sana. Rafindra mengeluarkan ponsel miliknya dan menelepon seseorang. Tak selang beberapa lama, pegawai toko menaruh tulisan di patung itu dengan kata diskon 90%. Gadis yang melihat itu tidak percaya.
Gadis masuk kedalam toko itu dan menanyakan harga pakaian itu. Pegawai berkata kalau harga pakaian itu awalnya dua ratus ribu. Karena sedang diskon harganya menjadi dua puluh ribu. Memang tidak masuk akal, tetapi uang Gadis cukup untuk membelinya. Akhirnya Gadis membawa gaun itu bersamanya.
Gadis melangkah keluar dengan perasaan yang sangat senang. Dia merasa beruntung. Baru saja menginginkan sesuatu dan kini dia telah mendapatkannya.
"Bos. Apa tidak terlalu aneh? Dimana-mana diskon itu paling tidak 50%. Ini malah sampai 90%." Ucap Yoga.
"Biarkan saja. Lagi pula Gadis itu polos. Dia tidak akan menyangka kalau itu karena aku." Jawab Rafi.
Gadis menghampiri Nina dan menceritakan semuanya. Nina sampai melongo tak percaya dengan apa yang Gadis ceritakan.
"Beneran dis? Tanya Nina.
"Iya Nin. Gue aja gak percaya kok." Kata Gadis.
"Jadi ceritanya nanti pas manggung loe pakai baju itu?" Tanya Nina.
Gadis nyengir dengan ciri khasnya. Membanggakan keberuntungan yang dia punya saat ini.
...
"Ingat Dis, sebentar lagi waktu loe buat tampil. Kalau bisa ulur waktu biar lama. Soalnya satu penyanyi cowok yang kita undang belum datang." Ucap salah satu panitia.
"Iya, bawel banget sih." Ucap Gadis.
Gadis begitu sebal karena penyanyi yang sekolahnya undang belum kunjung datang. Kini giliran Gadis untuk menyanyi. Gadis naik ke atas panggung dan berdiri seperti patung. Beberapa pemain musik dibelakangnya juga diam.
"Cepetan nyanyi, bego." Ucap Aura.
"Kalau gak bisa nyanyi turun aja." Ucap yang lain.
"Gadis, Gadis, Gadis." Ucap barisan para cowok di depan panggung.
Gadis menatap ke arah Aura yang sangat menyebalkan. Gadis bingung dan grogi. Akhirnya Gadis mengambil satu gitar dan memainkannya.
Rafindra dan Yoga yang baru saja tiba disambut oleh beberapa panitia dan kepala sekolah di sana. Rafindra di antar menuju salah satu kursi untuk orang-orang penting. Rafindra tertegun saat melihat ke atas panggung kalau ada Gadis yang sedang memetik sebuah gitar.
"Gadis, loe bisa." Teriak Nina dari bawah panggung.
Jreng...Jreng.....
Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan kusentuh dia
Terasa hangat, oh, di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua kulihatnya pergi
Semua terpana mendengar suara indah Gadis. Mereka tak menyangka kalau Gadis punya suara seindah itu.
Begitu pula dengan Rafindra. Dia terpana dan juga tak menyangka. Gadis sangat mirip dengan sosok Aurel. Dulu Aurel juga suka bernyanyi sambil bermain gitar. Jantung Rafindra berdetak cepat. Tanpa dia sadari Rafindra berjalan mendekat dan naik ke atas panggung untuk mendekati Gadis. Itu di luar kendalinya. Gadis yang melihat kedatangan Rafindra tertegun. Ini pertemuan ketiga kalinya Gadis dengan lelaki itu.
Gadis berfikir kalau selain menjadi karyawan, Rafindra juga mencari sampingan dengan menyanyi. Akhirnya Gadis menyerahkan mic yang dia pegang pada Rafindra. Dan Rafi sendiri bingung tak tahu apa yang Gadis maksud. Rafi mengambil mic yang Gadis berikan. Seketika itu Gadis turun dan berkata.
"Good luck." Ucapnya.
Rafi masih memandangi sosok Gadis yang sudah ada dibawah panggung. Mata Rafi tertuju pada Yoga yang hanya melongo sambil melihat tingkah konyol Bosnya. Yoga tak habis pikir dengan apa yang Rafi lakukan. Bisa-bisanya Rafi terbawa suasana dan sekarang dia menanggung akibatnya sendiri. Yoga tidak tahu kalau Bosnya itu bisa menyanyi atau tidak. Tapi Yoga yakin kalau dia tidak bisa menyanyi sama sekali. Yang Yoga tahu, Bosnya itu hanya bisa marah. Bahkan suara Bosnya itu saat marah terdengar Fals di telinga Yoga.
Rafindra celingak-celinguk di atas panggung. Sementara seluruh siswa memandanginya dari bawah. Sedetik kemudian terjadi apa yang tak diinginkan Rafi.
"Nyanyi, nyanyi." Ucap semuanya.
Rati menatap Gadis yang juga ikut mengatakan itu. Rafi bingung harus berbuat apa. Dulu dia pernah tampil menyanyi saat SMA. Tapi itu sudah sekitar 17 tahun yang lalu. Rafi sudah lupa caranya menyanyi. Semua siswa di bawah menuntut agar Rafi lekas menyanyikan lagu. Rafi merutuki kebodohannya sendiri. Salahnya sendiri kenapa dia sampai kebablasan dan naik ke atas panggung hanya karena menikmati suara Gadis yang sangat merdu.
Rafi melihat sebuah Keybord. Dia baru ingat kalau dirinya bisa memainkan itu. Rafi berbisik pada beberapa pemain musik didekatnya. Setelah itu Rafi menarik kursi dan mulai memainkan sebuah lagu sambil menyanyi. Satu lagu kenangan saat dia masih bersama Aurel. Satu lagu yang pernah booming di masanya kala itu. Satu lagu dengan penyanyi yang sama yang di nyanyikan Gadis barusan. Rafindra juga tak menyangka kalau Gadis yang masih remaja itu tahu lagu-lagu dari band Ello. Dulu Aurel juga suka dengan lagu-lagu dari Letto.
Kubuka mata dan kulihat dunia
T'lah kuterima anugerah cintanya
Tak pernah aku menyesali yang kupunya
Tapi kusadari ada lubang dalam hati
Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati
Apakah itu kamu? Apakah itu dia?
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta? Apakah itu cita?
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati
Semua berteriak histeris mendengar suara merdu Rafindra. Para perempuan berteriak karena saking bagusnya saat Rafi menyanyi. Bahkan Aura juga mengagumi ketampanan dari Rafi.
Walau sudah dewasa, tapi ketampanan Rafi masih terlihat jelas. Bahkan siapapun tidak akan menyangka kalau sekarang usianya sudah 35 tahun. Beberapa siswa perempuan menghampiri Rafi yang baru saja selesai menyanyi. Mereka tidak segan-segan mengajak Rafi berkenalan dan meminta nomer telepon.
"Wah, saya tidak menyangka kalau pak Rafi bisa menyanyi sebagus ini. Murid-murid disini sampai histeris tadi." Ucap kepala sekolah.
Beberapa saat kemudian, penyanyi yang asli datang. Gadis kebingungan dan dia menepuk dahinya sendiri. Dia sudah salah mengira kalau tadi Rafi itu penyanyi yang telah dibayar sekolahnya.
"Wah, kamu keren banget nyanyinya." Ucap Randy.
"Makasih." Jawab Gadis.
Randy menggenggam tangan Gadis dan mengajak Gadis duduk bersamanya. Melihat itu Rafi mengepalkan tangannya. Entah kenapa dia bisa seperti itu. Rafi tidak suka melihat Gadis bersama lelaki lain.
Di sepanjang acara, Rafi masih terus menatap Gadis dan Randy yang terlihat sangat mesra. Hatinya kesal melihat pemandangan di depannya. Akhirnya Rafi menyuruh Yoga agar membuat Gadis dan Randy terpisah.
Entah apa yang Yoga lakukan. Seorang guru memanggil Randy dan akhirnya dia meninggalkan Gadis. Itu membuat senyum Rafindra mengembang.
Gadis terlihat sangat cantik dengan gaun yang dia beli kemarin. Rafindra sampai terpana. Apalagi melihat senyum Gadis yang sangat manis. Hati Rafi berdebar-debar dibuatnya. Rafindra melihat Gadis yang menjauh dari keramaian dan menerima sebuah telepon. Gadis amat terkejut dengan apa yang dia dengar. Gadis pergi dari sekolah dengan secepat mungkin. Tangisnya langsung pecah seketika itu juga. Rafi yang melihat itu malah mengikuti Gadis.