Part 9 - Badai Datang

2198 Words
Jungwoon menatap nanar ke arah Yebin yang sedang tertawa bahagia dengan Jaehoon dan juga anak-anak mereka. Baiklah, inilah akhirnya. Kurelakan kau bersamanya, asalkan engkau bahagia, Kang—oh tidak, maksudnya Byun Yebin. "Aku menyerah," Jungwoon berucap pelan, "Mereka benar-benar keluarga yang hangat dan bahagia." Heejoo menoleh dengan cepat pada Jungwoon. Jungwoon menyerah? Benarkah? Apakah ini kesempatannya untuk merebut hati pria itu? Heejoo mengulum senyumnya. "Akhirnya kau mengerti juga." cibir Heejoo berpura-pura ketus. "Tapi sebagai gantinya, aku tak akan kalah dari mereka! Aku pasti akan menikah secepatnya!" ucap Jungwoon berapi-api. 'Baiklah bila kau terburu-buru. Aku juga menginginkan hubungan yang serius.' batin Heejoo sambil tersenyum cerah. "Lalu aku akan punya banyak anak! Empat—eh Tidak! Tujuh anak!" tambah Jungwoon lagi. 'K-kurasa aku masih bisa mengabulkannya.' Wajah Heejoo memerah. Tentu saja ia tak mengatakannya dengan lantang seperti Jungwoon. Ia hanya berucap dalam hati. "Lalu hidup bahagia dengan anak dan istriku." Jungwoon mengepalkan kedua tangannya penuh tekad. Jungwoon akan berusaha melupakan Yebin sekarang. Hm! Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mewujudkan impiannya tadi. Memiliki keluarga bahagia seperti Jaehoon dan Yebin. "Tapi bila kau ingin menikah, kau harus punya mempelai wanitanya dulu." Heejoo memberi kode keras. Heejoo benar-benar menahan diri untuk tidak langsung mengatakan, 'Kalau begitu menikahlah denganku' begitu. "Benar juga," Jungwoon mengangguk-angguk membenarkan. Heejoo menatapnya penuh harap. Jungwoon terdiam sebentar, lalu kemudian tiba-tiba menggenggam kedua tangan Heejoo erat. Mata Heejoo membola, 'Apa ini? Apa ia ingin melamarku?' batin Heejoo gugup. "Kalau begitu, kenalkan aku pada teman-teman wanitamu Heejoo-ya! Katakan pada mereka aku pria tampan, mapan dan siap untuk menikah!" pinta Jungwoon penuh semangat. Pernah dengar suara pecahan kaca yang biasa di putar di anime-anime itu? Heejoo mendengarnya sekarang. Oh, itu bukan kaca yang pecah. Tapi harapan dan hatinya yang pecah berkeping-keping. Oh tuhan, ia tahu membunuh itu dosa. Ia juga kemarin-kemarin hanya bercanda mengatakan ingin membunuh Jungwoon. Tapi sungguh ... sungguh saat ini ia ingin memutilasi Jungwoon dengan pisau daging yang ia gunakan untuk membantu Yebin memotong-motong daging sapi tadi. "Mati saja kau sana!" ucap Heejoo dingin sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Jungwoon yang menatapnya bingung. "Heejoo-ya! Hei! Mengapa kau marah?" *** "Aku bertaruh Yeonsoo akan memutuskan hubungan kalian!" ucap Yebin kesal. "Aku juga!" Seokjoong menambahkan, "Park Woojin, kau gila? Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan Yeonsoo sebelum bertindak begitu?" Diserang seperti itu oleh calon kakak ipar dan juga orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya membuat Woojin tak bisa berkutik. Namun ia tak ingin goyah sekarang. Lagipula hei! Dia bukan satu-satunya yang salah disini! "Hei hei, jangan menghakiminya begitu, pikirkan juga bila kalian berada di posisi Woojin," Jaehoon menengahi, "Mereka berdua sama-sama salah, menurutku." Yeonsoo tak datang ke pesta perayaan rumah baru Yebin karena masalahnya dengan Woojin. Park Woojin, dengan kekuasaan kakeknya, diam-diam membatalkan pengiriman berkas pendaftaran Yeonsoo ke universitas yang diinginkan kekasihnya itu dengan alasan tidak ingin Yeonsoo kuliah di luar negeri. Saat Yeonsoo tahu, gadis itu mengamuk dan hingga sekarang belum mau keluar dari kamarnya. Wajah tampan Woojin sekarang jadi tak berbentuk karena dicakari oleh kekasihnya itu. "Woojin dan Yeonsoo sudah sepakat Yeonsoo akan kuliah di Universitas Seoul. Tapi Yeonsoo malah diam-diam mengirimkan berkasnya ke sana. Woojin juga pantas marah." tambah Heejoo yang memang mengetahui dengan jelas permasalahan di antara keduanya. "Tapi tetap saja—" "Terserah kalian mau bilang apa," Woojin memotong ucapan Yebin, "Aku tak merasa diriku salah disini. Kami sudah sepakat dan dia menyalahi kesepakatan itu. Aku takkan minta maaf. Tak akan pernah!" *** Yeonsoo menunggu. Iya, ia menunggu Woojin pulang. Woojin pasti tak tahan bila Yeonsoo mendiamkannya. Selalu begitu. Pria itu pasti akan meminta maaf lebih dulu padanya seperti biasanya. "Kenapa dia lama sekali? Aku kelaparan disini!" keluhnya sambil menggelungkan diri ke dalam selimut. Ia tahu, kali ini ia yang salah. Tapi seharusnya Woojin mengerti perasaannya. Ia sudah memimpikan dirinya kuliah di luar negeri sejak dulu. Woojin yang merupakan orang yang baru masuk ke dalam kehidupannya tidak seharusnya menghancurkan rencana masa depannya seperti ini. Drrttt ... drrttt ... "Itu pasti Kak Woojin!" Seulgi dengan semangat mengambil ponselnya dan mengangkat telponnya, "Halo Kak?!" "Ini aku." suara Yebinlah yang terdengar. Yeonsoo mengecek kembali nama kontak yang tertera di layar ponselnya dan mendengus menyadari memang Yebin yang menelponnya. "Ya, Kak. Ada apa?" "Kang Yeonsoo, sudah waktunya makan malam. Cepatlah kemari!" "Kenapa? Apa Kak Woojin yang memintaku begitu? Tidak mau! Sebelum ia minta maaf padaku, aku takkan pernah mau menemuinya!" ucap Yeonsoo bersikeras. "Cepatlah kemari atau kau tidak akan dapat makan malam hari ini. Woojin bilang ia tidak akan pulang malam ini. Dia sudah pergi, entah kemana." "Apa kau bilang? Apa maksudnya tidak pulang malam ini! Bagaimana bisa—" "Tidak tahu." Klik ... Telpon dimatikan. Yeonsoo melempar ponselnya ke lantai dengan emosi. Untung saja lantainya dialasi karpet berbulu. Kalau tidak, ponselnya mungkin sudah hancur berkeping-keping. "Mengapa dia keras kepala sekali? Menyebalkan!" jerit Yeonsoo frustasi. *** Yebin menunggu. Sudah beberapa jam semenjak ia menelpon Yeonsoo, tapi gadis itu belum datang-datang juga. Yang datang malah Jungmyeong dan Minkyu. Teman-teman Yeonsoo itu sekarang sedang bermain di ayunan yang ada di balkon rumah baru Yebin. Mereka seperti pasangan kekasih, mesra sekali. Tak heran Yeonsoo sering menjodoh-jodohkan mereka. Yebin mendengus geli. "Aku dibodohi oleh gadis gila itu," Jungmyeong mendorong ayunannya dengan agak kencang, "Ternyata aku memang diundang ke pesta ini. Ia bilang akan mempertemukanku dengan Kak Yebin tapi ternyata tanpa bantuan Yeonsoo pun aku sudah akan bertemu dengannya. Dasar fujoshi laknat!" "Hei hei Senior! Aku akan mati karena terjatuh dari balkon kalau kau mendorongnya sekencang itu! Aku belum punya kekasih! Aku belum mau mati!" jerit Minkyu. "Bukankah sudah kukatakan padamu jangan memanggilku senior!" Jungmyeong berhenti mendorong ayunannya, Ia menghela nafas, "Walau sudah bertemu pun aku tak bisa melakukan apa-apa. Dia sudah menjadi milik orang lain, aku bisa apa?" Minkyu turun dari ayunan. Ia merasa iba pada Jungmyeong. Minkyu menepuk pelan pundak sahabatnya itu. "Haruskah ... kuberikan Hyeri untukmu?" "Itu tidak membantu sama sekali! Itu memang keinginanmu! Kau memang ingin menyingkirkannya, bodoh!" Jungmyeong menjitak kepala Minkyu. Namun yang dijitak hanya menyengir. "Lalu aku harus bagaimana? Aku juga korban cinta bertepuk sebelah tangan. Kau tahu aku menyukai Yeonsoo bukan?" "Kau masih menyukainya?" "Kau pikir melupakan seseorang yang telah lama kau sukai itu mudah? Itu butuh proses. Dan aku sudah memilih untuk menjalani proses itu. Berbeda denganmu yang masih mengharapkan Kak Yebin." Minkyu tersenyum, "Aku memang masih belum melupakan perasaanku pada Yeonsoo. Tapi aku sudah berusaha menerima kenyataan bahwa Yeonsoo hanya mencintai Kak Woojin. Dengan begitu, rasa sakit yang kurasakan saat melihat mereka bermesraan jadi berkurang." Jungmyeong terdiam. Haruskah ia mulai menerima kenyataan seperti yang Minkyu lakukan? *** Woojin memasuki rumah kakeknya dengan langkah mantap. Ia takkan pulang malam ini, tidak akan! Walau ia merasa khawatir karena Yeonsoo tak bisa tidur kalau tidak di sampingnya. Woojin juga tidak akan pulang walau dia khawatir kalau Yeonsoo kelaparan karena tak ada makanan apapun di kulkasnya. "Jangan khawatir ... jangan khawatir ... ia akan baik-baik saja, baik-baik saja—Eh? Mengapa kau disini?" Woojin menatap Seungwan heran. Seungwan juga balas menatapnya tak kalah herannya. "Kau lupa? Aku memang tinggal disini untuk sementara. Seharusnya aku yang tanya, mengapa kau disini? Mana gadis gila yang selalu mengikutimu itu? tanya Seungwan. "Ah itu ..." Woojin menggaruk tengkuknya. Tanpa diberitahu pun Seungwan langsung tahu kalau ada masalah diantara Woojin dan Yeonsoo. Ia tersenyum. "Jadi kau bertengkar dengan istri pertamamu dan kabur ke rumah istri keduamu?" goda Seungwan. "A-apanya yang istri pertama dan istri kedua? Kau itu bukan istri keduaku! Dan lagi, aku tidak bertengkar dengan Yeonsoo!" elak Woojin. "Siapa yang bilang aku istri keduamu? Maksudku Kakeklah istri keduamu. Lagipula ini rumah Kakek, bukan rumahku." ejek Seungwan. "Yayaya terserah!" Woojin mendengus dan melangkah ke kamarnya. Kakek Park tak ada di rumah, begitu pun Nenek Son. Nenek Son ... mari tetap memanggilnya begitu walau ia sudah menikah dengan Kakek Park. Ting ... Ponsel yang ada di saku Woojin berdering tanda ada pesan masuk. My Future Wife Kau dimana? "Bukan urusanmu!" Woojin tak membalasnya. Ia memilih untuk mengambil handuk dan meletakkan ponselnya di atas meja. Mungkin dengan mandi ia bisa menyegarkan kembali kepalanya yang panas. *** Woojin mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia sudah segar sekarang. Matanya melirik ke arah ponselnya. Tiga puluh panggilan tak terjawab dan empat puluh lima pesan baru? Kang Yeonsoo memang orang yang pantang menyerah, ya? Isi dari pesan itu kebanyakan makian untuk Woojin. Woojin meringis, saat mereka baikan nanti ia akan berusaha merubah tabiat buruk Yeonsoo yang suka mengucapkan kata-k********r. Liat saja nanti! "Eh? Tunggu!" My Future Wife Kau pasti di rumah Kakek bukan? My Future Wife Park Woojin, jangan bilang ada Kak Seungwan di sana? Mengapa ia mengirimkan foto pintu kamarmu di SNS? Captionnya 'Suamiku pulang' lagi! My Future Wife Kalau kau tidak pulang dalam tiga puluh menit, aku akan menghampirimu hanya dengan menggunakan piyama! My Future Wife Kau masih belum membalas pesanku? My Future Wife Keluarlah, aku menunggumu di depan rumah Kakek. Pesan terakhir itu sudah lebih dari satu jam yang lalu! Woojin  mengutuki kebiasaanya yang kalau mandi, apalagi berendam, selalu lama. Ia menyambar jaket, syal, selimut atau apapun yang bisa menghangatkan badan sebelum keluar untuk menemui Yeonsoo. Benar saja, gadis itu ada di depan rumah Kakek Park, berjongkok seperti pengemis sambil menunggunya. Woojin segera menghampiri gadis itu. "Hei! Mengapa kau kemari? Dan apa-apaan ini? Kenapa kau hanya pakai piyama? Kau mau mati? Mengapa kau tak langsung masuk saja?" bentak Woojin. Ia memakaikan jaket dan syal yang ia bawa ke tubuh Yeonsoo. Ia meraih tangan Yeonsoo, memeriksa suhu tubuh gadis itu, "Kau nyaris membeku! Aissh!" Woojin menarik tangan Yeonsoo untuk masuk ke dalam rumah, tapi gadis itu menahannya. "Pulang." ucap Yeonsoo lemah "Kita ke dalam saja!" "Pulang." Woojin menghela nafas. Ia memegangi kedua pipi Yeonsoo, kulit gadis itu benar-benar dingin. "Kita hangatkan dulu tubuhmu, ya?" bujuk Woojin lembut. "Aku mau pulang~." rengek gadis itu. Woojin menyerah. Ia memang tak bisa lama-lama marah pada Yeonsoo. Tak akan pernah bisa. "Baiklah, kita pulang." *** "Kau membuat adikku sakit?" Yebin memukuli tubuh Woojin dengan kamus yang dibawanya, "Kau! Dasar laki-laki tak bertanggung jawab! Terima ini! terima ini!" "Hei, sakit! Lagipula aku mana tahu ia akan datang ke rumah kakekku hanya dengan memakai piyama padahal sudah malam dan udaranya sangat dingin? Sebenarnya dimana otak adikmu itu!" protes Woojin membuat Yebin berhenti memukulinya. "Benar, karena itu orang bilang cinta itu buta. Adikku yang sangat jenius saja jadi bodoh dan tidak menggunakan otaknya karena terlalu mencintaimu! Dan kau membuatnya sakit!" Yebin kembali memukuli Woojin. Jaehoon dan Yebin sudah kembali ke kampus! Mari bersorak! Yeayyy! Para gadis-gadis yang pernah dipacari oleh Jaehoon tak henti-hentinya menatap Yebin sinis. Beberapa gadis yang menyukai Jaehoon dalam diam pun begitu. Namun Yebin mengabaikannya. Kalau ia terlalu memikirkannya, ia akan stress sendiri. Lagipula gadis-gadis seperti itu takkan ada habisnya. "Suamimu mana?" tanya Woojin. "Dia ada kelas hari ini," Yebin berucap malas. Ia memeluk kembali kamus yang ia gunakan untuk memukul Woojin tadi, "Aku tak punya jadwal apapun sampai jam tiga nanti. Temani aku, ya?" "Kang Yebin!" Sebuah suara yang memanggilnya membuat Yebin menoleh. Mata Yebin membelalak. Begitu pun Woojin. Seorang gadis menghampirinya dan merangkulnya seakan-akan mereka teman akrab. "Ternyata benar kau! Kau berubah ya sekarang? Aku bahkan tak mengenalimu saat terakhir kali kita bertemu," gadis itu beralih pada Woojin, "Kau Park Woojin bukan? Lama tak bertemu! Bisa kupinjam Yebin sebentar? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya." "T-tentu." Yebin pun dibawa kabur oleh gadis itu meninggalkan Woojin yang melongo. Woojin segera mengambil ponselnya dan menelpon Jaehoon. "Halo? Byun Jaehoon! Jangan mengoceh karena aku mengganggu pelajaranmu atau apapun itu! Kau ingat Han Jangmi bukan? Iya! Han Jangmi mantanmu yang mantan ratu sekolah itu! Yebin dibawa pergi oleh gadis itu!" *** Jangmi menyilangkan tangannya di depan d**a. Matanya menatap Yebin dari atas ke bawah. Yebin sendiri membalas tatapan Jangmi tajam. "Kau memang benar-benar berubah." "Bukan urusanmu kalau aku berubah, Katakan saja, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Yebin sinis. "Aku mengajakmu berbicara dengan tujuan yang baik, aku ingin membagi sedikit informasi denganmu," Jangmi tertawa kecil, "Apa kau tahu? Byun Jaehoon adalah seorang aseksual." Jantung Yebin seperti berhenti berdetak. Mengapa Jangmi tahu? Apa Jaehoon yang memberitahunya? Seingatnya, Jaehoon mengatakan ia orang pertama yang tahu orientasi seksual Jaehoon. "A-apa maksudmu?" Yebin berpura-pura tak tahu, "Kalau dia aseksual, bagaimana mungkin ia menikah denganku?" "Benar, itu yang membuatku bingung. Mengapa ia menikah denganmu? Apa ia sudah sembuh?" Jangmi berpura-pura berpikir, lalu ia merubah ekspresinya menjadi tersenyum, "Karena ia sudah tertarik dengan wanita, kurasa tak masalah jika aku mendekatinya dan menjadikannya milikku kembali." "Kau pikir aku akan membiarkanmu?" bentak Yebin. "Bagus, karena bila kau membiarkanku begitu saja, semua takkan menarik lagi." Jangmi mendekatkan tubuhnya dengan Yebin, "Karena itu tolong hibur aku, jangan buat aku bosan." Jangmi melihat seseorang berlari ke arah mereka. Ia tersenyum manis. "Karena suamimu sudah menjemput, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa." Jangmi pun melangkah meninggalkan Yebin yang kini dihampiri oleh Jaehoon. Pria itu menatap Irene khawatir. Ia memegangi kedua bahu Yebin. "Kau tak apa? Apa ia melakukan sesuatu padamu? Bagaimana bisa ia ada disini? Bukankah terakhir kali kita bertemu dia saat bulan madu kita di Sapporo? Mengapa ia ada di Seoul sekarang?" "Ia kembali untukmu." gumam Yebin pelan, "Dia ingin merebutmu dariku." "Ha? Bagaimana bi—" "Bagaimana ia tahu orientasi seksualmu? Kau memberitahunya?" "Apa?" Jaehoon menatap Yebin tak mengerti. "Kutanya sekali lagi, apa kau yang memberitahunya?!" *** Makassar, 29 April 2017
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD