Yoohan menatap rumah barunya dengan mata yang membola dan mulut yang membulat. Yebin terkekeh, ia menyikut lengan Jaehoon sambil tertawa kecil karena merasa tingkah Yoohan sangat imut. Namun saat ia menoleh, ternyata ekspresi wajah Jaehoon sama saja dengan Yoohan. Sepertinya Jaehoon juga sama terkejutnya dengan Yoohan.
"Aku benar-benar boleh memilih kamarku sendiri?" pertanyaan Yoohan membuat Yebin menoleh kembali padanya.
"Tentu saja! Kau bahkan boleh menghias kamarmu sesukamu. Mulai sekarang, bila kau membutuhkan sesuatu katakan saja. Ibu dan Ayah akan berusaha memenuhinya." Yebin mengacak-acak rambut Yoohan gemas.
"Benarkah?" Yoohan menyengir antusias, "Terimakasih, Kakak!"
"Eits!" Yebin menggeleng sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, "Panggil aku Ibu, mengerti?"
"Tapi ...," Yoohan menggaruk pipinya canggung.
"Tak apa. Panggil saja Ibu. Aku memang masih muda dan masih pantas dipanggil kakak, tapi panggil saja aku Ibu. Aku ibumu dan Woomin sekarang. Dan pria yang di sampingku ini, walau wajahnya masih seperti anak TK, tapi panggil saja dia Ayah."
"Hei! Siapa yang kau panggil anak TK?!" protes Jaehoon.
Yoohan tertawa kecil saat Jaehoon dan Yebin mulai berdebat. Awalnya ia sedikit khawatir mengenai orang tua barunya. Apalagi ia diadopsi bukan karena keinginan keduanya tapi karena ia tidak bisa dipisahkan dengan Woomin. Namun sekarang ia sadar bahwa kekhawatirannya itu tidak beralasan. Ayah dan ibu barunya sangat baik padanya dan juga Woomin.
"Ibu, aku akan melihat-lihat dulu!" Yoohan meminta izin sebelum berlari mengelilingi rumah barunya.
"Hati-hati! Jangan lari-lari! Nanti kau jatuh!" tegur Yebin.
"Yebin-ah," Jaehoon menggaruk tengkuknya, "Kau yakin kita tidak salah rumah?"
Yebin terkekeh dan menggeleng. Ia mengerti Jaehoon merasa bingung saat ini.
"Qifeng membantuku mencari rumah yang dekat dengan apartemen Yeonsoo dan ia menemukan rumah ini. Kau benar, kita tidak bisa terus menerus tinggal di rumah orang tuamu. Apalagi sekarang sudah ada Woomin dan Yoohan." ucap Yebin.
"Qifeng? Sejak kapan kau dekat dengan Qifeng?" tanya Jaehoon heran.
Yebin menggerakkan tangannya ke depan bibirnya dan melakukan gerakan seperti mengunci bibirnya. Jaehoon memutar bola matanya. Bagus! Qifeng yang merupakan pemain wanita itu sekarang dekat dengan istrinya. Bagus sekali!
"Baiklah kalau kau tak mau menjelaskan kedekatanmu dengan Qifeng padaku," Jaehoon memilih untuk mengalah daripada harus bertengkar dengan Yebin, "Apa kau menyiapkan semua ini sejak awal?"
"Tidak, aku hanya memberi Qifeng batas waktu satu hari untuk mengurus semuanya," Yebin menyeringai, "Hitung-hitung hukuman karena membuatmu hampir berselingkuh dariku."
Ah ... sekarang Jehoon tahu mengapa Qifeng bisa dekat dengan Yebin. Jaehoon menghela nafas lega. Namun setelah itu ia meringis membayangkan sulitnya Qifeng mencari rumah yang sesuai dengan selera Yebin dalam satu hari. Istrinya ini memang benar-benar menyeramkan.
"Dan satu lagi," Yebin tersenyum manis, "Karena besok masa cuti kita sudah habis, Qifeng yang akan menjaga Yoohan dan Woomin untuk sementara hingga kita mendapatkan pengasuh untuk mereka."
Wahai Qifeng, betapa malang nasibmu. Jaehoon menggelengkan kepalanya geli.
"Lalu dimana Qifeng sekarang?" tanya Jaehoon, "Bukankah seharusnya ia disini untuk mendekatkan diri dengan anak-anak?"
"Ah, Qifeng? Ia dipinjam oleh Yeonsoo."
"Dipinjam?"
***
"Sempurna! Muahahaha sudah kuduga kau lebih cocok dengan Senior Jungmyeong dibanding dengan Minkyu." Yeonsoo tertawa setan.
Sementara itu, Qifeng hanya bisa menahan dirinya untuk tidak muntah. Astaga! Dirinya yang biasanya adalah seorang pemain wanita harus dipasangkan dengan pria seperti ini? Belum lagi, sebenarnya Qifeng adalah seorang yang jijik terhadap hal-hal yang berbau gay. Lengkap sudah siksaannya.
"Kau pucat, bertahanlah! Sebentar lagi kita selesai," Jungmyeong berusaha menguatkan Qifeng. Qifeng belum boleh tumbang dulu! Yeonsoo sudah berjanji pada Jungmyeong untuk menemaninya menemui Yebin bila ia mau dipasangkan dengan Qifeng dalam sesi pemotretan untuk blog fujoshinya.
"Kang Yeonsoo! Aku tak terima ini! kau membuatku diselingkuhi oleh Senior Jungmyeong? Aku tak terima menjadi pihak yang diduakan!" Minkyu menunjuk-nunjuk layar laptop Yeonsoo yang menampilkan fanfiction yang baru saja ditulis oleh gadis itu.
"Ceritanya jadi semakin seru bukan?" Yeonsoo tertawa lagi, "Tunggu saja sampai aku mendapatkan Kak Seokjoong untukmu! Semua akan menjadi lebih sempurna. Muahahahaha."
Tawa Yeonsoo sontak membuat ketiga pemuda yang ada di ruangan itu merinding. Kim Seokjoong, larilah selagi kau bisa! Selamatkan dirimu!
***
"Hatchiiii!"
Seokjoong mengusap-usap hidungnya yang terasa gatal. Ha-ah ... ia menghela nafas. Sepertinya seseorang sedang membicarakannya. Mungkin itu Kakek Park yang melaporkan pada Yeonsoo bahwa dirinya baru saja tiba di Korea.
Ya, ia kembali ke Korea setelah beberapa minggu ini melarikan diri. Inginnya sih ia melarikan diri lebih lama lagi. Seokjoong ingin menjauh dari Yebin untuk sementara hingga ia melupakan perasaannya pada gadis itu. Tapi Kakek Park memaksanya untuk kembali ke Korea karena Yeonsoo. Ya, karena mantan calon adik iparnya itu tidak akan mau menemani Kakek Park ke konser SNSD lagi sebelum Kakek Park meminta Seokjoong kembali ke Korea. Entah apa rencana gadis itu, ia tidak tahu. Tapi yang Seokjoong tahu, apapun rencana Yeonsoo, pasti akan membawa dampak buruk bagi dirinya.
"Dan akhirnya ... aku kembali lagi ke apartemen ini." keluh Seokjoong.
Woojin sepertinya mengubah kata sandi apartemennya jadi Seokjoong tak bisa langsung masuk saja seperti biasa. Seokjoong tak punya pilihan lain selain menekan bel dan menunggu seseorang yang ada di dalam untuk membuka pintu untuknya.
Ceklek ... bunyi pintu yang terbuka.
"Kak Seokjoong?"
Sialan! Seokjoong hanya bisa mengumpat dalam hati. Bukankah Yebin sudah pindah ke rumah suaminya? Mengapa wanita itu ada disini?
"Kak Seokjong!" Yebin memeluk Seokjoong erat, "Kau darimana saja? Kau tidak mengangkat telponku, membalas pesanku, atau bahkan datang ke pernikahanku."
Jangan goyah! Jangan goyah! Seokjoong menahan diri untuk tidak membalas pelukan Yebin.
"Hei! Kau tak mau menjelaskan apapun padaku?" Yebin melepaskan pelukannya dan berkacak pinggang, "Mengapa kau diam saja? Apa kau tak merindukanku?"
Tentu saja Seokjoong merindukan Yebin, sampai mau mati rasanya. Tapi mana mungkin ia mengatakan hal itu pada Yebin?
"Ibu!"
Perhatian Yebin dan Seokjoong teralihkan oleh Yoohan yang tiba-tiba datang menghampiri Yebin sambil membawa dua batang coklat.
"Kak Woojin—maksudku Paman Woojin memberikanku ini. Apa aku boleh memakannya?" tanya Yoohan meminta izin.
"Tentu saja boleh. Tapi setelah itu jangan lupa menggosok gigimu, mengerti?" ucap Yebin.
"Ya!" Yoohan berlari kembali masuk ke ruang keluarga.
"Anakmu?" Seokjoong terlihat pucat,"Bagaimana bisa anakmu sebesar itu sementara kau dan Jaehoon baru menikah beberapa minggu yang lalu? Jangan-jangan alasanmu terburu-buru menikah—"
"Hei, mana mungkin seperti itu!" Yebin segera memotong sebelum Seokjoong berpikir yang tidak-tidak, "Aku dan Jaehoon mengadopsinya. Kami bahkan punya dua anak sekarang."
Seokjoong menghela nafas lega membuat Irene terkekeh kecil. Yebin membulatkan matanya karena mengingat sesuatu, "Kak Seokjoong, kau datang diwaktu yang tepat! Aku dan Jaehoon akan mengadakan pesta di rumah baru kami nanti sore. Kau harus datang, mengerti? kalau tidak aku akan menerormu."
Kalau Yebin mengancamnya seperti itu, bagaimana bisa Seokjoong berkata tidak?
***
Jungwoon berjalan ala model catwalk di depan Heejoo. Heejoo sendiri hanya bisa menatapnya malas.
"Heejoo-ya, bagaimana penampilanku?" Jungwoon menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya, "Apa aku sudah terlihat tampan? Apa cukup tampan hingga membuat Yebin memutuskan untuk menceraikan Jaehoon dan memilihku?"
"Kau mengharapkan sesuatu yang mustahil Jungwoon-ssi," Heejoo memutar bola matanya, "Kita ingin ke pesta Yebin untuk merayakan rumah barunya, bukannya pesta pernikahannya. Jadi untuk apa kau memakai tuxedo itu?"
"Tuxedo ini membuatku menjadi lebih tampan, apa aku tak bisa memakainya?"
"Terserah, bila kau siap untuk malu karena salah kostum." Heejoo menguap.
"Hmm ... apa aku harus memakai baju renang ke sana?"
"Kau mau mati?"
*******
Makassar, 21 April 2017
Dipublikasikan di dreame tanggal 05 Agustus 2020