Part 7 - I'm Your Husband

1242 Words
Jaehoon tak tahu mengapa ia bisa terdampar di tempat ini. Di tempat banyak sekali kurcaci kecil menyebalkan yang sangat ia benci. Kurcaci-kurcaci itu terus saja menatapnya penasaran. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berusaha mengajaknya berbicara, namun ia abaikan. Yeonsoo sendiri—tadinya gadis itu menemaninya disini—sekarang entah ada di mana sekarang. Adik iparnya itu sepertinya terlalu asik bermain dengan anak-anak sehingga melupakan Jaehoon. Jaehoon mengacak-acak rambutnya. Tidak seharusnya ia ada di taman bermain panti asuhan seperti ini! Seharusnya ia yang menemani Yebin untuk bertemu dengan calon anak mereka nanti! Bukannya Woojin! "Kau tunggulah disini! Aku tak mau melihatmu berusaha menghentikanku lagi." Mengingat ucapan Yebin tadi membuat Jaehoon kesal sendiri. Apa ia seburuk itu sampai-sampai Yebin tidak mempercayainya? "Tidak! Jangan bawa adikku!" Suara tangisan membuat Jaehoon menoleh. Di depan panti asuhan, seorang bocah laki-laki menangis di depan Yebin yang sedang menggendong seorang bayi. Woojin terlihat berusaha menenangkan anak itu, tapi tangisan anak itu malah semakin kencang. "Ada apa?" Jaehoon menghampiri mereka. "Sepertinya Nyonya Jung lupa memberitahu kita," Yebin menatap Jaehoon bingung, "Woomin memiliki kakak, dan anak laki-laki ini adalah kakaknya." Jaehoon menatap bocah yang kini terisak sambil menatap bayi di gendongan Yebin. Dalam sekali lihat saja, Jaehoon tahu bocah itu takkan mau melepaskan adiknya. Jaehoon beralih menatap Yebin. "Lalu sekarang bagaimana? Kita batalkan saja mengadopsi Woomin, ya? kita cari anak lain saja." bujuk Jaehoon. "Tapi aku terlanjur menyayangi anak ini. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya," ucap Yebin lirih, "Jaehoon-ah, apa kita tidak bisa mengadopsi dua anak?" "Apa kau bilang?" *** "Bagus, Nyonya Byun! Bagus sekali! Usiaku baru dua puluh dua tapi kau sudah membuatku memiliki dua orang anak. Dan salah satunya bahkan berumur delapan tahun! Wuaaa, ini keren sekali!" ucap Jaehoon sarkastis. Sekarang Woomin dan kakaknya sedang bersama Woojin dan Yeonsoo jadi, jadi Jaehoon bisa mengomeli Yebin sepuasnya. Kalian pasti bisa menebak bagaimana bahagianya Yeonsoo saat tahu ia akan memiliki dua orang keponakan. Yeonsoo bahkan hampir menari ala SNSD di depan panti asuhan bila Woojin tak cepat-cepat mengamankan kekasihnya itu. "Jangan mengganti namaku, aku belum setuju untuk menggunakan marga Byun pada namaku. Aku masih Kang Yebin. Woomin dan Yoohan pun begitu, mereka Kang Woomin dan Kang Yoohan." ucap Yebin tegas. "Mereka anakmu yang berarti mereka juga anakku! Mau sampai kapan kita berdebat tentang hal ini?!" Jaehoon menjerit frustasi, "Dan mengenai namamu, dulu aku mungkin mengizinkan kau memakai marga Kang, tapi sekarang tidak lagi. Kita sudah memiliki anak dan kau harus memakai marga Byun mulai dari sekarang!" Karena mendengar nada bicara Jaehoon yang makin meninggi, Yebin tak bisa mengelak lagi. Jaehoon yang sedang marah adalah hal terakhir yang ingin Yebin lihat. Terakhir kali Jaehoon marah, bibir Yebin sukses bengkak selama beberapa hari karena dicubit dengan keras oleh pria itu. "Baiklah suamiku, kalau begitu tanda tangani ini," Yebin menyodorkan formulir pengadopsian Yoohan padanya, "Kalau kau benar-benar ingin menjadi ayah mereka." Jaehoon mengambil pulpen dari tangan Yebin dan menandatangani formulir itu, "Ini! kau puas?" Yebin tersenyum lebar. Ia memeluk lengan Jaehoon dengan bahagia. "Apa mereka harus memanggilmu Abeoji? Ah kurasa kau tidak mau dipanggil seperti itu. Daddy? Tapi kita bukan orang barat. Atau Otou—" "Kita pikirkan tentang itu nanti, mengerti? sekarang lebih baik kita pulang karena kepalaku benar-benar pusing." keluh Jaehoon. "Siap Ayah!" Yebin berucap riang. "Kau—ah! Sudahlah!" Jaehoon melangkah meninggalkan Yebin. Yebin tertawa kecil sebelum akhirnya menyusul suaminya itu. Diam-diam, Jaehoon tersenyum mendengar tawa Yebin. Tak apalah ia menjadi ayah di usia muda, asalkan istrinya bahagia. *** Woojin menyeka bibir Yoohan yang belepotan es krim dengan tisu. Saat ia menoleh pada Yeonsoo, ia tak bisa untuk tidak merasa risih karena tatapan gadis itu. "Ada apa? Mengapa kau melihatku dan Yoohan seperti itu? Apa kau tersentuh melihatku yang bersikap seperti ayah yang baik? Apa kau berubah pikiran dan ingin menikahiku sekarang?" tanya Woojin percaya diri. "Tidak," Yeonsoo tersenyum miring, "Aku benci mengatakan ini. Tapi kalian manis juga," Yeonsoo tertawa kecil, "Kau terlihat seperti seme* pedofil." Woojin segera menutup telinga Yoohan dengan kedua tangannya. Ia melotot. "Hei! Bukankah sudah kukatakan padamu? Jangan pernah membuatku menjadi objek fantasi fujoshimu! Lagipula apa kau tak sadar kita ada di depan anak-anak?" omel Woojin. "Aku sudah berusaha tapi tidak bisa," Yeonsoo mencubit kecil pipi Woomin yang ada di gendongannya, "Lagipula anak-anak takkan mengerti apa yang aku katakan." Woojin menatap Yoohan dan Woomin iba, "Aku kasihan karena anak-anak ini memiliki Bibi sepertimu." "Aku akan membesarkan mereka," Yeonsoo menyeringai, "Sebagai seorang fudanshi*, muahahaha." Woojin menatap Yeonsoo horor. Lalu menatap Woomin dan Yoohan bergantian, 'Kalian harus kabur selagi kalian bisa!' batin Woojin berharap anak-anak itu bisa membaca pikirannya. Ah, semoga masa depan anak-anak itu tidak akan hancur karena memiliki Bibi seperti Yeonsoo. *** Jungwoon menatap ponselnya dengan tatapan sedih. Sementara tangan kanannya memegang ponsel, tangan kirinya aktif menggaruk-garuk tembok. Pelanggan yang baru saja masuk menatapnya aneh karena ia berdiri di sebelah pintu masuk sambil melakukan kegiatannya itu. "Ada apa dengannya?" tanya salah seorang pelanggan. "Abaikan saja, bos kami memang otaknya sedikit tidak normal. Jadi harap maklum." Heejoo menjawab pertanyaan pelanggan itu. Sebenarnya Heejoo tahu mengapa Jungwoon bersikap seperti itu. Ini semua karena foto yang Yebin posting di akun SNSnya. Foto gadis itu bersama Jaehoon dan kedua anak angkat mereka. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia. Karena itulah Jungwoon gelisah, galau, merana ... "Heejoo-ya, seharusnya aku yang berada di posisi itu! Aku!" Jungwoon mulai merengek. "Yayaya ...." Heejoo memutar bola matanya malas. "Heejoo-ya mengapa cinta begitu menyakitkan? Mengapa?" Jungwoon memeluk tiang yang ada di depannya. "Ah, aku belum menyusun buku-buku ini. Sebaiknya kutaruh dimana ya?" Heejoo masih mengabaikan Jungwoon. "Bahkan dirimu juga mengabaikanku~ mungkin bagi kalian aku mungkin hanya seonggok daging yang tak bisa mendapatkan seorang Kang Yebin. Bunuh saja aku! Bunuh!" Jungwoon memukul-mukul dadanya. "Baiklah, aku akan membunuhmu. Mau dengan cutter," Heejoo mengambil cutter dan gunting yang ada di meja kasir, "Atau dengan gunting?" Jungwoon menatap Heejoo horor, "Heejoo-ya, kau tidak benar-benar berniat membunuhku kan?" *** Keterangan: *Seme : Berarti 'penyerang' dalam bahasa Jepang. Jika diibaratkan dalam pasangan biasa, seme adalah pihak laki-laki sedangkan uke (penerima) adalah pihak perempuan dalam hubungan gay. *Fudanshi : Sebutan untuk pria yang menggemari hal-hal berbau gay. *** Makassar, 13 April 2017 *** Tambahan : Qifeng mundur perlahan. Melihat wajah orang-orang yang ada di depannya, sepertinya ia takkan selamat. Keempat orang di depannya memang wanita, tapi mereka bahkan lebih menyeramkan dari pria. "Jadi ... kau yang mengajak suamiku untuk menemui gadis-gadis itu?" Yebin tertawa sinis, "Kau hampir saja membuat sahabatmu yang baru saja menikah untuk berselingkuh dari istrinya. Sahabat macam apa kau?" "Sikat saja, Kak Yebin!" Hyeri mengangkat benda yang dibawanya, "Aku bahkan membawa sikat kawat sekarang. Bagian mana dulu ya yang harus kusikat?" "Kau boleh menyikat bagian manapun, tapi bagian kepalanya adalah milikku!" Yeonsoo tersenyum miring, "Wajahnya cukup tampan untuk masuk ke dalam koleksi kepalaku." "Kalau aku bagian bawahnya! Aku akan memutilasi bagian bawahnya!" Jaehwa meloncat-loncat antusias. Habis sudah! Ia akan dimutilasi sekarang! Qifeng mulai berkeringat dingin. Kalau ia berhasil meloloskan diri, ia berjanji akan bertobat untuk mempermainkan wanita. Wanita ternyata mahluk yang sangat menyeramkan. "Aku akan memberikanmu satu kesempatan," Yebin tersenyum simpul. Ia meraih kerah jaket Qifeng, "Aku dan teman-temanku takkan melakukan apapun padamu, tapi kau harus membantuku." Qireng tahu bantuan yang diminta Yebin padanya nanti pasti bukanlah hal yang mudah. Tapi ia tak punya pilihan lain. "A-apa yang harus kulakukan?" tanya pria itu gugup. Keempat wanita cantik itu menyeringai iblis. Entah apa yang mereka rencanakan. Tapi pasti bukan sesuatu yang baik. *** Dipublikasikan di dreame 04 Agustus 2020
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD