"Jaehoon-ah," Nyonya Byun menggenggam kedua tangan putra bungsunya itu, "Kau seharusnya tidak menyembunyikan keadaanmu dari Ibu. Ibu memiliki beberapa kenalan yang pasti bisa menyembuhkan penyakitmu."
Terimakasih pada Yebin, begitu sampai di rumahnya Jaehoon langsung disambut dengan wajah khawatir keluarganya. Ah, kalau begini mengapa Yebin tidak sekalian mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Jaehoon? Bahwa Jaehoon seorang aseksual. Toh, reaksi keluarganya pasti akan sama saja dengan reaksi mereka saat ini.
Yebin sendiri mundur teratur melihat aura Jaehoon yang makin dan makin menggelap saja. Yebin sebenarnya tidak bermaksud untuk berbohong seperti itu pada orang tua Jaehoon, tapi ia tidak tahan dengan desakan Nyonya Byun yang ingin segera menimang cucu. Padahal ia dan Jaehoon baru beberapa minggu menikah. Nyonya Byun bahkan memberi tahu bagaimana gaya dan posisi b******a yang pas agar ia mendapatkan anak laki-laki ataupun anak perempuan. Bagaimana Yebin bisa tahan?
"Hiks ... jadi ini alasan ia menjadi seorang gay?" Jaehwa terisak di belakang Yebin, "Adikku yang malang, aku tak tahu kau begitu menderita."
O-oww ... sepertinya Jaehoon juga mendengar yang itu. Yebin hanya bisa meringis saat tatapan tajam Jaehoon mengarah padanya. Astaga! Jaehoon pasti membunuhnya setelah ini!
***
Woojin meletakkan satu kotak tisu lagi di depan Yeonsoo. Ini sudah kotak tisu kedua yang dihabiskan oleh kekasihnya itu.
"Kau masih menangis? Ayolah! Itu hanya komik!" hibur Woojin sambil menghapus air mata Yeonsoo.
"Itu benda yang sangat berharga bagiku! Aku bahkan belum membaca lembar pertamanya," Yeonsoo melap ingusnya, "Tapi Kak Jaehoon malah membakarnya hueeeee ...."
Woojin menyumbat telinganya dengan tisu, tapi sepertinya itu tidak membantu sama sekali. Ia berdecih.
"Baiklah baiklah! Aku akan mencarikan komik-komik itu untukmu! Kalau perlu akan kucari sampai ke Jepang. Sekarang berhentilah menangis!"
"Waktunya tidak akan sempat! Komiknya akan beredar di toko buku dua hari lagi!" rengek Yeonsoo.
"Lalu mengapa kau menangis? Kau tinggal menunggu dua hari lagi dan kau bisa membacanya sepuasmu."
Yeonsoo berhenti terisak sebentar sebelum tangisannya makin keras, "Tapi aku ingin membacanya lebih dulu dibanding Senior Jongchan! Huaaaa!"
Woojin melotot. Astaga Yeonsoo menangis hanya karena itu? Woojin benar-benar tak tahu apa yang ada di kepala kekasihnya ini.
"Ah sudahlah! Aku tak tahan lagi! Menangislah sendiri!" Woojin menggulung-gulung tisu dan melemparkannya ke wajah Yeonsoo sebelum akhirnya beranjak pergi.
"Huaaaa Kak Woojin jahat!!!"
***
"Jungwoon-ssi kau sudah bisa berhenti menggalau sekarang, Yebin sudah pulang dari bulan madunya. Dia berjanji akan datang ke sini nanti sore," ucap Heejoo sambil membaca pesan dari Yebin.
"Benarkah?" wajah Jungwoon yang tadinya lesu langsung berbinar.
Heejoo tersenyum dan mengangguk. Iya senyum, senyum kecut.
Walau ia sudah mengatakan ia sudah melupakan Woojin dan beralih pada Jungwoon, kisah cintanya pun tak semulus paha Mimi Peri. Jungwoon masih belum bisa melupakan Yebin. Heejoo tak bisa protes tentang itu karena ia sendiri tahu bagaimana sulitnya melupakan orang yang ia cintai.
"Jadi Jungwoon-ssi ... bisakah kau mandi sekarang? Kau sudah tidak mandi sejak seminggu yang lalu. Para pelanggan bahkan tidak mau masuk ke toko karena mencium bau badanmu. Kurasa Yebin pun takkan mau dekat-dekat denganmu kalau kau tetap seperti itu." ucap Heejoo sambil tersenyum manis.
"Baiklah aku akan pulang dan mandi sekarang!" Jungwoon berlari ke arah pintu, "Heejoo-ya, tahan Yebin agar tidak pulang sebelum bertemu denganku!"
"Baiklah!" sahut Heejoo. Ia pun berbisik, "Entah apa kesalahanku di kehidupan sebelumnya. Mengapa kehidupan cintaku tak pernah ada yang berhasil? Mengapa orang yang kusukai selalu menyukai orang lain?"
***
Yebin hanya bisa meringis kesakitan saat Jaehoon mencubit bibirnya, ia berusaha memberontak tapi suaminya itu berhasil mengunci pergerakannya.
"lwepwaskwan!"
"Tidak mau! Bibirmu ini harus diberi pelajaran!" Jaehoon mencubitnya makin keras.
Yebin menjerit, hampir menangis. Jaehoon melepaskan bibir Yebin karena melihat ekspresi istrinya itu. Oh tentu saja Jaehoon tak sejahat itu untuk membuat Yebin menangis. Namun ia masih menyudutkan istrinya itu ke dinding kamar mereka.
"Suamiku aku minta maaf! Benar-benar minta maaf!" ucap Yebin.
"Lihat akibat dari mulut pembualmu! Ibuku bahkan memintaku melakukan terapi! Bagaimana kita bisa mengatasi ini sekarang, hah?" marah Jaehoon.
"Aku tak tahu masalahnya akan jadi sebesar ini," ucap Yebin dengan nada memelas, "Kumohon maafkan aku."
Jaehoon menghela nafas dan melepaskan Yebin. Semua sudah terjadi. Mau protes pun sudah terlambat sekarang.
"Aku masih belum memaafkanmu," Jaehoon menatap Yebin tajam, "Kau harus membujuk Ibu agar berhenti memintaku terapi. Mengerti?"
"Eum! Aku akan melakukannya! Benar-benar akan melakukannya!" Yebin menjawab cepat.
Jaehoon melangkah ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya disana.
"Kurasa sebelum kita mengadopsi anak seperti yang kau inginkan, kita harus pindah dari rumah ini." ucap Jaehoon.
"Kenapa?" tanya Yebin.
"Ibuku akan selalu mencampuri urusan rumah tangga kita bila kita tetap tinggal di rumah ini. Aku tak ingin itu terjadi. Lagipula ...," Jaehoon menoleh pada Yebin, "Bukankah kau bilang kau ingin membuatku jatuh cinta padamu? Kita harusnya memiliki banyak waktu berdua tanpa ada yang mengganggu kit—"
"Cukup!" Yebin segera memotong kalimat Jaehoon, "Jangan membawa-bawa nama Ibu Mertua dalam usahamu untuk mencari alasan agar kita menunda untuk mengadopsi anak, mengerti?"
Jaehoon mendengus dan membenamkan wajahnya ke atas bantal, "Sial, aku ketahuan."
Drrttt ... Drrttt ...
"Ponselmu bergetar," tegur Yebin.
"Iya iya," Jaehoon mengambil ponselnya dari dalam sakunya, "Pesan dari Qifeng?"
"Qifeng?" Yebin mengernyit, "Sahabatmu yang tinggal di Beijing itu?"
Jaehoon terduduk dan mengangguk. Matanya membola, "Qifeng sedang ada di Seoul sekarang. Ia memintaku menemuinya sore ini," Jaehoon menoleh pada Yebin, meminta persetujuan istrinya itu. Ia sudah berjanji menemani Yebin ke toko buku Jungwoon sore ini. Ia harus membatalkan janjinya itu bila ia ingin bertemu Qifeng.
Yebin tersenyum, "Pergilah. Tapi jangan gunakan pakaian yang membuat aura ketampananmu menguar, mengerti?"
"Siap yang mulia, hamba akan melaksanakan perintah anda."
***
"Kak Minkyu!"
Hyeri merengek karena Minkyu terus saja mengabaikannya. Ah, lihat itu! Hyeri bahkan memanggil Minkyu dengan sebutan kakak sekarang!
"Pergilah! Aku lebih memilih menjadi kekasih Senior Jungmyeong seperti yang Yeonsoo inginkan daripada harus menjadi kekasihmu!" Minkyu bersembunyi di balik punggung Jungmyeong.
Padahal Minkyu sengaja menginap di rumah Jungmyeong untuk menghindari Hyeri. Tapi gadis itu tetap saja masih bisa menemukannya.
Sebenarnya ada alasan dibalik gencarnya Hyeri mengejar-ngejar Minkyu belakangan ini. Ya, semenjak perjodohannya dan Jaehoon dibatalkan, Hyeri bertekad untuk mendapatkan Minkyu sebelum orang tuanya mulai menjodohkannya lagi dengan pria lain.
"Senior, kumohon usir dia!" rengek Minkyu.
"Kau dengar itu Hyeri-ya? Pulanglah." usir Jungmyeong malas.
"Senior, mana ekspresinya? Kalau kau seperti itu, ia takkan mendengarkanmu!" Minkyu mulai menuntut. Ia sekarang mirip sutradara yang sering teriak-teriak 'Mana ekspresinya!!!'.
"Kak Minkyu, kau kejam! Bagaimana kau bisa meminta Jungmyeong-ssi untuk mengusir kekasihmu sendiri?" ucap Hyeri dramatis.
"Kau bukan kekasihku!"
"Memang, tapi aku akan menjadi kekasihmu!"
"Tidak akan pernah!"
"Aku akan!"
"Tidak mung—"
"Berisik! Kalian keluarlah dari kamarku!" usir Jungmyeong kesal.
Dan akhirnya, bukan hanya Hyeri yang diusir oleh Jungmyeong, tapi Minkyu juga.
"Ada apa dengannya? Tidak biasanya Jungmyeong-ssi bersikap seperti itu." ucap Hyeri heran.
Minkyu mengendikkan bahunya sambil menatap pintu kamar Jungmyeong. Sebenarnya suasana hati Jungmyeong sudah buruk sejak tadi. Yeonsoo menolak untuk ditemui oleh siapapun saat ini. Padahal Yeonsoo adalah satu-satunya alasan Jungmyeong untuk bisa bertemu dengan Yebin.
"Baiklah, karena kita berdua diusir dari sini ...," Hyeri memeluk lengan Minkyu, "Bagaimana kalau kita pergi kencan saja?"
Minkyu membalas ajakan Hyeri dengan senyuman sambil berkata, "Tidak, bahkan dalam mimpimu!" kemudian menghentakkan tangannya agar pelukan Hyeri terlepas. Minkyu menutup telinganya dan berjalan kearah dapur, mengabaikan Hyeri yang terus saja merengek.
"Kak Minkyu!"
***
Heejoo menghela nafas bosan. Jungwoon belum datang juga sejak tadi. Heejoo curiga pria itu luluran dulu untuk mencerahkan kulitnya sebelum bertemu Yebin. Padahal Jungwoon memintanya untuk menahan Yebin. Kalau ia membiarkan Yebin pulang sekarang, Jungwoon pasti akan marah.
"Jungwoon masih belum datang?" tanya Yebin.
"Begitulah," Heejoo mengendikkan bahunya, "Kau tidak terburu-buru bukan?"
Yebin mengangguk, "Eum. Lagipula Jaehoon juga sedang memiliki janji dengan temannya."
"Pria atau wanita?" tanya Heejoo memastikan.
"Tentu saja pria. Kau pikir aku akan membiarkannya pergi bila ia memiliki janji dengan wanita lain?" jawab Yebin malas.
"Hohoho kau sedang jadi istri pencemburu rupanya." ejek Heejoo.
Bukannya menyangkal, Yebin malah tersenyum bangga membuat keduanya terkekeh.
"Jadi bagaimana? Apa kau sudah menaklukkan Jungwoon?" tanya Yebin.
"Mengingat dia bersikeras ingin bertemu denganmu, kau harusnya tak perlu menanyakan hal ini lagi. Tentu saja jawabannya belum." ucap Heejoo kesal.
"Maafkan aku, pesonaku memang terlalu sulit untuk ditolak." Yebin mengibaskan rambutnya.
"Tapi kau malah memilih menikah dengan orang yang sama sekali tidak bisa terpengaruh dengan pesonamu. Kau memang hebat, Yebin-ah." ejek Heejoo.
Yebin terkekeh, "Setelah ini ingin makan malam bersama? Aku yang traktir."
Heejoo menganggukkan kepalanya, "Baiklah! Kau juga sudah berjanji ingin menceritakan pengalaman bulan madumu. Kudengar dari Yeonsoo, Jaehoon membakar komiknya? Apa yang terja—"
Tiba-tiba pintu toko terbuka dengan kasar. Menampilkan pria berkulit eksotis dengan senyum lima jarinya.
"Gadis-gadis, apa kalian merindukanku?"
Heejoo dan Yebin menatap Jungwoon datar. Heejoo keluar dari meja kasir, melepas celemeknya dan memberikannya pada Jungwoon.
"Ini sudah jam pulang bukan? Kami pergi dulu."
Kedua gadis itu keluar dari toko dan meninggalkan Jungwoon yang melongo.
"Hei! Bagaimana denganku?! Mengapa kalian meninggalkanku?! Hei!"
***
Jaehoon melambaikan tangannya pada Qifeng yang baru saja datang. Pria itu datang bersama dua gadis asing yang cantik dan seksi. Melihat hal itu, Jaehoon menelan ludah kasar. Well, sepertinya keputusan yang salah untuk menerima ajakan Qifeng untuk bertemu.
"Jaehoon-ah, lama tak berjumpa," ucap Qifeng sambil melakukan tos dengan Jaehoon sebelum akhirnya menjatuhkan bokongnya di sebelah Jaehoon.
"Um, lama tak berjumpa," Jaehoon tersenyum-pura-pura senyum-sambil berucap, "Kulihat kau tak berubah. Masih tetap dikelilingi dengan wanita-wanita cantik."
"Ah mereka? Mereka tidak bersamaku. Mereka malah ingin dikenalkan denganmu."
Firasat Jaehoon ternyata benar. Astaga seharusnya Jaehoon tahu ini sejak awal. Ia harusnya ingat dengan tabiat Qifeng yang suka menyesatkan orang lain.
"Aku permisi sebentar," Jaehoon tersenyum pada gadis-gadis itu, "Qifeng, ikut denganku!"
Qifeng mengendikkan bahunya dan mengikuti Jaehoon. Begitu mereka sampai di depan toilet pria, Jaehoon mulai mengomel.
"Qifeng-ah kau tahu aku sudah menikah bukan? Kau bahkan menghadiri pernikahanku. Lalu mengapa kau mencoba mengenalkanku dengan gadis lain?" omel Jaehoon
"Kau benar-benar serius untuk berhenti memuja semua wanita dan terpaku pada satu orang wanita saja? Kau benar-benar Byun Jaehoon yang aku kenal bukan?" ejek Qifeng dengan bahasa Koreanya yang belepotan.
"Ya, aku Byun Jaehoon yang kau kenal," ucap Jaehoon, "Dan Jaehoon yang kau kenal ini sangat mencintai istrinya. Jadi bisakah kau mendukungku dan mengatakan pada gadis-gadis itu bahwa aku bukan pria yang bisa mereka goda?"
Jaehoon memang berbohong mengenai dirinya yang mencintai Yebin. Tapi ia jujur tentang ia bukan pria yang bisa para gadis itu goda bukan? Mau digoda bagaimanapun juga Jaehoon takkan tertarik karena ia seorang aseksual.
Qifeng menatap Jaehoon kagum. Ia menganggukkan kepalanya, "Kau benar-benar berubah."
Jaehoon terkekeh, "Kau juga akan sepertiku saat kau menemukan gadis yang tepat untukmu."
"Tapi ...," Qifeng menggaruk kepalanya, "Kalau mereka hanya ingin berteman denganmu tidak apa-apa bukan? Mereka sudah datang jauh-jauh ke Korea hanya untuk bertemu denganmu. Bisakah kau bersikap baik pada mereka? Kumohon kali ini saja bantulah aku."
Jaehoon mengangguk, "Kalau hanya bersikap baik kurasa tidak apa-apa. Tapi ini yang terakhir kalinya. Mengerti?"
Mereka pun kembali ke meja mereka. Jaehoon benar-benar bersikap baik pada gadis-gadis itu sesuai dengan permintaan Qifeng. Walau ia tentu saja menjaga jarak agar ia tak seperti memberi harapan pada gadis-gadis itu. Wanita yang bisa ia beri harapan hanya Yebin. Ya, hanya Istrinya itu.
Bicara tentang Yebin, sekarang ponselnya sedang berbunyi sambil menampilkan nama 'Istriku' disana.
"Halo, Yebin-ah?"
"Kau dimana?"
"Di kafe. Bukankah aku sudah bilang aku akan bertemu dengan Qifeng?"
"Hanya dengan Qifeng?"
Jaehoon menolehkan kepalanya pada gadis-gadis di depannya. Yebin pasti marah soal ini.
"Eum, hanya dengan Qifeng."
"Pembohong. Aku bisa lihat dua gadis cantik bersama dengan kalian saat ini."
Jaehoon melotot. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari Yebin. Dan itu dia, gadis itu sedang ada di pintu masuk. Bersama dengan Jungwoon dan Heejoo di belakangnya. Jungwoon tersenyum lebar karena akan ada pertengkaran hebat antara wanita yang ia sukai dengan pria yang merebut wanitanya. Heejoo sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak dan mengatakan 'kau akan mati' tanpa suara.
Yebin menatapnya dengan tatapan dingin yang bahkan belum pernah ia lihat dari gadis itu. Gawat! Heejoo benar, ia akan mati.
***
"Bukankah sudah kukatakan Qifeng yang mengajak mereka?" gerutu Jaehoon, "Aku hanya bersikap baik pada mereka karena sudah jauh-jauh datang kemari."
"Haha bersikap baik katamu?" Yebin tertawa sinis, "Lalu mengapa kau berbohong padaku?"
"Aku tak ingin kau marah."
"Kau pikir saat ini aku tidak marah?" Yebin menggeram, "Mau jujur atau bohong pun efeknya sama. Mengapa kau tak jujur saja?"
"Maaf."
Mereka terdiam untuk beberapa menit. Jaehoon tahu ini salahnya jadi ia diam saja dan tak mendebat Yebin seperti biasa. Yebin sendiri sedang berusaha menormalkan amarahnya. Setelah ia sudah cukup tenang, ia berucap pelan.
"Aku hanya takut kau memberikan gadis lain kesempatan untuk membuatmu mencintai mereka."
"Itu tidak mungkin!" ucap Jaehoon, "Kau saja sudah merepotkan bagiku. Bagaimana bisa aku menerima gadis lain lagi?"
"Hei!" rajuk Yebin.
"Tapi serius, aku hanya mencoba membuka hatiku padamu. Hanya padamu saja. Jadi tidak perlu cemas." ucap Jaehoon menenangkan istrinya.
Yebin mengangguk pelan. Walau matanya masih sendu.
"Kau harus berjanji untuk tak dekat dengan gadis lain lagi, mengerti? Hatiku selalu terasa sakit saat melihatmu bersama orang lain. Dulu aku mungkin bisa diam karena aku tak memiliki hak apapun untuk mencampuri hidupmu. Tapi sekarang kita sudah menikah, kau milikku. Kau tahu aku sangat mencintaimu bukan?"
Jaehoon memeluk pinggang Yebin, bersender di bahu gadis itu.
"Aku juga ...,"
Yebin menoleh dengan cepat. Ia tidak salah dengar bukan? Jaehoon juga mencintainya?
"Aku juga mencintai diriku sendiri." tambah Jaehoon tanpa rasa bersalah.
"Byun Jaehoon!"
"Awww lepaskan! Apa salahku?"
***
Makassar, 02 April 2017