Part 5 - Oh My...

1503 Words
"Aww pelan-pelan! Aku bisa terluka!" jerit Jaehoon. Yebin berdecak, "Tenanglah! Aku ahli dalam melakukan hal ini." Jaehoon memejamkan matanya selama Yebin masih fokus menggesekkan 'benda' itu di atas kulitnya. "Aku menyerah, kumohon biarkan aku melakukannya sendiri!" seru Jaehoon. "Isshh, jangan banyak bergerak!" Yebin melotot, "Jarang-jarang aku mau memanjakanmu seperti ini." Jaehoon menutup mulutnya rapat-rapat. Walau beberapa kali ia membuka matanya dan melirik ke arah Yebin dengan khawatir. "Selesai!" Jaehoon mendesah lega. Saat-saat penyiksaan telah berakhir. Yebin meletakkan pisau cukurnya dan mengelap sisa-sisa foam yang ada di dagu Jaehoon dengan handuk kecil. Ya, sejak tadi Yebin bersikeras ingin mencukur rambut-rambut halus di sekitar dagu Jaehoon yang mulai tumbuh. "Yebin-ah," Yebin masih sibuk mengelap dagu Jaehoon, "Hm?" "Apa kita benar-benar harus pulang hari ini? Kita masih bisa mengajukan izin lagi satu minggu." keluh Jaehoon. "Kalau kau tak ingin pulang, kau tinggal saja disini. Aku akan kembali ke Seoul sendiri." "Baiklah! Baiklah! Kita akan kembali ke Seoul hari ini sesuai yang kau inginkan!" gerutu Jaehoon. Yebin terkekeh dan melingkarkan kedua tangannya di bahu suaminya, "Sebenarnya ada alasan lain mengapa aku ingin kembali ke Seoul." "Apa itu?" "Kau bilang kau setuju untuk mengadopsi anak bukan? Kita harus menyiapkan berkas-berkas untuk itu." Sial! Jaehoon lupa tentang hal ini! Sejujurnya Jaehoon belum siap untuk menjadi ayah. Ia belum siap dan sepertinya takkan pernah siap. "Tapi Yebin-ah, kurasa Ibu dan Ayahku takkan setuju mengenai hal ini," bujuk Jaehoon. "Kau tenang saja," Yebin tersenyum manis, "Ibu dan Ayahmu takkan menolak permintaanku ini." Err ... Sepertinya Jaehoon memiliki firasat yang benar-benar buruk tentang ini. "Kau tak memberitahu orang tuaku tentang orientasi seksualku, kan?" Jaehoon melotot. "Tentu saja tidak! Kau pikir aku bodoh?" sanggah Yebin, "Aku hanya mengatakan kalau kau itu impoten, tak bisa bertahan lama di ranjang dan selalu 'keluar' di luar. Jadi kita tak pernah bisa sampai ke tahap 'itu'." ucapnya santai. Hening seketika. Yebin yang tadinya percaya diri kini berubah kikuk saat melihat ekspresi suaminya yang menggelap. "Kurasa aku harus pergi sekarang," ia melepaskan tangannya dari bahu Jaehoon dan hendak melangkah keluar dari toilet dengan takut-takut. Brakk ... "Kau mau kemana hah?" Jaehoon menatapnya tajam, "Kita harus bicara tentang hal ini. Kau harus membayar untuk mulut pembualmu itu!" "Kyaaaa! Lepaskan aku! Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf!" *** "Jadi ...," Yeonsoo tersenyum dengan mata berbinar, "Kapan aku bisa mendapatkan undangan pernikahan kalian?" Jongchan dan Gyoseok saling berpandangan, mendesah lelah, lalu berteriak bersamaan. "Park Woojin, cepat bawa istrimu keluar dari sini sebelum aku membunuhnya!" Gyoseok dan Jongchan benar-benar lelah. Mereka memang mengalami situasi yang tenang untuk beberapa hari, Yeonsoo tak mengganggu mereka sedikitpun. Tapi hari-hari berikutnya mereka terus saja diganggu oleh gadis fujoshi* itu. Jongchan dan Gyoseok memang semakin dan semakin dekat saja setelah Jongchan ditolak oleh Yeonsoo. Secara ajaib, mereka selalu berada di tempat yang sama dan memiliki urusan yang sama secara kebetulan. Well, mereka tak tahu saja itu ulah Yeonsoo dan Kakek Park. "Dia bukan istriku." sanggah Woojin. "Oh? Begitu? Kukira kau akan menerima segala kekuranganku! Tapi baru begini saja kau sudah membuangku?" rengek Yeonsoo. "Maksudku kau bukan istriku, tapi kekasihku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan kita baru bisa menikah setelah kau lulus kuliah?" cibir Woojin. Yeonsoo tak bisa lagi menyanggah setelah itu. Entah mengapa, Woojin menjadi makin menyebalkan setelah percakapan mereka tentang Yeonsoo yang ingin kuliah di luar negeri. Yeonsoo mengeraskan rahangnya. Ia menatap Woojin tajam sebelum akhirnya mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kafe. "Baguslah ia pergi," Gyoseok mendesah lega, "Tapi apa tidak apa-apa kau berkata seperti itu padanya? Kalau ia merajuk padamu bagaimana?" "Ia takkan berani melakukan itu," Woojin tersenyum licik, "Ia takkan bisa tidur kalau tidak kupe—" Gyoseok dan Jongchan menutup telinga mereka dengan cepat. Ah~ telinga mereka yang polos hampir saja ternoda. "Kami seharusnya tak menanyakan hal ini padamu." Woojin mengendikkan bahunya, "Salah sendiri bertanya." *** Yebin memilah-milah buku yang ada di depannya. Jaehoon menatap sekelilingnya dengan risih. Ia mengutuk Yeonsoo yang membuat ia harus berada di toko buku ini dengan pandangan aneh dari orang-orang yang melihatnya saat ini. Oh, tentu saja ia dipandang aneh! Ia dan Yebin sedang berada di toko buku, lebih tepatnya di depan rak buku yang penuh dengan komik gay. "Orang-orang memandang kita aneh," gerutu Jaehoon, "Kau masih belum menemukan komik yang Yeonsoo inginkan?" "Itu hal wajar, abaikan saja," Yebin masih sibuk, "Tadinya sudah, tapi Yeonsoo baru saja mengirimkan daftar baru. Sepertinya ia sedang kesal. Entah apa yang Woojin lakukan padanya." "Park Woojin! Akan kubalas kau setelah ini!" gerutu Jaehoon kesal, "Lagipula memangnya Yeonsoo bisa membaca ini? Ini kan tulisan kanji." "Tentu saja ia bisa. Kau tahu? Ia belajar bahasa jepang dan segala tentang jepang agar tidak perlu bergantung pada terjemahan saat menonton film gay jepang." ucap Yebin acuh. Mendengar hal itu Jaehoon jadi kagum sekaligus geli sendiri. Adik iparnya itu memang luar biasa. "Sudah, aku akan ke kasir dulu." Yebin melenggang santai meninggalkan Jaehoon. "Hei! Jangan tinggalkan ak—" Brukk ... Tanpa sengaja Jaehoon menabrak seseorang. Jaehoon segera meminta maaf dan hendak pergi tapi ia merasakan ada yang meraba bokongnya. "Hei!" Jaehoon menoleh sambil melotot. Orang yang meraba bokongnya ternyata adalah pria yang ia tabrak tadi. Pria itu mengedipkan sebelah matanya pada Jaehoon dan memberi kode pada Jaehoon agar menelponnya. Jaehoon meraba saku belakangnya dan melihat ada kertas berisikan nomor telpon disana. Jaehoon segera meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Sial! Aku dikira gay!" *** "Kau? Mengapa kau bisa ada disini?" Minkyu melotot garang. Padahal ia sudah menghindar dengan sekuat tenaga dari Hyeri. Tapi gadis itu tiba-tiba muncul di ruang tamunya dan bercengkrama dengan ibunya. Hyeri membalas pelototan Minkyu dengan senyuman manis. Sesungguhnya Hyeri tak tahan lagi, Minkyu terus saja menghindarinya. Pemuda itu bahkan tidak muncul setiap Hyeri menunggunya di depan sekolahnya. Bahkan Jungmyeong dan Kang Yeonsoo juga tak bisa ditemui sama sekali. Sepertinya itu juga karena ulah Minkyu. Karena itulah Hyeri meminta alamat Minkyu pada Jaehoon. Dengan begini Minkyu takkan bisa menghindar lagi. "Minkyu-ya," suara Nyonya Kim penuh penekanan, "Kemarilah, Ibu harus membicarakan sesuatu denganmu. Ibu telah mendengar tentang hubungan kalian dari Hyeri. Kau memutuskannya karena ia ingin memberitahukan hubungan kalian pada Ibu, bukan? Mengapa kau bersikeras untuk menyembunyikan hubungan kalian dari Ibu, hm?" "Hubungan apa? Aku memutuskan hubungan apa? Kami tak punya hubungan apapun!" Minkyu beralih pada Hyeri, menatap gadis itu tajam, "Kau berbohong pada Ibuku?" "Tidak usah mengelak Minkyu-ya. Kau tak usah berbohong pada Ibu!" "Aku tak berbohong!" Minkyu berucap pada ibunya. Ia menoleh lagi pada Hyeri, "Hei, cepat beritahu pada ibuku kalau kau berbohong! Kita tak punya hubungan apa-apa!" Hyeri menatapnya dengan pandangan 'aku tak punya pilihan lain'. "kau benar-benar—" Minkyu membentak, "Huahh! Aku tak tahan lagi!" Minkyu melangkah cepat ke arah kamarnya dan mengunci pintunya tanpa memerdulikan teriakan ibunya yang memanggilnya. Jangan memanggilnya anak durhaka, ya. Ia hanya muak melihat wajah Hyeri. Ia tak mau berlama-lama ada di ruangan yang sama dengan gadis itu. Hyeri sudah memperkirakan hal ini. Minkyu mungkin akan marah pada awalnya. Akan tetapi akan lebih mudah mendekati pemuda itu dengan cara ini. Minkyu takkan bisa menghindar lagi darinya. Takkan pernah bisa. *** Entah hantu apa yang merasuki tubuh Jaehoon. Begitu ia kembali ke Seoul, ia langsung melajukan mobilnya ke apartemen Woojin. "Kau sudah tidak sabar memberikan komik-komik ini pada Yeonsoo, ya?" Yebin terkekeh dan melepaskan sabuk pengamannya. "Yebin-ah, apa kau tahu tempat yang aman untuk membakar sesuatu di sekitar sini?" tanya Jaehoon. Yebin berpikir sebentar, "Eumm, kurasa ada. Memangnya kenapa?" "Minta Yeonsoo ke tempat itu. Aku ingin memberinya kejutan." "Kau tak berniat membakar adikku bukan?" Yebin melotot horor. "Tentu saja tidak!" Jaehoon terkekeh, "Kau ini ada-ada saja." "Baiklah aku akan menelponnya." *** Yeonsoo sudah bersemangat saat Yebin menelponnya. Komik-komik yang sangat ia inginkan sudah datang, tentu saja ia senang. "kak Woojin, cepatlah!" Yeonsoo menarik tangan Woojin. Woojin melangkah di belakang Yeonsoo dengan malas. Kalau hanya untuk memberikan komik, mengapa Jaehoon tidak langsung memberikannya di apartemen Woojin saja? "Kak Jaehoon!" Yeonsoo melambaikan tangannya pada Jaehoon. Jaehoon membalas lambaian tangan Yeonsoo sambil tersenyum manis. "Kau sedang membakar apa, Kak?" tanya Yeonsoo heran saat melihat tong yang ada di depan Jaehoon. "Ah, ini?" Jaehoon mengambil sesuatu dari dalam kopernya dan memasukkannya ke dalam tong di depannya, "Komik pesananmu." Eh? Tunggu! Apa Yeonsoo tak salah dengar tadi? Komiknya? "Komikku!" Woojin menahan tubuh Yeonsoo yang ingin melompat ke dalam api dan menyelamatkan komik-komiknya. "Ini balasan untukmu. Aku mengalami pengalaman buruk di bulan maduku karena komik-komik ini." Jaehoon tersenyum licik. "Huaaaaa komikku!" Yeonsoo memegang bahu Woojin, "Kak Woojin, selamatkan komikku! Mereka tidak tahu apa-apa! Kasihanilah komik-komikku!" Woojin balas memegang pundak Yeonsoo. Mengelusnya pelan lalu menggeleng dengan wajah prihatin. Yeonsoo mulai sesenggukan dan memeluk Woojin. Menangis di d**a kekasihnya itu. Yebin hanya menatap mereka semua dengan ekspresi datar. Mengapa mereka semua menjadi dramatis begini hanya karena komik? Oh, mungkin lebih baik kau tetap tak tahu apa yang terjadi Yebin-ah. karena bila kau tahu, kau akan membantu Jaehoon membakar semua komik-komik itu. **** Keterangan: *Fujoshi: Istilah bahasa Jepang yang berarti "gadis busuk" merupakan sebutan bagi wanita yang menggemari hal-hal yang berkaitan dengan hubungan romantis antara pria dengan pria (gay). **** Makassar, 15 Maret 2017
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD