Apa yang kalian lakukan jika saat kalian terbangun dari tidur kalian, kalian sudah berada di tempat yang asing?
Menjerit? Menangis? Mencari pertolongan? Yebin tak melakukan itu semua. Saat sadar bahwa ia berada di sebuah kamar yang asing baginya, ia hanya menghela nafas dan kembali menarik selimutnya untuk tidur lagi. Bukan karena ia berpikir bahwa yang dialaminya saat ini hanya mimpi, bukan. Ia hanya sudah mempersiapkan diri sejak Jaehoon mengatakan bahwa pria itu memiliki rencana untuk bulan madu mereka. Walau Yebin tak menyangka kalau Jaehoon tega memberinya obat tidur hingga ia tidak sadar kalau ia telah diculik oleh pria itu. Ah, yang terjadi padanya seperti adegan dalam film saja.
Ceklek ...
"Kau sudah bangun?"
Jaehoon yang baru saja keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.
"Kita ada dimana?" tanya Yebin lemas.
"Kamar?"
"Byun Jaehoon,"
"Hotel?"
"Kau tahu bukan itu jawaban yang kuharapkan darimu."
"Richmond Hotel Sapporo Odori." jawab Jaehoon santai.
Yebin spontan bangun terduduk. Kepalanya terasa sakit namun ia mengabaikannya. Ia melotot tak percaya.
"Sapporo?! Hokkaido?! Jepang?!"
Jaehoon mengangguk. Pria itu menaruh handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut di bahunya dan duduk di pinggir ranjang.
"Mengapa reaksimu begitu?" tanya Jaehoon polos.
"Kau pikir aku harus bereaksi seperti apa lagi? Aku baru saja bangun dari tidurku di Seoul dan tiba-tiba aku sudah ada di Hokkaido? Hebat!"
Jaehoon terkekeh. Ia mendorong dahi Yebin dengan telunjuknya agar wanita itu kembali berbaring di ranjang.
"Kau istirahatlah lagi. Aku tahu efek dari obat itu masih belum hilang."
"Bagaimana barang-barangku? Apa kau mengemasnya? Saat ini di Sapporo masih musim dingin bukan? Aku mana bisa berjalan-jalan kalau tidak membawa pakaian musim dingin?" gerutu Yebin.
"Tenanglah, kali ini aku sudah mempersiapkannya dengan sempurna," Jaehoon menyeringai, "Yang mengemas barang-barangmu adalah Kak Jaehwa."
"Aku bersyukur kau tidak meminta Yeonsoo yang mengemasnya." Yebin menghela nafas lega.
"Tentu saja, aku tak bodoh untuk melakukan itu," Jaehoon menyelimuti tubuh Yebin dan mengecup keningnya, "Nah, sekarang istirahatlah agar kita bisa berjalan-jalan nanti."
Jaehoon baru akan pergi jika saja Yebin tak menahan tangannya, "Kau mau kemana? Temani aku!"
"Aku hanya pergi sebentar."
"Tidak mau! Temani aku!"
Jaehoon menatap tangan Yebin yang menggenggam tangannya, menghela nafas, lalu naik ke ranjang untuk ikut berbaring di sebelah Yebin.
"Kau ini benar-benar manja ya?"
"Memangnya kenapa? Kau kan suamiku. Lagipula takkan kubiarkan kau bersenang-senang sendiri tanpaku."
***
"Jaehoon-ah cepatlah! Foto aku!"
Yebin berpose di depan patung es berbentuk beruang.
"Baiklah-baiklah, jika patung es itu hidup aku yakin ia akan menertawaimu." ejek Jaehoon.
Yebin menjulurkan lidahnya pada Jaehoon, membalas ejekan pria itu. Ia lalu berlari untuk melihat-lihat patung es lain.
"Hei! Jangan lari-lari! Seperti anak kecil saja!" omel Jaehoon.
Baru saja Jaehoon menegurnya begitu, Yebin sudah tanpa sengaja menabrak pengunjung lain.
"Maaf! Aku benar-benar minta maaf!" ucap Yebin dalam bahasa jepang sambil membungkuk.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tersenggol sedikit."
Mendengar orang di depannya menggunakan bahasa Korea, Yebin mengernyit dan mendongak untuk melihat wajah orang yang ditabraknya. Matanya membola. Tidak mungkin! Orang ini ...
"Kang Yebin, bukankah sudah kubilang jangan lari-lari!" marah Jaehoon. Jaehoon beralih pada orang yang ditabrak oleh Yebin, "Eh? Kau kan ... Han Jangmi?"
"Byun Jaehoon? Lama tak berjumpa! Aku tak menyangka kita akan bertemu disini!" Jangmi tersenyum pada Jaehoon.
"Ya, lama tak berjumpa," Jaehoon melirik pada Yebin. Gadis itu ... Tangannya mengepal erat. Jaehoon meraih tangan yang mengepal itu ke dalam genggamannya. Mengelusnya lembut dengan ibu jarinya agar Yebin tenang.
"Kami harus pergi." pamit Jaehoon membalas senyuman Jangmi.
"Eh? Kenapa kau terburu-buru? Ah iya, siapa ini? Kekasih barumu?" tanya Jangmi penasaran.
"Ini istriku, Kang Yebin," jawab Jaehoon, "Kami benar-benar harus pergi. Permisi."
Jaehoon menarik tangan Yebin dan melangkah pergi meninggalkan Jangmi. Jangmi hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan bingung.
"Mengapa ia dingin begitu? Padahal baru saja bertemu setelah sekian lama. Apa istrinya itu tipe pencemburu?" gerutu Jangmi, "Tunggu! Kang Yebin? Istri Jaehoon itu ... Bukan Kang Yebin yang itu kan?"
***
"Minumlah dulu,"
Jaehoon menyodorkan minuman pada Yebin yang langsung diterima oleh gadis itu.
"Aku baik-baik saja, kau bisa pergi saja sekarang." ucap Yebin datar.
"Mengapa aku harus pergi?" Jaehoon membenarkan letak syal Yebin.
"Yang tadi itu mantan kekasihmu bukan? Sang mantan ratu Sekolah," Yebin terkekeh sinis, "Kalian sudah lama tidak bertemu. Kau pasti rindu padanya." Yebin menatap kerlap-kerlip lampu yang menghiasi Taman Odori.
"Hei, kau tahu aku tidak begitu," Jaehoon merengut, "Apa kau sudah tenang sekarang? Aku tidak membawamu kesini untuk berdiam diri di sini. Kau harusnya bersenang-senang."
Yebin menghela nafas, "Kau tahu semuanya bukan? Ah, untuk apa aku bertanya lagi? Melihat reaksimu yang seperti itu jelas kau sudah tahu tentang masa laluku."
"Aku tahu dari Woojin. Mengenai apa yang menimpamu, aku minta maaf."
"Aku benar-benar tak apa. Bisa kau tinggalkan aku sendirian? Tolong."
"Kang Yebin!" Jaehoon membentak, "Aku tak ingin bulan madu kita hancur hanya karena masalah ini."
"Bisakah kau mengerti? aku sedang butuh waktu untuk sendiri."
Jaehoon menutup kedua telinganya lalu menggeleng, "Aku tak dengar apapun! Ah apa kau lapar? Aku lapar. Kau ingin makan apa?"
"Byun Jaehoon!"
"Tralalalala~" Jaehoon menyeret tangan Yebin.
"Hei! Amoeba m***m! Kau mau membawaku kemana?!"
"Tidak dengar! Aku tidak dengar!"
***
Yeonsoo menatap ponselnya dengan gelisah. Woojin menatapnya bosan, walau tangan pria itu masih setia bermain-main dengan rambut Yeonsoo.
"Saat ini Kak Yebin sedang apa ya?" Yeonsoo bergumam, "Dia ingat oleh-oleh yang kupesan tidak ya?"
'Mengapa aku bisa jatuh hati pada gadis ini?' batin Woojin malas.
"Lupakan saja, Yebin tak mungkin membeli pesananmu."
"Tapi aku benar-benar menginginkan komik itu!" gerutu Yeonsoo.
"Kau meminta orang yang sedang berbulan madu untuk membelikanmu komik gay?" Woojin menghela nafas, "Apa kau sudah kehilangan akalmu?"
"Aku sudah kehilangan akalku sejak dulu." Yeonsoo memutar bola matanya.
"Dan aku pasti sudah kehilangan akalku sejak aku mencintaimu." gerutu Woojin.
Yeonsoo merengut tapi gadis itu tak mengomentari ucapan Woojin. Yeah, dia sendiri setuju kalau Woojin benar.
"Bagaimana ujianmu hari ini?" tanya Woojin.
"Membosankan," Yeonsoo berucap angkuh, "Aku yakin aku bisa masuk ke Universitas yang kuinginkan."
"Kau benar-benar ingin kuliah di luar negeri? Kita akan menjalin hubungan jarak jauh, apa kau tidak khawatir tentang itu?"
"Tidak, aku tahu kau tidak tertarik untuk selingkuh. Aku pun begitu." ucap Yeonsoo malas.
"Bagaimana kau bisa yakin begitu? Masih ada kesempatan bila aku ingin bersama Seungwan." balas Woojin.
Yeonsoo bangun dan melotot pada Woojin.
"Hei! Awas saja kalau kau berani!" ancamnya.
"Aku akan melakukannya bila kau tidak mempertimbangkan keputusanmu lagi."
"Kak Woojin!"
***
Yebin menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dan memunggungi Jaehoon. Jaehoon menatap punggungnya sambil menghela nafas. Setelah pertemuan mereka dengan Jangmi tadi, mood Yebin benar-benar jatuh ke bawah. Jaehoon harus berusaha ekstra keras untuk memperbaiki mood istrinya.
"Byun Jaehoon,"
"Hm?"
"Sepulangnya ke Seoul, aku akan mengadopsi anak."
Perkataan Yebin sukses membuat Jaehoon terlonjak kaget. Ia segera duduk di sebelah Yebin.
"Kau gila? Kita masih kuliah!"
"Kita? Bukankah sudah kukatakan padamu aku yang akan mengadopsi anak? Itu artinya hanya aku yang akan menjadi ibu dari anak itu. Aku yang akan mengurusnya," ucap Yebin, "Lagipula kau dan aku sama-sama di semester akhir."
"Kang Yebin kita sudah menikah. Jika kau ibunya, berarti aku ayahnya. Aku memang sudah berencana untuk mengadopsi anak, tapi tidak sekarang. Kau terlalu terburu-buru."
"Aku ingin memiliki kenangan tentangmu."
"Kenangan katamu," Jaehoon terkekeh sinis, "Apa kau berniat berpisah denganku?"
"Aku tak berniat begitu, tapi aku merasa ... Kau akan pergi dariku." ucap Yebin lemah.
"Apa ini karena Han Jangmi? Kang Yebin, kau tahu aku tak tertarik sedikitpun padanya! Bahkan padamu pun tidak. Jadi mengapa kau cemas begitu?" marah Jaehoon.
"Tapi aku tetap merasa—"
"Berhenti khawatir untuk hal yang tidak perlu! Aku suamimu sekarang! Bukankah sudah kukatakan padamu? Aku takkan membuatmu menyesal telah menikah denganku!"
"Tapi—"
Yebin jatuh terbaring di atas ranjang dengan Jaehoon di atasnya. Pria itu mencium bibirnya, melumatnya dengan kasar.
"Hei hentikan!"
Jaehoon mencium bibir Yebin seakan tak ada hari esok bagi mereka. Ia memiringkan kepalanya mencari posisi yang tepat untuk memperdalam ciuman mereka.
"J-Jaehoon hentikan!" Yebin berhasil memberi jarak di antara mereka. Nafas mereka terengah-engah.
"Kau tak perlu memaksakan dirimu." Yebin mengelus rahang Jaehoon. Mata mereka saling bertatapan lembut.
"Aku tak ingin kau berpikir kalau aku main-main. Jika kau ingin mengadopsi anak, maka mari lakukan itu. Tapi kau harus mengingat hal ini, aku takkan pernah meninggalkanmu dan bila kau meninggalkanku maka aku akan mengurungmu hingga kau tak bisa lagi lari dariku."
Melihat kesungguhan di mata suaminya, Yebin pun tersenyum dan mengangguk. Jaehoon membalas senyumannya. Pria itu kembali mendekatkan wajah mereka. Mengecup dahi Yebin lembut sebelum akhirnya kembali mengecup bibir Yebin.
"Lebih baik hentikan sekarang," Yebin menatap Jaehoon sebal, "Menahan diri seperti ini sangat sulit kau tahu?"
"Oh ya?" ejek Jaehoon.
Diejek seperti itu tentu saja membuat Yebin kesal. Tatapan Yebin berubah jahil. Diam-diam tangannya merayap ... Merayap ... Dan ... Hap!
"Hei! apa yang kau pegang itu?" Jaehoon melotot.
"Rasakan ini!!!"
"Hei!"
... Meremas bagian bawah pria itu dengan keras seperti ingin meremukkannya. Teruntuk Jaehoon ... Yang sabar ya!
***
Makassar, 02 Maret 2017