PROLOG
Penghujung dari masa percintaan adalah sebuah pernikahan. Dimana pernikahan adalah hal yang paling didambakan dan diagungkan oleh semua pasangan di dunia ini. Semua tampak gembira dan begitu berbunga ketika terjadinya sebuah pernikahan itu. Sepertinya hal yang aku alami saat ini.
Enam tahun aku merajut kasih dengannya di bangku kuliah hingga pekerjaan, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Betapa bahagianya masa- masa indah itu, semua orang juga tampak bahagia tak terkecuali aku dan juga dia. Namun nyatanya semua berubah sejak memasuki tahun ke 5 pernikahan kami.
Disertai sorot mata yang penuh kekecewaan ibu mertuaku berjalan memasuki rumah dengan membawa sebuah amplop di tangannya.
Tepat berada di depanku beliau pun melemparkan amplop itu hingga mengenai wajahku yang sedikit berkeringat karena baru saja memasak.
"Lihatlah itu Lintang!" ucapnya dengan begitu lantang.
Aku pun terkejut dengan kedatangannya yang tiba- tiba ke rumahku. Dengan sedikit gugup aku mulai membukanya. Aku melihat ibu mertuaku tampak memalingkan wajahnya. Aku mulai membaca dengan seksama satu lembar kertas yang ibu berikan padaku.
Mendadak hatiku hancur melihat setiap tulisan yang ada di dalam kertas itu. Duniaku yang semula terang kini berubah menjadi gelap gulita. Jantungku rasanya ditusuk oleh ribuan jarum yang menancap secara bersamaan. Tanganku mulai bergetar hebat, bahkan air mataku luruh begitu saja.
"B.. Bu," ujar ku pelan. Aku nyaris tak bisa mengeluarkan kata sedikitpun setelah membaca tulisan itu.
Aku membekap mulutku dan menggelengkan kepala, terisak dalam kenyataan yang dibawa oleh selembar kertas ini.
"Ti.. Tidak mungkinkan bu?" ujar ku sambil menatap ibu mertuaku yang kini tampak meneteskan air mata juga.
"Aku benar- benar kecewa padamu Lintang!" ujar ibu sekali lagi tanpa mau melihat kearah diriku.
Aku tahu pasti ibu sangat kecewa dengan hal ini.
Aku pun terduduk lemas di lantai sambil menangisi surat yang ada di pangkuanku.
"Tidak!!" jeritku.
"Aku ... Aku tidak mungkin infertilitas" ujar ku yang masih saja menangis sambil terduduk.
"Ahhhh.... Tidakkk!!!" pekikku lagi- lagi dan menangis penuh rasa sesak dan yang masih begitu terkejut dengan surat ini.
Isi surat itu adalah hasil pemeriksaan ku dan suamiku 1 minggu yang lalu, dimana ibu selalu mendesak ku untuk memeriksakan kandunganku bersama suamiku karna hampir 5 tahun pernikahan kami. Kami tak kunjung diberikan momongan. Hingga hari ini surat itu pun datang dan membawa berita terburuk dalam hidupku jika aku dinyatakan infertilitas.
Sejak hari itu dan semua orang tahu, mereka tampak kecewa denganku termasuk dengan suamiku, Nathan.
Ia memang mencoba menenangkan ku, namun aku yakin dia pasti begitu kecewa dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa mengandung. Tidak bisa memberikan keturunan padanya. Tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk dirinya dengan hadirnya seorang anak diantara kami.
Semuanya terasa baik- baik saja diantara kami, perhatian yang Nathan berikan padaku tak pernah luntur barang sedikitpun. Dia masih saja menjadi kunci untuk hatiku, masih selalu mengungkapkan kata cintanya padaku meskipun tahu fakta yang menyakitkan diantara kami. Aku merasa lega karna hal itu.
Namun entah kenapa ia mulai sedikit berubah saat memasuki musim penghujan di tahun kelima kami bersama. Nathan memang selalu mencium ku saat aku terbangun dan mengucapkan kata cinta setiap paginya, namun aku masih merasa ada yang salah dengan Nathan.
Aku selalu mencium ada wangi parfum yang berbeda dari jas kantor yang ia gunakan saat ingin mencucinya. Rasa curiga ku pun bertambah besar ketika aku menemukan ada bekas lipstik yang menempel pada kemeja yang suamiku gunakan.
Karena dipenuhi rasa curiga yang besar, aku pun memberanikan diri untuk memeriksa ponsel suamiku saat dirinya sedang mandi. Hal yang pertama kali aku lakukan selama hampir 5 tahun kami menikah.
Betapa terkejutnya, ketika aku menemukan salah satu kontak yang diberi nama "My Baby Key" ditambahkan dengan simbol hati disampingnya. Dengan hati yang sudah hancur aku pun masih saja meneruskan aksiku menjelajahi ponsel suamiku. Hatiku semakin diremas hancur tak berkeping ketika melihat pesan sayang yang saling mereka kirimkan. Bahkan beberapa foto mereka bersama, berciuman bahkan ada foto dimana mereka sedang tidur bersama berbalut selimut dan tanpa sehelai benang pun ada di dalam pesan itu.
Aku pun hanya bisa menangis kembali dalam diam di dapur, tak ingin Nathan tahu tentang hancurnya hatiku saat ini. Bersama dengan derasnya hujan di malam hari yang membantuku meredam suara tangisanku yang bisa saja terdengar memilukan hingga keluar sana.
Hingga suatu hari saat aku berbelanja ke sebuah supermarket, aku melihatnya sedang berpelukan dengan seorang wanita yang memakai pakaian kantor yang sama seperti Nathan. Dan aku yakin jika dialah wanita dibalik nama "My Baby Key❤".
Nathan tidak melihatku, karena aku terlanjur pergi dengan hati yang penuh kecewa ini.
Jadi ucapan cinta yang Nathan lontarkan padaku adalah topeng saja?
Lagi- lagi aku hanya bisa menelan kekecewaan ini sendirian. Ini memang salahku, aku yang tidak bisa memberikan Nathan kebahagiaan sehingga ia memilih kebahagiaan yang lain.
Jika kalian berpikir aku membencinya, jawabannya adalah tidak.
Aku tidak bisa membencinya.
Senyumnya adalah matahariku, tubuhnya adalah pelindungku, tidurnya adalah kebahagiaanku. Namun bangunnya bisa menjadi neraka untukku.
Banyak sekali cinta yang Nathan berikan untukku. Berperan sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Ucapan cinta serta kecupan selamat pagi yang tak pernah luntur ia berikan padaku.
Ketika aku ingin membencinya, aku selalu tak mampu karena cermin selalu mengingatkanku. Dia yang terlalu sempurna ataukah aku yang layaknya sampah tak berguna. Yang tak pantas untuk sekedar mengumpatinya.
Kerap kali rasa lelah selalu melanda hatiku, namun lagi- lagi sebuah pelukan, kecupan serta ucapan "aku mencintaimu" yang Nathan ucapkan padaku kembali menghilangkan rasa lelahku.
Ingin sekali aku membalas dengan keras "aku lebih mencintaimu Nathan!!" namun hal itu tak pernah terlontar dari mulutku. Karena entah kenapa aku merasa jika ungkapan itu tidak ada gunanya. Ucapan cinta Nathan hanyalah pemanis untuk menutupi segala kebohongan yang ia lakukan dibelakang ku.
Aku tahu jika Nathan sangatlah mencintaiku, melihat betapa kerasnya dia dulu memperjuangkan ku yang masih berstatus sebagai kekasih sahabatnya sendiri waktu itu adalah bentuk betapa besarnya cinta Nathan untukku.
Lalu kini kemana perginya cinta itu?
Aku juga tidak tahu! Yang aku tahu priaku selalu menyatakan cintanya padaku dan aku yang selalu menyimpan rapat cintaku padanya. Yang pada kenyataannya cinta dan kepercayaan itu harus perlahan memudar seiring berjalannya waktu karena ketidaksempurnaan diantara kami.
Karena pada dasarnya manusia menikah adalah untuk mendapatkan keturunan, bukan sekedar ungkapan cinta ataupun materi yang diperlukan.
Dengan sisa- sisa kekuatan yang aku punya, aku masih mencoba menutup mata dan bersikap jika seolah- olah aku tak tahu dengan tingkah laku brengseknya suami tercintaku di belakang punggungku.