Nathan mengangguk mantap. "Ya," ujarnya tanpa ada keraguan di sana.
"Kalau begitu cepat ceraikan istri Kak Nathan, lalu nikahin Keysa!" ucap wanita itu seraya menatap mata Nathan dengan penuh harap.
Mata Nathan sontak membulat seketika, "Apa? Kau jangan bercanda Keysa!" pekik Nathan tanpa sadar.
"Kau sangat tahu bukan, betapa besarnya cintaku pada Lintang! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikannya," ujar Nathan dengan letupan amarah melalui sorot matanya.
Mendengar jawaban Nathan sontak membuat Keysa melongo seketika. Hatinya sakit saat mendengar pria itu secara gamblang jika ia mencintai istrinya. Lalu dia anggap apa dirinya ini? Penampung benihnya saja?
"Kak Nathan jahat!" pekik Keysa dengan keras dan memukul- mukul tubuh Nathan. Wanita itu menangis.
"Dasar pria b******k! Sialan! Tak punya hati!" umpat Keysa dengan marah pada Nathan. Dirinya salah telah berharap penuh pada Nathan. Ternyata pria itu sama saja dengan mantan kekasihnya yang dulu itu.
Melihat Keysa tampak hancur dihadapannya kini, membuat hati Nathan merasa amat sangat bersalah juga. Niat hatinya, hanya ingin mencari teman untuk berbagi kegelisahan hatinya. Namun ternyata ia sudah sejauh ini, menyakiti dua wanita sekaligus dalam hidupnya.
Nathan menarik pergelangan tangan Keysa, membawa wanita itu kedalam pelukannya dengan erat, mengusap rambut coklat panjangnya dengan begitu sayang. "Hey, tenanglah!" ujar Nathan.
"Kak Nathan kenapa jahat sekali sama Keysa," ujar wanita itu sembari menangi sesenggukan di dalam pelukan pria yang telah melukai dirinya.
Mendekap semakin erat tubuh milik wanitanya ini, "Aku memang tidak bisa menceraikan Lintang, tapi bukan berarti aku sanggup kehilanganmu juga Key."
"Kau juga merasuk ke dalam tubuhku, dan memiliki tempat di hatiku," ujar pria itu sembari mengecup puncak kepala Keysa sesekali. "Aku akan berusaha, menjadikanmu milikku tanpa harus mengakhiri hubunganku dengan Lintang. Kalian sama- sama menjadi wanita kesayanganku."
Beberapa saat mereka saling berpelukan, dan dirasa Keysa sudah mulai tenang. Nathan melepas pelukannya, mengusap dengan lembut sisa- sisa air mata yang mengalir di mata Keysa.
Menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangan besarnya. "Jadi aku mohon, tunggulah sebentar lagi. Sampai aku siap untuk mengatakan yang sebenarnya pada Lintang, jika akan menikahimu," ucap Nathan dan dibalas anggukan oleh Keysa.
Nathan pun tersenyum, mengecup bibir Keysa cukup lama seolah menyalurkan perasaannya lewat kecupan itu. Namun kegiatan mereka tak berhenti sampai disitu, Keysa menarik kerah kaos milik Nathan dan semakin memperdalam ciuman mereka. Menciptakan sensasi memabukkan diantara keduanya, hingga pada akhirnya saling bertukar peluh satu sama lainnya. m*****i rumah yang selama ini menjadi saksi suci keharmonisan rumah tangga Nathan dan Lintang.
Nathan terhanyut, hanyut dalam permainan yang awalnya ingin ia mainkan di saat melepas penat. Kini justru berlanjut hingga beberapa bulan lamanya. Menjalani perselingkuhan dengan rapi menurutnya. Pria mana yang tak menyukai tubuh cantik dan sexy seorang wanita?
Cinta Nathan untuk Lintang sangatlah besar, tapi jika di beri kesempatan untuk menikmati tubuh wanita lain apakah harus ditolak? Tentu saja tidak. Terlebih kepalanya nyaris pecah ketika teman-temannya selalu merecoki hidupnya dengan anak.
~~~~~
"Kak Lintang sudah selesai?" tanya Dilan sembari menatap atasannya itu yang tengah melihat barang belanjaan mereka.
Lintang mengangguk, "Iya udah kok, ini cukup."
Pria muda itu tampak tersenyum misterius, "Kalau begitu, karna saya udah temenin Kak Lintang beli ini semua. Jadi..." ucapnya tampak ragu dengan mengulum senyum.
Lintang memperhatikan tingkah bawahannya ini, "Jadi apa?" tanya Lintang dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Jadiin saya pacar Kak Lintang," ucap Dilan tanpa filter membuat Lintang sontak men jitak kepala pria muda itu.
"Aduh!" ringis Dilan dengan memegangi pelipisnya yang mendapatkan jitak an dari atasannya itu.
"Heh, kamu ngajakin saya selingkuh gitu?" ucap Lintang melotot kan matanya pada Dilan.
"Bercanda Kak, astaga! Kenapa sensitif banget sih. Kek orang lagi sakit gigi," ucap Dilan mengerucutkan bibirnya.
Lintang berdecak kecil, "Ya habisnya bicara kamu ngawur terus. Ingat! Sekarang masih jam kerja, saya itu atasan kamu. Mau gaji kamu saya tahan bulan ini?" ujar Lintang dengan malas.
"Iya deh iya, maafin Dilan yang gantengnya Indonesia ini ya bu bos," ucap pria itu sembari menampilkan baris- baris giginya yang rapi.
"Ck, narsis kamu!" ucap Lintang tersenyum kecil.
"Narsis begini banyak yang naksir kali," balas Dilan dengan rasa percaya dirinya yang menembus Mars.
Lintang memutar bola matanya malas, meskipun tak bisa dipungkiri jika bersama Dilan. Suasana hatinya sedikit membaik.
"Udah ah, kamu minta apa?" tanya Lintang.
Dilan tampak berpikir keras, membuat Lintang harap- harap cemas. Bagaimana jika pria muda itu meminta hal- hal yang aneh padanya. Seharusnya Lintanglah yang menawarkan.
"Em, traktir aku makan aja ya bu bos," ucap Dilan dengan menaik turunkan kedua alisnya. "Biasalah, pertengahan bulan. Anak kos harus rajin- rajin menghemat biar cukup sampai akhir bulan," ujar pria itu.
Lintang tertawa, "Ck dasar! Yaudah kita MCD sekarang," ajaknya.
Bak seorang anak kecil yang mendapatkan permen kapas, Dilan sedikit meloncat kesenangan. "Asik! Makan ayam ditraktir bu bos yang cantik," ucap pria itu tersenyum manis pada Lintang.
Lintang sendiri mengakui jika Dilan ini tampan dan manis, meskipun terkadang menyebalkan namun sikap yang seperti itulah yang menghibur dirinya.
"Nanti saya ayamnya yang banyak ya bu bos," ucap Dilan lagi- lagi membuat Lintang melongo seketika.
"Oke, masuk ke potongan gaji bulan ini ya?" ucap Lintang sedikit menggeram.
"Apa?" pekik Dilan dengan cepat. "Ya jangan dong bu bos!" Erangnya.
"Jangan apanya? Kamu mau malak saya?" ucap Lintang dengan memasang wajah galaknya.
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya saling berdebat tanpa canggung meskipun mereka adalah seorang bos dan karyawannya.
~~~~~
Lintang menunggu Dilan yang sedang ke kamar mandi. Mereka telah menghabiskan 3 porsi paket ayam sesuai permintaan pria itu yang meminta jatah double. Namun tak berapa lama dirinya menunggu, iris matanya menangkap sosok yang sangatlah ia kenal. Lintang sontak berdiri, menghampiri sosok yang menjadi bagian dari hidupnya itu kini tengah makan bersama dengan seorang wanita dan terlihat sangatlah romantis.
"Loh mas Nathan?" Ucap Lintang saat berada tepat didepan meja Nathan dan juga Keysa.
Keduanya tampak terkejut dengan kedatangan Lintang, terlebih lagi Nathan. Jantung pria itu seakan ingin melompat keluar dari tempatnya ketika menemukan sang istri sedang menatap meminta penjelasan kearahnya.
"Sa.. sayang," ucap Nathan dengan gugup. Lidahnya bahkan kelu untuk sekedar menjawab. Pria itu dengan cepat berdiri dari duduknya dan sedikit menjauh dari Keysa.
Lintang memperhatikan keduanya. Tanpa dirinya bertanya, Lintang sangat amatlah tahu apa yang mereka lakukan.
Sebenarnya Lintang ingin mengabaikan, namun ia tidak bisa berpura- pura tutup mata dengan tingkah menjijikan di antara mereka. Dengan menahan rasa sakit, Lintang melangkahkan kakinya untuk menghadapi badai yang datang ke rumah tangganya.
"Mas Nathan kok disini? makan disini juga?" tanya Lintang berpura- pura terkejut dan masih tampak tenang. Meskipun dalam hatinya ingin sekali rasanya mencakar wajah wanita itu. Wanita ular yang tak punya malu masuk kedalam rumah tangganya.
Nathan menghampiri Lintang, memasang senyum hangat agar wanitanya tak curiga.
"Iya sayang," jawab Nathan sembari mengusap bahu istrinya itu. "Kamu kan nggak ada, pelayan juga libur. Jadi mas makan disini," ucap Nathan berbohong.
Lintang ingin sekali menertawakan ucapan suaminya itu. Benar- benar pembual ulung yang sangatlah sempurna.
Sedangkan Keysa tampak kesal melihat kedatangan Lintang yang tiba- tiba. Keysa tak menunjukkan wajah bersalah ataupun gugup. Wanita itu tampak santai, justru dirinya bersorak jika Lintang tahu segalanya. Sehingga dirinya tak perlu bermain petak umpet bersama prianya.
"Dia siapa?" tanya Lintang dengan melihat kearah Keysa. Ingin menguji Nathan, apakah suaminya itu akan memperkenalkan kekasih gelapnya pada istrinya sendiri saat ini.
Jantung Nathan berdegup kencang, dia tahu jika lama kelamaan hari seperti akan kah terjadi.
"Di.. Dia," ucap Nathan begitu ragu.