Suasana hening menyelimuti perjalanan pulang Sienna menuju apartemen Malik. Sepanjang jalan, bayangan tatapan tajam Samuel dan suara dentuman pintu yang membanting itu terus terngiang-ngiang di kepalanya, seolah menjadi lonceng peringatan atas kesalahan besar yang baru saja ia perbuat. Setibanya di apartemen, Sienna langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Ruangan itu terasa begitu dingin dan asing, sangat kontras dengan kehangatan yang sempat ia rasakan di kantor Samuel tadi siang. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh begitu saja, membasahi pipinya yang pucat. "Bodoh... kau benar-benar bodoh, Sienna," gumamnya pada diri sendiri sembari meremas ujung bajunya. Hatinya dirundung rasa bersalah yang luar biasa. Ia mengakui bahwa permintaannya tadi sangat keterlaluan.

