Dekat Tapi Jauh (2)

1689 Words
Sejak kejadian itu, Zizi tidak pernah berkomunikasi dengan Alka lagi. Alka pun juga sama sekali tidak menghubungi Zizi, walau hanya untuk menegur, mengirimnya pesan atau meminta maaf sekalipun juga tidak Alka lakukan lagi. Zizi juga tidak ingin ambil pusing, ia pun bersikap dingin terhadap Alka dan selalu menghindar jika ia bertemu dengan Alka. Saat berpapasan pada jam istirahat pun Zizi dan Alka tetap sama-sama membisu. Biasanya kelas selalu heboh karena Zizi pada saat jam pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing serta selalu heboh pula karena Alka pada saat mata pelajaran Agama dan Ekonomi. Namun dalam waktu satu minggu itu kelas mendadak sepi bagai tidak berpenghuni, semua siswa mengikuti mata pelajaran dengan khidmat, hanya mengikuti alur, seakan semuanya mengikuti kesunyian Zizi dan Alka. Keterlaluan nih orang, udah tau salah tapi gak ada usahanya dikit apa. Minta maaf kek, negur kek atau apa gitu. Dicuekin malah balik nyuekin. Sifat aliennya balik lagi. Batin Zizi sambil memutar-mutar pulpen yang seharusnya ia pergunakan untuk menulis catatan matapelajaran yang sedang dijelaskan oleh Bu Nita, tetapi Zizi sama sekali tidak memperhatikan penjelasan materi tersebut, yang ia lakukan selama mata pelajaran berlangsung hanya menopang dagunya dengan pikirannya yang jauh entah kemana. Bukunya pun penuh dengan coretan-coretan yang tidak jelas. "Zi, lo kenapa? Gak biasanya lo kayak ayam ditekuk kayak gini." Tanya Vanya. Namun Zizi sama sekali tidak mendengar apa lagi menghiraukan teguran Vanya, Zizi benar-benar sedang tidak fokus. "Zizi.. lo kenapa sih?" bisik Vanya sambil sedikit mencubit pinggang Zizi. Zizi yang merasa dikejutkan dengan cubitan yang sedikit membuat pinggangnya hampir lepas karena menahan sakitnya cubitan Vanya dengan spontan berteriak sehingga membuat ibu Nita marah karena merasa seperti tidak dihargai sebagai seorang guru yang sedang mengajar di kelas mereka. "Aww.. apaan sih? Sakit tau?" teriak Zizi tanpa sadar kalau ia sedang mengikuti pelajaran bu Nita. "Zizi!" Tegur bu Nita. "ada masalah?" Tanya bu Nita yang kini telah mendekati Zizi. "ee, maaf bu. Gak ada kok." Jawab Zizi gugup. "lalu mengapa kamu berteriak? Coba saya lihat catatan kamu." Sambil menadahkan tangan ibu Nita meminta catatan Zizi. Mampus dah gue. Gumam Zizi, dengan pasrahnya ia menyerahkan catatannya yang sama sekali tidak ada tulisan untuk materi yang baru diajarkan bu Nita saat itu, yang ada hanyalah coretan yang bergambar sehingga benar-benar membuat emosi bu Nita meledak. Zizi sudah pasrah jika harus mendapatkan hukuman dari bu Nita, karena tidak mungkin bu Nita tidak menghukumnya. "gambaran kamu bagus banget, saya tahu kalau kamu berseni, tapi hari ini kamu benar-benar tidak menghargai saya, sudah tidak memperhatikan, membuat keributan pula. Saya tidak suka itu." Seru bu Nita dengan nada yang agak sedikit tinggi. "maafin Zizi bu, Zizi memang salah." Sesal Zizi. "sekarang kamu keluar dari kelas saya, dan kamu bersihkan toilet sekolah sampai bersih. Jika belum bersih kamu belum boleh masuk kelas untuk mengikuti mata pelajaran selanjutnya." Perintah bu Nita. "tapi bu.." "saya bilang keluar. Keluar. Atau kamu tidak akan pernah saya izinkan untuk mengikuti mata pelajaran saya lagi." "baik bu." Jawab Zizi pasrah sambil berdiri kemudian melangkah meninggalkan ruang kelasnya. Arrggh.. s**l banget gue hari ini, ini semua gara-gara tuh orang. Coba aja gue gak mikirin dia, pastinya gak bakalan jadi kena hukum kayak gini.gue benci lo. Gerutu Zizi kesal dalam hatinya. Setelah sampai di toilet sekolah, Zizi bingung hal apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Kekesalannya bertambah ketika mendapati keran air di toilet wanita tidak mengalir. Untungnya keran air di toilet laki-laki masih bisa mengalir, setidaknya Zizi masih bisa mengambil air dari sana. Walaupun masih capek juga pikirnya. "aarrgghh.. tambah bikin kesel aja ni keran air. Masak iya gue harus bolak-balik dari toilet cowok terus ke toilet cewek lagi Cuma buat ngambil air. Lagian gak ada ember pula. Apes banget nasib gue hari ini." Keluh Zizi sambil mengayunkan kain pel kelantai. "kerja itu jangan sambil ngomel, kapan selesainya." Seru Alka yang tiba-tiba muncul dihadapannya sehingga membuat Zizi tersentak kaget. Namun usaha Alka untuk menegur Zizi sia-sia karena tidak ada respon sama sekali dari Zizi atas tegurannya itu. Zizi hanya diam mematung dan menatap Alka lekat karena Zizi bingung sedang apa Alka disini? Pake bawa ember lagi. Lagi-lagi Zizi hanya bergumam dalam hatinya. Tanpa menghiraukan tatapan Zizi yang bingung Alka langsung melewati Zizi dan membantunya untuk mengambil air yang ada di toilet laki-laki lalu dipindahkan ke toilet wanita. Ni orang saraf kali ya, yang dihukumkan cuma gue kok malah dia yang ikut-ikutan. Tapi gak papa juga sih, itung-itung biar kerjaan gue cepet selesai. Pikir Zizi sambil memperhatikan gerak-gerik Alka. Walaupun Alka sudah berbaik hati menolongnya dan menemaninya sampai ia menyelesaikan semua hukumannya, namun Zizi tetap saja diam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Zizi. Dengan perasaan yang kecewa Alka pergi meninggalkan Zizi karena ia merasa bahwa Zizi belum bisa memaafkan kesalahannya. Sesampainya di kelas, Vanya langsung meminta maaf kepada Zizi karena secara tidak langsung Vanya lah penyebab Zizi dihukum seperti itu. Namun Zizi tidak begitu mempermasalahkan hal itu, walaupun kesalahan itu masih ada campur tangan dari Vanya namun baginya itu murni kesalahnnya karena dari awal ia memang tidak memperhatikan ibu Nita dalam menyampaikan materinya. "Zizi maafin gue ya, gara-gara gue lo jadi dihukum sama bu Nita. Seharusnya tadi gue gak nyubit lo." Sesal Vanya. "gak apa kok neng, lagian ini salah gue kok yang gak merhatiin penjelasan bu Nita." Jawab Zizi tenang dengan senyumannya. "beneran Zi gak apa? Emang lo mikirin apaan sih sampai buat lo bengong kayak tadi?" Tanya Vanya penasaran. "gak penting kok." Jawab Zizi singkat. "gak penting tapi sampe bikin lo jadi gak konsen kayak gitu. Cerita dong Zi, lo kenapa?" desak Vanya. Namun belum sempat Zizi menjelaskan alasan mengapa ia melamun, pak Andi sudah memasuki ruang kelas mereka untuk belajar kimia. Disela pak Andi menjelaskan materinya, Zizi teringat pada Alka yang telah membantunya saat ia dihukum tadi dan Zizi belum mengucapkan kata terima kasih pada Alka. Rasanya tidak etis jika tidak mengucapkan terima kasih pada orang yang telah berbaik hati menolongnya. Thanks ya udah bantuin gue tadi. Delivered to : xxxx53677008 Iya sm2. Sender : xxxx53677008 Eemm, gue minta maaf ya soal kemarin. Gue beneran gk bermaksud bikin lo seshock itu. Sender : xxxx53677008 Udah gue maafin kok, maafin gue jg ya udah bersikap krg menyenangkan bbrapa hr terakhir ini. Delivered to : xxxx53677008 Udah gue maafin jg kok, gue maklum. Sender : xxxx53677008 Oke. Kalo gitu kita udah baikan kan? Delivered to : xxxx53677008 Emang kita lg marahan? Sender : xxxx53677008 Gk tau. Delivered to : xxxx53677008 Udah. Perhatiin pak Andi tuh, ntar dihukum lg. Sender : xxxx53677008 Setelah menerima pesan masuk yang terakhir dari Alka, Zizi menoleh dengan melontarkan senyuman termanisnya kearah tempat duduk Alka yang sudah kembali duduk dibangku paling pojok lagi. Alka pun membalas senyuman Zizi.               *** Hembusan angin yang sepoi-sepoi dan daun yang seakan menari-nari diatas pepohonan semakin melengkapi suasana kesejukan hari saat itu, seakan ikut merasakan suasana hati Zizi dan teman-temannya saat itu. Dibawah rindangnya pohon mangga, mereka duduk disana menikmati suasana yang sejuk, matahari yang tidak begitu terik menyengat kulit mereka. Jam istirahat kali ini, mereka lebih memilih untuk nongkrong dibawah pohon mangga yang terletak dibelakang perpustakaan sekolah. Mereka bersenda gurau, namun satu persatu dari mereka pergi dengan alasan kalau mereka sedang lapar dan memutuskan untuk tetap tidak meninggalkan kantin hari itu. Sampai akhirnya hanya tinggal Zizi dan Alka saja yang masih berada dibawah pohon itu, semua teman mereka sudah pergi, termasuk Vanya. Tetapi walaupun semua teman mereka sudah pergi meninggalkan mereka satu persatu, mereka tetap asyik mengobrol hingga akhirnya mereka menyadari bahwa hanya tinggal mereka berdua yang ada dibawah pohon itu. "loh, ini tinggal kita berdua aja ni?" Tanya Zizi pada Alka. "emang lo pikir masih ada siapa lagi." Jawab Alka. "wah gak bener ini temen-temen masak kita ditinggalin gitu aja, pada gak balik-balik lagi." Gerutu Zizi. "cerewet amat sih. Seru Alka oh iya gue boleh Tanya sesuatu gak Zi?" pinta Alka. Deg.. jantung Zizi berdetak kencang, Zizi takut Alka akan melakukan hal-hal yang membuatnya ketakutan lagi. "bo..boleh, mau Tanya apa Al?" Tanya Zizi gugup. "lo kok gugup kayak gitu sih? Tenang aja gue gak bakal ngelakuin hal yang gila kayak kemarin lagi. Udah kapok kok disemprot sama Vanya terus dicuekin sama lo juga." Jelas Alka. Zizi menghela napasnya lega. "iya, emang lo mau nanya apaan sih?" Zizi kembali bertanya. "tapi gue mau lo jawab yang jujur ya." Pinta Alka. "iya gue bakal jawab jujur, tapi lo mau nanya apa dulu?" "serius ya Zi lo bakalan jawab jujur?" "iya serius." "oke, gue mau nanya sama lo, jawab jujur ya.." Alka mengulangi kalimat itu hampir sepuluh kali namun tidak kunjung terucap hal apa gerangan yang ingin Alka tanyakan pada Zizi. Apakah mau nembak Zizi yaa.. "udah deh Al, lo itu udah muter-muter dari tadi hanya pada satu kalimat itu. Kalo gak nyebutin juga pertanyaan lo, gue mau pergi nih." Ancam Zizi yang sudah hampir berdiri. "iya.iya.iya.. jangan pergi dulu. Zi, gue mau Tanya sama lo, jawab yang jujur ya." "hmmm.." Zizi menatap Alka agar Alka segera menyebutkan pertanyaannya. "lo.. lo.. agama apa Zi?" Tanya Alka singkat. Zizi terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alka padanya. Hanya itu yang ingin ia tanyakan? Muter-muternya udah lama banget. Tapi kok.. dia kan tau gue agama apa, kok nanya lagi sih. Pikir Zizi. iya Islam lah.. Zizi kembali melanjutkan kalimatnya setelah ia menemukan maksud dari pertanyaan Alka tersebut. "oh iya iya gue tau kenapa lo nanyain ini ke gue." Seru Zizi. "emang apa?" Tanya Alka penasaran. "emm, lo nyuruh gue biar berhijabkan?" jawab Zizi. "gue gak nyuruh lo kok, itu kan emang udah ketentuan dari sananya." "iya gue tau. Tapi tetep aja lo yang nyuruh gue kan." "Zizi.. gue gak nyuruh lo. Tapi itu memang sudah ketentuan dari kodrat lo sebagai seorang wanita muslimah." "oke, lo gak nyuruh gue yang nyuruh gue itu Allah. Tapi yang nyampein itu lo kan." "nah kalo itu baru bener, soalnya gue gak nyuruh lo." Jawab Alka sambil tersenyum. "thanks ya." Ucap Zizi sambil tersenyum. "buat apa?" Tanya Alka bingung. "buat apa aja." Jawab Zizi sambil berlalu meninggalkan Alka yang masih menatapnya bingung. Beberapa saat kemudian ponsel Zizi berdering, Vanya? Dengan segera Zizi langsung menerima telepon dari Vanya. Ternyata Vanya sedang berada di UKS karena mendadak ia sakit perut. Mengetahui hal itu Zizi langsung menyusul Vanya ke UKS.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD