"Zizi buka pintunya sayang, dari kemarin kamu belum makan, hari ini kamu juga gak masuk sekolah. Jangan gini dong sayang, bunda sedih liat kamu kayak gini." Bundanya kembali merayu Zizi agar tidak mengurung diri didalam kamarnya lagi.
"Zizi gak sayang ya sama ayah dan bunda? Ayah janji ayah akan jelasin sama kamu yang sebenarnya tapi buka dulu dong sayang pintunya." Timbal ayahnya.
Kreteek...
Zizi membuka pintunya. Namun ia kembali menyembunyikan wajahnya dibalik bantal gulingnya. Kedua orang tuanya mencoba mendekati Zizi dan menjelaskan semuanya.
"siapa yang bilang Zizi bukan anak ayah dan bunda? Sampai kapanpun Zizi akan tetap menjadi anak kesayangan kami." Rayu bundanya sambil membelai rambut Zizi.
"udah lah bun, katakan pada Zizi yang sebenarnya, jangan tutupi lagi. Zizi ini sudah besar sudah sepantasnya Zizi mengetahui yang sebenarnya." Pinta Zizi yang telah memutar badannya.
Kedua orang tuanya sama-sama terdiam, mereka bingung harus menjelaskannya mulai darimana dan mereka juga tidak ingin membuat putri kesayangan mereka merasa sedih. Tetapi semuanya sudah terlanjur, Zizi sudah terlanjur mendengar dan mengetahui pembicaraan mereka, jika tetap mengatakan hal yang bohong itu sudah tidak mungkin karena Zizi sudah terlalu besar untuk dibohongi.
"ayolah ayah, bunda ceritain yang sebenarnya." Desak Zizi kembali. Namun kedua orang tuanya masih tetap diam mematung dengan mata yang saling memandang seakan memberi isyarat apa yang harus kita katakan?
"baiklah, jika ayah dan bunda tidak mau cerita gak apa-apa, tapi jangan harap Zizi mau bicara dengan ayah dan bunda lagi. Zizi juga gak akan pernah percaya lagi dengan apa yang ayah dan bunda katakan." Ancam Zizi pada kedua orang tuanya.
"kok ancamannya kejam amat sayang?" Tanya bundanya.
"oh iya dong. Zizi kan udah berbesar hati memberi kan ayah dan bunda kesempatan untuk menceritakan semuanya, tapi tetap aja gak mau cerita. Ya udah."
"oke. Ayah akan jelasin semuanya tapi dengan satu syarat." Kini giliran ayahnya yang meminta syarat pada putrinya yang satu itu.
"apa?" jawab Zizi singkat.
"kamu harus janji dulu, setelah kamu mendengar semua penjelasan ayah. Kamu gak akan sedih lagi dan gak ngambek lagi sama ayah dan bunda." Seru ayahnya.
"tergantung." Zizi kembali menjawabnya dengan singkat.
"kok tergantung sih." Tanya ayahnya bingung.
"iya tergantung cerita ayah dulu. Udah pokoknya cerita dulu." Zizi kembali mendesak mereka.
"pokoknya janji dulu." Ayahnya kembali memberi tawaran pada Zizi.
"iya deh iya Zizi janji." Jawab Zizi menyerah.
"nah gitu dong, itu baru namanya anak ayah." Ayahnya tersenyum sambil mengusap kepala Zizi. Kemudian disusul dengan senyum bundanya.
Pelan-pelan ayahnya menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Zizi bahwa tiga belas tahun yang lalu, saat itu Zizi baru berumur dua tahun. Orang tua kandung Zizi bercerai karena sudah tidak ada kata sepakat lagi dalam kehidupan rumah tangga mereka, memang pada dasarnya watak kedua orang tua Zizi memang sama-sama keras kepala, tidak ada yang ingin mengalah jika mereka sedang bertengkar. Setelah mereka berpisah ayah kandung Zizi pergi entah kemana, tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaannya. Kemudian disusul dengan kepergian ibu kandung Zizi pula yang pergi meninggalkan rumah sama seperti ayahnya. Zizi dititipkan pada neneknya yang sudah tua rentah. Mengetahui hal itu Ayah dan bunda yang sekarang telah membesarkan Zizi tidak tega melihat hal itu, nenek yang sudah tua itu harus merawat anak kecil seusia yang terbilang masih cukup kecil dan masa-masa yang sudah butuh pengawasan. Dan secara kebetulan kedua orang tua Zizi yang sekarang belum mempunyai buah hati ditengah kehidupan mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi Zizi. Sejak saat itu mereka merawat dan membesarkan Zizi dengan baik, mereka sangat menyayangi Zizi, apapun akan mereka lakukan demi putri mereka satu-satunya itu. Bagi mereka tidak ada anak angkat, Zizi adalah putri mereka.
"terus nenek Zizi dimana sekarang?" Tanya Zizi.
"nenek Rima meninggal dunia, seminggu setelah kami mengadopsimu nak." Ayahnya menjawab pertanyaan Zizi.
"mereka jahat bunda, mereka tega buang Zizi, Zizi salah apa? Sehingga mereka tidak menginginkan kehadiran Zizi." Gerutu Zizi sambil menangis memeluk bundanya.
"tidak sayang, Zizi tidak salah. Zizi kan masih punya bunda, ada ayah yang akan selalu menyayangi Zizi." hibur bundanya.
"Zizi pasti ngerepotin ayah sama bunda, soalnya dari dulu Zizi terlalu manja kan?" Tanya Zizi pada kedua orang tuanya.
"tidak sayang, Zizi sama sekali gak pernah ngerepotin ayah sama bunda. Kalo manja ya wajar nak, Zizi kan anak ayah dan bunda. Zizi itu anak ayah yang paling hebat, jagoan ayah." Ayahnya juga menghibur Zizi yang sedang menangis.
"jagoan bunda juga dong." Timbal bundanya sambil tertawa.
Zizi tersenyum mendengar ucapan kedua orang tuanya walaupun sebenarnya jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, hati Zizi sangat hancur atas kenyataan ini. Tapi ini adalah takdir yang harus Zizi terima dan Zizi jalani. Tidak lama kemudian terdengar suara bel rumah mereka berbunyi.
"kayaknya ada tamu tuh, biar bunda yang liat yah. Senyum dong, bunda sayang Zizi." Ucap bundanya sambil mencium kening Zizi dan kemudian pergi meninggalkan Zizi untuk membukakan pintu. Ternyata Vanya yang datang, sesuai dengan apa yang telah ia niatkan ketika jam istirahat tadi, bahwa ia akan datang ke rumah Zizi untuk melihat keadaannya.
"permisi tante, Zizi nya ada?" Tanya Vanya dengan senyuman termanisnya.
"oh ada. Kamu temennya Zizi ya?" Bunda Zizi pun bertanya balik.
"iya tan, temen sekelasnya." Jelas Vanya.
"ayo silakan duduk, nanti tante panggilin Zizi sambilan tante bikinin kamu minum ya."
"eh gak usah repot-repot tante."
"gak apa-apa, gak repot kok."
Tidak lama kemudian Zizi pun menemui Vanya yang sudah terduduk diruang tamu.
"Vanya..." seru Zizi sambil memeluk sahabatnya itu.
"Zizi.. lo kemana aja, gak masuk sekolah kok gak ngabarin gue. Lo baik-baik ajakan?" Tanya Vanya cemas sambil memeriksa tubuh Zizi, kali saja ia menemukan hal yang lecet atau cacat pada tubuh Zizi. Vanya memang lebay.
"gak usah lebay deh, gue baik-baik aja kok, sorry gue gak ngabarin lo. Lagi gak enak badan aja dikit." Jelas Zizi.
"syukur deh kalo gitu." Vanya tersenyum lega.
Kemudian ia langsung menceritakan pada Zizi tentang semua kejadian yang ia alami selama di sekolah tanpa Zizi. Mulai dari bohong pada bu Nita, duduk sendirian, tidak berhenti mengotak-atik ponsel hingga tentang Alka yang menanyakan keadaan Zizi, semuanya Vanya ceritakan, tidak ada satu episode pun yang terlewatkan. Kayak sinetron dong.. Alhasil, semua cerita Vanya dan kekonyolan Vanya selama di sekolah berhasil membuat Zizi tertawa terbahak-bahak.
***
Zizi menerawang kelangit-langit kamarnya, ia berpikir haruskah ia menghubungi Alvino? Zizi benar-benar tidak tahu harus menggunakan cara apa lagi untuk mengetahui hal apa yang disukai oleh Alvino. Setelah cukup lama berpikir akhirnya Zizi menggerakkan jemarinya untuk mengetik sebuah pesan diponselnya untuk Alvino.
Hy.. alvino ya?
Delivered to : xxxx773065
Iya, siapa ya?
Sender : xxxx773065
Ini Zizi, anak kels X.A
Delivered to : xxxx773065
Oh Zizi, mudah-mudahan gue gk salah org ya.
Sender : xxxx773065
Maksudnya?
Delivered to : xxxx773065
Soalnya gue agak lupa2 gitu. Takutnya salah org.
Sender : xxxx773065
"Wah s****n nih orang, emang disekolah yang namanya Zizi ada berapa sih? Perasaan Cuma gue deh. Sabar Zi, sabar." Gerutu Zizi sambil menarik napasnya pelan-pelan.
Oke, to the point aja ya. Gue dapet nama lo dlm 10 kebaikan itu, sebutin aja lo mau apa? Tp jgn yg aneh2 ya.
Delivered to : xxxx773065
Hha.. wah Tuhan itu memang baik ya, ngasih nama gue sm lo. Terserah lo mau ngelakuin apa, gue bakal accept aja
Sender : xxxx773065
Kok terserah sih?
Delivered to : xxxx773065
Udah, tulis aja semau lo. Ntar kalo ditanya gue bakal iya in semua.
Sender : xxxx773065
Serius lo?
Delivered to : xxxx773065
2 rius neng, udah gk usah dipikirin. Bahas yg lain aja ya.
Sender : xxxx773065
Sejak malam itu, Zizi dan Alvino sering saling mengirimi pesan singkat. Zizi benar-benar tidak menyangka hubungannya dengan Alvino akan sedekat itu. Namun Zizi tetap menanggapi kedekatannya itu hanya sebatas teman karena Zizi masih penasaran dengan laki-laki yang memiliki nama Alka itu, sudah hampir satu minggu Alka kembali bersikap dingin dan cuek. Jadi makin penasaran sama ni cowok, kayaknya betah banget dengan kediaman. Lagi-lagi ada saja yang membuyarkan lamunan Zizi. Vanya dan Hesti menghampiri Zizi.
"hayo.. lagi ngelamunin apa?" Tanya Vanya.
"gue tebak. Pasti lagi mikirin Vino ya?" goda Hesti
"apaan sih, gue ni lagi mikirin kira-kira yang megang nama gue itu siapa?" Zizi bertanya pada kedua temannya itu, berharap akan menemukan siapa yang mendapatkan namanya pada sepuluh kebaikan itu, walaupun hanya untuk ciri-cirinya saja.
"oh iya, nih ada titipan buat lo." Seru Hesti sambil memberikan sebuah kotak dihadapan Zizi.
"apaan nih? Dari siapa?" Tanya Zizi bingung.
"nggak tau tuh. Tadi Leo yang kasih, gue tanya dari siapa, katanya dari seseorang." Jelas Hesti.
"cie..cie.. yang dapet something dari someone." Ledek Vanya sambil sesekali menyenggol tubuh Zizi.
"resek lo, palingan ini sepuluh kebaikan itu. Tapi dari siapa ya?"
Kepala Zizi berputar 360 derajat kesemua arah mencari sosok yang sejak dari apel pagi belum juga dilihatnya. Alka tidak masuk sekolah, Zizi sudah mencoba bertanya kepada teman-temannya namun tidak satu pun dari mereka yang mengetahui Alka dimana, dan atas alasan apa sehingga ia tidak masuk sekolah hari itu. Zizi mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengirim sebuah pesan pada Alka untuk menanyakan gerangan apa yang membuatnya tidak masuk sekolah.
Kok lo gk masuk Al?
Delivered to : xxxx53677008
Gk papa Zi.
Sender : xxxx53677008
Lo gk sakit kan?
Delivered to : xxxx53677008
Iya Zi, gue sakit. Tlg izinin gue ya
Sender : xxxx53677008
Lo sakit apa Al? Udah minum obat? Terus lo masuk lg kapan?
Delivered to : xxxx53677008
Namun tidak ada balasan lagi akan pesan itu. Sedikit kecewa dihati Zizi, ia sudah memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Alka, tapi pesan balasan dari Alka begitu cuek. No problem. Pikir Zizi.
Setelah bel istirahat berbunyi, Zizi dan kedua temannya, Vanya dan Hesti pergi ke kantin. Hal yang tidak boleh mereka lewatkan selama berada di sekolah adalah menyantap makanan favorit mereka. Namun Hesti sedikit berbeda dengan Vanya dan Zizi yang menjadikan donat sebagai makanan favorit mereka, Hesti lebih menyukai bakso sebagai makanan favoritnya. Ketika sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba ponsel Zizi berbunyi, nada isyarat pesan masuk.
Ada tugas gk?
Sender : xxxx53677008
Sejauh ini belum ada, ntar kalo ada gue kabarin lo.
Delivered to : xxxx53677008
Yg gk masuk cuma gue ya?
Sender : xxxx53677008
Gk kok, ada yg lain jg. Jerry dan Heri jg gk masuk.
Delivered to : xxxx53677008
Kenapa?
Sender : xxxx53677008
Kalo Jerry karna kakeknya meninggal, trs kalo Heri katanya ada sepupunya yg nikah.
Delivered to : xxxx53677008
Sama seperti sebelumnya, tidak ada pesan balasan lagi dari Alka. Zizi hanya berpikir positif, mungkin Alka sedang istirahat.
"ayo sms-an sama siapa?" Tanya Vanya yang menggoda Zizi.
"Alka, dia tadi nanyain tugas." Jelas Zizi.
"nanyain tugas apa tugas. Pantesan tadi dia tau kenapa Alka gak masuk waktu pak Dio nanya. Cie..cie ada yang lagi PDKT ni Van." Seru Hesti yang juga ikut-ikutan menggoda Zizi.
"idih apaan sih, udah gue mau makan. Kasian donat-donat gue ditelantarin." Seru Zizi.
Mereka tertawa bersama, sambil bercerita tentang kejadian-kejadian lucu yang pernah mereka alami selama bersekolah di SMA Perwira itu.
***
Tidak terasa tiga hari berlalu dengan cepat dan selama itu juga Alka belum juga masuk sekolah. Namun, walaupun Alka tidak masuk sekolah, Zizi tetap dapat berkomunikasi dengannya melalui ponselnya. Setiap hari Alka tidak pernah absen untuk mengirimi Zizi pesan singkat walau terkadang hanya untuk menanyakan tugas.
Ternyata Alka orangnya asyik juga, walaupun dingin dan cuek. Kemarin penasaran sekarang jadi deket beneran. Hihihi.. senang berteman dengan lo Al.
Zizi tersenyum-senyum sendiri sambil melihat pesan masuk diponselnya.
Mereka msh blm masuk?
Sender : xxxx53677008
Udah masuk kok. Lo kapan masuk lg ni?
Delivered to : xxxx53677008
Mungkin besok
Sender : xxxx53677008
Wah asyik, berarti lo udah sehat kn?
Delivered to : xxxx53677008
Seperti biasa no reply.
***
"gue kira lo orang yang gak takut sama apapun." Seru Alka sambil duduk dibangku sebelah Zizi.
"lo ngatain gue?" Tanya Zizi
"iya." Jawab Alka singkat.
"gue gak penakut kok."
"oh. Oke, lo bukan orang yang penakut. Tapi boleh tutup matanya sebentar?" pinta Alka pada Zizi.
tutup mata? Mau ngapain? jantung Zizi berdegup kencang mendengar permintaan Alka yang menurut sedikit mencurigakan.
"gue mau kasih sesuatu buat lo." Jawab Alka sambil tersenyum.
"okee.." jawab Zizi ragu. Ya Allah, Alka mau kasih gue apaan ya? Kok perasaan gue gak karuan gini ya. Semoga aja... gumamannya terputus ketika Alka menyuruhnya untuk membuka matanya kembali.
"ayo Zi, buka mata lo udah boleh kok." Seru Alka.
Aaarrrrgggghhhh.....
Spontan Zizi berteriak histeris seperti baru saja melihat monster dan langsung melompat dari kursi yang ia duduki hingga kakinya tersandung meja sampai akhirnya ia terjatuh kelantai. Zizi tidak memperdulikan luka dikakinya, yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia dapat menyelamatkan diri dari ruangan itu. Ia benar-benar terkejut dan spontan jantungnya hampir terlepas ketika ia membuka matanya dan mendapati sesuatu yang disodorkan oleh Alka kedepan wajahnya. Cacing. Zizi sangat menakuti hewan itu, entah apa yang membuat ia sangat ketakutan dengan hewan itu, baginya hewan itu lebih dari monster menyeramkan yang ada di film-film. Melihat kejadian itu Alka merasa sangat bersalah pada Zizi, ia benar-benar tidak menyangka bahwa respon Zizi akan sehisteris itu. Vanya langsung memeluk Zizi mencoba untuk menenangkannya dan meyakinkan Zizi bahwa hewan itu sudah tidak ada lagi. Zizi menangis dipelukan Vanya.
"tenang Zi, tenang. Udah gak ada lagi kok, gue bakalan lindungin lo." Vanya menghibur Zizi.
"gue takut Van, gue takut banget. Jauhin hewan itu dari gue Van." Pinta Zizi ketakutan.
"udah gak ada lagi kok, yuk kita duduk lagi." Ajak Vanya sambil merangkul tangan Zizi.
"ee Zi, maafin gue ya. Gue gak bermaksud..."
belum sempat melanjutkan kata-katanya, Vanya sudah melabrak laki-laki itu.
"puas lo? Puas udah bikin temen gue kayak gini. Gak nyangka ya. Oke selama ini gue sempat kagum sama kepribadian lo tapi setelah kejadian ini, gue bener-bener nyesel karena udah pernah kagum sama lo." Dengan emosinya Vanya membentak Alka dengan pandangan yang sinis dan penuh amarah.
"gue gak bermaksud, gue Cuma becanda kok. Gue kira.."
"lo kira apa? Zizi bakalan ketawa, terus loncat kegirangan gitu? Lo bilang becanda? Becanda lo keterlaluan.”
"oke, gue akuin gue salah. Gue minta maaf."
"heeh, lo pikir cukup dengan kata maaf. Lo liat dong, temen gue shock kayak gini." Vanya benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Semua teman satu kelas mereka hanya menjadi penonton yang baik melihat kejadian itu. Zizi tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya duduk terdiam, sama sekali tidak menghiraukan apapun yang dikatakan oleh Alka. Zizi hanya memegang tangan Vanya dan menatapnya lekat mengisyaratkan bahwa Vanya harus bisa menahan emosinya. Untuk kali ini tidak ada pembelaan dari Zizi untuk Alka, ia memilih untuk diam karena ia tidak ingin lebih mempermalukan dirinya lagi dihadapan teman-temannya. Karena baginya takut pada hewan sekecil itu sudah merupakan hal yang cukup memalukan.
Indra yang tidak ingin melihat Alka lebih dipojokkan lagi posisinya oleh Vanya, memutuskan untuk membawa Alka pergi dari ruang kelas itu. Awalnya Alka menolak karena ia masih sangat mengkhawatirkan keadaan Zizi, namun Indra memaksanya.
"lo apaan sih narik-narik gue kayak gini." Bentak Alka pada Indra yang terus menariknya sejak dari dalam ruang kelas.
"lo mau disemprot Vanya terus. Dia gak akan berhenti marah-marah sama lo kalo lo masih ada disana. Dengerin gue, lo emang salah. Jadi yang harus lo pikirin itu gimana caranya biar Zizi bisa maafin lo. Karena kalo Zizi udah maafin lo, Vanya juga gak akan marah-marah sama lo kayak tadi." Jelas Indra.
"gue tau gue salah." Sesal Alka atas perbuatannya.
"nah, kalo lo tau lo salah ya udah minta maaf sama Zizi. Jangan diem aja dong."
"iya gue tau, tapi gue bingung gimana caranya minta maaf sama dia."
"ya ampun Al, lo mau minta maaf aja gak tau caranya. Gimana Zizi mau maafin lo?"
"kok lo yang sewot. oke, ini urusan gue. Gue bakal lakuin sesuatu buat dia." Seru Alka sambil melangkah meninggalkan Indra yang masih diam mematung mencerna maksud dari kalimat yang baru saja dikeluarkan Alka.
"eh lo mau ngelakuin apa?" Tanya Indra bingung.
"apa aja." Teriak Alka yang sudah hampir hilang dari pandangan mata Indra.