Semua Demi Cinta (1)

1662 Words
Ujian Akhir Semester satu minggu lagi akan segera dimulai. Sebelum itu, mereka terlebih dahulu harus mengikuti ujian praktik. Cukup banyak ujian praktik yang harus mereka jalani, dari dua belas mata pelajaran, enam mata pelajaran yang ada ujian praktiknya. Meliputi mata pelajaran Fisika, Kimia, Pendidikan Agama Islam, Kesenian dan Teknik Informasi dan Komunikasi. Dengan hati yang lega dan masih merasa cukup percaya diri akan hasil ujian praktiknya membuat gadis itu semakin bersemangat menjalani ujiannya. Hari terakhir ujian praktiknya yaitu mata pelajaran Teknik Informasi dan Komunikasi, masing-masing mereka akan dipanggil secara acak dan diperintahkan oleh bu Atina sebagai guru yang mengajar mata pelajaran tersebut untuk mengambil gulungan kertas yang telah ia sediakan. Didalam gulungan kertas itu berisi tulisan materi apa yang akan mereka praktikkan dikomputer langsung. Hanya ada dua nama yang masih belum mendapat giliran untuk praktik. Giliran Zizi yang maju kedepan, ia berharap agar ia mendapatkan materi yang mudah untuk dikerjakan. Namun sayang, Zizi mendapatkan materi tentang Table Zizi benar-benar lupa dalam mengerjakan table itu bagaimana. Sehingga waktu sepuluh menit yang telah diberikan oleh bu Atina tidak menghasilkan apa-apa untuk Zizi, dengan kecewa Zizi mengakatakan kata menyerah pada bu Atina. "maaf bu, Zizi benar-benar lupa cara buat table gimana." Seru Zizi sambil menundukkan kepalanya. "kamu tidak bisa mengerjakan hal semudah ini Zizi?" Tanya ibu Atina tidak percaya. Zizi menggelengkan kepalanya seraya berkata "Zizi tidak belajar semalam bu." "baiklah, kalau begitu dengan sangat terpaksa ibu akan memberikan kamu nilai yang standard, tidak bisa lebih. Jadi nilai kamu enam puluh ya. Padahal keseharian kamu baik sekali. Jelas ibu Atina. "makasih bu." Jawab Zizi singkat. Selanjutnya giliran Alka yang dipanggil oleh ibu Atina untuk maju kedepan. Dengan gayanya yang santai namun kelihatannya pasti Alka melangkah menuju ke meja ibu Atina dan kemudian langsung mengambil gulungan kertas yang masih banyak pilihannya. Alka mengambil satu kertas dan ia pun langsung membuka gulungan kertas itu. Mail Merge. Iya, materi itu yang Alka dapatkan. Melihat materi tersebut Alka langsung berkata pada ibu Atina. "maaf bu, saya tidak bisa mengerjakannnya." Seru Alka yang masih kelihatannya tenang, tidak seperti saat Zizi yang mendapat giliran dan tidak bisa mengerjakannya. "kamu yakin kamu tidak bisa? Kamu tidak ingin mencobanya terlebih dahulu?" Tanya ibu Atina. "tidak bu, saya tidak bisa mengerjakannya." Jawab Alka tetap pada pendiriannya. "baiklah. Nilai kamu juga akan standard sama seperti Zizi." seru ibu Atina kecewa, karena kedua siswa yang selama ini ia anggap prestasinya dalam belajar cukup menonjol tetapi ketika praktik tidak ada satupun dari mereka berdua yang dapat menyelesaikan materi yang mereka dapatkan masing-masing. "yah Al, sayang banget kalo gak lo coba dulu. Mail merge itu enak lo, meskipun agak sedikit ribet dan memerlukan waktu yang lama." Seru Zizi sehingga membuat semua teman sekelasnya menoleh kearahnya. "e..eh maaf bu keceplosan." Sesal Zizi atas kalimat yang baru saja ia ucapkan. "ya udah bu kalo Zizi bisa, biar Zizi aja yang ngerjain." Saran Alka pada ibu Atina. Ibu Atina masih diam memperhatikan mereka sambil mempertimbangkan tawaran yang diajukan oleh Alka. "Zizi mau bu. Tapi kalo ibu izinin." Seru Zizi dengan semangat. "baiklah ibu kasih kamu kesempatan satu kali lagi. Jika Zizi berhasil itu artinya nilai Zizi akan ibu ganti, dan nilai kamu Alka yang menjadi standard." Jelas ibu Atina. "iya bu tidak apa. Jika memang Zizi bisa mengapa tidak." Jawab Alka sambil tersenyum. "baiklah Zizi kamu boleh mengerjakannya, tapi ibu beri kamu waktu lima menit untuk mengerjakannya. Jika berhasil maka nilai kamu akan berubah namun jika tidak tetap pada nilai standard." "baik bu." Jawab Zizi dan langsung segera mengerjakan tugas praktiknya dengan cepat. Setelah hampir mendekati menit kelima Zizi berhasil menyelesaikan tugas praktiknya dengan sempurna. Ia berhasil mengerjakannya dalam waktu 4 menit 53 detik. "selesai bu." Seru Zizi sambil mengangkat tangannya dan tentunya tidak lupa dengan senyuman termanisnya. Melihat Zizi berhasil mengerjakannya dengan sempurna membuat ibu Atina tersenyum lebar. "Zizi. Zizi. kamu ini ada-ada saja, dapet tugas praktik yang enak tentang table tapi kamunya gak bisa ngerjain. Sekarang tugas orang lain yang lumayan terbilang sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan tentunya harus cekatan kamu selesaikan kurang dari waktu yang telah ditentukan. Alka.. itu artinya nilai Zizi akan naik menjadi seratus dan nilai kamu menjadi tujuh puluh." Jelas ibu Atina. "iya bu." Jawab Alka lagi-lagi dengan senyumnya. Zizi tersenyum kepada Alka "terima kasih ya Al." Alka pun membalas senyum Zizi. "sama-sama Zi." Ujian praktikpun berakhir, tapi mereka belum bisa untuk berleha-leha karena mereka masih harus menghadapi Ujian Akhir Semester yang akan dilaksanakan minggu selanjutnya setelah ujian praktik berakhir. Setelah mengikuti ujian praktik bersama ibu Atina, mereka pun keluar ruangan dan berjalan menusuri koridor sekolah. Ditengah perjalanan mereka, Zizi kembali membahas hal yang telah terjadi saat praktik berlangsung. "Al, makasih banyak ya.. berkat kamu aku jadi dapet nilai seratus." Seru Zizi. "iya Zi sama-sama, lagian emang lo bisa ngerjainnya. Bukan karena gue." Jawab Alka "iya tapi kalo lo gak mau ngasih tugas itu sama gue, gue gak bakalan bisa." Seru Zizi kembali. Namun seruan Zizi kali ini hanya mendapatkan respon senyuman dari bibir Alka bukan sebuah kalimat lagi. "itulah cinta Zi." Seru Heri yang berjalan disamping Alka. "wah kayaknya lo udah ketularan gossip gila itu deh. Kita itu cuma temenan kok, iya kan Al?" Tanya Zizi pada Alka untuk mematahkan argument Heri dan meyakinkannya bahwa mereka benar-benar tidak memiliki hubungan special seperti yang mereka duga selama ini. Namun Alka hanya tersenyum menanggapi hal tersebut. "tuh.. Alka nya aja gak jawab. Zi, laki-laki itu jika ia mencintai seseorang apapun akan ia lakukan demi melihat orang yang disayanginya bahagia, dan itulah yang telah dilakukan Alka hari ini." Jelas Heri yang mulai sok puitis. "eh, itu menurut lo ya." Akhirnya Alka mengeluarkan suara juga.               *** Hari yang menjadi penentuan naik kelas atau tidaknya mereka, sekaligus menjadi hari pengumuman hasil ujian mereka, terasa gugup bagi Zizi dan semua siswa yang lain. Seperti pada semester sebelumnya Zizi lah yang menjadi juara kelas. Disusul dengan Tata sebagai peringkat kedua dan kemudian Alka yang menduduki posisi peringkat ketiganya. Begitupun dengan nilai yang didapat oleh siswa yang lain juga sangat memuaskan walaupun mereka tidak mendapatkan juara kelas. Jerih payah yang mereka lakukan selama ini rasanya terbayar dengan hasil yang mereka dapatkan. Tidak ada yang tinggal kelas, semuanya naik kelas. Dengan hati yang gembira Zizi berlari memasuki rumahnya dan segera memberitahukan kabar gembira itu pada kedua orang tuanya. "ayah..bunda.. aku pulang." Seru Zizi. "eh anak bunda udah pulang, gimana hasilnya? Naik kelas kan?" Tanya bundanya. "Alhamdulillah naik dong bun, ayo tebak Zizi dapet peringkat berapa?" Zizi menyuruh kedua orang tuanya menerka. "emm, kalo dilihat dari lagatnya sih, kayaknya anak ayah jadi juara kelas lagi ya?" tebak ayahnya. "ih, kok tebakan ayah bener sih?" Tanya Zizi. "iya dong, ayah itu paham banget sama kamu, kalo lagi seneng atau sedih itu pasti kelihatan dari sorot matanya. Kamu itu paling gak bisa bohong." Jelas ayahnya. "berarti tebakan ayah kamu bener ya? Wah selamat ya sayang. Zizi mau minta hadiah apa dari ayah sama bunda?" Tanya bundanya. "emm, minta apa ya?" Zizi menerawang kelangit-langit ruang tamu seolah sedang berpikir. "Zizi gak mau apa-apa, apapun yang telah ayah dan bunda berikan pada Zizi selama ini, itu sudah lebih dari cukup kok jadi Zizi gak butuh hadiah apa-apa lagi." Jelas Zizi. Seperti biasa Zizi tidak mempunyai permintaan yang khusus atas keberhasilannya. Semua itu ia lakukan agar dapat membuat kedua orang tua yang telah merawat dan membesarkannya dengan baik itu bangga padanya. "tuh kan bun, udah ayah bilang pasti gak bakal ada permintaan yang khusus. Bunda kayak baru kenal anak kita sehari saja." Seru ayahnya sambil sedikit meledek istrinya. "iya, nanti kalo Zizi butuh apa-apa pasti Zizi bilang kok, jadi tenang aja." Jawab Zizi. "emm, bagaimana kalo liburan ini kita berkunjung ke rumah nenek di Tawangmangu?" Tanya ayahnya. Dengan semangatnya Zizi langsung menerima tawaran ayahnya itu. "Zizi setuju. Kan udak lama banget tuh kita gak kesana, Zizi kangen banget main sama nenek dan kakek." "oke, gimana kalo kita kesananya besok." Ajak bundanya. "setuju banget bun, tapi masih tergantung yang nyetir bun." Seru Zizi. "oke juga. Gak ada masalah, mau sekarang juga boleh." Jawab ayahnya bercanda. Mendengar jawaban itu mereka tertawa bersama.               *** Tok..tok..tok.. Tiba-tiba terdengar suara pintu rumahnya diketuk seseorang, wanita paruh baya itu dengan segera langsung menuju kepintu rumahnya sambil berteriak. "siapa?" Tanya wanita tua itu. "saya seorang sales bu, kami dari produk kecantikan." Seru suara yang datangnya dari depan pintu rumah. "oh maaf, sepertinya anda salah rumah. Saya tidak membutuhkan produk-produk itu lagi, saya ini sudah tua." Jelas wanita tua itu. "tolong bu jangan tolak saya. Saya lagi membutuhkan uang yang banyak untuk anak saya." Seru orang yang kedengarannya masih berdiri didepan pintu yang belum sempat dibukakan oleh wanita paruh baya itu. "baiklah tunggu sebentar." Jawab wanita tua itu sambil membukakan pintu rumahnya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sosok yang sedang berdiri didepan pintu rumahnya yang sejak tadi mengajaknya mengobrol dari luar dan menawarkan produk kecantikan ternyata adalah Zizi, cucu kesayangannya yang sudah lama tidak pernah bertemu dengannya. "nenek..." seru Zizi sambil memeluk wanita paruh baya itu. "Zizi, cucuku. Kamu ini ya nakalnya tidak berubah. Masak nenek sendiri juga ikut dikerjain." Seru neneknya yang menyandang nama Rima Kusuma tersebut. "maaf ya nek, Zizi itu cuma pengen bikin surprise aja buat nenek, hehe.." jawab Zizi yang mulai tersengir tidak jelas. "iya. Ya udah ayo masuk, masuk. Nenek kangen banget sama kalian, sudah lama banget kalian tidak main kesini." Ucap nenek. "iya bu, kita juga kangen banget sama ayah dan ibu, maaf Julian sama Wita baru sempat kesini, soalnya banyak kerjaan Julian yang tidak bisa ditinggalkan." Jelas ayah Zizi. "yasudah tidak apa yang penting sekarang kalian sudah ada disini." Jawab nenek tua itu. "oh iya bu, ayah mana?" Tanya bunda Zizi. "ada, biasa lagi ngurusin kebun." Jawab nenek Rima. "ya udah kalo gitu Julian kesana ya bu liat ayah." Seru ayah Zizi. Zizi sangat senang sekali liburan kali ini ia pergunakan untuk mengunjungi nenek dan kakeknya. Sejak kecil Zizi memang dibesarkan di Kota Semarang, Zizi memang sangat akrab dengan mereka. Namun, karena ayahnya harus pindah tugas ke Bandung membuat Zizi sudah jarang bertemu dan bermain bersama mereka lagi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD