Sisi Asli Yang Kamu Sembunyikan

2273 Words
Bandung, Oktober 2016. Ini, adalah hari kedua aku di sekolah baruku. Aku bergegas untuk pergi ke rumah Bastian untuk memintanya memboncengku dengan sepeda motornya ke sekolah. Sebenarnya ada mang Ujang yang bertugas mengantarkanku kemanapun aku mau pergi. Namun, aku sudah meminta kepada mang Ujang untuk tidak mengantarkanku ke sekolah. Dan pagi ini, aku sudah berada di rumah Bastian saat dia masih memanaskan motornya. “Pagi Bas!!. Ini hari yang indah banget kan?. Gimana kalau kita berangkat sekolah bareng. Soalnya dua tahun di Korea, mendadak aku jadi lupa jalan di Bandung.” Sapaku dengan semangat kepada Bastian. “Kalau lupa jalan di bandung, naik ojek aja” Ketus Bastian kepadaku. Dia bergegas menaiki motornya, bersiap untuk berangkat. “Tapi kan kamu tau sendiri, aku selalu di godain om-om supir ojek. Aku bareng kamu aja ya. Lagian kalau nunggu ojek, aku bisa telat sampai sekolah loh. Kalau naik sepeda, nanti aku malah nyasar dan ga sampe sampe ke sekolah” Tuturku kepada Bastian. Rengekanku benar-benar banyak dan membuat Bastian kesal. Ia membuka kaca helm nya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tatapan dingin itu masih saja menempel di wajahnya. Dengan berat hati, dia pasti akan mengizinkanku berangkat sekolah bersamanya. “Kalau gitu, naik sepeda aja, biar nyasar dan ga usah datang ke sekolah. Kalau perlu menghilang aja sekalian dari bumi ini. Dan jangan pernah balik lagi” Ketus Bastian kepadaku. Ahhhhh,!. Ku kira dia akan mengajakku. Ternyata dia malah memarahiku dan meninggalkanku. Dasar jahat. Bastian pergi begitu saja meninggalkanku. Dia tak mendengarkan aku yang teriak teriak memanggilnya. Padahal, mamang tukang sayur keliling saja berhenti mendadak karena teriakanku. Ah, Bastian jahat. Sebenarnya, aku tak berbohong. Dua tahun di Korea benar-benar membuatku lupa dengan jalanan di Bandung. Kalau minta di antar oleh mang Ujang, aku tak enak, karena tadi aku sudah mengatakan bahwa aku tak mau di antar olehnya. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk berangkat dengan sepeda. “Urusan terlambat, urusan belakanganlah. Yang penting, berangkat dulu.” Gumamku kepada diriku sendiri. Sebenarnya, menyuki Bastian dari kecil membuatku benar-benar menjadi bodoh. Padahal kan, aku bisa saja memakai GPS untuk melihat jalan. Pasti juga Bastian meninggalkanku karena tau Mang Ujang akan mengantarkanku, atau kalau aku mau naik sepeda, aku bisa melihat jalan dengan GPS. Tapi aku tidak menyadari itu hingga akhirnya aku malah tersesat ke gang-gang kecil. Aku tak tau aku ada dimana saat itu. Jalanan ke sekolah saja aku lupa, apalagi jalan keluar dari gang-gang kecil ini. “Yah, hp nya Mang Ujang ga aktif lagi. Bi Inah juga malah pake janjian ga aktif sama Mang Ujang. Aduh gimana ya” Keluhku kepada diriku sendiri. “Apa aku telfon Bastian aja ya?” “Aduhhh aku kan belum minta nomornya Bastian. Aku b**o banget sih ya ampun..” Aku benar-benar kesal bercapur sedih saat itu. “Aku live i********: aja deh” gumamku dalah hati. Bodohnya aku yang malah live i********: di saat aku harusnya mencari jalan ke sekolah. Apalagi aku sedang berada di gang kecil yang tidak ada rumahnya. Aku hanya bisa curhat dengan penonton instagramku, mengeluhkan aku yang tidak bisa ke sekolah karena tersesat di gang-gang kecil yang tak ada satu orangpun lewat dari situ. Dan tentu saja, aku tak menemukan jalan keluar, karena followers instagramku hanya mengirimkan kalimat bahwa mereka turut bersedih, dan bahkan mereka malah menanyakan hal-hal lain yang tak berhubungan dengan tersesatnya aku saat itu. Hingga akhirnya batrai hp ku habis. Aku tak tau kenapa aku melakukan hal-hal bodoh ini. Aku hanya bisa menunggu dan berharap, semoga ada orang yang akan menolongku. *** Sementara itu di kelas 12 IPA1, Bastian benar-benar bingung karena aku tak kunjung datang ke kelas saat itu. Padahal pelajaran pertama sudah di mulai. Ia ingin menelfonku, namun sama denganku, dia tak memiliki nomor hp ku. Dan bodohnya dia tak menyimpan nomor hp mamaku. Dan daftar panggilannya, sudah di hapus semua karena dia adalah orang yang benci di telfon. Hingga jam istirahat pertama tiba, aku tak kunjung datang juga. Bastian mengatakan kepada guru bahwa aku sakit dan memintanya untuk mengizinkannya. Padahal, dia tak tau apa yang sebenarnya terjadi denganku. “Aku ga tau sejak kapan kamu bisa bohong Bas. Padahal kan kamu orangnya selalu ngomong jujur, ga peduli ke siapapun dan dalam keadaan apapun” Celah Siti kepada Bastian. Kalimat Siti itu membuat Bastian benar-benar bingung apa yang sebenarnya di maksud oleh Siti. “Nih, liat sendiri di hp ku. Ini snap i********: Yo Ra. Dia bagiin story live i********: dia tadi. Cuman sekarang ga aktif lagi.” “ Ternyata dia ga sekolah karena dia nyasar. Kayanya sih di gang-gang arah kuburan Kebon Aren deh. Soalnya aku pernah ke situ” Jelas Siti kepada Bastian. Bastian sangat terkejut mengetahuin kalau aku sedang tersesat di tempat sepi. Sebenarnya, Siti sangat khawatir kala itu. Namun, dia ingin melihat se khawatir apa Bastian saat menegetahui aku tersesat di tempat sepi. “Kenapa kamu baru bilang sekarang sih Sit? Kalau Yo Ra kenapa-napa gimana dong? Kamu kan tau sendiri Yo Ra itu udah dua tahun di Korea. Dia udah lupa sama jalanan disini. Apalagi Yo Ra itu anaknya ceroboh. Kalau dia masuk jurang atau di culik gimana? Seru Bastian sambil memasang muka marah kepada Siti. Bastian terlihat sangat cemas kala itu. Hal itu benar-benar diluar perkiraan Siti. Karena yang dia tau, Bastian itu adalah pria yang dingin, tidak peduli siapapun, apalagi perempuan. Ditambah lagi dia adalah orang yang terlihat sangat membenciku. “Mau aku telfon Yo Ra?. Atau kamu udah telfon dia?” Tanya Siti kepada Bastian yang sedang cemas itu. Jawaban Siti itu tambah membuat Bastian terkejut. “Kamu punya nomornya Yo Ra? Terus kenapa kamu ga telfon dia? Aneh banget tau gak!” Seru Bastian kepada Siti. Bastian marah kepada Siti dan membuat beberapa anak dikelas menjadi terkejut. Bastian merampas hp Siti, dan menelfoku dengan hp Siti. Tentu saja aku tidak mengangkatnya, hp ku kan mati karena habis batrai. Bastian pun menyaliin nomorku dari hp Siti, dan berlari keluar kelas. Saat di pintu, dia behenti dan menatap Siti. “Kalau guru tanya, bilang aku pulang ke rumah karena ada urusan mendadak. Dan jangan bilang ke siapapun soal Yo Ra.” Tegas Bastian kepada Siti yang masih saja bingung dengan tingkah Bastian yang tidak seperti biasanya itu. Bastian bergegas pergi mencariku. Yang dia ingat, Siti mngatakan bahwa daerah itu adalah gang menuju kuburan di Kebon Aren. Dia bergegas mengambil motornya, dan menelfonku sepanjang jalan. Tentu saja tak ada balasan dariku. Sementara itu, di tempatku tersesat, aku sedang kedinginan karena lagi-lagi kecerobohanku membuat aku tercebur ke salah satu sungai di situ. Untuk saja sungainya dangkal. Kalau tidak, mugkin doa Bastian agar aku tidak pernah kembali lagi akan terkabul dan membuatnya bahagia karena kepergianku. “ Ra,,! Yo Ra! Kamu dimana Ra?!” “Ra jawab aku dong Ra. Kamu dimana Ra?! Kelakuan kamu ini ga lucu tau ga Ra!” Teriak Bastian sambil terus mencaiku. Bastian terus saja memanggilku. Dia sudah berada di sekitar gang menuju kuburan itu. Bastian terus saja berjalan dan mencariku. Terlihat ia sangat khawatir saat itu. “Ra, harusnya kamu ga selalu ceroboh kaya gini. Apa aku bilang , kalau kamu dekat sama aku, kamu bakalan terus terluka. Apa sekarang Tuhan bener bener mau ambil kamu dari aku? “ Bisik Bastian. Suara Bastian terdengar mulai melemah. Namun, tiba tiba Bastian melihatku berjalan tertitih sambil menuntun sepedaku. Aku terkejut melihat Bastian yang bisa berada di situ. Aku benar-benar terkejut namun juga bahagia kala itu. Ku lihat wajah Bastian yang terlihat khawatir dan terkejut karena akhirnya dia menemukanku. Dia berlari ke arahku, dan memelukku. Tentu saja aku sangat terkejut kala itu. Bukan hanya karna Bastian menemukanku, tapi juga karena tiba-tiba dia memelukku. “Ya ampun Ra, kamu darimana aja. Dari tadi aku cariin kamu. Kenapa kamu bisa ada disini?” Jerit Bastian dengan wajah khawatir kepadaku. Bastian memelukku dengan sangat erat. Saat itu tubuhku perlahan berubah menjadi patung. Aku terkejut. Bastian melepaskan pelukannya dariku, dan memegang tangan dan pundakku, memutar badanku, seolah mengecek apakah aku baik-baik saja. “Kamu, kamu ga papa kan? Kamu kenapa bisa basah kuyub kaya gini sih? Kamu jatuh? Kamu jatuh dimana? Ada yang luka gak?” Tanyanya kepadaku. Aku melihat wajahnya yang benar-benar cemas kala itu. Dan kali ini, dia menatapku dengan hangat. Sama seperti tatapannya pada saat dulu dia masih hangat kepadaku. Kali ini tak ada tatapan dingin dan kalimat ketus itu. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya. “ Tadi aku berangkat sekolah naik sepeda. Kan kamu ninggalin aku tadi, kamu suruh aku naik sepeda aja” Jelasku kepadanya dengan santai, seolah menyalahkannya karena meninggalkanku tadi pagi. “Ya ampun Ra, kan ada Mang Ujang supir kamu. Lagian kalau naik sepeda kan ada GPS buat liat jalan. Kenapa itu aja kamu ga tau sih Ra?” Seru Bastian kepadaku. “Aku tadi itu asik nyanyi, terus ga sadar kalau tiba-tiba masuk gang. Pas mau putar balik, gang nya ada banyak . Aku lupa aku tadi lewat mana. Terus aku kepeleset pas mau ambil bunga, jatuh ke sungai. Sungai nya dangkal kok, aku ga papa” Candaku kepada Bastian yang masih terlihat khawatir itu. “ Ya ampun Ra. Kamu tu kenapa ceroboh banget sih. b**o banget jadi orang. Kamu tau ga aku nyari kamu kemana-mana!” Tegas Bastian. “Iya maaf Bas. Makanya, besok aku berangkat sekolahnya barengan kamu aja ya. Kan kalau aku berangkat sendiri, nanti aku nyasar lagi, terus kamu repot cari aku lagi, sampe kamu ga ikutan ulangan biologi kan.” Terangku kepadanya. “Astaga, aku lupa! Harusnya sekarang kita ulangan biologi Ra!.” Jerit Bastian saat mendengar kalimat ulangan biologi dari bibirku “ Gara gara kamu sih, pake acara kesesat kaya anak kecil gini. Bikin repot orang tau ga!.Udah ayo buruan. Sepeda kamu tinggal aja disini. Toh kamu bisa beli lagi. Kita naik motor aku aja.!” Omel Bastian. Spontan aku menarik tangan Bastian, membuat langkah Bastian berhenti mendadak, dan dia pun berbalik ke arahku, seakan bertanya mengapa aku manarik tangannya. “Kalau kamu mau ulangan Biologi, kamu pergi deluan aja. Kamu sendirian aja ya. Aku mau pulang aja, soalnya aku ga mungkin ke sekolah pake baju basah kaya gini.” Ujarku kepada Bastian. Bastian menatapku dengan dingin lagi. Pasti dia akan marah besar kepadaku, karena membuang waktu untuk merengek, sementara ada ulangan biologi yang sedang menanti murid pintar itu. “Kamu kira aku b**o kaya kamu? Siapa bilang kita mau ke sekolah lagi? Kita mau pulang. Baju basah kuyup gini kalau ga cepat di ganti nanti bisa sakit.” Tegas Bastian kepadaku. Bastian segera membuka jas sekolahnya, dan memasangkannya padaku. Dia juga mengambil tas sekolahku dan membawakannya untukku. Aku tak tau, saat itu aku hanya sangat senang dan terkejut. Aku tak percaya dengan yang terjadi padaku saat itu, aku juga sangat senang, karena perjuanganku memiliki kemajuan. *** Akhirnya aku dan Bastian pun kembali ke rumah. Tidak terpisah, kali ini aku benar-benar di bonceng di atas motornya, bersamanya. Walaupun dia melarangku memegangnya karena bajuku yang basah itu, tapi aku sangat senang bisa naik motor berdua dengannya. Setibanya di depan rumahku, dia turun dari motor dan memberikan tasku yang dari tadi di bawanya. “Jangan salah paham. Aku Cuma mau tepati janji aku ke mama kamu buat lindungi kamu. Dan kamu jangan berfikir aku kasih harapan ke kamu.” “ Besok kamu berangkat sekolah sendiri. Kamu bisa sama mang Ujang karena sepeda kamu udah kita tinggalin disana tadi. Dan ingat, jauh-jauh dari aku dan jangan ganggu aku lagi. Tolong” Ujar Bastian kepadaku. Kalimat itu diucapkan oleh Bastian dengan tegas dan dingin kepadaku. Sepanjang dia berbicara, aku hanya terus senyum-senyum ke arahnya. Aku tak peduli apapun yang dia bicarakan kepadaku. Toh itu tak akan berpengaruh dan mampan untuk membuatku berhenti mengejarnya. Tiba-tiba, mataku tertuju pada hp yang ada di saku bajunya. Akupun merampasnya dengan cekatan, dan membuat Bastian terkejut akan hal itu. “Kamu mau ngapain?. Balikin hp aku Ra!” Amuk Bastian saat ku rebut hp nya itu. “Bentar doang kok. Tadi waktu nyasar, aku mau telfon kamu tapi aku ga punya nomor kamu. Jadi aku butuh nomor kamu. Kamu simpan nomor aku juga ya. Siapa tau kapan-kapan kamu mau bilang kalau kamu juga sayang sama aku. Hehe” Candaku kepada Bastian yang pasrah karena kurebut hp nya itu. Kalimat bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku dan membuat Bastian benar-benar frustasi menghadapiku kala itu. Hei, aku terkejut saat aku menelfon ke nomornya, panggilan masuk di hp nya adalah dari kontak bernama “kebencian”. Padahal kan ini baru hari kedua aku di Bandung, dan kami belum pernah saling bertukar kontak. “ Bas, kamu kok udah punya nomor aku? Terus kok nama kontaknya kebencian sih Bas?” Tanyaku kesal. Bastian langsung merampas kembali hp nya dariku. “Tadi aku minta dari Siti biar bisa cari kamu. Nama kontak? Ya udah jelaslah alasannya. Aku benci sama kamu. Harusnya kamu tau itu.” Cetus Bastian dengan dingin kepadaku. Bastian merampas kembali hp nya dariku. Dia langsung mendorong motornya masuk ke gerbang rumahnya. “ Kalau gitu aku simpan kontak kamu namanya kesukaan ya!!. Karna aku suka sama kamu!” Teriakku kepadanya yang perlahan jauh itu. Dan lagi-lagi teriakanku membuat mamang tukang sayur yang entah darimana lagi munculnya menjadi berhenti mendadak karena terkejut. “ Terserah!!!” Teriak Bastian dengan kesal tanpa berbalik badan melihatku. Sepertinya saat itu dia sudah mulai marah lagi kepadaku. Ah biarlah, toh juga aku sudah membuatnya marah selama 11 tahun. Aku hanya sedang berusaha untuk membuatnya mencintaiku selama puluhan tahun bahkan ratusan tahun lamanya. Aku bergegas masuk kedalam rumah dan berganti baju, karena dari tadi aku sudah menahan dingin memakai baju basah kuyup itu. Bandung, Oktober 2016. Silahkan saja. Jika kamu berusaha sangat keras untuk membenciku, dan membuatku membencimu, maka aku akan berusaha lebih keras dari kamu, untuk terus menyukaimu, dan membuatmu juga menyukaiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD