Bandung, November 2016.
Sekarang, sudah memasuki bulan November. Sudah satu bulan aku berada di sekolah ini. Dan mengenai Bastian, tentu saja aku mengalami kemajuan. Kalian semua tidak bisa meremehkan bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan hati Bastian dan mengubahnya menjadi pria hangat seperti dulu lagi. Karena bagaimanapun, setiap kemajuan itu bukanlah hal yang instan untuk ku dapatkan. Butuh waktu belasan tahun untuk membuatnya mau menerimaku. Dan sekarang, kemajuan itu terus menghampiriku.
Sekarang aku sudah berangkat ke sekolah dengan Bastian. Tapi jangan salah sangka, aku bukannya berboncengan naik motor dengannya, aku malah naik mobil berdua dengannya. Tidak berdua, kami bertiga dengan Mang Ujang, supir pribadi keluargaku. Dan bukannya duduk bersampingan dengannya, dia malah duduk di depan supaya aku tak bisa duduk di sampingnya. Dasar pria jahat.
Sebenarnya, untuk bisa berangkat berdua dengannya saja, aku harus merengek dulu kepada mama, harus mogok makan juga. Barulah akhirnya mama yang bicara dan minta tolong kepada Bastian agar Bastian mau menemaniku pergi dan pulang sekolah. Dan dia, memilih ikut di antar oleh Mang Ujang, karena dia tak mau kalau harus naik motor berdua denganku.
“Mas Bastian apa kabar mas? Udah satu bulan ini Mang Ujang ga liat Mas Bastian keluar rumah lagi, apalgi main ke rumah.”
Mang Ujang mencoba membuka pembicaraan di mobil yang sepi sejak tadi itu.
“Iya Mang, lagi males keluar rumah soalnya di luar rumah banyak banget pembuat masalah mang.” Jawab Bastian dengan nada yang sedikit menyindir.
“Wah, di kompleks kita ada pembuat masalah Mas? Maling? penjahat atau apa Mas? Siapa Mas pengacaunya?” Tanya Mang Ujang dengan penasaran.
Setau Mang Ujang, kompleks mereka terkenal aman dan tentram. Bahkan, ibu-ibu pun sering bermain bola bersama bapak-bapak di kompleks itu, dan mereka juga jarang mengunci rumah mereka jika ingin pergi ke warung. Padahal kompleks itu isinya rumah-rumah besar semua. Termasuk rumahku dan rumah Bastian.
“ Itu maksudnya aku Mang. Bastian itu bilang kalau aku itu biang masalah. Bastian juga gasuka sama aku Mang. Jahat kan Bastian” Jelasku kepada Mang Ujang.
Aku menjawab dengan semangat, karena menurutku, menjadi penjahat untuk Bastian adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku sedikit melirik ke arahnya saat itu. Dia sedang tersenyum puas atas pengakuanku itu.
“Loh? Bukannya Non Yo Ra itu asik, baik, peduli, dan ramah? Non Yo Ra juga cantik dan hangat” Ujar Mang Ujang dengan lebih semangat daripada aku.
Pasti Mang Ujang megatakan itu untuk membelaku sebagi anak majikannya.
“Kata siapa Mang? Dia itu biang masalah. Kalau bukan karena Tante Ana yang minta, aku ga bakalan mau dekat-dekat sama dia Mang” Cetus Bastian yang tidak setuju dengan pendapat Mang Ujang itu.
“Loh loh loh... itu kan katanya Mas Bastian. “ Tutur Mang Ujang sambil terus focus menyetir mobil.
Aku dan Bastian sama-sama terkejut kala itu. Bastian mematung mendadak.
“Kan mas Bastian sendiri yang bilang gitu ke Mamang. Dulu waktu kecil Mas Bastian bilang gitu ke Mamang. Pas gede juga, pas Non Yo Ra pergi ke Korea, Mas Bastian bilang gitu waktu Mamang curhat Mamang kangen sama Non Yo Ra.” Sambung Mang Ujang dengan santainya tanpa peduli adanya Bastian disitu.
Aku benar-benar terkejut kala itu. Aku benar benar tak percaya dengan apa yang di katakan Mang Ujang. Aku mengira Mang Ujang mengatakannya karena aku adalah majikannya, namun ternyata karena Bastian sendirilah yang mengatakan itu kepada Mang Ujang.
Sementara itu, aku melirik ke arah Bastian yang mukanya mulai memerah dan mematung, mungkin karena dia malu, atau karena dia juga tak percaya dia pernah mengatakan itu dari mulutnya.
“ Apalagi, waktu non Yo Ra di Korea, tiap bantuin Mang Ujang cuci mobil, Mas Bastian selalu bilang kalau mas Bastian itu....”
“ Mang. Liat ada kucing Mang!” Teriak Bastian memotong kalimat Mang Ujang itu.
Tentu saja teriakannya itu membuat mang Ujang menginjak rem mobil mendadak karena terkejut.
“ Astaga!! Serius mas? Ada kucing yang Mamang tabrak Mas? Tanya Mang Ujang dengan terkejut kepada Bastian.
“Aduhhhh.! Mamang!” Teriakku kepada Mang Ujang karena hampir saja membuatku terluka.
“ Mamang turun coba liatnya kucingnya ketabrak apa enggak. Ayo mang cepetan. Jangan sampai kucingnya kenapa-napa mang” Perintahku kepada Mang Ujang
Aku tak peduli dengan kelanjutan ucapan Mang Ujang itu. Buatku, nyawa kucing itu lebih penting untuk saat itu.
“ Eh gausah mang. Barusan aja kucingnya pergi. Kayanya ga kenapa-napa. Udah mang kita jalan aja nanti terlambat ke sekolah” Seru Bastian kepada Mang Ujang.
Bastian malah menghalangi Mang Ujang yang akan turun untuk mengecek keadaan kucing itu. Tapi ya sudahlah, lagian kata Bastian kucingnya selamat. Dan juga kami tak boleh terlambat ke sekolah.
***
Akhirnya kami pun tiba di sekolah. Saat turun dari mobil, tiba-tiba aku terkejut dengan keadiran Riski di depanku dan Bastian. Iya, Riski. Pria yang menyapaku dan tersenyum padaku saat aku salah masuk kelas sebulan yang lalu. Bastian tentu saja tidak peduli dengan keadaan itu. Dia tidak peduli jika ada yang menemuiku atau siapapun yang mau menemuiku. Dia pergi meninggalkanku dan Riski disitu.
“ Ehh Bas tungguin aku dong. Kok aku di tinggal sih” Teriakku dengan kesal kepada Bastian yang turun begitu saja tanpa menungguku.
Namun saat hendak menyusul Bastian, tiba-tiba saja tangan Riski menahanku.
“ Yo Ra, kamu kok berangkat bareng sama Bastian? Atau jangan-jangan dia saudara kamu ya?” Tanya Riski kepadaku.
“Eh,bukan-bukan. Dia bukan saudara aku. Dia tetangga aku. Eh itu dia juga calon masa depan aku.” Jelasku kepada Riski tanpa rasa malu.
“Oh gitu. Kamu suka sama Bastian ya?” Tanya Riski sedikit terkejut.
“Iyalah, pertanyaan kamu aneh banget. Aku itu suka Bastian pake banget-banget. Udah dari kecil juga. Masa kamu gatau? Padahal kata Bastian aku udah buat satu dunia tau kalau aku suka sama dia.” Jelasku dengan semangat kepada Riski.
Riski menganga mendengar jawabanku itu. Dia tidak menyangka aku bisa se pd itu mengatakan hal itu kepadanya.
“Udah ya, aku mau masuk ke dalam. Bentar lagi masuk nih.” Ujarku pada Riski sambil berjalan meninggalkannya.
“Eh Yo Ra tunggu, kita masuk bareng aja” Teriak Riski memanggilku.
Riski berlari menyusulku. Dia berjalan beriringan tepat di sampingku. Aku tak pernah peduli dengan siapapun yang mengajakku mengobrol, siapapun yang mendekatiku dan mau berteman denganku. Toh aku tidak akan terusik dengan mereka. Dan setiap pria yang mendekatiku, pada akhirnya akan menyerah setelah menyadari betapa gilanya aku menyukai Bastian.
***
Jam istirahat sudah berbunyi sejak dua menit yang lalu. Aku tidak pergi ke kantin karena Bastian juga tidak pergi ke kantin. Aku menitip makananku dengan Siti yang setiap jam istirahat selalu ke kantin. Bukan untuk belanja terus, tapi untuk bekerja. Ya, Siti bekerja sambilan di sekolah. Dia membantu ibu kantin untuk melayani pembeli di sekolah.
Saat itu, Bastian sedang asik membaca buku di mejanya. Tentu saja, belajar adalah hobby untuk si anak multy talent dan jenius ini.
Tiba-tiba saja, seseorang hadir dan duduk di bangku kosong di samping Bastian. Pria itu duduk menghadapku yang duduk di belakang Bastian. Aku sedikit terkejut dengan kehadiran pria itu. Mengapa dia muncul lagi?
Bandung, November 2016
Tidak akan kubiarkan sedetikpun pria lain mendekatiku dan menggesermu dari hatiku.