“Hai Yo Ra. Kamu lagi ngapain disini? Kok ga ke kantin?” Sapa Riski kepadaku.
Pertanyaan itu muncul begitu saja dari dalam mulut pria itu. Bastian terkejut dengan kehadiran mendadak Riski di kelasnya itu. Apalagi Riski duduk begitu saja di sampingnya, di depanku. Begitu juga dengan aku yang heran sedang apa Riski menemuiku dan nekad masuk ke kelasku.
“Eh, aku udah titip makanan sama Siti. Aku mager ke kantin. Soalnya Bastian ga ke kantin” Jawabku santai.
Kalimat percaya diri itu keluar begitu saja dariku tanpa peduli dengan Bastian yang berada di dekatku. Bastian hanya menoleh sedikit ke belakang sambil melototiku dengan muka terkejut dan menghembuskan nafasnya dengan panjang. Seolah dia benar-benar frustasi dengan kepercayaan diriku mengatakan itu kepada semua orang.
Sementara si Riski, dia memasang muka tak percaya sambil sedikit tertawa kecil. Aku percaya, Riski pasti menyukaiku seperti kebanyakan pria yang mendekatiku. Dan aku percaya, setelah melihat langsung kegilaanku kepada Bastian, Riski pasti akan menyerah untuk mendekatiku, sama seperti pria lainnya yang juga menyerah karena kegilaanku menyukai Bastian.
“Aku dengar kamu suka main musik ya? Suka nyanyi juga kan?” Tanya Riski.
Pertanyaan dari Riski itu membuatku terkejut. Apakah dia sudah memfollow akun instagramku? Atau dia sudah mengikuti youtubeku? Karena di media itulah aku mengupload semua vidioku yang sering meng cover lagu dan bermain alat musik.
“Eh iya, kamu udah liat vidio aku ya? Hehe, jelek ya?” Tanyaku balik kepadanya.
“Eh enggak kok, justru aku datangin kamu sekarang karena menurut aku suara kamu itu bagus banget. Kamu juga jago main alat musiknya. Jadi, aku mau ajak kamu buat gabung ke anak-anak band di sekolah ini. Kebetulan kami baru aja kehilangan vocalis perempuan kami yang pindah ke luar kota.” Jelasnya kepadaku.
Jawaban dari Riski itu justru membuatku terkejut. Ternyata Riski mendekatiku bukan karena dia suka padaku. Tapi karena dia ingin mengajakku untuk bergabung di band sekolah. Terlebih lagi aku terkejut karena dia ingin mengajakku bergabung dengan anak-anak band. Sebenarnya, dari dulu, baik di Bandung maupun di Korea, banyak orang yang mengajakku bergabung di berbagai organisasi. Ekstrakurikuler paskibra, pmr, osis, dan juga band sekolah.
Aku juga mendapat banyak tawaran untuk menjadi model dan bermain film di luar sekolah. Namun, semuanya ku tolak karena aku tidak sempat untuk bergabung dengan semua itu. Bagaimana sempat, 11 tahun lamanya tiap 24 jam sekali aku hanya terus mengikuti dan mengganggu Bastian. Aku juga menghabiskan waktuku untuk memikirkannya, dan membuat lagu lagu untuknya.
Jika Bastian menonjol di sekolah karena ketampananya dan kejeniusannya serta serba bisa dan kuatnya dia, , maka berbeda denganku yang juga mempunyai banyak bakat namun malah menonjol di sekolah bukan karena bakatku melainkan karena aku gadis bule yang gila menyukai Bastian.
“Wahhh pasti asik banget deh bisa gabung jadi anak band sekolahan. Tapi maaf ya ki, kayanya ak ga bisa gabung. Soalnya aku sibuk banget buat ngejar Bastian. Hehe” Tuturku dengan santainya kepadanya.
Tentu saja jawaban konyolku itu membuat Riski terkejut dan batuk mendadak karena tak percaya dengan kegilaanku itu. Apalagi Bastian, yang tiba-tiba saja membalikkan badannya dan melotot ke arahku. Sebenarnya itu hal biasa untukku jika dia dingin, melotor, marah, atau mempermalukanku.
Namun Hei, kenapa Bastian malah terenyum kepadaku? Ternyata saat itu, Bastian berpikir kalau aku bisa ikut jadi anak band, aku pasti ga akan ada waktu buat gangguin dia lagi.
“Ra,.” Panggilnya kepadaku.
Bastian menatapku dengan senyum. Tentu saja aku merinding. Apa dia akan membuangku ke planet mars? Atau dia menjadi gila karena stres menghadapiku?
“Ra, kalau kamu mau ikut jadi anak band sekolahan, aku bakalan boncengin kamu naik motor aku tiap pergi dan pulang sekolah. Gimana?” ucap Bastian kepadaku.
Tentu saja aku terkejut dengan tawaran yang diberika Bastian itu. Apakah Bastian keracunan makanan? Atau dia geger otak? Atau dia benar-benar mendadak gila karena menghadapiku? Atau jangan-jangan, dia sudah buka hati untukku?!!
“Bas, kamu ga lagi kerasukan kan? Ki pukul kepala Bastian Ki!. Cepet ki pukul kepala Bastian” Seruku kepada Riski.
Riski tanpa berfikir panjang langsung saja memukul kepala Bastian seperti apa yang kukatakan. Tentu saja Bastian terkejut dan langsung marah.
“Apaan sih? Kenapa malah di pukul? Yaudah kalau kamu gamau tawarannya. Aku tarik lagi. Bodo amat ” Seru Bastian yang kesal karena di pukul Riski itu.
“Eh iya iya aku mau. Aku mau Bas. Aku bakalan mau jadi anak band asalkan pulang pergi sekolah bareng kamu. Yeayyy. Aku mau bassss. Jadi tukang ojek atau tukang sayur keliling aku juga mau Bas asal sama kamu! Yeay!!” Teriakku kepada Bastian.
Orang-orang yang sedang berada di ruangan itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah gilaku.
“Yaudah.. oke”.
Hanya itu yang keluar dari mulut Bastian yang masih sibuk mengelus-elus kepalanya yang berharga itu, yang baru saja di pukul oleh Riski. Sementara Riski, dia mengedipkan matanya berulang kali karena tak percaya melihat perempuan yang sedang berhadapan dengannya itu.
“ Yaudah Yo Ra, kalau kamu mau, aku seneng banget. Aku bakalan kasih tau ke anak-anak band soal kamu. Dan nanti balik sekolah kamu bisa ya, kumpul bareng kami di ruangan musik. Soalnya kita anak musik latihannya tiap balik sekolah langsung” Jelas Riski padaku.
Riski tersenyum puas karena aku menyetujui untuk bergabung dengan anak band di sekolah. Namun, jawaban Riski yang mengatakan bahwa latihannya sepulang sekolah, membuatku yang tadinya sangat bahagia, menjadi melemas seketika.
Ternyata Bastian mengajukan tawaran tadi karena ia tau bahwa anak-anak band sekolah berlatih langsung saat pulang sekolah. Dia sengaja melakukan itu agar aku tidak pulang bersama dengan Bastian. Kalau pergi sekolah saja, tak masalah dengannya. Ditambah lagi, dia tak ingin lagi naik mobil denganku karena takut Mang Ujang akan berbicara lebih banyak lagi kepadaku.
“Yah, Bas. Kamu jahat banget sih Bas. Kamu tau kan kalau anak-anak band latihannya langsung pas pulang sekolah? iya kan?” cetusku kepada Bastian.
Bastian hanya tersenyum ke arahku.
“Kamu udah janji Ra, aku ga suka orang yang narik janjinya. Kamu tau kan.” Jawabnya kepadaku.
Bastian seolah puas dengan pencapaiannya untuk menjauhiku.
“ Eh aku boleh minta nomor hp kamu? Biar aku ga ribet buat hubungin kamu kalau ada info di band” Tanya Riski kepadaku.
Riski mengatakannya dengan senyumannya yang manis itu. Sementara saat itu, mood ku sudah benar-benar tak enak lagi saat itu.
“Aduh maaf ya ki. Kalau kamu ga percaya, kamu boleh deh liat sendiri hp aku. Di hp aku, cumana da nomor mama, papa, Siti, Bastian, Mang Ujang, sama Bi Inah. Maaf ya” jawabku kepadanya.
“ Hah? Ehehh, iya yaudah kalau gitu aku bakal datangin kamu kalau ada informasi buat anak- anak band.” Ujar Riski.
“ Iya ki, gitu juga ga papa. Atau ga kamu simpan nomor Bastian aja. Soalnya dimana ada Bastian, disitu ada aku yang ngikutin dia.” Tuturku kepadanya.
Bastian benar-benar frutasi mendengar semua jawabanku itu. Dia menggarut-garut kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, tanda dia sedang kesal.
“ Hahaha, kamu lucu banget ya. Yaudah kalau gitu, aku pergi dulu ya. Makasih udah mau gabung sama kami. Oh iya, ini ada cemilan tadi aku beliin ke kamu. Di makan ya. Bye Yo Ra...” terang Riski kepadaku.
Riski menaruh plastik besar berisi banyak sekali cemilan, yang menurutku dia pasti mengeluarkan uang banyak untuk membeli itu semua. Dia lalu pergi meninggalkanku dengan tak lupa mengukirkan senyuman manisnya untukku. Bastian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa banyaknya cemilan yang diberika Riski itu.
“Bas, pokoknya kamu harus tepatin janji kamu ya. Mulai besok kita berangkat sekolah bareng naik motor kamu. Yeayyyy!” Seruku kepadanya.
“ Terserah kamu deh mau bilang apa. Yang penting, kamu harus buang harapan kamu buat bisa dekat sama aku. Cuman berangkat sekolah doang,oke. Ga lebih.” Tukas Bastian kepadaku.
Bastian mengatakan hal itu sambil berjalan pergi keluar kelas. Tentu saja aku tak tinggal diam, aku berdiri dan mengikutinya. Terus, dan kemanapun itu. Bahkan kalau dia ingin buang air kecil, aku akan menunggunya di depan wc dan kembali mengikutinya kemanapun itu.
Bandung, November 2016.
Aku ga peduli, siapapun sosok lain yang hadir di sisiku. Sebanyak apapun mereka, segigih apapun mereka mendekatiku, tak akan ada yang mampu untuk menggeser rasa sukaku kepadamu. 11 tahun lamanya aku berjuang, bahkan 20 atau 100 tahun lagipun, aku bahkan tetap berjuang dan suka sama kamu.