Bandung November 2016.
Sudah beberapa hari ini aku tambah gila karena benar-benar bahagia. Bagaimana tidak, setiap pagi aku berangkat sekolah berdua naik motor dengan Bastian. Ya,, walaupun aku juga sedih karena sudah lama juga aku tidak pulang sekolah dengan Bastian.
Sebenarnya, kemajuanku hanya bisa pergi sekolah berdua dengannya. Tidak ada kemajuan lain yang ku peroleh. Bahkan, dia tak pernah meresponku setiap aku mengajaknya berbicara di atas motor. Memegangnya pun aku tak boleh.
“ Di jalan ga boleh ngobrol ”
“ Gausah pegangan, risih ”
Hanya itu yang selalu menjadi jawabannya untuk setiap obrolan panjang yang ku ucapkan.
Dan hari ini, siang ini, sudah waktunya pulang sekolah. Aku sedang merapikan buku-buku ku dengan lemas karena aku tidak bisa pulang bersama Bastian mulai hari ini.
“ Udah siap belum? Kita pergi sekarang yuk”
Pria itu mengajakku untuk bergegas pergi, karena sudah bel pulang sekolah.
Hey,pasti kalian berharap sama denganku kan, berharap itu Bastian. Tapi tentu saja tidak, aku sudah berjanji untuk bergabung dengan anak-anak band sekolah. Dan latihan langsung setiap pulang sekolah, tentu saja membuatku tak bisa pulang sekolah dengan Bastian.
“ Eh Riski. Udah nih. Yok, pergi sekarang aja, pasti anak-anak yang lain dah pada ngumpul” Sahutku pada Riski.
Sejak dua bulan menjadi anak band sekolah, aku mulai dekat dengan Riski. Tentu saja aku dan dia hanya dekat sebagai sesama anak band. Tak mungkin lebih dari itu.
“ Bas aku pergi latihan dulu ya. Kamu hati-hati pulangnya. Jangan sampe jatoh soalnya badan kamu berharga banget buat aku.” Seruku pada Bastian yang sedang sibuk merapikan buku bukunya itu.
Aku berjalan perlahan bersama Riski, meninggalkan Bastian yang masih saja sibuk merapikan bukunya itu.
“ Buat kamu. Biar semangat latihannya” ujar Riski sambil memberikan sebotol yougurt kepadaku.
“Makasih Ki.” Jawabku sambil menerima botol minuman itu.
Aku tersenyum kepadanya, begitu juga dengan Riski. Sementara Bastian, dia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkat Riski yang sangat jelas kalau Riski menyukaiku.
“ Dasar b**o. Suka kok sama anak ceroboh kaya Yo Ra. Udah tau dia gila suka sama aku. Buang buang waktu kamu Ki, Ki” Gumam Bastian dengan senyuman licik di bibirnya.
Tentu saja aku dan Riski sudah tidak berada disitu kala itu. Dia benar-benar puas dan merasa bangga, karena menurutnya aku hanya akan menyukainya seumur hidupku, tanpa dia harus menyukaiku juga.
***
Hari-hari terus berlalu. Aku semakin dekat dengan Riski. Tidak hanya karena latihan band di sekolah saja, tapi setiap hari Riski selalu mengantarkanku pulang seusai latihan band. Riski juga selalu membelikanku cemilan dan minuman kesukaanku. Banyak rumor mulai beredar di sekolah itu, kalau aku sudah tidak suka lagi dengan Bastian, dan mulai menyukai Riski. Tentu saja aku tidak menyukai hal itu. Hal itu pasti membuat Bastian berfikir bahwa aku tidak tulus dan serius kepadanya. Ah, sepertinya aku harus mulai jaga jarak dengan Riski.
Hingga suatu hari, aku benar-benar kesal karena Bastian yang tak kunjung keluar rumah juga. Padahal ini sudah pukul 7.20, dan itu artinya kami bisa telat sampai di sekolah. Tentu saja aku kesal. Apakah dia jadi marah denganku karena rumor itu? atau dia marah karena kemaren aku jalan dengan Riski? ah, tapi kan aku pergi dengan Riski hanya untuk membagikan poster lomba musik di sekolah kami saja. Tidak lebih dari itu. Padahal, aku saja tidak pernah marah kalau dia pergi latihan basket dengan Hana. Iya Hana, si anak basket perempuan terhebat di sekolah kami. Membicarakan Riski, tiba-tiba saja aku di kejutkan dengan Riski yang muncul di depanku dengan mobilnya.
“Hai Yo Ra. Udah jam segini kok belum berangkat? Bisa telat loh.” Sapa Riski dengan senyumannya.
“Eh Riski. iya ini aku lagi nungguin Bastian, dari tadi ga keluar-keluar dari rumahnya.” Jawabku.
“Udah kamu bareng aku aja Yo Ra. Nanti bisa terlambat loh. Paling juga Bastian udah berangkat deluan. Mana mungkin jam segini dia belum berangkat” Tutur Riski kepadaku.
Iya juga sih, mana mungkin jam segini Bastian belum berangkat. Si anak jenius itu kan paling benci terlambat. Paling dia benar-benar marah kepadaku dan pergi meninggalkanku pagi ini. Ah Bastian benar-benar jahat.
“Yo Ra, mau gak? Udah siang nih nanti kita telat.” Sahut Riski.
Riski membuyarkan lamunanku. Yasudah, daripada terlambat, aku pun akhirnya berangkat berama Riski ke sekolah.
Namun, aku benar-benar terkejut, karena setibanya di sekolah aku tak melihat adanya Bastian di kelas. Kalau dia sedang keluar kelas, lalu mengapa tas nya tidak ada? Atau dia sedang bimbingan dengan guru lain? Kemana dia..?
“Pagi Siti. Kamu ada liat Bastian ga hari ini?” Tanyaku kepada Siti.
Aku mencoba mencari tau dari Siti, sambil duduk di sampingnya.
“ Eh pagi Yo Ra. Engga ada tuh, bukannya Bastian berangkat paginya bareng kamu ya? Kok kamu gatau Bastian ada dimana?” Jawab Siti.
“ Hah serius? Bastian belum datang juga? Aku kira dia udh berangkat deluan tadi, makanya aku berangkat barengan sama Riski” Tuturku terkejut.
Aku benar-benar khwatir kala itu. Kemana perginya Bastian? Atau jangan-jangan dia pindah sekolah karena tak tahan lagi melihatku? Ah, Bastian kamu kemana sih.
Sampai pulang sekolahpun dia tak kunjung datang. Akhirnya akupun izin tidak latihan band dengan Riski, dan meminta tolong padanya untuk segera mengantarkanku pulang. Untungnya, Riski mau mengizinkanku dan mengantarku pulang.
“Makasih ya Ki. Maaf ya gabisa latihan hari ini. Soalnya pembantu aku ulang tahun. Jadi aku mau kasih suprise. “ Ucapku kepada Riski.
“Iya ga papa kok. Aku pulang dulu ya.” Ucap Riski kepadaku.
“ Iya hati-hati Ki. Bye ” Seruku cepat-cepat.
Setelah melihat Riski pergi, aku pun bergegas pergi ke rumah Bastian. Rumahnya sedang sepi, karena Bi Lila dan Mang Dadang sedang pergi pulang kampung. Jadi, Bastian sedang sendirian di rumahnya. Pintunya tidak terkunci. Aku memanggilnya dengan suara kerasku. Tidak ada jawaban darinya. Aku pun masuk ke kamarnya yang sedikit terbuka itu. Aku terkejut saat melihat Bastian tertidur di kamarnya, dengan badan yang menggigil.
“Astaga, Bas. Kamu kenapa Bas? Bas kamu sakit ya?” Teriakku saat melihat keadaan Bastian.
Tanganku menyentuh dahinya yang terasa sangat panas. Tubuhnya benar-benar bergetar saat itu. Aku tak tau apa yang kufikirkan kala itu hingga aku begitu refleks memeluknya dengan erat. Aku benar-benar khawatir. Mataku mulai memerah karena ingin menangis. Kenapa orang sekuat dan segalak Bastian bisa jadi selemah ini?. Aku pun segera menelfon mang Ujang dan menyuruhnya datang membawa mobil. Kurusuh mang Ujang untuk membawa Bastian ke rumah sakit.
***
Setibanya di rumah sakit, ternyata dokter bilang Bastian terkena malaria disertai dengan magh. Dan katanya, dia harus di rawat di rumah sakit, karena ia telat mendapatkan pertolongan. Ah Bastian, ternyata kamu bisa bodoh juga ya. Kenapa tidak telfon aku kalau kamu sakit? Atau kalau kamu benci aku, kamu bisa telfon rumah sakit atau Mang Ujang. Telfon Hana pun aku tak masalah jika itu keadaan darurat.
Aku menyuruh Mang Ujang pulang untuk meminta Bi Inah membuatkan sup sehat dan bubur untuk Bastian karena aku tau Bastian sangat benci makanan rumah sakit. Aku duduk di samping Bastian yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit itu. Aku menggenggam tangannya yang masih saja bergetar karena kedinginan.
“ Bas, aku takut. Aku takut liat kamu sakit kaya gini. Kamu cepat bangun ya Bass. Aku janji kalau kamu bangun aku ga bakalan buat kamu marah lagi. Aku bakal jauhin Riski dan anak-anak band.” Bisikku lirih kepada Bastian yang belum sadarkan diri itu.
Aku berdoa supaya Bastian cepet sadarkan diri. Aku terus saja menggenggam tangannya hingga akhirnya aku tak sadar kalau aku sampai tertidur.
Bandung, November 2016.
Selain takut kehilanganmu, aku juga sangat takut melihatmu terluka. Sekecil apapun itu, akan terasa sakit untukku.