Surat Penyemangat Untuk Pria Dingin

1183 Words
Saat aku masih tertidur menemaninya, pria dingin yang berlagak kuat ini terbangun dari tidurnya. “ Kenapa aku ada di rumah sakit. Siapa yang...” Bastian terkejut melihatku yang duduk di sampingnya dan tertidur sambil menggenggam tangannya. Bastian tersenyum dan menggenggam erat tanganku dengan tangannya yang satu lagi. Senyumnya benar-benar hangat. Dan tentu saja aku masih tertidur. Kalau aku bangun, mana mungkin dia melakukan hal itu. Dia pasti akan marah karena aku menggenggam tangannya dan membawanya ke rumah sakit. “Andai kamu tau Ra, betapa nyamannya aku saat di samping kamu. Betapa bahagianya aku kalau bisa ada di dekat kamu kaya sekarang ini.” Bisik Bastian. Kalimat ajaib itu keluar dari bibir Bastian. Matanya sedikit memerah. Senyumannya begitu hangat. Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. “ Hmmm. Jam berapa sekarang? Aku dimana ya?” Lirihku terbangun dari tidurku. Aku mengatakan itu dengan jiwaku yang masih setengah sadar. Namun, aku terkejut karena melihat Bastian yang sudah sadar dan sedang menatapku dengan tatapan dinginnya itu. Padahal dia sedang sekarat tapi bisa bisanya dia mempertahankan tatapan dinginnya itu kepadaku. “ Bas. Kamu udah bangun Bas? Ya ampun. Makasih ya Tuhan akhirnya kamu bangun juga. Aku takut banget kamu tadi kenapa-napa. Ada yang sakit ga? Atau kamu mau sesuatu?” Seruku panik. Aku memberikan banyak pertanyaan kepadanya. Tentu saja dia malah marah karena aku begitu berisik. “Aduh apaan sih Ra. Lebay banget. Kamu kenapa bisa ada disini? Terus siapa yang bawa aku kesini?” Tanya Bastian dengan ketus kepadaku. “Aduh Bass. Aku itu khawatir banget tau. Tadi pagi kamu ga muncul-muncul. Aku kira kamu pergi deluan karena marah sama aku. Eh nyatanya kamu ga ada di sekolah. Terus pas aku kerumah kamu, kamu lagi kedinginan gitu di kamar kamu. Kamu demam juga. Yaudah aku gedong aja kamu kerumah sakit. Kamu berat tau. Kamu harus bayar budi sama aku” Tuturku kepadanya. Jawabanku tentu saja kukarang. Orang yang menggendongnya ke mobil itu kan Mang Ujang. “ Udah kamu pulang aja. Aku udah bangun udah ga papa. Bentar lagi juga sehat. Mendingan kamu pergi aja, yang ada aku tambah sakit kalau liat kamu” Ujar Bastian. Kalimatnya begitu dingin kepadaku. Akupun bergegas pergi keluar dari kamar pasien galak itu, dan membawa serta makanan yang sudah dibawakan Mang Ujang tadi. Tentu saja aku bukan mau pulang. Kalian kan tau sendiri aku tidak mudah menyerah untuk Bastian. Aku pergi menemui perawat, dan memintanya untuk membantuku memanaskan makanan itu. Aku menunggunya selama beberapa menit. “ Dia beneran pulang? Tumben dia nurut. Biasanya juga ngotot buat tinggal. Dasar cewe ga jelas” Bisik Bastian kesal. Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya terbuka. Tentu saja itu adalah aku yang masuk sambil membawakan makanan untuknya. Dan Bastian, dia terkejut melihatku yang kembali lagi ke ruangannya. “ Bukannya kamu udah pulang? Kenapa malah balik lagi sih Ra?” Ketus Bastian. Bastian bingung melihat aku yang malah duduk di sampingnya. “ Ehhh siapa bilang aku pulang. Kaya baru kenal aku dua bulan aja. Aku itu, keluar buat manasin makanan kamu yang dibuatin sama Bi Inah. Soalnya kamu belum makan apa-apa dari pagi.” Tuturku kepadanya. “ Mendingan sekarang kamu pulang aja deh. Kamu berisik banget tau gak” Cetus Bastian. “ Ih kok pulang sih. Udah mendingan sekarang kamu diem. Kamu duduk, habis tuh habisin deh makanan ini. Capek tau buatnya” Tukasku. Aku membantu Bastian untuk duduk. Ya walaupun kelihatannya dia setengah terpaksa untuk duduk dan mau memakan makanan itu. “ Kalau kamu gamau makan, aku suapin aja gimana? Pasti kamu lebih gamau kan kalau aku suapin. Jadi mendingan kamu makan sendiri sebelum aku suapin kamu dan buat kamu makin kesal” Candaku padanya. Aku mengancamnya untuk segera menghabiskan makanan itu. Beberapa menit kemudian, makanan itu habis dibuatnya. Aku tersenyum kepadanya dan mengelus elus kepalanya, walaupun kemudian di tepis olehnya. “ Udah malam, mendingan sekarang kamu pulang aja. Gausah disini. Aku mau istirahat.” Ujar Bastian. Dengan dingin tentunya. Bastian mengusirku dan segera berbaring. Dia berlagak seolah-olah dia sudah tertidur. Aku pun bergegas keluar dari ruangan itu. “ Yaudah aku pulang dulu ya. Selamat istirahat Bas. Jangan rindu ya, hehhee..” Ujarku seraya meninggalkan ruangan itu. Tak ada respon darinya. Aku meninggalkan ruangan itu. Kali ini aku benar-benar pulang kerumah karena memang sudah malam dan juga aku belum makan ataupun ganti baju sejak siang tadi. Namun, aku hanya pulang sebentar dan akan kembali lagi kesana. Aku pulang untuk mandi, berganti pakaian, makan malam, dan membawa semua peralatan sekolahku untuk besok, karena aku berencana untuk menginap disana dan berangkat sekolah dari rumah sakit juga. *** Saat tiba di rumah sakit, aku melihat Bastian sedang tertidur pulas. Tentu saja, sekarang sudah jam sebelas malam, dan pasti dia mengira bahwa aku benar-benar pulang dan tidak akan kembali lagi. Akupun tidur di sofa di ruangan itu. Aku sudah membawa selimut hello kity kesayanganku, beserta boneka beruang yang selalu menemani tidurku. Tentu saja rumah sakit tidak menegurku, karena aku memesan kamar VIP untuk Bastian. “ Selamat tidur Bastian, semoga di dalam mimpimu, aku tidak menjadi orang yang kamu benci seperti di dunia nyata ini. Semoga kamu lekas sembuh, aku sedih kalau liat kamu sakit.” Bisikku padanya. *** Pagi harinya, aku terbangun dan bergegas untuk bersiap diri ke sekolah. Bastian belum bangun juga. Mungkin kasur rumah sakit lebih nyaman untukkya, atau tubuhnya memang masih lemas. Aku merapikan semua tempat tidur dan barang barangku. Tak lupa aku menaruh sarapan yang sudah di antarkan mang Ujang pagi ini. Aku juga meninggalkan catatan untuknya. “ Bas, tadi malam aku balik lagi kesini. Aku tidur disini soalnya aku ga bisa ninggalin kamu sendirian dalam keadaan gini. Aku pergi ke sekolah, itu ada makanan sehat yang udah di masakin Bi Inah lagi buat kamu. Di makan ya, di habisin. Biar kamu cepat sembuh dan keluar dari rumah sakit ini. Pasti kamu risih kan aku terus datang kesini dan ganggu kamu. Makanya kamu harus cepat sembuh.” Dari penggemarmu, Kim Yo Ra. tulisku di memo kecil berwarna pink itu. “ Dasar b**o. Udah dibilang pulang malah balik kesini lagi. Pake acara bawa selimut sama boneka segala kesini. Dikira ini penginapan apa.” Bisik Bastian. Namun, Bastian mengatakan itu dengan senyuman hangat yang keluar dari bibirnya. Sangat manis dan hangat. *** Dua hari, tiga hari, empat hari lamanya Bastian di rawat di rumah sakit. Dan tentu saja itu artinya sudah empat hari juga aku menginap di rumah sakit, dan tidak pergi latihan band bersama Riski. Padahal sebentar lagi ada lomba musik yang di adakan di sekolah kami. Tentu saja anak anak band kecewa kepadaku. Tapi aku tak peduli. Bagiku, duniaku hanya boleh di isi oleh Mama, Papa dan Bastian. Bahkan aku tak masalah ketika harus bepisah dengan Mama dan Papa untuk Bastian. Hingga hari yang ditunggu pun tiba, Bastian keluar dari rumah sakit setelah lima hari di rawat di sana. Dia benar-benar senang karena artinya dia tidak benar-benar harus melihatku dari pagi sampai malam lagi. Bandung, November 2016 Andaikan kamu tau, bahwa hal yang paling menakutkan untuk bucin gila sepertiku hanyalah kehilangan kamu. Melihat kamu sakit beberapa hari saja duniaku terasa runtuh. Sayangnya, kamu ga pernah tau kalau kamu begitu berarti buat aku. Bahkan kadang artinya melebihi diriku sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD