Dara kembali ke dapur setelah insiden menyentuh di kamar Ayahnya. Perkataan lirih Ayahnya, "Kenapa... baru..." masih bergaung di kepalanya, menumpuk rasa bersalah yang tak terucapkan.
Ibunya masih di sana, di tempat yang sama, menghadap jendela gelap. Dara duduk di hadapannya, kali ini tanpa mencoba memecah keheningan dengan basa-basi. Dara hanya ingin memahami kebekuan ini.
"Bu," katanya pelan, "Ayah... dia sempat bicara. Dia bertanya kenapa aku baru pulang."
Ibunya menoleh, ekspresinya tidak berubah. Dingin dan terkendali. "Itu hanya reaksi refleks, Dara. Jangan diambil hati. Orang sakit sering mengigau."
"Tidak, Bu. Itu sadar. Dia melihat foto kecilku di kalungnya," Dara menunjuk kalung yang Ayahnya kenakan. "Dia menyimpannya selama ini. Itu artinya... dia tidak pernah melupakanku, kan?"
Ibunya menatapnya lama, pandangannya tajam. "Kamu pergi, Ra. Jangan mencoba mengukur kasih sayang orang tuamu dari benda-benda kecil setelah kamu menghilang selama lima tahun." Ia menyesap tehnya yang sudah benar-benar dingin. "Kamu harus fokus merawatnya, bukan mengorek kenangan."
Rasa frustrasi memenuhi d**a Dara. Ibunya seolah menutup semua pintu emosi. "Kenapa Ibu selalu menghindar, Bu? Kenapa semua terasa begitu dingin? Rumah ini dulu tidak begini. Ada apa sebenarnya yang terjadi selain sakit Ayah?"
Ibunya meletakkan cangkir itu kembali dengan gerakan pelan, tapi tegas. Ia menghela napas panjang, seolah ia baru saja memutuskan untuk mengangkat batu yang sangat berat.
"Baiklah, karena kamu sudah pulang," kata Ibunya, suaranya kini lebih rendah dan serak, "ada satu hal yang harus kamu tahu tentang Ayah."
Ia menggeser buku resep masakan usang di depannya, buku yang penuh coretan dan bercak minyak. Tapi kali ini, ia tidak membicarakan masakan.
"Ini bukan hanya buku resep, Dara. Ini juga buku catatan harian Ayah," Ibunya menunjuk bagian halaman belakang yang tebal, tempat resep-resep itu berakhir dan tulisan tangan yang rapi dimulai. "Ayah sudah menulis ini sejak setahun setelah kamu pergi."
Dara mengambil buku itu, tangannya gemetar. Ayahnya tidak pernah menulis harian. Ia adalah tipe pria yang mengungkapkan semuanya dengan teriakan, bukan tinta.
Ibunya melanjutkan, matanya kini memancarkan kesedihan yang tulus, bukan lagi kekosongan. "Ayah tidak hanya sakit karena penyakitnya, Ra. Dia... dia sudah mulai melupakan. Sejak dua tahun terakhir. Semuanya, termasuk resep-resep Ibu yang selalu ia kritik, dan juga..."
Ibunya berhenti sejenak, menatap Dara lurus.
"...termasuk alasan dia begitu marah padamu saat kamu pergi. Kenangan buruknya hilang. Yang tersisa hanyalah kenanganmu saat kecil. Kenangan bahagia."
Dara terdiam, memeluk buku itu erat. Ayahnya menderita demensia. Penyakit yang pelan-pelan merenggut masa lalu dan ingatan Ayahnya.
"Tapi yang paling parah," bisik Ibu, suaranya hampir tidak terdengar, "setiap pagi, dia selalu bangun dan bertanya padaku, 'Di mana anak kita, Dara? Dia belum pulang? Kenapa kita biarkan dia pergi sejauh ini?'"
Air mata Dara menetes di atas buku catatan itu. Jadi, Ayahnya tidak marah padanya. Ayahnya selalu merindukannya, dan Ibunya harus menahan pertanyaan itu setiap hari tanpa bisa memberikan jawaban.
Tiba-tiba, Ibunya mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatinya. Wajahnya yang kelelahan kini terlihat serius.
"Satu tahun lalu, sebelum penyakitnya benar-benar parah, Ayah membuat satu permintaan padaku." Ibu menatap mata Dara, mencari janji yang tak terucapkan.
"Dia memintaku untuk jangan pernah memberitahumu tentang penyakitnya ini. Dia bilang, dia ingin kamu mengingatnya sebagai Ayahmu yang kuat, yang selalu marah dan keras kepala. Dia tidak mau kamu kasihan padanya."
"Dan dia juga bilang," lanjut Ibu, matanya berkaca-kaca, "bahwa dia tahu kamu akan pulang, tapi dia ingin kamu pulang bukan karena kewajiban. Dia ingin kamu pulang... karena kamu merindukan rumah ini, Ra. Bukan karena Ayah sudah sakit."
Jantung Dara terasa remuk. Selama ini, kebekuan Ibu, jaraknya, dan ketidakramahannya bukan ditujukan untuk menghukumnya, melainkan untuk melindungi permintaan terakhir Ayahnya. Ibunya berusaha keras untuk membuatnya merasa tidak nyaman, sehingga ia mungkin akan pergi lagi, dan tidak perlu menyaksikan kerapuhan Ayahnya.
Dara melihat Ibunya bukan lagi sebagai wanita asing yang dingin, melainkan sebagai penjaga rahasia yang hancur, yang berjuang sendirian menjaga harga diri suaminya dan menanggung kerinduan putrinya.
**Sandiwara di Kamar Depan**
Malam itu, setelah Ibu kembali ke kamarnya, meninggalkan buku catatan Ayah di meja, Dara tidak bisa tidur. Dara membawa buku resep sekaligus buku harian itu ke kamarnya, duduk di bawah selimut, dan membacanya di bawah cahaya ponsel.
Tulisan tangan Ayahnya di bagian akhir buku itu rapi dan formal, sangat berbeda dari coretan resep masakan Ibunya yang belepotan.
17 April, Tahun Kedua Kepergian Dara. Malam ini aku makan bubur lagi. Rasanya, entah kenapa, hambar. Aku merindukan rasa asin yang terlalu kuat di masakan Ibumu, dan teriakanku yang akan membuatnya kesal. Teriakanku... aku sudah lama tidak berteriak sejak ia pergi.
29 Mei, Tahun Kedua Kepergian Dara. Aku sudah tidak ingat kenapa aku marah padanya saat ia pergi. Tapi aku tahu aku sangat marah. Aku mencoba mengingat alasan itu setiap hari, agar jika ia pulang, aku tahu harus memarahi dia tentang apa. Kenangan itu seperti kabut. Aku hanya ingat dia suka sekali boneka beruang lusuh itu. Aku pindahkan boneka itu dari loteng ke kamar tidurnya. Semoga ia masih suka.
Setiap kalimat adalah jarum yang menusuk dadanya. Ayahnya, pria yang selalu terlihat seperti gunung yang tak tergoyahkan, ternyata diam-diam berjuang melawan kehilangan ingatannya dan kerinduan yang mendalam. Ia sengaja mengamankan kenangan kecil putrinya agar ia tidak benar-benar melupakannya.
Keesokan paginya, Dara bangun lebih awal. Dara menemukan Ibu sudah berada di dapur, membuat bubur seperti biasa.
"Aku akan mengurus Ayah hari ini," katanya, mencoba menyampaikan ketulusan tanpa mengkhianati rahasia Ayahnya.
Ibu menatapnya, ekspresinya masih dijaga ketat. "Dia tidak akan merespons."
"Aku akan mencoba, Bu."
Dara membawa baskom air hangat dan peralatan lain ke kamar depan. Ayahnya terbaring sama, menghadap jendela. Dara duduk di kursi kayu itu, kali ini tidak dengan kesedihan, melainkan dengan tujuan.
"Ayah," kata Dara, suaranya terdengar ceria, nyaris dipaksakan. "Ayah tahu? Ayunan di depan rumah sudah berlumut. Dulu Ayah yang mengecatnya warna hijau terang, Ayah ingat?"
Dara mulai menyeka wajah Ayahnya, lalu tangannya, dengan sentuhan yang lebih yakin. Ayahnya tetap diam, matanya terpejam.
Dara membuka buku harian Ayahnya di halaman yang bertuliskan: Dara suka sekali jika aku menceritakan kembali legenda pohon beringin di ujung desa. Katanya, di sana ada peri yang menjaga desa.
"Ayah, aku ingat dongeng pohon beringin itu. Yang ada peri cantik dengan rambut panjang. Tapi Ayah selalu bilang, peri itu akan marah kalau aku main terlalu jauh dari rumah. Itu cara Ayah membuatku takut, kan?" Dara tertawa kecil, suara tawa yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri.
Tiba-tiba, sudut bibir Ayahnya yang kurus bergerak sedikit, membentuk lengkungan yang sangat samar—seperti usaha Ayah untuk tersenyum.
Dara segera berhenti menyeka. Itu adalah respons. Reaksi yang sangat halus, tapi nyata.
"Itu lucu, Ayah," lanjutnya, suaranya tercekat karena haru. "Ayah selalu jadi pendongeng terbaik."
Dara membalik halaman. Dia menemukan entri Ayahnya tentang resep sup iga buatan Ibu yang dikritiknya habis-habisan karena terlalu banyak lada.
Saat Ibunya masuk, membawa mangkuk bubur, Dara mengambilnya.
"Aku akan menyuapi Ayah," katanya.
Dara duduk di sisi Ayahnya, mengambil sesendok bubur. Ayahnya memalingkan wajahnya. Ibu menatap Dara dengan tatapan "Sudah kubilang".
Dara teringat tulisan Ayah di buku: Aku bosan dengan bubur. Aku ingin Sup Iga yang banyak lada, meskipun aku tahu dia akan memasukkan lada terlalu banyak.
"Ayah, ini bubur. Tapi rasa bubur ini agak asin, sepertinya Ibu sengaja memasukkan terlalu banyak garam hanya untuk membuat Ayah kesal," bisik Dara. "Ayah harus menghabiskan ini, supaya Ayah punya tenaga untuk memarahi Ibu karena buburnya keasinan. Bagaimana?"
Ibu tersentak di belakang Dara. Ia tahu bubur itu tidak asin.
Perlahan, Ayah membuka mulutnya.
Dara menyuapinya. Ayah menelan. Lagi. Lalu menelan lagi.
Ibu berdiri terpaku di ambang pintu, matanya kini dipenuhi air mata yang berusaha ia tahan. Dara menoleh sedikit dan melihat Ibunya. Air mata itu bukan karena sedih, melainkan air mata pengakuan dan rasa terima kasih. Ia melihat rahasia yang ia jaga dengan susah payah kini terungkap, bukan dalam pertengkaran, melainkan dalam sandiwara kasih sayang yang menyentuh.
Mereka berdua kini menjadi aktor dalam drama Ayah, berjanji untuk menjadikannya rumah yang nyaman, bukan dengan kenyataan, melainkan dengan ilusi indah yang diidamkan Ayahnya.
Dara tersenyum lembut pada Ibu, sebuah senyum yang mengatakan, "Aku tahu. Kita akan melindunginya bersama."