Impian yang Sirna

1071 Words
Selepas salat Subuh, aku lagi memulai kebiasaan dengan rutin membaca Q.S Al-Waqiah. Aku pernah membaca postingan di media sosial, katanya hidup itu berat makanya butuh Al-Waqiah untuk meringankan. Sepertinya benar juga. Pagi ini aku berencana ke toko baju. Semenjak sakit aku belum kesana lagi, aku belum melihat laporan penjualan terbaru. Kiranya sudah hampir 3 tahun, aku buka usaha baju dan alhamdulilah mendapatkan penghasilan yang besar, karena aku hanya tinggal berdua dengan ibu jadinya aku bisa dibilang tulang punggung keluarga. Aku yang harus menggantikan posisi alhamarhum Ayah mapun alhamarhum A Reyhan, karena hanya aku yang ibu punya sekarang aku harus berusaha untuk memenuhi segala kebutuhannya. Setelah siap-siap, aku berpamitan ke ibu. Rupanya ibu ada di kamarnya. “Bu aku pamit mau ke toko dulu.” “Udah sarapan?” Kata ibu yang lagi merapihkan mukenanya yang sudah dia pakai salat Duha. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, kata ibu dia ingin fokus ke ibadah saja. “Udah Bu, nasi gorengnya enak Bu.” “Alhamdulilah, teh nanti ada kajian lagi. Mau ikut?” Aku menyengir, sebenernya malas sih, tapi aku pun menggiyakan. “Iya deh boleh, aku ikut.” “Nah gitu dong, nanti sama Ibu dijemput ke toko ya, biar gak usah bolak-balik.” “Tapi bu, pakaianku gak pakai gamis.” “Aman nanti ibu bawakan.” “Okey deh, assalamualaikum.” Aku mencium tangan ibu. “Waalaikumsalam.” Walaupun sudah berhijab dari satu bulan yang lalu, persoalan pakaian aku pun masih belum sesuai yang diperintahkan oleh Allah. Masih belum konsisten, kadang-kadang pakai gamis yang longgar kadang-kadang pakaian yang pas di tubuhku tapi tidak ketat juga. Seperti hari ini aku memakai celana jeans yang dipadukan dengan baju rajut ungu, serta memakai hijab hitam yang dililitkan di leherku. Inilah aku yang belum istiqomah. Aku pergi ke toko baju yang cukup dengan jalan kaki. Gemintang nama tokonya. Diambil dari nama dari nama Ibuku Ibu Gemi serta almarhum Ayahku yaitu Bintang. Aku masuk ke toko yang lagi persiapan untuk buka. Para karyawan menyambutku dan kita saling bertukar kabar. Aku mengecek laporan penjualan serta keuangan yang sudah disetorkan oleh Rose asistenku. Selama aku sakit dia yang menanganinya. Rose ini adalah adik tingkatku saat masih SMP, dia orang yang baik serta bertanggung jawab atas pekerjaannya. Kelebihan lain dia orang yang tepat waktu dan selalu mempersiapkan banyak hal dengan matang demi kemajuan toko ini. Makanya aku bersyukur dia bisa bekerja dengan ku, Rose sangat mempunyai peran penting dalam kesuksesan toko. Sudah mulai siang, toko pun buka. Perlahan para pengunjung berdatangan. “Narel.” Rupanya ada yang memanggilku, tapi suaranya tidak asing. Aku melihat ke sumber suara, betul sekali siapa lagi kalo bukan A Risyad, tapi dia tak sendiri. Ada anak perempuan yang dia gandeng. Siapanya ya? Apa jangan-jangan anaknya? Berarti dia udah nikah? “A Ris-, eh Dokter Risyad.” Aku sempat keceplosan untuk memanggil dia aa. “Kamu kerja di sini?” “Ah iya, aku ownernya dok.” “Ouh ya? Udah lama?” “Emm... lumayan sekitar 2 tahunan. Ada yang bisa aku bantu dok?” “Saya lagi mencari baju untuk anak perempuan.” Ujarnya sampai melihat ke anak itu. “Baik ada di lantai 2 dok silakan, itu liftnya di sebelah kanan.” Aku menunjuk ke arah lift. “Boleh tolong sekalian rekomendasi bajunya, soalnya saya kurang begitu tahu yang cocok.” Para karyawan di sekitarku bergantian bertatap. Apaan ini? Haruskah? “Boleh-boleh. Mari dok.” Aku pun mengiyakan. Aku berjalan ke arah lift yang disusul dengan A Risyad dan anak perempuan itu. Kami menaiki lift. Suasananya canggung sekali, akhinya aku memberanikan diri untuk bertanya, entah dorongan apa yang merasukiku. Saat pintu lift terbuka aku bertanya “Dia siapanya dokter?” “Oh, anak saya.” Jawab dia singkat. “Apa? Dokter sudah menikah?” Responku tak terduga, karena terkejut suara ku pun meninggi sampai semua orang di lantai dua melirik ke arah ku. “Bisa biasa aja kali.” Aku menyengir “Maaf.” Kataku pelan. Gak menyangka dia sudah beristri rupanya, tentu aku sangat sedih. Dulu aku selalu bermimpi punya suami seperti A Risyad, tapi sekarang impianku telah sirna. “Kok nikah gak bilang-bilang sih.” Kataku rada kesal. “Apa urusannya, kita bukan siapa-siapa lagi.” Jawab dia ketus. Nah baru nih kelihatan aslinya, ternyata kemarin cuma pura-pura aja. Pas di luar dia mulai berbeda. Ketus gini. “Iya, yaudah. Umurnya berapa tahun emang?” “Tanya dong.” Aku pun melihat ke anaknya A Risyad, dari tadi dia hanya diam, tapi kok gak mirip sama sekali dengan ayahnya. “Hi, nama kamu siapa?” Tanyaku dengan senyum. “Sya.” Jawab dia singkat. Dia malu-malu gitu, gemes banget lagi. “Syarel.” Timpal A Risyad. “Apa? Itukan?” Aku terkejut mendengar namanya. Dulu aku iseng-iseng pernah bilang ke A Risyad suatu hari jika kita berjodoh aku ingin menamai Syarel untuk anak perempuan. Sya dari Risyad dan Rel dari Narel. “Apa?” Tanya A Risyad balik. Dia sepertinya sudah lupa atau pura-pura gak tau. Huh dasar. “Engga, oh ya umur kamu berapa tahun Sya?” “4 tahun.” Jawab dia sambil tersenyum, ya Allah lucu banget. Ingin aku unyel-unyel. “Okey, ayo kita pilih bajunya. Sini ikut teteh.” Sya melepaskan tangannya dari genggaman A Risyad, dia segera meraih tanganku. Aku dan A Risyad sekilas bertatapan. Aku membawa Sya ke bagian yang khusus anak perempuan. Aku pilih beberapa model yang sekiranya cocok untuk dia. Sya sangat bahagia, dia sangat menyukai baju dengan gambar unicorn. Aku salut sama A Risyad, anaknya yang masih kecil udah pakai jilbab. Aku melihat ke arah A Risyad yang hanya mengekor mengikuti aku dengan Sya. “Dok, ayo dong pilihin, siapa tau ada yang cocok.” “Terserah kamu aja.” Kata dia sambil menyilangkan kedua tangannya. Sepertinya dia sudah mulai bosan berada di sini. Saat aku pilih-pilih baju, ada seorang ibu yang sedang mengendong anaknya, dia tersenyum padaku, akupun membalas senyuman ibu itu. “Anaknya udah berapa tahun teh?” Apa? Dia mengira aku ibunya. Belum sempat aku bicara, A Risyad terlebih dahulu udah menjawab. “4 tahun Bu.” Jawab A Risyad. “Cantik sekali, seperti Ibunya. “ Aku terpaksa tersenyum. Apasih bu, kami bukan suami istri kali, berbeda dengan A Risyad dia sama sekali tidak terganggu. “Kok gak sama istri dok belanjanya?” tanyaku basa basi. “Belum ada, kamu mau jadi istri saya?” dengan santainya dia bilang gitu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD