“Teh kenapa? Lagi mikirin apa sih?” Tegur Ibu yang sedang memarkirkan mobil di dekat masijd tempat kajian hari ini.
“Eh gapapa Bu.” Kataku bohong. Gimana gak kepikiran, ini benar-benar membuatku bingung, A Risyad mengaku udah punya anak tapi kok dia malah meminta aku jadi istrinya sih. Apa dia bercanda aja ya? Gak tau bikin pusing aja tuh orang.
“Beneran?”
“Iya bu.” Kataku sambil menghela napas.
Aku melihat orang-orang berdatangan, dari usia remaja sampai yang sudah usia senja. Mereka bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama sedangkan aku datang pun hanya kadang-kadang itupun kalo bukan Ibu yang mengajak.
“Ustadnya masih sama bu?” Tanyaku.
“Masih, Ustad Rival. Walaupun masih muda tapi perkara ilmu agama sih Ibu acungi jempol. Luar biasa bukan penyampainnya mudah dipahami.” Kata ibu yang tengah sibuk merapihkan kerudungnya.
“Ibu udah rapihkan?” sambungnya.
“Udah Bu, udah cantik.” Ujarku sambil melihat wajahnya.
“Lah rambut kamu benerin dulu. Gak pake ciput teh?”
“Gak Bu,”
“Coba Ibu lihat,”
“Kamu ini.” Ibu membenarkan letak kerudungku supaya gak kelihatan rambut lagi.
“Nah udah rapih, yuk bismillah.”
Aku dan ibu berdampingan berjalan ke arah masjid. Kami duduk di bagian belakang yang masih kosong. Aku mengedarkan pandangan, ruangan sudah hampir penuh untuk yang khusus akhwat.
Kajian Islam kali ini membahas mengenai self control. Aku bisa menarik kesimpulan bahwa orang yang sudah bisa self control, dia telah menjalankan hidup yang sesuai dengan perintah Allah. Mengontrol diri untuk tidak menyakiti orang lain misalnya atau hal lainnya yang bisa berakibat pada negatif.
Contoh lain dalam mencapai sesuatu, dulu aku selalu ingin instan karena memilih jalan yang bertahap, mau berproses untuk tetap disiplin dan konsisten sangat melelahkan, tapi seperti namanya segala sesuatu yang instan hilangnya cepat juga.
Sejak itu aku memilih untuk melakukan sesuatu tahap demi tahap, bersabar, perlu disiplin, perlu waktu. Namun, akhinya masya Allah aku mendapatkan sesuatu yang luar biasa, tapi tentu kita hanyalah manusia yang lemah. Kita harus senantiasa meminta pertolongan dari Allah supaya bisa membantu kita dalam mengontrol diri.
Kajian sudah berakhir 10 menit yang lalu, aku mengantri keluar masjid sementara ibu lagi ke toilet dulu. Cuaca begitu panas, ingin sekali aku membuka kerudung, tapi harus aku tahan. Aku memutuskan menunggu ibu di dalam mobil sambil meminum air dingin yang aku beli.
Karena bosan aku main media sosial. Aku jadi teringat sama A Risyad, emang beneran udah nikah? Aku kepo dan langsung mencari akunnya. Ada sih cuma terkunci, nihil. Tiba-tiba ada pesan dari Ibu.
Cintanya Aku
Teh sini ngebaso dulu. Tempatnya yang biasa ya...
Padahal aku ingin cepat-cepat pulang ingin rebahan, tapi aku pun gak bisa menolak. Aku keluar lagi dari mobil. Berjalan kaki dengan lemas. Di sebrang jalan tempat tukang baso langganan ibu, aku melihat ibu dengan sosok yang aku kenal. Aku gak salah lihat kan, dia adalah Bunda Ema, mamahnya A Risyad. Aduh aku malu, gimana ini. Apa aku balik lagi ke mobil?
Sayangnya dari kejauhan ibu melambaikan tangannya menyuruhku ke sana cepat. Meskipun agak kaku, aku berusaha untuk tetap tersenyum ke Bunda Ema. Ibu mengkode untuk salim. Aku pun menurutinya.
“Narel makin cantik aja. Apalagi pakai kerudung gini.”
Aku hanya tersenyum “Bunda apa kabar?”
“Alhamdulillah baik sayang, kamu sehat? Ibumu bilang kamu dirawat?”
“Iya bun, tapi alhamdulillah udah sembuh.”
“Syukurlah, sini duduk.”
Aku duduk di samping bunda sementara ibu hanya senyum-senyum sendiri seperti puas melihatku. Semenjak putus aku selalu menghindar untuk ketemu dengan bunda, aku hanya malu pernah menyakiti anaknya, tapi sikap beliau gak pernah berubah rupanya.
“A Risyad juga ikut kajian tau sayang.”
“Ouh ya?” Mampus masa aku harus ketemu lagi dengan dia.
“Iya sayang,”
“Bunda Ema tu sering tau ikut kajian sama A Risyad. Mereka tuh baru pindah satu bulan yang lalu ke Bandung. Eh waktu itu pas kajian, ibu teh ketemu sama mereka. Akhirnya kita jadi sering ngobrol tanpa kamu ketahui.”
Mata ku membulat, bisa-bisanya ibu gak pernah cerita.
“Ibu ini kok gak pernah bercerita.” Kataku kesal.
“Lagian teteh selalu menghindar kalo berkaitan dengan Bunda Ema dan A Risyad.”
“Ibu ih..” Pekik ku.
“Terus gak cerita kalo A Risyad kerja di klinik yang sama dengan teteh.”
Aku tersenyum “Lupa.”
Ibu bernapas kasar dan bunda terkekeh pelan.Tak lama baso pun sudah terhidangkan. Siang bolong gini makan baso pilihan terbaik. Selang beberapa waktu munculah A Risyad. Dia melihat ke arahku lalu salim ke ibu. Dia duduk di samping ibu dan berhadapan denganku.
“Mau baso atau mi ayam sayang?” tanya bunda.
“Mi ayam aja bun.” Jawab A Risyad
Selain baso di sini pun ada mi ayam dan A Risyad memang dari dulu lebih suka mi ayam. Setelah makan baso dilanjut dengan meminum es jeruk, perpaduan yang sempurna bukan.
“Ibu tahu juga A Risyad udah nikah?” celetuk aku, aku gak perlu lagi menyebut dia dokter lagi pula ini di luar.
Ibu hanya menggeleng, diapun tidak tau.
“Belum menikah sayang.” Ujar Bunda memotong.
“Beneran bun? tapi dia tadi pas ke toko baju aku, dia bawa anak perempuan. Katanya anaknya.”
“Kepo banget sih.” Kata A Risyad yang tengah menghabiskan mi ayamnya.
Akupun menjulurkan lidah ke A Risyad. Aku kesel banget sama dia, bener gak sih dia udah nikah.
“Aa belum nikah kok. Kalo Syarel itu anak yang Aa yang dia adopsi.”
“Hah? Kok bisa?”
“Tau, bunda juga gak ngerti sama pikiran dia.”
A Risyad benar-benar gak beres, bahkan dia belum nikah tapi sudah mengadopsi anak. Pasti ada alasan, aku kenal A Risyad dia bukan tipe yang gampang mengambil keputusan. Selalu penuh kehati-hatian.
“Awalnya bunda juga gak setuju Narel, tapi lama-kelamaan bunda suka sama Sya. Dia sangat menggemaskan, rumah jadi gak sepi lagi. Nanti main dong ke rumahnya bunda.”
“Iya bun, Insyallah.”
“Heem, gapapa atuh hubungan kalian udah berakhir, tapi untuk persaudaraan jangan terputus. Dulu kitakan tetangga, bunda jadi teringat lagi saat kalian masih kecil. Sepertinya itu momen yang paling indah. Betul kan teh?” Ujar Bunda.
“Iya bun, momen yang gak pernah terlupakan. Lihatlah sekarang udah pada besar dan kita uda tua ya bun.” Ibu bergantian melihat aku dan A Risyad.
Bunda mengulum senyum. Aku jadi rindu masa kecil, aku, A Rey dan A Risyad yang hari-harinya hanya main dan main.
Aku dan ibu pamit duluan. Sesampainya di rumah aku bersih-bersih dan istirahat. Ku rebahkan tubuh di kasur, aku yang masih kepikiran kenapa A Risyad mengadopsi anak? Syarel siapa dia? Anak itu kok aku kayak pernah lihat ya, tapi di mana. Aku terus memikirkan membuat pusing aja padahal gak ada urusan dengan ku.
Pintu diketuk “Teh belum tidur?”
“Belum Bu. Masuk aja.”
Ibu masuk ke kamar ku dengan membawa piring ungu berisi buah naga yang sudah dipotong-potong.
“Makasih bu.”
“Sama-sama. Teh Ibu...”
“Apa Bu? Kenapa?”
Sambil makan buah naga aku melihat Ibu yang terdiam begitu saja.
“Engga, Ibu cuma merasa bersalah aja saat melihat kamu dan A Risyad. Kamu memutuskan hubungan karena masalah Ibu.”
“Bu apasih, kita kan udah sepakat untuk gak membahas itu lagi. Udahlah bu, itu hanya hubungan percintaan remaja. Udah berlalu ini.”
“Tapi teh A Risyad di klinik sikapnya ke kamu gimana?”
“Biasa aja sih bu, gak gimana-gimana.”
Sejauh ini sih masih biasa, tapi kalo di luar kaya tadi pas di toko baju. Dia lebih ketus gitu.
“Saat A Risyad dan Bunda Ema pindah ke Bandung lagi, ibu udah jelaskan alasan kenapa kamu putus. Ibu harap mereka mengerti kenapa kamu memutuskan A Risyad. Ibu gak mau mereka menyalahkan kamu, karena yang harus disalahkan jelas Ibu karena dosa besar Ibu di masa lalu.” Tutur Ibu mejelaskan dengan suara paraunya.
“Ibu cerita semuanya? Kenapa Bu?”
Ibu menggelengkan kepala, “Udah gapapa, Ibu ke kamar dulu ya, tidurnya jangan malam-malam teh. Besok kan mau kerja.”
Ibu meninggalkan kamar ku. Aku masih mematung, jadi bunda dan A Risyad sudah tahu kejadiannya bagaimana, tapi itu aib kaluarga khususnya bagi Ibu.