Rasanya Masih Sama

1483 Words
“Pagi dokter.” Aku menyapa A Risyad, hari ini ada perubahan jadwal, A Risyad meminta praktek giginya dari pagi soalnya sorenya dia mau ada kegiatan. Sebagai bawahan aku hanya menuruti. A Risyad gak menjawab, dia lagi membuka tasnya. Aku memperlihatkan dia sedang mengambil sesuatu dari tasnya. Saat dikeluarkan, aku terheran, itukan tempat makan milik aku, kenapa ada di dia? Aku kan ngasih rendangnya untuk Agus. “Rasanya masih sama.” Tuturnya, dia menyimpan kota bekal itu di meja lalu beranjak pergi ke ruangannya. Aku membawa kotak bekal ungu itu, tapi sepertinya ada isinya. Apa ya? Aku kemudian membuka tutupnya dan isinya ternyata makanan favoritku yaitu dadar gulung ubi ungu. Dahulu, bunda sering jualan aneka kue tradisional salah satunya dadar gulung. Aku sangat menyukainya, tapi karena bunda tau aku suka warna ungu dia pun bikin dadar gulung yang kulitnya warna ungu dari ubi khusus untuk aku. Aku menggigit dadar gulung buatan bunda, enak banget. Bunda emang jagonya bikin makanan. Ya bener “Rasanya masih sama.” “Apa yang masih sama?” “Eh Teh Rara, ini teh dadar gulung. Mau?” Aku menawari Teh Rara. “Wih enak nih, kamu bikin sendiri?” Teh Rara mengambil satu dadar gulung dan langsung melahapnya. Aku bingung jawab apa, bisa-bisa ketahuan kalo aku jawab jujur. Aku sangat mengenal Teh Rara orangnya kan kepo abis. Pasti akan jadi perdebatan panjang. Aku balas dengan senyum aja. “Enak banget Rel, mau lagi!” “Iya teh ambil aja, masih banyak kok.” “Makasih, Dokter Risyad udah datang?” “Udah teh, tapi Agus sama Pak Emir kok belum ke sini ya teh?” “Oh, hari ini Pak Emir ada di rumah sakit, Agus juga ikut. “ Selain bekerja di klinik sebenarnya mereka juga bekerja di rumah sakit, kebetulan pemiliknya sama. Aku sempat diberi tawaran, tapi karena waktuku harus dibagi untuk mengelola toko. Jadi aku hanya bekerjanya di klinik. “Okey deh teh.” “Yaudah, teteh ke dalam dulu ya.” Teh Rara memasuki ruangan Dokter Risyad sementara aku menunggu pasien yang mau diperiksa. Satu persatu pasien mulai berdatangan. Sudah 3 tahun aku bekerja di sini, sedikitnya aku mengenali orang-orang yang sering berkunjung ke sini khususnya yang lagi pakai behel. Mereka harus rajin kontrol ke dokter gigi. Namun, karena tiba-tiba ada pergantian dokter baru, aku jadi harus menyampaikan informasi ke pasienya dokter Khairi untuk kedepannya mereka akan jadi pasien Dokter Risyad. Untungnya mereka mengerti. Tadi malam kami sepakat untuk membuat grup dengan pasien, jadi lebih mudah untuk membagikan informasi dan tau siapa saja yang mau periksa gigi. Ide itu muncul dari Dokter Risyad sendiri, dia memang sangat inisiatif. Pasien hari ini didominasi oleh pasien yang mau kontrol behel mulai dari usia remaja sampai dewasa sedang yang lainnya ada anak kecil dan seorang bapak yang mengeluh giginya bolong. “Teh Narel.” “Eh Tiara? Ketemu lagi.” “Iya teh, sekarang nemenin temen. Dia katanya mau pasang behel disini.” “Ouh gitu.” Ku lihat ada seorang perempuan berambut merah muda terang berdiri di sebelah Tiara. “Iya teh, aku mau pasang behel. Jadinya harus gimana ya teh? Tapi teh aku mau konsultasi dulu, bisa? “Bisa-bisa, tapi sekarang harus aku simpan dulu data kamu.” Aku mulai mengisi formulir untuk kebutuhan data pasien. Aku menanyakan, Nama, usia , alamat, sama nomor telepon nanti sama aku dimasukkan ke grup untuk pasien Dokter Risyad. Saat mengisi formulir itu sekilas aku melihat Tiara yang lagi memakai lipstik sambil berkaca. “Ke doker aja harus dandan. Dasar.” Kata Sasa. “Iyalah kan mau ketemu dokter ganteng. Teh kalo dokter Risyad udah punya pacar?” “Hah? gak tau.” Jawabku yang jelas aku mantannya. “Teh dokter Risyad ganteng banget ya.” “Kamu suka sama dia?” Tanya Sasa. “Iya, tapi aku pernah melihat dia bawa anak perempuan. Hot daddy banget, yang lebih tua memang menggoda.” “Heh sadar, ingat pacar Tiara.” Sasa menjitak dahi Tiara. Aku hanya tersenyum tipis melihat Tiara yang memoyongkan bibirnya.Tiara ini masih SMA, aku sudah lama tahu sejak dia pertama kali follow IG aku. Dia juga selegram dengan puluhan ribu pengikut. Dia sering posting macam-macam mulai dari daily life, review berbagai barang sama joget-joget memperlihatkan tubuh langsingnya dengan diiringi lagu-lagu yang lagi viral. “Sasa, nanti dipanggil ya.” “Siap teh.” Mereka berdua kembali duduk di kursi pasien. Sekitar setengah jam keluarlah pasien yang hari ini dia menambal giginya bernama Pak Dedi. Aku lalu menyuruh Sasa untuk masuk ke ruangan Dokter Risyad yang ditemeni Tiara, aku lihat Tiara merapihkan poninya. Dasar bocah, sepertinya dia ingin terlihat menarik di hadapan Dokter Risyad. “Jadi berapa neng?” Tanya Pak Dedi. “250 ribu pak.” “Ini.” Dia meyerahkan uangnya ke padaku yang dia ambil dari saku depannya. “Baik, makasih pak. Hati-hati di jalan.” “Iya neng, mari.” Pak Dedi meninggalkan klinik sedangkan aku kembali duduk menunggu pasien lainnya yang belum datang. Gak lama, Tiara dan Sasa keluar dari ruangan praktek. Mereka berjalan ke arah ku. “Gimana?” “Tadi masih kosultasi sih teh, paling aku siapnya minggu depan pas libur sekolah untuk pasang behelnya teh.” “Ah iya, langsung aja nanti ke sini.” “Iya, gak bayar teh?” “Kalo konsultasi gak Sa.” Jawabku menjelaskan. “Yaudah yuk pulang Tir.” Ajak Sasa. “Gak ah, mau ketemu dokter Risyad terus. Teh boleh ya aku nemenin teteh di sini.” Rengek Tiara. “Hah?” “Udah ayo.” Pekik Sasa menarik Tiara. Aku hanya mengeleng-geleng melihat tingkah laku Tiara. Klinik rencananya tutup sampai siang, tapi karena ada beberapa pasien yang datangnnya terlambat jadi tutupnya lebih dari yang diperkirakan. Aku ingin makan sudah lemas soalnya belum makan dari pagi karena telat bangun, tapi masih harus menunggu satu pasien lagi yang belum selesai diperiksa. Ada anak perempuan yang akan dicabut giginya. Si anak menangis histeris, sampai terdengar ke luar ruangan. Aku pun segera masuk ke ruangan. “Ara, kamu tuh malu-maluin aja. Jangan nangis terus, ayo kamu harus mau dicabut giginya.” Ibu dari anak itu marah dengan mata melotot, si anak menahan nangis dan langsung memeluk A Risyad, A Risyad terlihat kaget. Namun, diapun langsung memeluk erat dan mengusap-ngusap punggung sang anak, mencoba menenangkan. “Ibu tenang dulu ya.” Kata teh Rara “Dia emang anak bandel teh, harus dimarahi terus.” “Mari duduk dulu.” Teh Rara memapah si ibu berkerudung hitam itu. “Narel tolong ambilkan minum.” Aku mengangguk serta meraih air mineral botol yang gak jauh dari tempatku berdiri. “Ini bu.” Ibu itu meneguk air, dia mengehela napas. “Maaf saya jadi meledak-ledak gini. Akhir-akhir ini saya lagi banyak pikiran karena rumah tangga saya berantakan, suami saya selingkuh.” Aku dan Teh Rara saling bertatapan. Kami bingung harus jawab apa. “Ara, maafin ibu. Ayo kita pulang aja.” Ibu menarik lengan anaknya. “Dok nanti saya ke sini lagi.” “Baik bu.” Aku duduk lemas, aku jadi teringat Ibuku sendiri. Ibu juga tukang selingkuh, bahkan dia terang-terangan yang pertama menggoda suami orang. Itulah awal mula keluarga kami hancur, tapi aku juga menyadari ada keluarga lain dari selingkuhan Ibu, mereka juga sama hancurnya. Ibu memulai perselingkuhan kepada atasannya saat aku masih SD, selama bertahun-tahun dia menyembunyikanya. Hingga satu hari setelah A Risyad dan keluarga pindah ke Jakarta, akhirnya perlakuan b***t ibu terbongkar. Betapa kacaunya saat itu, aku yang masih menjalin hubungan LDR dengan A Risyad berakhir kandas. Aku gak berani jujur pada A Risyad, aku takut dia khawatir, aku gak mau dia kepikiran, aku hanya ingin dia fokus mengejar mimpinya di sana. “Di mana-mana terjadi perselingkuhan. Dulu juga ya pacar teteh, diselingkuhi. Ceweknya kegatelan. Ih najis.” Geram Teh Rara. Mendengar itu aku jadi semakin lemas, gimana kalo teh Rara tau perbuatan ibuku? “Narel kamu gak papa kan?” Teh Rara melihatku begitupun A Risyad. “Gapapa teh, cuma lapar.” Kataku lemas. “Yaudah yuk, kita makan. Sama teteh juga. Dok mau ikut?” “Gak, saya duluan ya. Makasih untuk hari ini.” A Risyad melepas masker lalu memakai jaket. Dia pun pergi, dia mau kemana ya?” Aku dan teh Rara akhinya memutuskan untuk makan ayam goreng yang ada di samping klinik. Biasanya kami sering pesen makan online, tapi karena udah keburu lapar berakhirlah di sini. “Habis ini mau kemana Narel?” “Pulang kayaknya teh.” “Gak main gitu?” “Gak teh.” “Mainlah Rel, sama siapa kek. Jangan fokus kerja mulu.” Aku hanya bisa tersenyum. Semenjak pindah dari kampung halaman, aku jarang main. Fokusku hanya bekerja dan bekerja. Aku juga udah gak punya teman. Beda seperti dulu, aku jarang berada di rumah, entah itu kencan bareng A Risyad atau nongkrong bareng teman-teman pas sekolah. Namun, semenjak orang-orang tau akan perlakuan Ibu, satu persatu temanku mulai menjauh, mereka membenciku karena anak dari tukang selingkuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD