Masa Lalu Bukan Pemenangnya

1342 Words
Setiap Jumat aku dan ibu selalu menyempatkan berziarah ke makam ayah dan A Rey. Namun, karena ibu lagi gak enak badan jadinya aku berangkat sendiri. Aku menghela napas, aku kesal sama diriku sendiri yang masih belum menemukan siapa pelaku tabrak lari yang menewaskan ayah dan A Rey tahun lalu? Hari itu padahal hubungan keluarga aku sudah perlahan membaik, ayah sepakat untuk rujuk kembali dengan ibu. Aku tahu gak mudah bagi ayah menerima ibu kembali, tapi ayah tetap mau sama ibu. Dia selalu menjadi pelindung kami, di saat orang-orang mencemooh kami karena perlakukan ibu, tapi ayah selalu berusaha menjaga nama baik keluarga. Padahal aku tau, dia juga terluka berat. Kadang-kadang aku juga benci sama ibu, kok bisa dia tega menghianati ayah, tapi itu gak ada akhirnya. Bagaimanapun dia tetap ibuku, aku ingin berusaha untuk menghilangkan kebencian ini pada ibu. Aku gak bisa meninggalkan ibu sendirian, sebelum meninggal Ayah berpesan ke aku untuk selalu menjaga ibu. Setelah pulang dari makam, aku mampir ke supermarket dulu membeli kebutuhan bulanan. Saat aku mengambil beberapa buah segar, dari belakang seseorang menyapaku. “Narel,” “Eh bunda.” Aku salim ke Bunda Ema. “Sendirian aja Rel?” “Iya bun, soalnya Ibu lagi gak enak badan.” “Semoga cepat sembuh ya.” “Aamiin. Bunda juga sendirian?” tanya ku balik Dia menggelengkan kepala “Bunda bareng calonnya A Risyad, tapi dia lagi beli mainan buat Sya.” Ujar bunda sumringah. Hatiku benar-benar sakit mendengar itu, rupanya A Risyad udah ada wanita lain. “Tuh orangnya.” Aku melihat seorang perempuan cantik, tinggi, berkulit putih, mukanya seperti keturunan Arab. Dia memakai gamis dan kerudung yang panjang yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia tersenyum ke arahku. “Satin ini Narel, dia teman masa kecilnya A Risyad.” Kata bunda “Hallo, salam kenal Narel.” Tuturnya dengan lemah lembut. “Salam kenal juga teh.” Aku menyalami Teh Satin, sepertinya usia dia lebih tua dariku. “Satin ini dulu teman sekelasnya A Risyad loh Narel pas kuliah di UI.” Bunda menceritakan sambil kami bersama-sama berjalan ke tempat kasir. “Dokter juga teh?” Tanyaku sambil melihat ke Teh Satin. “Iya, alhamdulilah Narel. Aku jadi dokter gigi di tempat ayah di Bandung.” Aku mengangguk. Apa ini alasan kenapa A Risyad pindah ke Bandung karena ada Teh Satin ya? Ah sudahlah. Setelah membayar aku pamit duluan ke bunda dan Teh Satin. Di dalam mobil aku merasa sesak dan akhirnya air mataku tumpah seketika. Aku menangis tanpa bersuara, A Risyad udah punya calon. Apalagi bunda sangat menyukai Teh Satin. Benar ya kata orang, masa lalu gak akan jadi pemenangnya. Aku udah gak punya kesempatan lagi untuk bersama dengan A Risyad. Kesan pertama aku melihat Teh Satin, dia orang yang menyenangkan. Cara bicaranya begitu lemah lembut, sangat ramah dan murah senyum. Pantas A Risyad menyukainya, Teh Satin gak semenyebalkan kayak aku. Aku buru-buru menghapus air mata dan mengendarai mobil menuju rumah. Sesampainnya di rumah aku langsung masak dan buat bubur untuk ibu sekalian menyimpan belanjaan ke dalam kulkas. Aku membawa bubur yang sudah matang ke kamar ibu, tapi ibu sepertinya lagi di kamar mandi. Aku menyimpan bubur itu di meja kamar saja, tak sengaja aku lihat sebuah foto anak lelaki terpajang di meja. Aku meraih foto ini, ini kan foto A Reyhan waktu masih kecil. Pantas aku gak asing saat lihat Syarel, karena dia ternyata mirip A Reyhan. Kok bisa ya? Mungkin ini dugaan aku aja. Aku kembali meletakan foto itu dan keluar kamar Ibu. Sekarang aku mau siap-siap dulu sebelum mengantar Ibu ke rumah sakit. Setelah siap aku dan ibu menaiki mobil, pagi ini jalanan macet ditambah cuaca yang sangat panas membuatku pusing, apalagi hari pertama datang bulan lengkap sudah menguji kesabaranku. Waktu yang ditempuh ke rumah sakit karena macet hampir dua jam. Aku memarkirkan dulu mobil di tempat parkir yang sedikit membuatku kesulitan mencari tempat kosong. “Teh mau nunggu di mobil aja?” “Gak dong Bu, ayok aku temenin.” Aku berjalan bersama ibu ke rumah sakit. Ibu diperiksa oleh dokter langganan keluarga kami, yaitu Dokter Arifin. Katanya asam urat ibu naik lagi, pantas beberapa hari yang lalu ibu mengeluh sendinya sakit. Setelah membayar obat, kami pun pergi meninggalkan rumah sakit. Aku mengantarkan dulu ibu sebelum ke toko baju. Aku memapah ibu menuju kamarnya “Ibu gapapa aku tinggal sendiri? Atau aku gak berangkat aja?” “Udah Ibu gapapa teh. Teteh pergi aja.” “Yaudah, aku juga gak akan lama kok nanti balik lagi.” Ibu mengangguk, dia lekas merebahkan badannya di kasur. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Saat memasuki mobil, aku baru menyadari tumbler ungu aku hilang. Aku ingat-ingat kembali, sepertinya tertinggal di rumah sakit. Terakhir aku simpan di meja Dokter Arifin. Dasar Narel, penyakit cerobohnya gak sembuh-sembuh. Aku pun kembali ke rumah sakit, aku gak mau kehilangan tumbler itu, karena itu adalah pemberian saat ulang tahunku yang ke-17 dari A Rey. Di parkiran rumah sakit keram perut mulai terasa. Aku bersandar dulu pada kursi mobil, saat aku memejamkan mata, samar-samar terdengar keributan di parkiran. Aku coba mengintip di kaca jendela mobil. Rupanya ada adu mulut dua siswa berseragam putih abu, tapi satu diantara mereka aku mengetahuinya, dia Tiara. Aku pun tak memperdulikan, sepertinya hanya pertengkaran orang yang lagi pacaran. Aku kembali untuk memejamkan mata. Namun, suara teriakan membuatku kaget. Aku melihat Tiara diseret ke dalam mobil oleh pria, mobil pun melaju. Ada apa ini? Aku harus gimana ini? Haruskan aku kejar? Aku segera lari keluar dari mobil dengan perut keram yang membuatku meringis. Aku pergi meninggalkan parkiran rumah sakit, aku tau di sebrang rumah sakit ada pangkalan ojek. Aku hanya perlu pergi pakai motor saja biar cepat. Saat aku berlari, ada motor yang berhenti di hadapanku. Membuatku kaget. “Astagfirullah Narel!” “A Risyad?” “Hati-hati dong, kamu ini.” “Maaf A aku buru-buru.” “Mau kemana?” Aku menghentikan langkah, lalu menghampiri A Risyad. “A bantuin aku ya?” “Hah?” Aku pun menaiki motor A Risyad. “Turun gak!” “A Tiara di culik.” “Tiara siapa? “Dia pasien Aa yang waktu itu. Ayo A kita kejar. Cepet.” “Tapi,” “Udah cepet. Aku takut dia kenapa-napa.” Untungnya A Risyad mau menuruti. Dia pun segera menancapkan gas. “Emang beneran diculik?” “Iya A, pokoknya ikuti mobil yang merah itu.” Mobil yang ditumpangi Tiara masih bisa dikejar. Namun, mobil itu parkir di mini market, motor A Risyad pun ikut parkir. Aku segera turun dan menghampiri mobil. Aku mengetuk pintu mobil. Saat dibuka, aku melihat Tiara yang sudah pucat, di dahinya lebam-lebam. “Teh Narel?” “Tiara kamu kenapa?” “Eh, gapapa ko teh.” Dia berusaha tersenyum. “Siapa?” Kata si cowoknya. “Ini teh Narel, seorang perawat.” “Tiara ayo turun,” Kata ku tegas. Ada yang gak beres sama mereka. Tiara mengigit bibirnya, dia gak merespon. “Kamu jangan macam-macam ya sama Tiara.” Ancam aku sama si cowok. “Aku pacarnya teh, Ya kali. Udah ya. Kami pergi dulu. Mobilpun melaju. Aku kembali ke A Risyad yang tengah menaiki motornya. “A ayo kejar mereka.” “Kejar aja sendiri. Saya buru-buru.” “Tapi A Risyad mereka...” “Apa? Saya duluan.” A Risyad pergi begitu aja, tapi kekhawatiranku masih belum hilang. Kemana cowok itu membawa Tiara? tapi akumemutuskan untuk ke rumah sakit lagi. Aku kembali ke rumah sakit memakai ojek online. Jarak dari minimarket ke rumah sakit tidak terlalu jauh. Aku turun tepat di depan rumah sakit. Segera masuk ke ruangan Dokter Arifin untuk membawa tumbler, dan betul saja ternyata ada. “Dok aku pamit ya.” “Iya neng, hati-hati.” Tiba-tiba ada notifikasi, aku merogoh telepon di saku celana. Ternyata ada pesan dari Tiara. Tiara Teh tolong aku, tolong ke sini Aku langsung menelpon Tiara, tapi dia tidak aktif, aku pun tak ragu untuk segera ke tempat di mana Tiara mengirimkan alamatnya. Aku pergi dengan keadaan gak tenang semoga Tiara gak kenapa-napa. Ya Allah tolong lindungi Tiara
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD