Kepanikan menghantuiku sampai-sampai aku mau menabrak mobil yang ada di depan. Napasku berderu cepat beserta keringat keluar di plipis ku, aku takut Tiara kenapa-napa. Begitu sampai di lokasi yang dikirimkan dari Tiara, aku segera turun dari mobil. Ini adalah daerah Lembang, aku melihat sekeliling tapi belum juga menemukan mobil yang membawa Tiara.
Aku berjalan menyusuri rumah-rumah dan langkahku terhenti di sebuah rumah mewah bertingkat, aku melihat ada mobil merah itu. Iya gak salah lagi, aku segera berjalan menuju pintu depan. Aku membunyikan bel rumah beberapa kali, dan akhirnya pintu itu dibuka.
“Siapa ya?”
“Ustad Rival?”
Lah kenapa Ustad Rival ada di rumah ini? Aku baru melihat Ustad Rival berbeda, biasanya di setiap dakwah dia pakai baju koko, kali ini dia hanya pakai kaos hitam polos dengan celana selutut.
“Hallo?”
Aku tersadar dari lamunan “Aku cari Tiara.”
“Tiara? Oh ada di dalam.”
“Hah? Ustad ngapain Tiara?”
“Maksud kamu?”
“Jangan macam-macam ya sama Tiara!” Jari telunjukku mengarah ke mukanya.
Aku pun buru-buru memasuki rumahnya, aku curiga dia yang menculik Tiara.
“Kamu gak sopan ya. Astagfirullah.”
Aku gak memperdulikan Ustad Rival. Aku melihat ke setiap sudut ruangan dan berteriak memanggil Tiara.
“Tenang dulu, Tiara ada di atas. Kamu siapanya Tiara? Temen sekolahnya?”
“Ya kali aku lebih tua dari Tiara. Umurku udah 27 tahun.” Gila aja, udah tua gini. Sebentar lagi kepala tiga, tapi ada bagusnya juga dia mengira aku seumuran dengan Tiara. Berarti aku kelihatan muda dong.
Ustad Rival menelan salivanya. Dia menggaruk keningnya.
“Maaf.” Ujarnya pelan.
“Kenapa Ustad Rival menculik Tiara?”
“Menculik? Apasih? Masa saya menculik adik saya.”
“Apa?”Aku menganga kaget.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Tadi Tiara dibawa oleh pacarnya terus dia minta tolong ke aku. Terus aku susul dia karena alamat yang dia kirim ke daerah sini.” Aku memperlihatkan google maps ke Ustad Rival.
“Itu kayaknya rumah pacar dia, Tiara udah pulang kok.”
“Teh Narel?”
Aku melihat Tiara dari arah samping, ku lihat dahi dia ditempeli plester. Aku segera memeluk Tiara.
“Tiara kamu gak papa?”
“Gapap teh. Ayo teh ikut aku ke atas.”
Dia menarik tanganku sementara Ustad Rival meninggalkan kami, gak memperdulikan. Aku bisa mengetahui hubungan yang kurang baik antara Ustad Rival dan Tiara.
Aku kini berada di kamar Tiara. Kamarnya bernuansa vintage, di dinding kamar dipenuhi foto dirinya dengan sang pacar.
“Apa yang terjadi?”
“Tadi itu aku mau dibawa ke rumahnya Raka, pacar aku. Aku takut jadi aku minta tolong teteh, tapi untungnya Dokter Risyad bantu aku.”
“Dokter Risyad?”
“Iya,”
“Dokter Risyad paksa Raka untuk turun dari mobil. Akhirnya mereka sempat berantem. Terus Dokter Risyad yang mengantarkan aku ke sini deh. Motor dia ditinggal begitu aja.”
“Terus dokter Risyad?”
“Dia pergi, tapi aku khawatir teh. Dokter Risyad kena pukulan Raka.”
“Tiara lihat aku? Kamu diapain sama Raka hah?”
Dia menggelang. “Gak ko teh.”
Dia berbohong, aku menarik tangan Tiara melihat luka lebam yang ada di tanggannya.
“Ini apa Tiara? Kamu di pukul sama Raka?”
Tiara menyembunyikan tangannya. “Gak kok teh, aku... Ini mah tadi aku jatuh.” Dia menyengir.
Aku menghela napas, Tiara ini aku tebak berusaha mempertahankan hubungan meskipun Raka bersikap buruk pada dia. Apa yang membuat dia seperti ini? Bukannya bisa dengan mudah Tiara meninggalkan Raka. Tiara bukan orang biasa, dia cantik, udah bisa cari uang sendiri, terkenal lagi. Siapa yang gak mau sama dia? Apa Raka mengancamnya?
“Teh Narel, aku seneng banget teteh mau memperdulikan aku. Aku kayak punya saudara.”
Aku tersenyum ke Tiara “Kan kamu juga punya kakak juga bukan? Ustad Rival?”
“Dia membenci aku teh karena kesalahan aku.”
Jadi aslinya Ustad Rival begitu ya? Di luar aja dia baik ke orang-orang, tapi ke adiknya sendiri malah sebaliknya. Dasar.
“Yaudah Tiara, aku pulang dulu ya. Kalo ada apa-apa hubungi aja.”
“Okey deh teh, makasih ya teh.”
Aku keluar kamar Tiara dan menuruni tangga. Rupanya ada Ustad Rival yang tengah membaca buku. Aku perhatikan dia membaca buku Jalarudin Rumi, sebuah buku yang menjadi list aku untuk dibaca hanya saja aku belum punya waktu untuk ke Gramedia.
“Ustad”
“Iya”
“Maaf tadi aku salah sangka.”
“Iya gapapa.”
“Tapi ya Pak Ustad nih ya adiknya dijagain dong. Kan ustad sendiri yang bilang jangan terlalu membenci seseroang gimana sih.”
“Kamu gak usah ikut campur, kamu gak tau apa-apa.”
“Yaudah, aku pamit. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aku pun pergi meninggalkan rumah Tiara. Di sepanjang jalan, aku kali ini mengkhawatirkan A Risyad, dia baik-baik aja kan?
Aku kembali rumah saja, ke toko baju bisa lain kali. Aku ingin melihat ibu, rupanya dia sedang tidur jadinya aku ke kamar untuk mandi dulu sebelum ke klinik. Setelah siap-siap, aku pun berangkat bekerja.
Aku turun dari mobil dan saat aku berjalan di parkiran. Seseorang menegurku. Aku melihat ke belakang rupanya A Risyad.
“Dokter Risyad?” Aku melihat bibir A Risyad terluka.
“Dok baik-baik aja?”
“Gak lah, gara-gara kamu saya jadi terluka.”
“Kok jadi gara-gara aku?”
“Kamu tuh ya selalu membuat saya terluka.”
“Dih gak jelas.”
“Nih pakai!” Dia memberikan jaket ke aku.
“Apaan?”
“Tembus.”
“Hah?” aku segara melihat ke belakang. Betul saja, darah heid menembus celana jeansku. Untungnya gak begitu banyak, aku pun segera meraih jaket A Risyad dan menutupi celanaku.
“Neneng pake jilbab sih iya, tapi pakai baju tuh yang bener. Pendek gitu.”
Ya setelan aku hari ini pakai crop top rajut ungu dengan motip bunga yang dipadukan dengan jeans.
“Terserah, ngomel-ngomel mulu, kamu bukan suami aku.”
“Lihat aja nanti.” Ujar A Risyad yang terlebh dahulu berjalan mendahuluiku.
Kayak yakin aja dia jadi suami ku. Padahal dia udah ada Teh Satin, dasar. Baru aja aku teringat Teh Satin, dia sekarang malah berada di klinik bareng bunda. Ngapain ya?
“Bunda ko di sini?” Tanya A Risyad
“Iya habis pulang pengajian dengan Satin. Jadi bunda mampir dulu sekalian bawa makanan. Narel?”
Aku salam ke bunda dan tersenyum ke Teh Satin. Tampaknya mereka makin dekat aja. Aku mencoba menghiraukan, aku harus kembali fokus bekerja. Setelah pukul 8 malam, akhirnya beres juga. Aku ingin cepat-cepat pulang. Aku menghampiri dulu bunda.
“Bun, aku pamit ya.”
“Loh, ayo makan dulu. Lihat bunda bawa kue-kue nih ayok.”
“Tapi bun,”
“Iya Narel, makan dulu kuenya.” Sambung Teh Satin menawariku.
Aku gak enak untuk menolak. Akhirnya aku pun menuruti. Di Ruangan dokter Risyad, kami berkumpul, selain Teh Rara dan Pak Emir, hanya Agus yang gak datang ke klinik. Dia katanya sakit.
Kami berlima pun duduk di sebuah sofa dengan mencicipi kue-kue yang dibawakan bunda. Aku mengambil kue soes coklat kesukaan ku. Tiba-tiba dokter Risyad memberiku tisu.
“Kayak anak kecil aja.”
Sepertinya dia melihatku belepotan. Aku meraih tisu yang dia berikan.
Pak Emir, Teh Rara dan bunda terkekeh. Berbeda dengan Teh Satin yang sepertinya dia gak suka melihat perhatian A Risyad ke aku, duh aku merasa bersalah.
“Enak sekali kue nya Bu.” Ujar Pak Emir.
“Alhamdulillah, calon mantu Ibu yang pilihin.” Kata bunda dengan melihat ke arah Teh Satin.
“Jangan lupa mengundang kita ya.” Kata Teh Rara.
“Ouh jadi Teh Satin ini sama dokter Risyad rupanya.” Ujar Pak Emir yang sedang membuka tutup dari pudding mangga di tangannya.
Aku melihat Teh Satin tersenyum malu-malu. Lagi-lagi aku tertampar realita, A Risyad udah milik Teh Satin.
“Ah bukan. Satin ini teman saya Pak Emir waktu kuliah. Hanya teman, lagian saya masih mencintai seseorang.” Tutur A Risyad.
Bisa-bisanya dia dengan santai ngomong gitu di depan Bunda dan Teh Satin.
“Waduh siapa tuh?” Tanya Teh Rara kepo.
A Risyad melihatku dengan tajam sambil mengunyah donat cokelat di mulutnya. Siapa yang masih dia cintai? Aku? Ah jangan kepedean Narel.