bc

Rumah yang tak Selalu Hangat

book_age12+
1
FOLLOW
1K
READ
family
HE
drama
tragedy
serious
like
intro-logo
Blurb

Sasa adalah anak yang tumbuh tanpa benar-benar mengenal arti masa kecil. Di saat teman-temannya tertawa dan bermain, ia justru belajar menjadi “anak baik”—patuh, rajin, dan tidak pernah boleh salah. Sepulang sekolah, ia membantu orang tuanya berjualan sembako, menjalani hari demi hari tanpa pernah mengeluh.

Namun di balik kepatuhannya, Sasa menyimpan luka. Baginya, kata “sayang” sering datang bersama rasa sakit. Hingga suatu hari, sebuah kesalahan kecil membuatnya mempertanyakan segalanya—benarkah kasih sayang harus menyakitkan?

Pertemuannya dengan Rani perlahan membuka pandangan baru. Untuk pertama kalinya, Sasa merasakan perhatian yang hangat tanpa rasa takut. Dari situlah, ia mulai belajar bahwa dirinya berhak untuk merasa, berhak untuk didengar, dan berhak untuk tidak selalu kuat.

Di antara ketakutan dan harapan, Sasa dihadapkan pada pilihan besar: tetap bertahan dalam luka, atau melangkah pergi demi menemukan arti “rumah” yang sebenarnya.

Sebuah kisah tentang luka yang tersembunyi, keberanian kecil yang berarti besar, dan perjalanan seorang anak menemukan bahwa kasih sayang… seharusnya tidak menyakitkan.

chap-preview
Free preview
Ketika Sayang Terasa Menyakitkan
Sasa tumbuh seperti bayangan yang berjalan pelan di tengah keramaian. Ia ada, tapi tak pernah benar-benar terlihat. Sejak kecil, ia tidak pernah mengerti seperti apa rasanya bersenang-senang seperti teman-temannya. Tawa mereka terdengar jauh, seolah berasal dari dunia yang berbeda—dunia yang tidak pernah ia miliki. Setiap pagi, Sasa bangun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia membantu ibunya menyiapkan dagangan—mengikat sayur, menimbang beras, dan menata lauk sederhana yang akan dijual di warung kecil mereka. Ayahnya sudah sibuk sejak dini hari, mengangkat karung-karung sembako dengan wajah lelah yang jarang sekali tersenyum. Sasa adalah anak yang rajin dan patuh. Ia tidak pernah membantah, tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika tubuhnya terasa lelah setelah seharian sekolah, ia tetap pulang dengan langkah cepat, bukan untuk bermain seperti anak-anak lain, melainkan untuk membantu orang tuanya berbelanja kebutuhan toko. Di jalan pulang, sering kali ia melihat teman-temannya berlari, tertawa, atau sekadar duduk santai sambil bercerita. Kadang ada rasa ingin berhenti, ingin ikut duduk bersama mereka, ingin merasakan apa itu kebebasan. Namun langkahnya selalu ia percepat. Dalam pikirannya hanya ada satu hal—ia harus pulang. “Sasa anak baik,” begitu kata ibunya suatu hari. Kalimat itu sederhana, tapi Sasa menyimpannya seperti harta. Ia percaya, menjadi anak baik berarti harus selalu patuh. Berarti harus selalu membantu. Berarti tidak boleh salah. Hari itu, seperti biasa, Sasa pulang sekolah dengan membawa daftar belanja dari ibunya. Ia berjalan ke pasar, membeli beberapa kebutuhan, dan mengikatnya dalam kantong plastik yang cukup berat untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Matahari mulai condong ketika ia berjalan pulang. Namun di tengah perjalanan, tanpa sengaja, ia tersandung batu kecil. Kantong plastik yang ia bawa terlepas dari tangannya. Beberapa barang jatuh dan berserakan. Sebagian sayur menjadi kotor, dan satu botol minyak pecah di jalan. Sasa panik. Tangannya gemetar saat mencoba mengumpulkan barang-barang itu kembali. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu ini kesalahan. Ia tahu ini tidak seharusnya terjadi. Dengan langkah pelan, ia pulang. Begitu sampai di rumah, ayahnya langsung melihat keadaan barang bawaan itu. Wajahnya berubah. Amarah yang selama ini tersembunyi seperti menemukan jalan keluar. “Apa ini?” suara ayahnya meninggi. Sasa menunduk. “Maaf, Yah… Sasa jatuh tadi…” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan keras ayahnya sudah mendarat di tubuh kecilnya. Satu pukulan, lalu pukulan lain. Sasa terhuyung, mencoba menahan sakit, tapi tubuhnya terlalu lemah. “Ayah begini karena sayang sama kamu!” teriak ayahnya. “Kalau kamu dibiarkan terus berbuat salah, berarti ayah dan ibu tidak sayang!” Pukulan itu terus datang, seolah setiap kesalahan kecil harus dibayar mahal. Sasa tidak melawan. Ia hanya bisa menangis sesenggukan, suara tangisnya tertahan di antara rasa sakit dan ketakutan. Dalam hatinya, ia mencoba memahami. Sayang. Kata itu terdengar begitu berbeda dari yang ia rasakan sekarang. Setelah ayahnya berhenti, suasana rumah menjadi sunyi. Tidak ada yang mendekat, tidak ada yang memeluk. Sasa perlahan berdiri, tubuhnya gemetar, lalu berjalan menuju kamarnya. Kamar itu kecil. Hanya ada tikar tipis sebagai alas tidur. Tidak ada hiasan, tidak ada mainan. Ia duduk di sana, memeluk lututnya, dan akhirnya menangis tanpa suara. Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipinya yang masih terasa perih. Di tengah tangis itu, pertanyaan mulai muncul dalam benaknya. “Apakah iya karena sayang…?” Ia mengingat kata-kata ayahnya. Berulang-ulang. Kalau ini sayang, kenapa rasanya sakit? Kalau ini sayang, kenapa ia merasa sendirian? Sasa menunduk, suaranya lirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Lantas… aku harus memilih kasih sayang seperti apa…?” Ia ingin disayangi. Tapi bukan seperti ini. Ia ingin ditemani bermain, seperti teman-temannya. Ia ingin pulang dengan cerita, lalu didengarkan. Ia ingin tertawa tanpa takut melakukan kesalahan. Namun keinginannya terasa begitu jauh. Seolah itu bukan untuknya. Hari demi hari, Sasa tetap menjadi anak yang sama. Ia tetap bangun pagi, tetap membantu orang tuanya, tetap pulang cepat setelah sekolah. Tidak ada yang berubah, kecuali satu hal—di dalam dirinya, ada ruang kosong yang semakin besar. Ruang yang seharusnya diisi dengan tawa, dengan cerita, dengan rasa aman. Kadang, saat ia melihat anak-anak lain tertawa, ia tidak lagi merasa ingin bergabung. Ia hanya memandang dari jauh, seperti seseorang yang sudah menyerah untuk berharap. Namun jauh di dalam hatinya, ada bagian kecil yang masih bertanya. Apakah suatu hari nanti, ia bisa merasakan kasih sayang yang tidak menyakitkan? Apakah ada dunia di mana ia bisa menjadi anak kecil yang sebenarnya—yang boleh salah, yang boleh lelah, yang boleh tertawa tanpa rasa takut? Malam itu, Sasa berbaring di atas tikar tipisnya. Matanya masih sembab. Ia menatap langit-langit yang kosong, seperti mencoba mencari jawaban di sana. Namun yang ia temukan hanya diam. Dan dalam diam itu, Sasa perlahan memejamkan mata, membawa satu pertanyaan yang belum terjawab hingga ia tertidur— Jika ini yang disebut sayang… mengapa rasanya seperti kehilangan?

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.1K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
4.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
19.6K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
7.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook