Bab 3. Jeritan hati Sania.

1467 Words
"Alhamdulilah Nona sudah siuman," suara pelan Bastian. Dengan memberi isyarat agar bibi Syanti meninggalkan kamar. Sania diam. Ia tak menjawab pertanyaan Bastian. Ia menatap Bastian dengan lekat. Ingatannya mulai kembali normal. Ia baru paham siapa laki-laki di depannya. Sania dengan cepat menutup matanya dengan telapak tangannya. "Pergii ...!" teriak Sania dengan histeris. "Kenapa kamu tak membiarkan aku mati saja? Pastinya kamu juga gerombolan laki-laki biadab itu, kan?" Sania mendudukkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tanganya. Tubuhnya berguncang-guncang dan terdengar tangisan histeris Sania. Bastian dengan sedikit ragu melangkahkan kakinya mendekati Sania yang nampak ketakutan. "Jangan takut, saya orang baik-baik," Bastian meyeret kursi yang ada didekatnya dan duduk menghadap Sania berbaring. "Maafkan saya, memang mereka teman-temanku. Tapi aku tak ikut melakukannya. Dia salah sasaran, aku akan bertanggung jawab dengan semua itu." Dengan cepat Sania membuka telapak tangannya dan menatap wajah Bastian dengan tersirat penuh kebencian. Rasa pusing hilang seketika. Ia segera menghapus air matanya dan menyibakan selimutnya untuk turun dari ranjang. "Semudah itu kamu bilang tanggung jawab setelah aku ternoda dengan teman-temanmu yang biadab itu!" teriak Sania lagi dengan mata memandang tajam Bastian. Sania turun dari ranjang dan melangkah hendak pergi. Tiba-tiba Bastian meraih tangan Sania. "Aku akan bertanggung jawab," ungkap Bastian lagi dengan memegang erat-erat pergelangan tangan Sania tanpa memandang Sania, "Aku akan menikahi kamu!" lanjut Bastian. tetap pandangan lurus ke depan tanpa memandang Sania. Sania tersentak. Sudut matanya memandang laki-laki yang masih memegang erat pergelangan tangannya. "Lepaskan ...!" teriak Sania dengan nafas terengah-engah menahan amarah. Namun Bastian tak melepas tangan Sania. "Lepaskan ...!" Teriak Sania lagi. Dengan berusaha menarik tangannya dari pegangan erat Bastian, "Aku akan teriak. Biar warga di sekitar akan memukuli kamu. Dan aku akan bilang kalau aku korban kebiadaban kamu dan teman-temanmu!" teriak Sania dengan menarik tangannya hingga terlepas dari tangan Bastian. Sania berlari kecil dengan tertatih-tatih menahan sakit mendekati pintu. Ia sekuat tenaga menarik gagang pintu. Ia dengan panik berteriak. Dengan memutar-mutar gagang pintu. "Kenapa pintunya kau kunci?!" Sania dengan menatap tajam Bastian yang berdiri mematung dengan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Dan menatap Sania yang duduk simpuh di depan pintu sambil menangis tersedu-sedu. "Percuma kamu teriak sampai suaramu habis, tak bakalan ada orang yang mendengar. Di sekitar sini tak ada warga, dan rumah ini tertutup pagar tinggi," Bastian dengan nada santai menjelaskan pada Sania. Ucapan Bastian membuat Sania semakin kesal. Ia merasakan Bastian sepertinya menganggap remeh apa yang dialami Sania, Dan menganggap hal kecil. "Kamu jahat, apa salahku hingga kamu dan teman-temanmu merenggut kesucianku?"suara Sania diiringi dengan isakan tangis, "Bunuh saja aku, bunuh saja aku ...!" Sania dengan memukul-mukul pintu. Bastian terdiam. Ia memandang Sania dengan tatapan iba. Tak terbiasa ia mempunyai perasaan seperti itu terhadap siapa pun yang ada di depannya. Bastian seorang pembunuh berdarah dingin. Ia tak segan-segan menghabisi nyawa siapa pun yang dianggap salah. Apalagi saingan bisnis hitamnya. Semua itu dilakukan sebab kelamnya masa kecilnya. Bastian melangkah pelan mendekati Sania dengan duduk jongkok mensejajarkan posisi Sania. "Percayalah aku akan menikahimu," ucapnya tiba-tiba lembut. Sania mendongakan kepalanya dengan pelan. Ia menatap tajam Bastian. "Segampang itu kamu ucapkan pernikahan. Sedangkan pernikahan itu atas dasar cinta. Bukan karena iba. Kamu kasian kan, sama aku? Maka kamu menikahiku?" Bastian menggeleng dengan pelan. Tiba-tiba terdengar suara ponsel dari saku Bastian. Bastian berdiri dengan merogoh saku celananya. "Ya halo ...! Aku segera ke sana!" "Sania, berdirilah. Namamu Sania Kan? Jangan kaget aku menemukan KTP kamu." Bastian membuka dompetnya dan menyodorkan benda kecil ke arah Sania. "Ini KTP kamu, aku temukan waktu peristiwa itu terjadi." Dengan kasar Sania meraih kartu itu. Dan melirik wajah Bastian penuh kebencian. Bastian mencoba membantu Sania berdiri. Namun dengan sigap Sania menepis tangan Bastian. "Jangan sentuh aku!" suara kasar Sania dengan berusaha berdiri. "Sani ...! Bersiaplah, besok aku akan menikahi kamu. Aku tak mau ada ucapan keluar dari mulut kamu dengan ucapan penolakan. Dan ingat jangan sekali-kali berusaha kabur dari rumah ini, itu akan membahayakan dirimu. Di samping itu, ini kota besar, diluar banyak kekerasan. Dan aku tak akan mengunci kamar ini, kamu bebas melakukan apa saja di dalam rumah ini," pesan Bastian melangkah hendak keluar kamar. "Aku harus pergi, ada hal penting yang harus aku selesaikan. Tiba-tiba Bastian menghentikan langkahnya dengan menoleh ke arah Sania lagi. "Kalau kamu ingin apa-apa panggil bibi Syanti. Tinggal pencet tombol di belakang pintu ini." Bastian keluar. Meninggalkan Sania yang berdiri terpaku tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. "Laki-laki biadab, b******k!" umpat hati Sania dengan kedua tangannya mengepal. Sania hendak berlari ke arah jendela. "Auhhh ...! Kenapa selakanganku sakit dan perih kalau untuk berjalan. Dan bawah pusar terasa sakit sekali," rintih Sania. Dengan tertatih-tatih dan memegang perutnya Sania berusaha berjalan mendekati jendela. Siapa tau di luar sana ada orang lewat, ia ingin minta tolong. Namun apa yang dilihat Sania dari jendela lantai tiga. Penjagaan begitu ketat. Laki-laki berseragam hitam-hitam dengan wajah garang berada disetiap koridor halaman. Dan tampak dua anjing besar bertalikan rantai besar di lehernya. Anjing itu berada di depan pintu pagar dengan terjaga dua laki-laki bertubuh tegap. "Ya, Allah tempat apa ini? Dan siapa Bastian? Penjahatkah dia?" tanya batin Sania. *** Pagi itu Sania masih terlelap tidur. Entah, sebab semalam ia tak bisa memejamkan matanya hingga azan shubuh berkumandang sayup-sayup dari kejahuan. Sania terjaga dari tidur lelapnya. Ia kaget, kala melihat dua laki-laki berpakaian hitam dengan wajah tertutup hanya menyisakan kedua matanya, masuk dalam kamarnya. Dengan salah satu mendekap tubuhnya. Sania kaget ketika membuka matanya. Ia berusaha berontak dengan menendang ke dua laki-laki itu. Namun Sania kalah dengan kesigapan kedua laki-laki itu mengikat kedua tanganya. Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan Sania. Ia lebih banyak diam tanpa bicara. Itu yang membuat Sania semakin geram dan jengkel. Sania berusaha memanggil bibi Syanti dengan keras. Namun sepertinya tak ada jawaban dari bibi Syanti. Sania berpikir semua ini rencana busuk Bastian. Sania berusaha teriak lagi dengan menghujat ke dua laki-laki itu dengan nada keras. "Kalau kamu ingin memperkosaku lagi. Berbuatlah sesuka hatimu. Aku pasrah. Aku wanita yang sudah rusak dengan kebiadaban kalian, tapi jangan kau siksa aku seperti ini!" teriak Sania pasrah. Teriakan Sania tak membuat kedua laki-laki mengurungkan niatnya. Ia malah membekap tubuh Sania dan menutup mata serta mulut Sania. Hingga Sania tak bisa bergerak dan berbuat apa-apa. Dengan perlahan kedua laki-laki itu menyuruh Sania turun dari ranjang dan memapah Sania hingga keluar rumah, serta menyuruh Sania masuk ke dalam mobil. Mobil berjalan meninggalkan halaman rumah induk Bastian. Lagi-lagi Sania pasrah apa yang akan dilakukan kedua laki-laki yang membawanya masuk ke dalam mobil. Hati kecil Sania kembali takut, kejadian dua hari yang lalu bakal nenimpanya kembali. Ia terus berdoa dan menyebut nama Allah. Dengan air mata terus mengalir hingga penutup mata basah terkena air mata. *** Bastian berdiri dekat jendela ruang kerjanya matanya menatap hamparan pemandangan yang ada di lantai dasar. Ia tampak gelisah. Sesekali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Ketakutan pada anak buahnya kalau-kalau menyakiti Sania. Padahal Bastian sudah berpesan jangan sedikitpun melukai Sania. Namun kekhawatiran terus merajai Bastian. "Tuan, wanita tawanan sudah datang. Ia sudah berada di halaman," ucap seorang laki-laki dengan tegas. Bastian dengan segera membalikan tubuhnya menghadap Daniel anak buahnya. "Bawa dia masuk, ingat jangan ada yang menyakiti. Tunggu aku turun ke bawah, Aku yang akan membawanya sendiri ke kamar," ucap Bastian dengan bibir bergetar. "Siap Tuan!" Entah tiba-tiba jantung Bastian terasa berdetak kencang. Dengan peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur nafasnya. Dan ia segera melangkah keluar ruangan menuruni anak tangga. Ia berhenti dan berdiri terpaku saat melihat Sania dengan kedua tangan terikat serta mata dan bibir tertutup pula. Bastian segera mengisyaratkan agar kedua anak buah yang memapah Sania segera melepas Sania. Mereka pada bingung dengan ulah bosnya. Ada apa dengan tawanan itu? kenapa tuan Bastian sendiri yang mengambil alih. Padahal jelas-jelas tawanan itu putri dari tuan Edward musuh bebuyutan tuan Bastian. Mereka bergerak minggir dan hanya diam mematung saat Bastian menggandeng lembut tangan Sania untuk dibawanya ke kamar Bastian sendiri. "Maafkan aku Sania," kata batin Bastian dengan menatap Sania yang matanya masih tertutup rapat. Entah Sania merasakan perasaan lain. Ia berjalan menaiki anak tangga dengan digandeng seorang laki-laki yang Sania tak mengerti siapa laki-laki itu. Namun pegangan tangannya sangat beda dengan laki-laki tadi. Sebab tanpa terdengar dari telinga Sania laki-laki itu bicara sampai langkah Sania terhenti. Lagi-lagi Sania pasrah apa yang di lakukan laki-laki yang membawanya ke sebuah tempat dan membuka ikatan tanganya hingga penutup mata dan mulutnya. Sania menatap samar sekeliling ruangan. Ia tak asing dengan sosok bayangan yang ada di depannya. Seketika Sania terlonjak kaget dengan spontan ia memanggil nama laki-laki yang ada di depannya. "Tuan Bastian," lirihnya dengan rasa ketakutan. "Apa yang hendak Tuan lakukan padaku? Membunuhku? Atau hendak memperkosaku seperti anak buah Tuan Bastian?" suara lantang Sania dengan menatap tajam Bastian. Tiba-tiba Sania menjatuhkan tubuhnya dengan duduk bersimpuh di lantai, "Bunuh saja aku Tuan. Aku sudah kotor. Aku wanita hina dan ternoda." Sania kembali menangis tersedu sedu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD