Bab 2 Korban perkosaan.

1410 Words
"Tunggu dulu, aku hendak ke sana." Bastian segera menutup ponselnya. Dan berlari kecil keluar ruangan menuju mobilnya yang terparkir di halaman markas. **** Sedan hitam mewah yang dikemudikan Bastian melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya. Jalan begitu lengang hanya terlihat genangan air dari derasnya hujan yang mengguyur aspal. Dan kilat sesekali mengeluarkan cahayanya. Serta petir menyambar bak memecah dunia. Pikiran Bastian semakin bergejolak, apalagi dengan tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya disertai angin kencang dan petir menggelegar bak memecah dunia, suasana menjadi gelap. "Ada apa ini? Kenapa perasaanku tak enak?" batin Bastian. Bastian semakin mempercepat laju mobilnya. Dalam hitungan tiga puluh menit mobil Bastian sudah sampai di tempat tujuan. Ia dengan cepat turun dari mobil. Dan menghampiri Daniel yang berdiri di depan pintu di temani dua orang anak buah Bastian. Mereka bertiga memberi hormat dengan membungkukan badan pada Bastian. Namun terlihat dari wajah Bastian terlihat panik. "Dimana tawanan kita?" tanya Bastian pada Daniel yang berdiri tegang di depan pintu utama. "Masih ada di dalam, Tuan!" Dengan langkah tak sabar Bastian menuju pintu belakang. Dan membuka dengan kasar. Braaakk ... Terdengar suara pintu dibanting tangan kekar Bastian. Bastian berdiri di depan pintu yang mana pintu sudah ditutup lagi. Bastian terlambat, keempat laki-laki sudah berpakaian semua. Ia terbiasa melihat pemandangan kekerasan yang dilakukan anak buah Daniel pada laki-laki di tempat ini. Tapi lain dengan apa yang dilihat Bastian hari ini. Seorang wanita menghiba dengan tanpa sehelai benangpun ada ditubuhnya. Ia bersimpuh di kaki salah satu anak buah Daniel dengan menangis tersedu-sedu mohon ampun. Ampun Tuan, Ampun ...! Salah saya apa? Bunuh saja saya. Jangan siksa saya seperti ini. Kau punya ibu, kau juga punya anak kalau diperlakukan seperti saya bagaimana perasaan Tuan?" "Plaakk!" Sebuah tamparan keras mengenai pipi Sania hingga Sania roboh kelantai. Tiba-tiba salah satu laki-laki yang ada di dekat Sania menjambak rambut Sania. Hingga kepala Sania mendongak persis menghadap wajah laki-laki itu. Bastian yang masih berdiri dengan melihat cara kerja anak buah Daniel. Mengamati wajah Sania. Tiba-tiba Bastian menghentikan kegiatan anak buah Daniel. "Cukup, hentikan ...! teriak Bastian yang membuat kaget semua yang ada di ruangan itu. Dan melihat arah suara Bastian. Satu per satu mereka minggir menjauhi Sania. Bastian melangkah mendekati Sania yang tergeletak di lantai dengan posisi seperti udang. Bastian meraih kain penutup meja yang ada di dekatnya dan diselimutkan pada tubuh Sania yang sudah lemas tak berdaya. Pelan-pelan ia membalikan tubuh Sania. Bastian melihat Sania diam tak bergerak. Hanya genangan darah di sudut bibir Sania yang menetes di lengan Bastian. "Ia pingsan," lirihnya dengan mengusap darah yang ada di sudut bibir Sania. Bastian mengamati wajah Sania dengan seksama. Dengan membolak balikan wajah Sania. Ia terperanjat. "Ini bukan Sania putri tuan Edward. Aku yakin, tak ada tanda lahir di lehernya. Dan rambut Sania putri tuan Edward pendek lurus sebahu. Tapi perempuan ini rambutnya panjang ikal mayang," batin Bastian. "Daniel ...!" teriak Bastian. Mereka yang ada di ruangan kaget mendengar teriakan Bastian. Mereka saling berpandangan. Daniel yang berdiri di dekat pintu dengan segera mendekati Bastian. "Siap, Tuan! Apa yang harus saya kerjakan lagi?" "Bawa perempuan ini ke rumah induk. Suruh bibi Syanti merawatnya." Daniel kaget mendengar perintah Bastian. "Bukankah dia harus di eksekusi Tuan?" tanya Daniel bingung. "Laksanakan perintahku!" teriak Bastian dengan nada geram. Daniel dengan cepat menyuruh anak buahnya mengangkat Sania ke dalam mobil. "Ingat jangan sakiti perempuan itu lagi. Dan setelah tugasmu selesai kalian aku tunggu di markas, paham!" suara tinggi Bastian. "Siap tuan!" Daniel segera keluar mengikuti anak buahnya. Tiba-tiba mata Bastian tertuju pada ransel yang tergeletak di lantai. Ia segera meraih tas itu. Ia yakin kalau tas ransel yang tergeletak itu milik Sania. Perlahan Bastian membuka tas itu dan satu per satu ia keluarkan isi tasnya. Ia ingin tau identitas perempuan itu. Mata Bastian tertuju dompet kecil berwarna merah. Ia dengan cepat membukanya dan mengambil sebuah kartu kecil. Bastian tersentak kala melihat alamat yang tertera dalam KTP itu. "Saniarita dari kampung Cimanggis," lirihnya. Bastian kaget melihat nama yang tertera dalam KTP. Sama persis nama anak tuan Edward. Wajahnyapun hampir mirip. Tapi Bastian yakin kalau perempuan itu bukan anak tuan Edward. Bastian memukul meja untuk melepaskan kekesalannya. "Sialan ...! Kenapa bisa salah sasaran? Dasar goblog, diserahi begitu saja nggak becus." Bastian meraih tas ransel milik Sania dan dibawa keluar. Dengan cepat Bastian memacu mobilnya menuju Markas yang biasa dijadikan tempat transaksi bisnis hitamnya. *** Mata Bastian memandang satu per satu anak buah Daniel yang berdiri berjajar. Mata liarnya memandang dengan wajah sinis. "Apa yang kalian kerjakan itu sudah benar? Apa kalian yakin perempuan itu Sania putri tuan Edward?" Mata Sinis Bastian mengarah pada anak buah Daniel. Keempat anak buah Daniel saling memandang satu sama lain. Ia merasa kalau tugasnya benar-benar tidak akan salah sasaran. Sebab ciri-ciri perempuan yang menjadi target itu sudah sesuai apa yang ada dalam foto dan mangkalnya di depan kampus Tri Buana. "Dia Sania, Tuan! Wajahnya persis seperti ada di foto itu?" sanggah Daniel. Tanpa merasa dirinya bersalah. "Ya benar, Tuan! Dia Sania. Dia aku temukan di depan kampus Tri Buana seperti yang Bos Daniel katakan," ucap salah satu anak buah Daniel. "Goblog kalian!" gertak Bastian dengan mata membulat mengarah ke anak buah Daniel. "Lihat rambutnya, apakah sama? Dan ia tak mempunyai tanda lahir di lehernya!" teriak Bastian dengan kesal dan geram. "Tapi Tuan. Tentang tanda lahir mana kita tau," sanggah salah satu anak buah Daniel yang membuat murka Bastian. "Cukup ...! Sudah salah berkilah!" bentak Bastian lagi. dengan memerintah Daniel anak buahnya. "Daniel ...! Hajar anak buahmu yang goblog-goblog itu. Yang nggak becus kerja, Otaknya hanya uang dan uang." Daniel mendekati anak buahnya. Dan sebuah tendangan hinggap di perut ke empat anak buahnya hingga mereka terjerembab dan terkapar di lantai. Perlakuan itu selalu dilakukan Bastian setiap apa yang di lakukan anak buahnya salah dalam melakukan tugas. Tapi Bastian juga tak menyalahkan mereka. Memang foto yang disodorkan pada Daniel mirip putri tuan Edward. Namun ia tetap memberi pelajaran pada anak buah Daniel biar lebih hati-hati. Mereka tak satupun berani melawan tendangan Daniel. Walaupun rasa sakit dan lebam disekujur tubuhnya. Perlakuan itu sudah biasa menurut anak buah Daniel. Bastian yang berdiri menyaksikan anak buah Daniel yang bergelimpangan dengan menahan sakit hanya tersenyum sinis. "Cukup, Daniel ...! Ini upah kalian yang ceroboh dan tak becus bekerja," Bastian melempar amplop berwarna coklat ke atas meja. Dan segera melangkah meninggalkan ruangan. Ia berlari keluar markas dengan cepat. Dalam hati Bastian ingin cepat-cepat ke rumah induk. Melihat keadaan Sania. Rasa khawatir hinggap di hati Bastian. Ia merasa bersalah sama Sania. Kenapa salah sasaran bisa terjadi. Di dalam mobil, Bastian terus menggerutu. Mengumpat anak buah Daniel yang tak becus bekerja. "Aku harus tanggung jawab," Bastian dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan markas. *** Sania terdiam. Ia memandang sekeliling, semua tampak asing. Ia berusaha bangun dari pembaringannya. Namun sepertinya rasa sakit disekujur tubuhnya membuat dirinya susah bergerak. Tubuhnya lemas. "Aduuhh ...!" suara keluar dari mulut Sania dengan memegang keningnya. "Kenapa kepalaku pusing? Dan tubuhku sakit semua?" Sania kembali lagi menghempaskan tubuhnya. Bibi Syanti wanita paruh baya. Yang bekerja hampir lima tahun di rumah Bastian. Hari ini mendapat tugas dari Bastian untuk merawat wanita yang barusan dikirim anak buah Bastian. Ia duduk di dekat Sania yang terbaring lemas dan pucat. Bibi Syanti tak mengetahui apa yang terjadi dengan Sania. Ia juga tak berani menanyakan. Ia takut Bastian marah. Apalagi Bastian berpesan pada bibi Syanti. Tugas bibi Syanti menjalankan perintah Bastian. "Tenang, Nona! Nona harus istirahat. Nona masih sakit," suara bibi Syanti dengan lembut. Sania yang baru sadar dari pingsannya mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya, dengan mengernyitkan keningnya. Ia terus bertanya-tanya pada dirinya apa yang telah terjadi? Namun ia tetap tak menemukan jawaban. Sania mencoba bertanya pada bibi Syanti. "Ada apa denganku? Kenapa aku ada di sini?" "Nona ditemukan tuan Bastian dalam keadaan pingsan dan dibawa ke sini." Sania menoleh perlahan ke arah wanita yang ada di sampingnya. Dengan rasa curiga menatap bibi Syanti. Sania terus memandang bibi Syanti menunggu jawaban keluar dari mulut wanita bertubuh subur. "Panggil saja saya, Bi Syanti," kata pelan bibi Syanti, "Nona nggak usah takut saya diberi tugas tuan Bastian untuk merawat Nyonya." Sania mengernyitkan dahinya dan berusaha mengingat kembali apa yang terjadi dengan dirinya. "Siapa tuan Bastian, Bi?" Bibi Syanti tersenyum, dengan memandang ramah Sania. "Ia yang menolong Nona, dan menyuruh anak buahnya untuk mengantar Nona ke sini." Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar berderit yang mengagetkan Sania. Sania mengarahkan pandanganya ke arah pintu. Berdiri seorang laki-laki dengan postur tinggi tegap dengan rambut cepak, berkulit putih, dan berhidung mancung. Dengan tatapan dingin pada Sania. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD