Damian berlutut di hadapan Elena. Tubuh wanita itu terkulai lemah di lantai dingin, wajahnya pucat, napasnya tipis dan terputus-putus. Mata bening yang biasanya menantangnya kini menatap sendu, seperti kaca retak yang perlahan kehilangan cahaya. Darah terus merembes, membasahi lantai, terlalu banyak terlalu nyata. Mata Damian bergetar. Untuk pertama kalinya, kemarahan itu runtuh. Digantikan sesuatu yang asing dan menyesakkan, takut. “El … Elena …” gumamnya lirih, suaranya serak seperti tercekat di tenggorokan sendiri. “Sa–sakit …” suara Elena nyaris tak terdengar. Tangan lemahnya meremas perutnya, seolah berusaha menahan rasa nyeri yang tak lagi bisa ditahan. Air mata mengalir pelan dari sudut matanya, jatuh tanpa suara. Damian mengangkat tubuh Elena dengan tangan gemetar, menari

