Bab 14

1779 Words
Sekarang d**a Najma terasa sesak sekali. Dia tidak menyangka jika udara yang sekarang dia hirup sama dengan udara yang Ibrahim hirup. Udaranya terasa lebih berat dan membuat sendi-sendinya lemas. Dia tak bertenaga karena akhirnya bisa melihat sosok Ibrahim sedekat ini. Najma tahu jika sikapnya terlalu berlebihan hanya karena melihat Ibrahim. Tapi, memang ini yang terjadi. Dari tempatnya duduknya, Najma bisa melihat dengan jelas Ibrahim yang tampak serius memainkan komputer di depannya. Walau tidak benar-benar berhadapan dengan Ibrahim, Najma bisa melihat wajah itu dengan jelas. Ekspresi serius Ibrahim saat ini sangat tampan. Wajah yang tampak sangat serius memandangi layar komputer itu membuat Najma berpikir jika Ibrahim adalah pria yang pintar. Najma yakin betul jika Ibrahim memang laki-laki yang pintar. Maka dari itu, satu nilai plus Ibrahim dapatkan lagi dari Najma. Uang yang pas-pasan membuat Najma hanya bisa menyewa selama dua jam saja di sini, setelah itu mau tidak mau dia harus pulang. Tentu saja ini bukan terakhir kalinya Najma akan ke sini. Najma akan melakukan segala cara agar kehadirannya bisa dirasakan oleh Ibrahim. Ibrahim harus menyadari bahwa ada dia di sini.  Seharusnya sekarang Najma senang karena bisa mengakses komputer seperti ini, sayangnya yang Najma lakukan hanya membuka web-web tidak penting dan matanya mencoba mencuri-curi pandang ke arah Ibrahim. Ketampanan Ibrahim terlalu sayang untuk Najma lewatkan, mengingat bagaimana kemarin dia sangat berharap bisa bertemu dengan Ibrahim dan tidak kesampaian. Sekarang adaalah waktu bagi Najma untuk memuaskan dirinya melihat Ibrahim. “Sekarang kamu enggak bisa kabur,” gumam Najma. Najma bahkan sampai terkekeh pelan. Aksi Najma itu sukses membuat Ibrahim mengangkat pandangannya dan melirik ke arah Najma. Najma sontak saja menunduk, bisa-bisanya Ibrahim sadar dengan apa yang dia katakan, padahal gumamannya tadi sangat pelan sekali. “Kak Ibrahim, mau fotokopi dong.” Najma mendesah senang karena fokus Ibrahim sudah teralihkan lagi karena ada anak SMP yang datang ingin melakukan fotokopi. “Rangkap duapuluh ya Kak. Nanti jam 1 aku ambil ya Kak.” “Oke.” Sepeninggal anak SMP tadi Ibrahim langsung mengerjakan tugasnya untuk memfotokopi lembar-lembar kertas itu. Semua gerak-gerik Ibrahim tidak pernah lepas dari pandangan Najma. Dia suka melihat Ibrahim yang seperti ini. Mengerjakan tugasnya dengan sangat serius. Satu nilai plus lagi untuk Ibrahim, dia serius dalam melakukan pekerjaannya. Senandung pelan terdengar di sela-sela kegiatan Ibrahim memfotokopi. Najma tidak tahu apa sedang dinyanyikan Ibrahim karena bahasa yang digunakan bukan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, seperti menggunakan bahasa arab. Senandung Ibrahim itu juga membuat Najma merasa tenang berada di tempat ini. Dia terbuai untuk kesekian kalinya karena suara Ibrahim. Suara yang lembut dan merdua membuat Najma yakin jika Ibrahim adalah laki-laki yang lembut dan tidak bisa marah. Marah pun pasti membuat Ibrahim terlihat sangat tampan. Jika dia berdiam diri dan hanya memperhatikan seperti ini, Ibrahim tidak mungkin akan mengenalnya. Najma mencoba memberanikan dirinya untuk memulai percakapan dengan Ibrahim. “Kakak lagi nyanyi lagu apa?” tanya Najma. Suara itu membuat Ibrahim seketika menoleh ke arah Najma. Tatapan Ibrahim sedikit kaget dan hal itu sukses membuat Najma berpikir jika apa yang dia ucapkan tidak salahkan? Ibrahim tersenyum kecil kemudian berucap, “Tadi itu namanya sholawat.” Buru-buru Najma mencari pengertian dari sholawat, tapi dari namanya saja Najma yakin jika itu berhubungan dengan agama. Apa yang dia pikirkanpun benar. Pantas saja Ibrahim sampai tersenyum seperti itu. Kesan pertama Ibrahim padanya pasti buruk. “Maaf ya Kak, aku enggak tau.” Najma benar-benar malu saat ini. Najma ingin pergi saja dari tempat ini, tapi terlalu sayang untuk dia lakukan. “Enggak apa-apa kok. Sekarangkan jadi tahu.” Ibrahim memakluminya? Bahkan sampai tersenyum manis seperti itu. “Kakak kok enggak sekolah?” “Kakak udah lulus, sekarang lagi persiapan buat masuk kuliah.” Usia Ibrahim ternyata jauh dari yang Najma bayangkan. Najma kira Ibrahim masih SMA. Najma tidak menyangka jika tahun ini Ibrahim juga lulus sama sepertinya, bedanya sekarang Najma akan melanjutkan ke SMP dan Ibrahim ke Universitas. “Mau kuliah di mana Kak?” Ada perasaan tidak rela di hati Najma saat mengatakan kuliah. Jika saja Ibrahim masih SMA, setidaknya kelas 1 SMA, semuanya pasti terdengar lebih baik. “Sedapetnya aja di mana.” Ibrahim yang menjawab dengan seperti itu membuat Najma berpikir jika apa yang dia tanyakan terlalu pribadi dan sensitif, Najma merasa bersalah karena sudah menanyakan hal ini. “Nek Rida kenapa jarang terlihat di masjid?” Najma memandangi Ibrahim tak percaya. Apa Ibrahim tahu dia cucu dari Nenek Rida? Tapi sejak kapan Ibrahim tahu? Dan bagaimana bisa? Dia tidak mungkin mendengar percakapannya dengan ibunya tadi bukan? “Nenek lagi enggak enak badan.” “Kirim salam buat Nenekmu ya.” “Kakak sering ke masjid? Kok aku enggak pernah liat ya?” Jelas ini tidak masuk akal bagi Najma. Jika Ibrahim sering pergi ke masjid, setidaknya mereka pernah bertemu beberapa kali. “Kita pernah bertemu di pasar dan pas subuh waktu itu.” Pasar? Subuh? Mata Najma terbelak kaget dengan apa yang baru saja Ibrahim ucapkan. Apa benar dia pernah bertemu dengan Ibrahim saat di pasar? Tapi jika diingat-ingat Najma pernah bertemu dengan laki-laki di pasar dan itu jelas bukan Ibrahim dan saat subuh? Najma tidak pernah merasa melihat Ibrahim juga. “Saat di pasar kamu duduk di dekat teman-temanku dan saat subuh kamu buru-buru masuk ke dalam masjid,” jelas Ibrahim yang sadar akan kebingungan Najma. “Ah!” seru Najma. Ternyata dua orang yang duduk di dekatnya itu teman Ibrahim dan orang yang berbicara dengan neneknya waktu itu ternyata Ibrahim. “Kakak yang dateng di pintu waktu itu?” tanya Najma memastikan. Ibrahim mengangguk. Ibrahim saat itu mengingat baju yang dikenakan Najma saat di dalam warung dan dia tak sengaja melihat Najma yang hendak pulang dengan Nenek Rida dan Ibrahim baru tahu saat dia pulang jika cucu Nenek Rida dari kota baru saja pulang. Penjelasan yang Ibrahim berikan sukses membuat Najma menyesal. Kenapa dia malah tidak menoleh ke arah Ibrahim waktu itu. Bisa-bisanya dia melewatkan kesempatan emas untuk bertemu Ibrahim untuk pertama kalinya. “Sudah mengingatnya?” tanya Ibrahim. “Iya,” cicit Najma. Sepi tiba-tiba melanda. Najma memandangi Ibrahim yang sekarang tengah mensteples kertas-kertas pesanan itu. Najma ragu ingin bertanya ini dan dia juga sedikit belum siap mendengarnya. Jika tidak sekarang, Najma tidak tahu kapan lagi dia bisa mendengar ini dari Ibrahim. Suasana hari ini juga sangat mendukung sekali. “Kak Ibrahim tahu nama aku?” Setelah pergulatan batin itu, Najma akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya. Akan sangat aneh jika mereka berbicara tapi hanya dirinya saja yang tahu nama Ibrahim, sedangkan Ibrahim tidak tahu namanya. Bahkan sampai sekarang Ibrahim tidak bertanya tentang namanya. “Najma bukan?” Namanya akhirnya disebutkan oleh Ibrahim. Mendengar namanya disebut dengan selembut itu Najma tidak bisa menahan senyumannya. Jantungnya bahkan sekarang berdebar dengan lebih kencang hanya karena Ibrahim yang menyebut namanya itu. “Lengkapnya Najma Aila Caneza. Kak Ibrahim harus ingat itu ya.” Senyum lembut dan anggukan itu Najma dapatkan lagi. Jika ini mimpi, Najma tidak ingin bangun. Hari ini terlalu indah untuk berlalu begitu saja. Najma ingin terus-terusan seperti ini. Sayangnya waktu tidak pernah berhenti berjalan. Waktu dua jam bukanlah waktu yang lama sehingga tanpa terasa waktu berlalu begitu saja. Mau tidak mau Najma harus pulang. Berat sekali untuk dirinya harus meninggalkan warnet milik Ibrahim ini. “Kak Ibrahim, aku pulang dulu ya.” Mata Najma tampak sedih saat dia mengatakan itu. “Hati-hati di jalan.” “Iya Kak.” Najma terhenti sejenak. Dia kemudian dengan malu-malu berucap, “Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” Najma melirik jam dinding yang ada di dalam warnet. Ini hampir jam duabelas siang dan azan zuhur tidak akan lama lagi. Dari pertanyaan Ibrahim yang menanyakan neneknya, Ibrahim pasti melakukan salat berjamaah di masjid. Masih ada kesempatan untuk Najma melihat Ibrahim. Sepanjang perjalanan Najma tersenyum dengan lebarnya, bahkan dia sampai bersenandung pelan. Dia terlalu bahagia hari ini. Ini adalah awal kisah cintanya yang manis. Mulai sekarang dia tidak hanya akan mendengar cerita kisah cinta teman-temannya, tapi dia juga akan merasakannya juga. “Nenek, aku pulang….” ucap Najma dengan riangnya. Nada suara Najma yang kelewat riang membuat Rida sedikit tak percaya. Apa benar ini Najma? Bagaimana bisa Najma malah senang sehabis dari sekolahan Liana. “Bagaimana liat-liat sekolahannya?” tanya Rida. “Bagus kok Nek. Nek, masih ada makanan kan?” “Uang yang Nenek kasih kamu pakai buat apa sampai pulang-pulang lapar? Jangan bilang kamu beli yang enggak perlu.” Najma sontak saja menggeleng. Jika neneknya tahu dia pergi ke warnet pasti dia akan dimarah. Hp dan leptopnya saja disita, sudah pasti dia tidak diperbolehkan ke warnet juga. “Enggak kok, ya uangnya aku simpenlah,” bohong Najma. “Terus untuk apa kamu minta uang?” “Buat jaga-jaga, siapa tau aku pengen ngemil.” “Ya sudah, sana makan.” Dengan langkah lebarnya Najma berlari menuju dapur. Neneknya sangat menakutkan. Jangan sampai dia tahu apa yang sudah dia perbuat dengan uang itu, bisa-bisa dia tidak bisa ke warnet Ibrahim lagi. Yah, tidak bisa ke warnet Najma juga masih punya kesempatan bertemu di masjid sih, tapi jika berada di warnet Najma merasa lebih leluasa memandangi Ibrahim dari dekat. Ketika azan zuhur berkumandang Najma segera berlari ke neneknya. Neneknya yang hendak ke kamar Najma pun di buat terkejut oleh aksi Najma yang tiba-tiba berlari keluar kamar dan berhenti tepat di depannya. “Nek, sekarang kita salat ke masjid?” “Tidak. Ayo ambil wudu.” Kata tidak itu membuat Najma membatu. Kenapa neneknya malah tidak mau pergi ke masjid? Kenapa akhir-akhir ini neneknya tidak pergi ke masjid? Najma ingin bertanya, tapi aksinya ini pasti akan menimbulkan kecurigaan pada neneknya. Bagaimana bisa seorang Najma yang biasanya malas pergi ke masjid tiba-tiba ingin pergi ke masjid. “Tapi mulai besok Bibimu sendiri yang akan menjemputmu untuk berangkat ke masjid bersama.” Rida ingin Najma terbiasa salat di masjid. Rida ingin membiasakan salat itu pada diri Najma. Sekarang kesehatannya sedang tidak baik dan Rida tidak bisa membiarkan Najma pergi sendirian ke masjid, bisa-bisa Najma malah kabur ke tempat lain. Dijemput oleh Ana atau cucunya Liana adalah pilihannya. “Mending suruh Liana aja yang jemput aku.” Letak masjid memang tidak jauh, tapi jika berangkat sendiri, Najma belum terbiasa dan pilihan menyuruh bibinya itu adalah pilihan yang buruk. Najma tidak ingin dijemput oleh bibinya. “Nanti Nenek pikirkan, yang jelas kamu harus salat lima waktu, belajar mengaji, dan jangan lupa ikuti pengajian yang diadakan.” “Iya Nek, iya.” Selama kegiatan itu juga diikuti oleh Ibrahim, Najma akan melakukannya. Sekarang yang Najma butuhkan adalah informan. Satu-satunya orang yang bisa menceritakan tentang Ibrahim itu hanya Liana. Apa Liana bisa dipercaya menjaga rahasia? Bagaimana jika Liana membocorkannya ke neneknya? Najma jadi ingat taruhannya dengan Liana. Dia harus memanfaatkan itu. Liana harus ada dipihaknya agar dia bisa mendapatkan hati Ibrahim.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD