Bab 15

1955 Words
Seperti kemarin Najma kembali terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Sekarang dia seperti benar-benar sudah terbiasa bangun di jam ini. Ketika melihat jam dinding, ternyata hari ini Najma bangun tepat di jam di mana neneknya biasa datang membangunkannya.    Tumben sekali neneknya belum datang di jam segini, pikir Najma saat itu juga karena menyadari neneknya tak kunjung datang.   Tadi malam Liana sudah berjanji akan menjemputnya ketika akan salat subuh ke masjid. Tadi malam Liana mengajaknya untuk salat magrib dan isya berjamaah dan saat itu menjadi kali ketiga dan keempat Najma bertemu Ibrahim. Sayangnya Najma hanya bisa melihatnya dari jauh. Ibrahim terlalu sibuk berbicara dengan teman-temannya yang membuat Najma tidak bisa menyapa Ibrahim.   Najma sudah menyuruh Liana untuk datang menjemputnya lebih cepat karena mungkin saja dengan datang lebih awal adalah jalan terbaiknya agar bisa melihat dan berbicara dengan Ibrahim.   Tidak ingin melewatkan kesempatan itu Najma memutuskan untuk bangun dan pergi ke kamar mandi. Dia tidak mungkin menunggu neneknya yang tak kunjung datang, bisa-bisa dia akan terlambat ke masjid jika menunggu neneknya datang ke kamar.   Pergi ke kamar mandi di saat azan subuh saja belum berkumandang adalah mimpi buruk bagi Najma, tapi kali ini dia malah senang sampai-sampai dia bersenandung pelan. Dia tampak lebih menerima hal yang dibencinya ini karena akan bertemu dengan Ibrahim.   Langkah kaki Najma tertahan karena neneknya yang baru saja keluar dari kamar mandi.   “Padahal Nenek baru akan membangunkanmu.” Melihat Najma yang keluar kamar tanpa dibangunkan adalah sebuah kemajuan besar bagi Rida. Jika Najma terus-terusan seperti ini, Najma bahkan bisa berubah menjadi anak yang benar-benar yang dia harapkan.   “Nenek kelamaan,” jawab Najma kemudian masuk ke dalam kamar mandi.   Melihat air yang terisi penuh di bak mandi membuat Najma menghela napas. Dia seakan bisa merasakan dinginnya air yang ada di bak mandi itu padahal dia belum menyentuhnya sama sekali.   Dengan gerak lambat Najma membuka seluruh pakaiannya. Air bak mandi yang selalu dingin selalu, sukses membuat Najma selalu takut. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan rasa dingin yang menyakitkan ini.   Najma menghela napas, setelah semuanya pakaiannya terbuka, perlahan dia mendekati bak mandi. Hal yang pertama Najma lakukan adalah memasukkan tangannya ke dalam bak mandi. Tangannya dibiarkan meresapi rasa dingin yang perlahan menjalar ke tubuhnya.   Ini demi bertemu Ibrahim, batin Najma sebelum dia akhirnya mengguyur seluruh tubuhnya.   Di balik pintu kamar mandi, Rida masih menunggu Najma. Ada yang berubah dengan Najma, itulah yang Rida rasakan. Bahkan setelah keluar dari kamar mandi, ini kali pertama Rida melihat Najma keluar kamar mandi tanpa mendumel. Jika terus-terusan seperti ini, Rida yakin jika Najma bisa menjadi anak yang lebih baik. Najma adalah harapannya. Siapa tahu dengan berubahnya Najma seperti ini, Winda juga akan berubah.   Ketika azan subuh berkumandang, Liana baru saja sampai. Kesal? Tentu saja Najma kesal. Dia sudah menunggu dan berharap jika Liana datang lebih cepat, tapi Liana datang saat azan subuh sudah berkumandang. Tidak ingin berlama-lama lagi, Najma menyuruh Liana untuk bergegas pergi ke masjid. Langkah kaki Najma bahkan sangat lebar dan cepat.   “Ini semua gara-gara kamu kita jadi telat.”   Kemarin Najma hanya bisa melihat Ibrahim ketika selesai salat dan itupun dari jauh. Tadi malam dia sudah mewanti-wanti Liana untuk datang lebih cepat agar bisa melihat Ibrahim, Liana malah tidak menepati janjinya. Sekarang Najma sudah kehilangan kesempatan untuk bertemu Ibrahim di masjid.   Masjid adalah tempat yang wajib Ibrahim datangi saat salat. Di rumahnya Najma yakin jika dia pasti tidak selamanya bisa bertemu dengan Ibrahim karena Ibrahim pasti punya kesibukannya sendiri.   “Tadi aku sakit perut Kak, jadi telat.”   “Lain kali awas aja sampai gini lagi.”   “Iya Kak, janji.”   Masuk ke dalam masjid pandangan Najma langsung tertuju ke arah jendela-jendela yang memisahkan bagian laki-laki dan perempuan. Najma mencari keberadaan Ibrahim namun dia tidak bisa melihat sosok Ibrahim di sana.     “Kakak cari siapa?”   Sadar ini hari libur dan Liana pasti akan mengekorinya setiap saat Najma tak punya pilihan lain untuk mengajak Liana pergi ke warnet. “Enggak nyari siapa-siapa. Oh ya, nanti aku bakalan ngajakin kamu ke suatu tempat.”   “Kemana ya Kak?” Seketika Liana menjadi penasaran.   “Jangan ngobrol.” Sebuah teguran Liana dan Najma dapatkan karena berbicara di saat orang-orang bersiap untuk salat subuh.   Najma seketika diam mendapat teguran yang ternyata dari bibinya itu. Najma kira bibinya akan ada di barisan pertama seperti biasanya, tapi ternyata dia malah berada di barisan kedua terakhir. Apa dia takut anaknya diberikan pengaruh buruk olehnya?   Najma menoleh ke arah Liana dan tersenyum. Senyum Najma sukses membuat Liana bertambah penasaran. Najma yang ingin mengajaknya ke suatu tempat tentu saja membuat Liana penasaran. Najma hanya beberapa hari di sini, bahkan Najma tidak pernah pergi keluar rumah sendirian. Kemana Najma ingin membawanya?   Selesai salat subuh, rencana yang Najma buat hampir saja rusak karena ulah bibinya yang mengajak Liana untuk segera pulang. Najma yang memiliki akal selangit sontak saja berpura-pura kebelet untuk pipis dan mengajak Liana untuk mengantarnya. Aksi Najma itu sukses membuat bibinya pulang sendirian.   Ketika bibinya sudah pergi barulah Najma mengajak Liana untuk ke depan. Para laki-laki yang ada di dalam masjid pun sudah mulai keluar untuk pulang. Najma sengaja melama-lamakan menggunakan sendalnya hingga dia melihat siluet Ibrahim yang hendak keluar.   “Kak Najma, mau ajak Lia kemana sebenarnya?”   “Nanti ya aku ceritain.”   Najma menarik tangan Liana agar ikut berdiri bersamanya. Ibrahim sudah memakai sendalnya dan sudah siap untuk pergi.   “Ayo pulang dulu.”   Najma mencoba untuk terlihat biasa saja. Mendekati gerbang akhirnya Najma bisa berpapasan dengan Ibrahim.   “Assalamualaikum Kak Ibrahim.” Najma memandang Liana yang mengucapkan salam secara bersamaan.   “Waalaikumussalam, Liana, Najma.”   Mendengar namanya dipanggil seperti itu saja Najma sudah senang mendengarnya.   “Kak Ibrahim mau pulang?” tanya Liana.   “Enggak, ini mau pergi jalan-jalan.”   “Oh, ya udah hati-hati ya Kak.”   “Kalian juga hati-hati ya pas pulangnya, assalamualaikum.”   “Waalaikumussalam,” gumam Najma pelan. Yang tadi itu apa? Kenapa cepat sekali. Liana juga kenapa malah langsung bilang hati-hati, padahal Najma ingin ikut pergi jalan-jalan juga.   “Kak Ibrahim mau jalan-jalan ke mana?”   “Biasa di sawah sana, biar bisa liat yang ijo-ijo gitu.”   “Terus kenapa kita enggak ikut ke sana?!”   “Lha, Kakakkan biasanya minta langsung pulang buat tidur.”   Najma terdiam, apa yang dikatakan Liana benar. “Ya udah, mulai besok kita bakalan jalan-jalan.”   Apapun yang sering Ibrahim lakukan, Najma juga akan melakukannya. Jika ada kesempatan untuk bersama Ibrahim, dia harus melakukannya.   “Tapi Lia enggak bisa kalau enggak hari minggu, Kak.”   Najma menepuk jidatnya. Dia lupa jika Liana harus bersiap-siap untuk sekolah. Tidak mungkin untuk Najma pergi sendiri, tapi sebenarnya mungkin saja selama Najma tidak malu atau takut.   “Minggu depan kalau gitu.”   “Siap Kak.”   Karena sudah mengatakan akan pulang Najma jadi tidak bisa ikut pergi jalan-jalan pagi. Untuk saat ini jalan-jalan pagi bukan jodoh Najma untuk bertemu dengan Ibrahim. Najma melirik Liana yang ada di sampingnya. Najma yakin Liana banyak tahu tentang Ibrahim. Nanti Najma akan mengorek semuanya. Sepertinya Najma harus menulis semuanya dalam buku agar dia bisa mengingatnya.   Begitu sampai depan pintu rumah Najma segera membisikkan sesuatu pada Liana. “Nanti jam sembilan kamu ke sini. Kita pergi ke tempat yang aku maksud tadi.”   “Kak, kemana sih? Lia kan jadi penasaran.”   “Udah nanti juga tau, sekarang kamu pulang aja sana.” Sekarang belum saatnya Liana tahu, hal ini agar Liana tidak membocorkannya ke neneknya.   Karena tak kunjung diberitahu Najma, Liana akhirnya pulang membawa rasa penasaran itu. Dan tepat di waktu yang Najma janjikan, Liana benar-benar datang ke rumah neneknya. Di sana Najma sudah menunggunya di atas sebuah sepeda.   “Kita pergi pakek sepeda?” Jika Liana tahu hal ini dia pasti dia akan datang membawa sepedanya juga.   “Aku yang gonceng, kamu naik aja.” Najma memerintahkan Liana untuk duduk di bagian belakang.     Liana tampak ragu duduk di belakang Najma. “Kakak bisa naik sepeda?” tanya Liana.   “Kamu ngeremehin aku?”   “Enggak, gitu Kak. Liana takut aja Kakak kenapa-kenapa, apalagi Kakak orang baru di sini. Kalau mau biar Liana aja yang goncengin Kakak.”   Najma berdecak kesal. “Kalau mau ikut diem aja, kalau enggak mau ya udah tinggal turun.”   “Lia ikut.”   “Gitu dong.”   Ini pertama kali Najma membonceng seseorang dan ternyata cukup berat juga. Kecil-kecil ternyata Liana memiliki berat badan yang berat. Dengan sekuat tenaganya Najma mengayuh sepedanya. Beruntung jarak warnet milik Ibrahim tidak jauh, jika sampai satu kilometer, Najma tidak akan sanggup melakukan ini.   “Kak kita mau ke mana sih?” Liana benar-benar penasaran, kemana kakak sepupunya ini akan pergi membawanya? Bahkan sekarang Najma melewati sekolahannya. Najma jelas tidak pernah ke sini sebelumnya.   Pertanyaan Liana akhirnya terjawab ketika Najma menghentikan sepedanya tepat di depan rumah Ibrahim.   “Kita ke rumah Kak Ibrahim?”   Najma menggeleng. “Aku ngajaknya ke warnet.”   Jika dia ke rumah Ibrahim harusnya dia duduk di ruang tamu bukannya duduk di dalam warnet. Duduk di dalam warnet juga boleh juga. Dia jadi bisa memandangi Ibrahim sepuasnya.   “Assalamualaikum Kak Ibrahim.” Kali ini Najma menyapa Ibrahim lebih dahulu.   “Waalaikumussalam Najma, Liana juga ikut sekarang?”   “Iya.”   Liana menarik ujung baju Najma dan berbisik, “Kakak kemarin ke sini?”   Najma tidak mengindahkan ucapan Liana, dia malah salah fokus saat melihat apa yang sekarang tengah Ibrahim lakukan.   “Wah, Kak Ibrahim mainin ini juga?” Dalam hatinya Najma bersorak kegirangan karena Ibrahim memainkan game yang sama dengan yang pernah dia mainkan. Najma berhenti memainkannya karena gamenya sudah cukup membosankan baginya.   “Iya, kamu main ini juga?”   Najma mengangguk dengan semangat. “Aku udah level 40, Kakak sendiri?”   “Baru level 38.”   Ternyata Ibrahim ada di bawahnya. Itu tidak masalah bagi Najma, toh ini hanya game biasa.   “Kakak add aku dong. Biar kita bisa main bareng.” Najma mencoba untuk aktif berinteraksi dengan Ibrahim. Najma yakin Ibrahim tidak mungkin akan menyukainya jika dia terlalu pasif. Berbicara selayaknya teman akrab merupakan salah satu caranya untuk mendekati seseorang.   “Tunggu sebentar.”   Najma memperhatikan tangan Ibrahim ketika mengetik untuk membalas pesan seseorang. Jemari itu sudah terlatih untuk mengetik cepat ternyata. Bahkan Ibrahim sudah mampu menggunakan sepuluh jarinya untuk mengetik. Najma bahkan belum bisa mengetik sepuluh jari seperti apa yang Ibrahim lakukan.   “Nicknamemu apa?   “Caneza55”   Ibrahim menuliskan nickname yang Najma sebutkan. Begitu profil Najma muncul, Ibrahim langsung menambahkan Najma sebagai temannya di game. Terlihat Najma terakhir online lima bulan yang lalu.   “Aku enggak pernah online karena siap-siap buat ujian nasional,” kilah Najma. Dia merasa perlu menjelaskan itu pada Ibrahim agar Ibrahim merasa tidak curiga.   “Bagus dong.”   Melihat senyum Ibrahim yang manis membuat Najma terbuai. Ini adalah momen langka bisa sedekat ini untuk melihat senyum Ibrahim.   “Kak?” Liana menyenggol bahu Najma.   Najma tersadar dari lamunannya. Dia kemudian berucap, “Main bareng ya Kak. Aku sewa yang itu,” tunjuk Najma pada komputer yang tak jauh berada di depan Ibrahim.   Najma membawa Liana masuk ke dalam bilik yang dia pilih. Tidak ingin kehilangan kesempatan emas dengan gerak cepat Najma langsung login ke akun gamenya yang seharusnya tidak pernah dia buka lagi. Kemarin sebenarnya Najma berniat untuk membuka akun gamenya yang lain, sayangnya komputer di sini spek komputer di sini seadanya, jadi Najma tidak bisa memainkan gamenya.   Pertemanan yang Ibrahim kirimkan langsung Najma terima. Setelah menerimanya, Najma langsung mendapatkan undangan tim dari Ibrahim. Sekarang tangan Najma sedikit gemetar hanya karena menerima undangan tim dari Ibrahim. Ini jelas seperti mimpi bagi Najma.   Liana yang tak mengerti sama sekali dengan game komputer hanya bisa memandangi dengan takjub. Dia suka melihat bagaimana jemari Najma dengan lincahnya menekan tombol-tombol dan menggerakkan mouse itu.   Diam-diam mata Najma selalu mencari kesempatan untuk melirik Ibrahim dan apa yang dilakukan Najma diketahui oleh Liana. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD