“Kakak kok liatin Kak Ibrahim terus ya?”
Najma membenarkan posisi tidurnya yang awalnya menghadap langit-langit kamar menjadi memandangi Liana. Ekspresi Najma terlihat sangat serius sekali saat ini. Sekarang adalah waktu yang tepat bagi Najma untuk bertanya pada Liana.
“Ya itu karena aku kagum sama Kak Ibrahim. Apa aku enggak boleh kagum sama Kak Ibrahim?” Untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Ibrahim yang semakin hari semakin bertambah besar, Najma tidak bisa melakukannya. Najma ingin Ibrahim yang pertama kali mendengar rasa sukanya itu.
“Lia juga kagum sama Kak Ibrahim.”
“Ayo ceritain tentang apa aja yang kamu tahu dari Kak Ibrahim, aku pengen denger.”
Mulailah Liana menceritakan apa yang dia ketahui tentang Ibrahim. Najma mendengarnya dengan sangat-sangat serius setiap kata yang keluar dari mulut Liana. Najma tidak percaya Liana bisa menceritakan hal ini tanpa dipaksa.
Dari semua informasi yang Liana berikan, Najma akhirnya tahu jika Ibrahim adalah lulusan pondok pesantren. Saat menengah pertama, Ibrahim bersekolah di sekolah negeri pada umumnya. Ibrahim yang digadang-gadang akan pergi ke kota melanjutkan sekolahnya ternyata memutuskan untuk masuk ke pesantren.
Ibrahim itu anak yang tercerdas di sini. Dia anak yang sangat aktif dan selalu ikut andil pada acara yang diadakan di desa ini. Bahkan beberapa orang meminta jasa Ibrahim untuk sholawatan atau mengaji di acara-acara mereka. Bukan hanya Ibrahim yang mendapatkan kesempatan itu, remaja-remaja lainnya juga mendapatkannya, bahkan lebih sering karena Ibrahim harus tinggal di pondok pesantren.
Berada di dalam pesantren tanpa tahu perkembangan dunia luar tidak membuat Ibrahim tidak mengerti banyak hal. Dia yang dari keluarga berada membuat Ibrahim lebih dahulu mengerti komputer. Bahkan Ibrahim sendiri yang memberi saran pada ayahnya untuk membuka warnet agar bisa dimanfaatkan warga desa.
“Biasanya kalau pulang, Kak Ibrahim ngapain aja?” Hal ini adalah yang utama sekarang. Najma harus tahu Ibrahim kemana-kemana saja.
“Ya biasanya Kak Ibrahim selalu salat jamaah, dia selalu jalan-jalan pagi di jalan sawah sana, dia selalu ikut pengajian, terus dia juga ngajar ngaji di masjid.”
“Mainnya gimana?” Tidak mungkin bukan Ibrahim tidak pernah pergi bermain bersama teman-temannya.
“Ya dia main kek biasa, kumpul-kumpul sama temennya.”
Haruskah Najma sedikit memperjelas maksudnya di sini?
“Maksudku tuh, semisal dia sering main bola atau apa gitu. Kegiatan yang di luar selain jalan-jalan sehabis subuh.”
“Kak Ibrahim biasanya main bola minggu sore, sehabis salat asar di lapang sana.”
“Udah gitu aja? Enggak ada yang lain gitu?”
Liana mengangguk. Dia hanya tahu sampai sana. Ibrahim juga baru pulang lagi karena sudah lulus dari pondok pesantrennya.
“Kak Ibrahim pasti populer banget di sini.” Dengan segudang hal yang membanggakan itu, pasti banyak yang mengidam-idamkan Ibrahim.
“Kak Ibrahim itu idaman Ibu-Ibu sini, tapi Kak Ibrahim enggak akan nikah secepet itu deh. Kak Ibrahim pintar gitu pasti bakalan ke kota buat lanjut kuliah.”
Benar bukan. Ibrahim menjadi incaran ibu-ibu sini. Orang desa biasanya nikah muda, Najma tahu ini gara-gara tak sengaja mendengar pembicaraan neneknya dengan bibinya. Untung saja Ibrahim berniat untuk kuliah, jika tidak Ibrahim pasti sudah menikah dan Najma tidak rela itu.
Fakta jika Ibrahim lulusan pondok pesantren membuat Najma merasa kecil hati. Ibrahim pasti akan mencari gadis yang sepadan dengannya. Jika dia sampai tidak tahu agama seperti ini, sudah biasa dipastikan bukan jika Ibrahim tidak mungkin akan meliriknya.
Najma sudah melakukan salat berjamaah, pengajian juga akan Najma ikut pengajian yang dilakukan di sini. Sebenarnya Najma ingin diajar mengaji seperti anak-anak lainnya, tapi hal itu pasti akan membuat Ibrahim menjadi pikir-pikir untuk menyukainya.
“Kamu bisa ajarin aku ngaji biar cepet ke Al-Qur’an?” pinta Najma. Najma merasa jika mengaji hanya setelah isya, dia tentu saja tidak akan bisa mengejar ketertinggalannya. Dia harus bisa menjadi orang yang sepadan dengan Ibrahim.
Mata Liana tampak berbinar-binar mendengar permintaan Najma. Tentu saja dia akan dengan senang hati membantu kakak sepupunya ini. Di mana ada kemauan di sana pasti ada kemajuan.
“Kakak mau di ajarin kapan?”
Ditanya seperti ini Najma harus memikirkan dulu jadwal yang tepat agar tidak bertabrakan dengan jadwalnya melihat Ibrahim.
“Tunggu, aku pikirin dulu.”
Setiap jam 9 pagi Najma sudah memutuskan untuk pergi ke warnet milik Ibrahim. Setiap minggu sore, dia akan pergi menonton Ibrahim bermain bola. Setiap ada pengajian Najma akan ikut serta dan itu biasanya selesai salat magrib. Sedangkan mengaji dengan neneknya biasa setiap selesai isa.
“Gimana kalau habis zuhur? Setelah kamu ajarin aku ngaji, aku juga bakalan ajarin materi-materi pelajaran yang enggak kamu kuasai. Sebentar lagi kamu bakalan ulangan akhir semester kan, gimana?” Tawarannya ini tentu saja menggiurkan. Liana sudah membuktikan sendiri PR yang dikerjainya kemarin benar semua, jadi tidak ada ruginya untuk Liana menolak hal itu. Mereka berdua sama-sama diuntungkan di sini.
“Boleh.” Liana tersenyum senang. Baru kali ini Liana merasa punya kakak yang bisa membantunya dalam belajar. Liana tidak pernah membayangkan dirinya akan diajari oleh Najma, tapi Najma dengan baik hati menawarinya dan tentu saja Liana tidak bisa menolak hal itu.
“Ini cuman kita aja yang tahu ya. Jangan memberitahu siapa-siapa.”
“Nenek juga enggak boleh?”
Najma mengangguk mengiyakan. Dia ingin melihat neneknya kaget jika dia bisa sampai lancar membaca Al-Qur’an.
“Terus kalau enggak mau ketahuan, belajarnya gimana?”
Ini belum terpikirkan juga oleh Najma. Sebenarnya tidak masalah sih jika neneknya mengetahui jika dirinya belajar mengaji dari Liana juga. Hanya saja jika hanya terus-terusan di rumah, Najma bosan.
“Di mana ya. Tempat yang enak buat belajar,” gumam Najma.
“Sebenarnya ya Kak, Kakak bisa lancar kalau sering latihan. Jadi dulu Lia tuh kemana-mana bawa iqro, jadi kalau santai langsung belajar.”
“Aku ngerti yang itu, tapi kalau enggak diajarin yang benernya gimana, aku enggak mungkin bakalan langsung bisa.” Najma butuh seseorang yang biasa membenarkan apa yang dia ucapkan.
Liana tersenyum malu, iya jika kakak sepupunya bisa otodidak pasti dia tidak akan dimintai seperti ini. Liana mencoba memikirkan tempat mana yang bisa dia jadikan tempat untuk belajar dengan Najma.
“Gimana kalau di kolam yang waktu itu?”
“Yang ada jembatan bambunya itu?” Najma mencoba memastikan.
Liana mengangguk mengiyakan. “Enggak ada tempat lain selain itu,” tegasnya lagi.
Tempat itu memang bagus, hanya saja Najma tidak suka dengan jalan yang dilaluinya untuk lewat sana. Jembatan yang terbuat dari dua bambu tanpa pegangan itu sukses membuatnya tidak ingin ke sana lagi.
“Ya udah deh terserah.” Tidak ada pilihan lain selain Najma mengiyakan itu.
Dari semua cerita yang dijelaskan Liana. Hari ini bertepatan dengan Ibrahim yang akan pergi bermain sepak bola di lapangan depan. Ini waktu yang tepat bagi Najma menonton Ibrahim bermain bola. Seperti apa Ibrahim akan terlihat dalam balutan baju bolanya itu?
Ketika Najma mengajak Liana untuk menonton sepak bola di lapangan sore ini. Tidak ada kecurigaan dari Liana. Liana ingat dia pernah bertanya seperti ini waktu itu, jadi Liana sudah tahu jika dia tertarik pada sepak bola, padahal tidak sama sekali.
Sebelum Liana pulang, Najma sudah memesan Liana untuk menunggunya saja di rumah karena dia yang akan menjemput Liana. Najma melakukan ini karena terpaksa. Liana yang memintanya menjemput dan mau tidak mau Najma melakukannya. Rumah Liana adalah tempat yang tidak ingin Najma datangi. Ada bibinya yang menyebalkan di sana.
Najma menggoes sepada yang sekarang sudah menjadi transformasi yang dia sukai. Di desa ini, hanya dengan menggunakan sepeda Najma bisa ke mana saja dengan cepat. Melelahkan memang, tapi daripada dia harus berjalan kaki ke mana-mana.
Di tengah perjalanan menuju rumah Liana, tiba-tiba saja Najma terpikir untuk pergi jalan-jalan saat subuh dengan menggunakan sepeda. Dengan menggunakan sepeda Najma tidak perlu takut, tapi dia harus memikirkan hal ini dulu.
“Liana?!” teriak Najma begitu sampai di depan rumah Liana.
“Turun dari sepedamu dan masuk saja ke dalam.”
Suara yang terdengar dari belakangnya sontak membuat Najma kaget. Dia menoleh dan mendapati bibinya di sana.
“Ayo masuk.”
Najma menggeleng. “Enggak usah.”
“Mau kemana sore-sore seperti ini?” tanya Ana.
Najma diam, apa dia harus mengatakan yang sejujur jika dia akan pergi ke lapangan dengan Liana?
“Lapangan?” ucap Ana karena tidak mendapatkan jawaban dari Najma.
“Iya Bu, kita mau pergi ke lapangan.”
Liana yang Najma tunggu akhirnya keluar juga. Najma akhirnya bisa bernapas lega karena bisa pergi dari tempat ini juga.
“Tunggu dulu.” Ana menahan kepergian Liana dan Najma.
Apa lagi ini, batin Najma yang melihat tingkah bibinya itu. Tak berselang lama bibinya keluar dengan sebuah kotak bekal.
“Bawa ini agar uangmu tidak habis untuk beli cemilan.”
Najma menerima itu dia kemudian memberikannya pada Liana.
“Jangan pulang saat magrib, usahakan lebih cepat,” pesan Ana.
“Iya Bu, kita berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Assalamualaikum,” cicit Najma pelan.
“Waalaikumussalam.”
Najma mengayuh sepedanya dengan kencang. Dia ingin cepat-cepat datang ke lapangan agar bisa melihat Ibrahim. Sampai di lapangan, beberapa orang tampak santai duduk di pinggir lapangan. Tak jauh dari lapangan utama beberapa anak kecil bermain.
Lapangan dengan rumput hijau yang membentang terasa sangat menyejukkan mata. Najma mencoba mencari-cari keberadaan Ibrahim di antara laki-laki yang tampak berbicara di tengah lapangan.
Sibuk mencari Ibrahim diantara kerumunan, ternyata Ibrahim baru saja masuk ke dalam lapangan. Najma sukses dibuat terpukau oleh sosok Ibrahim. Ketika Ibrahim bergabung dengan teman-temannya seharusnya Najma sadar jika Ibrahim akan terlihat menonjol diantara laki-laki yang lainnya. Dia terlihat lebih bercahaya. Sangat mudah bagi Najma melihat Ibrahim jika seperti ini.
Semua orang tampak sangat senang. Mereka tersenyum dan tertawa bersama-sama. Hidup dengan rukun, bahkan saling tolong-menolong. “Orang-orang di desa ini hidupnya bahagia banget ya,” gumam Najma.