Di mata seorang yang tengah jatuh cinta, apapun yang dilakukan oleh orang yang dicintai akan selalu terlihat benar dan indah. Semua yang dilakukan Ibrahim adalah kebenaran yang indah. Najma rasa akan sangat sulit bisa menemui laki-laki yang sekomplit Ibrahim. Dari poin-poin yang Najma dapatkan, selalu ada poin plus barunya.
Seperti sekarang, di sore hari di mana Najma tengah mencoba menambah hapalannya. Di luar pagar Ibrahim tampak sangat akrab dengan beberapa anak-anak kecil. Bahkan Ibrahim sampai menggendong satu anak dan Najma sukses dibuat terkesima olehnya. Siapapun yang melihat keakraban Ibrahim dengan anak kecil itu bisa saja langsung berpikir jika Ibrahim sudah sangat cocok untuk menjadi seorang bapak.
Jiwa kebapakannya, bati Najma senang.
Najma ingin melihat Ibrahim mempunyai anak, tapi bukan sekarang. Ibrahim harus menunggunya cukup usia dulu agar bisa menikah dan memiliki anak bersama. Jika Najma berani mengatakan itu, sudah pasti kedekatannya dengan Ibrahim rusak.
Tanpa Najma duga Ibrahim tidak sengaja menoleh ke arahnya dan tersenyum. Serangan mendadak yang Najma dapatkan sukses membuat Najma terdiam. Hanya sesaat Ibrahim tersenyum, tapi senyum itu selalu saja memiliki efek jutaan volt. Ah, Najma ingin melihat seenyum itu lagi, sayangnya Ibrahim malah pergi setelah itu.
Sangat disayangkan, batin Najma miris. Harusnya tadi dia keluar pagar saja dan memberanikan diri menyapa Ibrahim.
Sore ini memang bartukar pandang saja, tapi nanti Najma akan bisa bertemu Ibrahim lebih lama, dan mungkin saja nanti mereka bisa mengobrol. Najma jadi tidak sabar untuk bertemu dengan Ibrahim nanti malam.
Nanti malam akan diadakan yasinan di salah satu rumah anggota remaja masjid dan Ibrahim yang juga sebagai pengurus remaja masjid ikut serta di sana. Liana yang ikut remaja masjid pun mengajaknya dan dia tentu tidak bisa menolak itu. Kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan.
“Najma, mandi!”
Suara perintah neneknya itu membuat Najma tersadar dari lamunannya. Najma pun mengikuti perintah neneknya. Dia masuk ke rumah dan langsung mandi sore. Tidak ada kata-kata nanti dan sebagainya yang keluar dari Najma. Jatuh cinta ternyata memiliki efek yang besar pada kepribadian seseorang. Tidak ada yang menyadari jika Najma sedang jatuh cinta. Yang mereka tahu, Najma berubah menjadi anak yang lebih baik dan rajin.
Malam yang Najma tunggu pun akhirnya tiba. Semua remaja masjid harus berkumpul di masjid terlebih dahulu sebelum akhirnya berangkat menuju rumah tempat diadakannya yasinan. Di sini Najma hanya mengenal Ibrahim dan teman-teman Liana, selebihnya Najma tidak memperdulikan itu, orang-orang itu hanya cameo di hidupnya, jadi mereka tidak begitu penting.
“Kak Najma juga ikut ternyata.”
“Hehe, iya,” jawab Najma atas ucapan Siti.
“Enggak mau taruhan lagi Kak?”
Najma hanya menatap Elia dengan tajam lalu kembali mencari sosok yang dicari-carinya sedari tadi. Ternyata Ibrahim baru saja keluar dari dalam masjid. Belum saja dia memakai sendalnya, seorang perempuan menghampiri Ibrahim. Perempuan yang tengah berbicara dengan Ibrahim terlihat sedikit lebih muda darinya. Mereka terlihat sangat seru kali saat berbicara dan Najma tidak suka itu. Ingin rasanya Najma menghampiri Ibrahim, tapi orang-orang ini pasti akan menatapnya aneh.
Apa dia harus memperdulikan tatapan itu? Jika ingin kenapa dia tidak melakukannya saja bukan? Tidak melakukan sesuatu pada akhirnya akan menimbulkan penyesalan nantinya. Siapa yang peduli dengan tatapan orang-orang yang mengatakannya sok akrab dengan Ibrahim. Dia memang sudah akrab dengan Ibrahim dan sudah menjadi teman Ibrahim, jadi sah-sah saja menyapa seorang teman di keramaian seperti ini.
“Lin, ke sana yuk.” Elia menunjukkan di mana teman-temannya yang lain berada.
Liana melirik Najma. Jika dia mengajak Najma ke sana, pasti Najma tidak akan suka dan tidak nyaman. “Maaf ya, Lia enggak bisa ikut.”
“Kak Najma enggak mau ya?” tanya Siti.
Merasa dirinya dipanggil Najma sontak menatap tiga bocah di depannya ini. “Kenapa?” tanya Najma.
“Kakak mau ikut ke sana?” Elia kembali menunjukkan tujuannya.
Gelengen langsung Elia dapatkan setelah dia menunjukkan tujuannya itu. Najma tidak mau pergi ke sana, dia hanya ingin menghampiri Ibrahim sekarang.
“Ya udah, kalian aja yang pergi ke sana. Aku sama Kak Najma di sini,” jawab Liana. Tepat seperti dugaannya Najma tidak akan mau pergi ke sana.
“Ya udah kita ke sana.” Elia menarik tangan Siti agar mengikutinya.
Pandangan Najma kembali terarah ke Ibrahim. Ibrahim masih di sana dan sekarang mereka tidak berduaan lagi. Ada seorang laki-laki yang Najma sering melihatnya bersama Ibrahim namun Najma tidak ingat siapa nama laki-laki itu.
Sekarang Najma harus memberanikan dirinya menghampiri Ibrahim. Najma menarik tangan Liana, baru satu langkah Najma berjalan, dia sudah ditahan Liana.
“Kakak mau kemana?” tanya Liana bingung.
Najma sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Liana. Dia kemudian memberi kode dengan matanya. Dia ingin pergi menghampiri Ibrahim.
“Ke Kak Ibrahim. Ayo.”
Najma merasa beruntung karena Liana orangnya tidak curigaan dan tidak banyak bertanya. Ini untungnya memiliki adik sepupu yang polos dan tidak mengerti tentang rasa cinta.
“Assalamualaikum, Kak Ibrahim,” ucap Najma ketika sampai dihadapan Ibrahim.
“Assalamualaikum,” ucap Liana juga.
Dua orang yang ada di sisi Ibrahim pun menatap Najma dan Liana yang baru saja datang.
“Waalaikumussalam,” jawab Ibrahim dan dua orang temannya serempak.
“Ini Cucu Nek Rida itu ya,” ucap si perempuan yang sedari tadi berbicara dengan Ibrahim.
“Iya Kak Muthia,” jawab Liana mewakili.
Oh, namanya Muthia, batin Najma sambil memperhatikan Muthia.
Najma menyodorkan tangannya dengan terpaksa. “Najma,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Salam kenal ya Najma, kamu bisa panggil Kakak, Muthia.”
“Salam kenal juga Kak Muthia.” Najma mencoba untuk tersenyum ramah.
“Kalau nama Kakak, Riza. Kita pernah ketemu di warnet Ibrahim.”
Pandangan Najma kemudian teralih ke laki-laki di samping Ibrahim. Tangan laki-laki itu tersodor ke arahnya. Keraguan Najma untuk berjabat tangan dengan laki-laki yang bernama Riza itu hilang begitu Ibrahim menepis tangan itu.
“Jangan cari kesempatan,” ucap Ibrahim.
Riza hanya cengengesan mendengar teguran dari Ibrahim. Sedangkan Najma, dia seketika merasa jika Ibrahim tidak ingin dirinya disentuh oleh laki-laki lain. Najma tentu saja senang dengan hal ini.
“Salam kenal juga ya Kak Riza,” ucap Najma.
“Dek Najma udah kelas berapa sekarang?” tanya Riza.
Ini yang Najma tidak suka, ditanya kelas berapa. Itu sama saja memperlihatkan kesenjangan usia diantara mereka. “Baru mau masuk SMP.”
“Oh, gitu.” Riza mengangguk mengerti.
“Mut, Za, sini!” panggil seseorang yang jaraknya cukup jauh dari mereka.
“Sepertinya udah mau jalan,” ucap Muthia. “Ya udah aku ke sana dulu ya.” Muthia pamit untuk bergabung dengan yang lainnya.
Sepeninggalan Muthia dan Riza, yang tersisa tentu saja hanya Ibrahim.
“Kok, Kak Ibrahim enggak ikut ke sana?” tanya Najma. Ibrahim bagian dari pengurus juga, tapi kenapa dia malah diam di sini.
“Kan Kakak enggak dipanggil.”
Iya sih tidak dipanggil, tapi aneh saja jika Ibrahim tidak berkumpul bersama yang lainnya apalagi diakan salah satu pengurus juga. Kenapa Najma jadi mempermasalahkan hal ini, harusnya dia senang karena Ibrahim masih diam di sini.
“Kak Ibrahim bukan pengurus lagi?” tanya Liana.
Ibrahim mengangguk mengiyakan ucapan Liana.
Najma ingin bertanya lagi pada Ibrahim, sayangnya suara perintah yang menyuruh mereka untuk mulai berangkat ke rumah yang mengadakan yasinan membuat Najma urung melakukannya.
“Ayo jalan, jangan sampai tertinggal,” ucap Ibrahim.
Najma sebisa mungkin menyelaraskan langkah kakinya dengan Ibrahim. Dia tidak ingin tertinggal ataupun mendahului Ibrahim satu langkahpun.
“Kok Kak Ibrahim berhenti jadi pengurus?” tanya Najma. Najma sebenarnya tidak peduli Ibrahim mau berhenti jadi pengurus atau tidak, tapi dengan adanya topik ini dia jadi bisa berbicara dengan Ibrahim.
“Iya Kak, kenapa berhenti?” tanya Liana juga penasaran. Seingat Liana, walau Ibrahim mondok di pesantren, tapi setiap pulang Ibrahim akan ikut menjadi pengurus remaja masjid.
“Sudah waktunya kalian belajar jadi pengurus.” Ibrahim melirik Liana yang ada di samping Najma.
“Belum siap ih Kak, jadi anggota aja udah enak.” Liana menunduk malu.
Najma memperhatikan interaksi itu. Ibrahim tidak mungkin menyukai Liana bukan? Usia Ibrahim dan Liana sendiri terpaut sembilan tahun, jauh lebih baik dirinya yang hanya beda tujuh tahun dan orang-orang pasti tak masalah dengan hal itu.
“Kalau di pondok, Kak Ibrahim aktif ikut kepengurusan enggak?” Najma mencoba untuk memotong pembicaraan Ibrahim dengan Liana.
“Terakhir jadi Mudabbir.”
“Itu tugasnya ngapain Kak?” tanya Najma lagi.
“Ngurusin santri lainnya.”
“Kakak kuat?” Najma menatap Ibrahim takjub.
“Kalau ikhlas ya kuat. Awal-awalnya pasti berat, tapi kalau sudah terbiasa semuanya terasa mudah.” Ibrahim tersenyum singkat.
Senyuman yang Ibrahim berikan tidak pernah gagal. Semua senyuman Ibrahim selalu menancap tepat di hati Najma. Ibrahim itu murah senyum dan senyumannya itu akan membuat Ibrahim terlihat semakin tampan. Ah, Najma ingin melihat senyuman itu lagi.
Di tempat yasinan, Najma kira dia memiliki kesempatan untuk duduk di samping Ibrahim, tapi sayangnya tidak. Setidaknya jika mereka berdua tidak duduk bersebelahan, harusnya Najma bisa melihat Ibrahim. Tapi, Najma sama sekali tidak bisa melihat Ibrahim karena posisi duduknya yang sejajar dengan Ibrahim. Ibrahim ada di ujung sana dan dia juga ada di ujung satuannya.
Yasinan akhirnya dimulai dengan khidmatnya. Najma yang tidak bisa membaca surah yasin hanya bisa menyimak dan mengikuti di beberapa ayat yang ingat karena sering mendengarnya. Dia harus belajar dengan giat agar bisa setidaknya pantas untuk Ibrahim.
Najma kira acara yasinan yang diadakan ini akan memakan waktu yang sangat lama, ternyata malah berjalan sangat cepat. Mungkin efek dirinya sudah terbiasa dengan hal seperti ini jadi dia tidak begitu merasakan ngantuk dan bosan. Ini kali pertama Najma mengikuti acara yasinan ke rumah seseorang dan Najma benar-benar baru tahu jika setelah selesai yasinan dia akan mendapatkan nasi bungkus.
Ini jelas sesuatu yang baru bagi Najma. Ini nasi bungkus pertamanya saat mengikuti acara yasinan. Fakta itu membuat Najma tersenyum geli.
Saat akan pulang Najma tidak bisa berjalan di samping Ibrahim lagi karena Ibrahim berjalan di belakang bersama beberapa teman laki-lakinya. Sepertinya keberuntungannya di hari ini untuk melihat Ibrahim hanya sampai di sana.
Najma yang mengerucutkan bibirnya karena tidak bisa berjalan bersama Ibrahim. Sesuatu yang tiba-tiba terasa aneh membuat Najma mendadak kaku dan berhenti berjalan.
“Kenapa Kak?” tanya Liana yang menyadari perubahan Najma.
Najma menatap ke bawah dan menyadari sendalnya ternyata putus. “Sendalku putus.”
Najam ingat betul jika sendalnya baik-baik aja dan setelah yasinan tadi, Najma merasakan ada perubahan di sendalnya.
“Jalan di depan becek lagi Kak, gimana dong?” Liana tidak punya ide agar Najma bisa melewati jalan yang becek tanpa mesti takut kakinya kotor.
“Kamu enggak mau kasih sendalmu?” tanya Najma. “Ah, kamu juga nanti kakinya kotor.” Najma gini-gini juga tidak tegaan.
“Kenapa berhenti?”
Di saat menerima sial seperti ini, Najma malah didatangi Ibrahim dan teman-temannya. Najma akan sangat malu sekali jika Ibrahim sampai melihatnya
“Enggak apa-apa Kak, Kakak jalan duluan aja.”
“Sendal Kak Najma putus.”
Najma melirik Liana dengan kesalnya. Bisa-bisanya Liana mengucapkan itu dengan mudahnya. Ini jelas hal yang memalukan.
“Mau Kakak Riza gendong enggak?”
Najma yang mendengar itu hanya bisa menggeleng dengan emosi yang dia tahan. Apa-apaan itu! Dia kira dia mau gitu digendong sama laki-laki yang bahkan bukan Ibrahim.
“Pepet terus Za!” teriak orang yang Najma tidak tahu namanya itu.
Ibrahim melepas sendal yang dia pakai dan menempatkannya di depan kaki Najma. “Pakai ini.”