Bab 9

1658 Words
Najma yang mendadak bersikap aneh tidak luput dari pandangan Liana. Liana yang melihat kakak sepupunya mendadak bersikap aneh tentu saja langsung bertanya, “Kak Najma kenapa?”   “Enggak apa-apa,” jawab Najma sekadarnya. Seluruh pikiran Najma sekarang hanya tertuju pada pusat perhatiannya, di mana dia penasaran sosok yang membaca Al-Qur’an di depan sana. Najma sangat ingin melihat wajah sosok itu, tapi kenapa sulit sekali?    Apa tidak ada satu keberuntungan untuknya? Oh, Najma ingin menangis saja saat ini.   Aanak dengan tubuh bongsor tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya yang menyebabkan sebuah celah terlihat. Sebuah celah yang Najma coba gunakan untuk  melihat ke depan, dia berharap celah itu bisa membuatnya melihat sosok pemilik suara merdu itu.   Untuk pertama kalinya Najma merasa apa yang diinginkannya terkabul di sini. Dari celah itu Najma akhirnya bisa melihat sosok pemilik suara yang merdu itu. Wajah itu tertunduk sambil membaca Al-Qur’an, namun ketampanan yang terpancar tidak bisa terelakkan. Saat itu juga Najma tidak bisa menahan senyumannya yang langsung mengembang dengan lebar.   Posisi tubuh Najma yang miring ditambah dengan senyum yang mengembang lebar itu membuat Liana yang ada di samping Najma menatap keheranan. Kenapa tubuh kakak sepupunya miring? Dan kenapa kakak sepupunya itu tersenyum dengan lebarnya? Bahkan senyum yang terlihat sekarang adalah senyum termanis yang pernah dikeluarkan kakak sepupunya itu.   “Liana,” ucap Najma yang masih terus memandangi laki-laki di depan sana. Mengetahui laki-laki di depan sana yang sepertinya anak SMA membuat Najma semakin penasaran.   “Iya Kak, kenapa?”   “Kamu tahu enggak, siapa nama orang yang sekarang baca Al-Qur’an itu?”   “Namanya Kak Ibrahim, kenapa ya Kak?” Tanpa ada rasa curiga Liana menjawab dengan cepat.   “Ibrahim?” ulang Najma dan bibir kembali tersenyum dengan lebarnya.   Senyum yang tergambar jelas setelah nama Ibrahim terucap akhirnya membuat Liana penasaran juga. “Iya, emangnya kenapa ya Kak?”   Najma menoleh ke arah Liana dengan senyum yang masih mengembang. Dia menggeleng sambil berucap, “Enggak, enggak apa-apa.”   Saat mengatakan itu Najma mengerjapkan matanya yang membuat air matanya mengalir sehingga Liana yang melihat itu merasa aneh dan khawatir. Najma yang tersenyum sambil menitikkan air mata, apa kakak sepupunya itu baik-baik saja?   Najma menyeka air matanya yang mengalir. Najma tidak menyangka bahwa dia bisa sampai menitikkan air mata hanya karena seorang yang bernama Ibrahim itu. Najma memejamkan matanya, dia mencoba untuk kembali menikmati suara Ibrahim yang merdu. Sayangnya saat itu juga bacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Ibrahim akhirnya selesai. Seketika Najma mendesah sedih, kenapa secepat ini? Diakan ingin mendengar lebih lama lagi suara Ibrahim yang merdu.   Kekecewaan Najma karena tak bisa mendengar suara mengaji Ibrahim seketika luntur karena Ibrahim mengangkat wajahnya dengan sempurna, hal itu membuat Najma terpukau karena bisa melihat pahatan yang sempurna di wajah itu. Saking terpukaunya, dia bahkan sampai tidak berkedip sama sekali.   Ibrahim, dia terlihat sangat bercahaya di depan sana. Baru kali ini Najma melihat sosok yang sangat sempurna. Terlebih Ibrahim dia temukan di desa terpencil seperti ini. Tidakkah ini seperti menemukan mutiara di kolam yang berlumpur?   “Ganteng banget,” gumam Najma tanpa bisa dicegah. Memuji Ibrahim seribu kali pun Najma sanggup.   Selama hidupnya ini, ini kali pertama Najma langsung sangat suka pada lawan jenisnya. Ibrahim memiliki suara yang merdu, tidak hanya suara bahkan paras yang dimiliki Ibrahim juga sangat-sangat indah. Dia bukanlah lelaki yang terlihat garang, dia tampak sangat lembut.   Sosok Ibrahim akhirnya pergi dan tidak terlihat lagi di pandangan Najma. Najma kembali ke posisinya semula, tampak sekali raut wajah Najma yang sedih karena tidak bisa melihat Ibrahim lagi. Wajah itu sekarang akan menjadi candunya.   Terbukti sepanjang acara berlangsung, Najma hanya memikirkan Ibrahim. Mungkin jika dibedah semua isi kepala Najma penuh dengan sosok Ibrahim. Bahkan sekarang Najma mulai membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya dan Ibrahim menjadi akrab. Mereka berdua berbincang dengan serunya, bahkan mereka berdua sampai tertawa bersama. Ah, sangat indah sekali.   Membayangkan suara merdu Ibrahim saat mengaji itu tertawa, pasti akan terdengar sangat indah bukan? Dan bagaimana jika Ibrahim memanggil namanya? Seperti apa suara itu akan terdengar? Sekarang Najma mendadak sangat ingin mengobrol dengan Ibrahim dan saat itu Ibrahim akan menyebut namanya dengan suaranya yang merdu. Najma sangat ingin hal itu terjadi.   “...Najma.”   Baru saja Najma membayangkan Ibrahim memanggil namanya, sekarang dia sudah mendapatkan panggilan itu. Dengan senyum yang mengembang Najma membalas panggilan itu, “Iya, Ibrahim?”   Nama Ibrahim yang keluar dari mulut Najma sontak membuat Liana bingung. “Kak, ini Liana, bukan Kak Ibrahim.”   Senyum Najma seketika pudar, dia tersadar akan kesalahannya. Tidakkah Liana akan mencurigainya sekarang? Buru-buru Najma mengubah ekspresinya agar tampak biasa saja. “Ah, iya Liana, kenapa?” tanyanya.   “Kakak enggak apa-apakan?” tanya Liana khawatir. Perubahan suasana hati Najma yang drastis membuat Liana khawatir. Dari Najma yang tampak bosan, lalu bahagia dan selanjutnya dia menjadi sedih bahkan sampai menangis. Semua itu jelas mengkhawatirkan bagi Liana.   “Ya, aku baik-baik aja.” Najma sejujurnya tampak ragu saat mengatakan itu karena dia tidak baik-baik saja karena tidak melihat sosok Ibrahim.   “Kalau jujur aja.” Sikap Najma terlalu aneh untuk dikatakan baik-baik saja.   “Bener, habis ini ada acara apalagi?” tanya Najma.   “Nantikan ada acara resepsinya.”   Najma ingat, nenek tadi mengatakan jika akan ada resepsi. Jika Ibrahim ikut andil di acara ini, sudah pasti Ibrahim juga akan datang ke acara resepsi bukan? Seketika senyum Najma mengembang saat itu juga.   “Oh, oke.”   Di acara resepsi nanti Najma akan berusaha agar bisa berbicara dengan Ibrahim. Jika bisa, Najma juga ingin tahu banyak tentang Ibrahim, ingin lebih dekat dengan Ibrahim dan jika bisa Najma juga ingin menjadi kekasih Ibrahim.   Najma seketika tertegun karena pikirannya. Tidakkah dia baru saja dia memikirkan untuk menjadi kekasih Ibrahim? Wajah Najma mendadak memerah. Kekasih, satu kata yang tak pernah sebelumnya Najma bayangkan akan dia miliki dan sekarang tiba-tiba saja kata itu terlintas dipikirannya hanya karena Ibrahim.   Tepat ketika acara akad nikah selesai dilakukan Najma mencoba kembali mencari sosok Ibrahim. Siapa tahu dia bisa bertemu Ibrahim. Jika bisa bertemu di sini lagi, jelas ini sebuah keberuntungan.   “Kakak nyariin siapa?”   Najma yang tampak celingak-celinguk itu membuat Liana penasaran.   “Dua temen kamu itu ke mana?” kilah Najma.   “Mereka mungkin sama anak yang lainnya.”   “Enggak main sama mereka?” Untuk pertama kalinya Najma malah mengajak Liana dan teman-teman Liana untuk bermain. Ini tentu saja bukan karena Najma ingin bermain dengan mereka, ini hanya karena Najma penasaran ke mana perginya Ibrahim.   “Kalau Kak Najma mau main, ya udah ayo.” Mendengar kakak sepupunya ingin bermain bersama teman-temannya, tentu saja membuat Liana senang. Liana bahkan sampai tersenyum lebar.   “Kalian biasa main sama anak yang seumuran ya?” tanya Najma disela-sela perjalanan mereka mencari anak-anak yang lain. Walau tengah berbicara Najma tidak boleh lengah sedikitpun untuk mencari keberadaan Ibrahim.   “Iya biasanya gitu.”   “Kalau sore di lapangan ada yang main sepak bola enggak?” tanya Najma lagi.   “Ada, tapi enggak tentu setiap hari juga sih. Kak Najma suka main sepak bola?”   “Suka nonton aja,” kilah Najma. Sejujurnya Najma tidak suka menonton anak laki-laki bermain sepak bola, tapi ini karena Ibrahim. Najma tidak tahu apakah Ibrahim suka bermain sepak bola atau tidak, tapi menurutnya setiap anak laki-laki akan menyukai sepak bola bukan? Dan bisa saja di hari-hari selanjutnya Najma menyempatkan dirinya ke lapangan hanya untuk melihat Ibrahim bermain sepak bola.   “Ya udah, nanti kalau ada yang main, Kak Najma pergi nonton sama Lia. Di sini juga sering ada perlombaan main sepak bolanya juga loh, Kak.”   “Iyakah?” ucap Najma sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat seperti seorang yang sangat tertarik dengan pembicaraan itu.   “Iya, libur sekolah ini pasti ada perlombaannya.”   “Oh, gitu.”   Di ujung gang tampak Elia dan Siti yang tengah duduk santai sambil mengobrol. Buru-buru Najma berlari ke ujung gang berharap dia menemukan sosok Ibrahim yang mungkin saja keluar lebih dahulu.   “Wah, ada Kak Najma,” seru Siti.   “Kak Najma, mau enggak?” tawar Elia pada bakso yang dimakannya sekarang.   Najma menoleh dan seketika merinding saat melihat Elia menawarkan bakso yang ada di dalam plastik dan ujung plastik itu penuh dengan air liur Elia.   “Enggak, makasih,” jawabnya kemudian mengalihkan pandangannya lagi, tapi Najma tidak melihat sosok Ibrahim di ujung gang.   Mungkin dia belum keluar dari masjid? pikir Najma.   “Kak Najma kenapa lari?” Napas Liana tampak tersenggal karena mengejar Najma yang lari dengan kencang.   “Jalan kamu lambat, kelamaan aku capek berdiri.”   Bola mata Najma tampak liar sedari tadi karena selama perjalanan ke sini dia terus-terusan mencari sosok Ibrahim, tapi dia tidak kunjung melihat Ibrahim. Ibrahim seperti ditelan bumi karena keberadaannya tidak terdeteksi. Ingin menanyakannya pada Liana, sayangnya Najma terlalu malu untuk menanyakan itu.   “Pulang yuk,” ajak Najma. Dia merasa jika dia mencari Ibrahim seperti ini dia tidak akan bertemu dengan Ibrahim. Najma jadi berpikir jika dia lebih baik menunggu di tempat yang pasti Ibrahim datangi, yaitu tempat resepsi.   “Kak Najma enggak main dulu?” tanya Elia.   “Ya Kak. Yuk main.” Siti ikut menyauti.   “Capek, nanti juga ada resepsi, aku mau istirahat aja. Yuk Lia.” Najma berjalan meninggalkan Elia dan Siti.   “Lia duluan ya,” ucap Liana kemudian menyusul Najma.   Sepulang ke rumah, Najma segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia membongkar seluruh pakaiannya. Tidak mungkin bukan jika dia datang ke acara resepsi dengan dandanan yang jadul seperti ini?   Baru setengah membongkar pakaiannya Najma mulai kelelahan karena dia tidak menemukan pakaian yang cocok. Dia harus terlihat cantik agar ketika pertama kali Ibrahim melihat ke arahnya, Ibrahim akan tertegun kemudian tidak bisa melupakannya.   Najma akhirnya mendapatkan bajunya yang terlihat lebih cantik dibandingkan yang sekarang dikenakannya. Rok yang sekarang dipakainya bisa sedikit Najma perindah dengan memberikannya sabuk. Tidak ada yang tidak terlihat cantik jika Najma yang memakainya.   Membayangkan dirinya yang ditatapan tanpa berkedip oleh Ibrahim membuat Najma tidak bisa menahan tawanya. Ibrahim pasti akan langsung menyukainya karena di desa ini tidak ada yang lebih cantik darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD