Najma tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Bibirnya sudah dia pakaikan lipstik, wajahnya juga sudah dia bubuhkan bedak. Bahkan rambutnya sudah tertata dengan rapinya. Dengan penampilan ini, sekarang dia sudah siap untuk bertemu dengan Ibrahim.
Melihat dirinya saja Najma terpana, apalagi Ibrahim. Dia jelas sangat jauh berbeda dari gadis desa ini dan dengan penampilannya ini, Najma sangat yakin Ibrahim akan langsung tertarik padanya.
Pandangan Najma langsung tertuju pada jam dinding. Sudah waktunya untuk mereka berangkat. “Yuk Nek berangkat!” seru Najma dengan riangnya. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ibrahim. Detak jantungnya sekarang bahkan sudah mulai tidak karuan hanya karena memikirkan akan bertemu dengan Ibrahim.
Rida seketika kaget melihat sosok Najma yang berdandan tidak sesuai usianya. Rida akui jika Najma adalah perpaduan yang sempurna dari anaknya Winda dan suaminya Anton, tapi apa yang dilakukan Najma saat ini jelas sebuah kesalahan. Lipstik merah yang terpoles di bibir yang tersenyum itu membuat mata Rida sakit melihatnya. Bisa-bisanya Najma melakukan ini.
“Kenapa pakai lipstik? Kamu terlalu berlebihan untuk anak 11 tahun yang masih SD.”
“Nek, aku udah bukan anak SD lagi ya! Dan ini….”
“Untuk saat ini kamu masih terdaftar sebagai anak SD. Apa kata orang kalau lihat kamu sudah dandan seperti ini? Hapus lipstiknya atau tidak keluar sama sekali,” ancam Rida. Anak sekecil Najma siapa sangka sudah mengenal make up. Jelas hal ini tidak bisa dibiarkan, mau jadi apa Najma jika masih kecil sudah mengenal make up.
Diperingati seperti itu membuat ekspresi Najma seketika menggelap. Dia menatap neneknya dengan tajam dan tanpa basa-basi dia masuk lagi ke dalam kamar. Dia menarik dengan kesal tisu basah yang ada di atas meja. Dihapusnya lipstick yang ada di bibirnya dengan kasar. Lipstick yang sudah terhapus dari bibirnya itu membuat bibir Najma tampak pucat.
Lip balm yang tergeletak di atas meja segera Najma ambil. Tidak mungkin bukan dia membiarkan bibirnya pucat dan kering. Najma pun mengoleskan lip balm itu setipis mungkin. Ketika sudah selesai, Najma memandangi dirinya di cermin. Wajahnya terlihat sangat suram sekali, bagaimana jika Ibrahim melihat wajah suramnya ini? Najma mencoba tersenyum walau perasaannya masih kesal. Najma mencoba menguatkan dirinya. Tidak masalah lipstiknya terhapus, toh dia tetap terlihat cantik.
Dengan mantap Najma keluar kamar dan mendatangi neneknya. Baru melihat neneknya senyum Najma seketika pudar. Perasaan kesalnya ternyata tidak bisa hilang begitu saja. Najma tidak ingin dekat-dekat neneknya nanti, yang ada dia bisa pingsan karena harus menahan emosinya setiap kali berada di dekat neneknya.
“Udah selesai?”
Najma mengangguk mengiyakan. Najma berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kontak mata dengan neneknya. Najma tidak ingin dia semakin bad mood hanya karena neneknya.
Setelah memperhatikan dandanan Najma yang tak berlebihan Rida pun berucap, “Ya sudah, ayo jalan.”
Najma harus bertahan hingga tiba di tempat resepsi. Baru di tempat resepsi dia akan memisahkan diri dengan mengajak Liana. Liana adalah tameng yang terbaik bagi Najma saat ini. Sayang sekali dia tidak bisa berangkat dengan Liana, jika bisa mungkin akan lebih bagus.
“Kamu itu perempuan, jangan pelit senyum.”
Seperti ini, ini yang Najma tidak inginkan. Neneknya mulai mengomentarinya lagikan? Bagaimana bisa dia tersenyum jika seperti ini? Tapi mau tidak mau Najma memaksakan senyumannya untuk keluar. Najma baru bertemu Liana tepat di depan gang di mana Liana berjalan bersama ibunya.
“Nek, aku mau jalan duluan sama Liana.” Najma memberi kode pada Liana agar mengikutinya.
“Bu, Lia jalan duluan ya.”
Najma menarik tangan Liana agar mengikutinya. Langkah kaki Najma tampak lebih cepat karena dia ingin jauh dari neneknya, tapi samar-samar Najma mendengar bibinya.
“Bu, dia mirip banget Ibunya. Aku takut Liana dipengaruhi.”
Walau sudah berjalan jauh Najma bisa mendengarnya dengan jelas. Jika bukan karena dia yang sangat ingin bertemu dengan Ibrahim, mungkin dia tidak akan mengabaikan ucapan bibinya itu. Dipengaruhi? Apa dia memberi pengaruh buruk? Yang benar saja. Yang ada mereka yang akan memberikan pengaruh buruk ke hidupnya. Apa mereka kira dia tidak akan gila jika setiap hari ditekan untuk melakukan apa yang tidak dia inginkan?
“Kak Najma kok buru-buru banget.”
“Kalau enggak gitu nanti makanannya habis.”
Liana terkekeh mendengarnya. “Enggak akan kok Kak, walau resepsi di desa ini cuman kecil-kecilan tapi Kak Najma enggak akan kehabisan karena semuanya ngambil sesuai porsi.”
“Nanti aku yang bakalan habisin,” canda Najma, tapi jika nanti di sana dan bertemu Ibrahim, mana mungkin dia bisa makan.
Ketika tempat acaara resepsi tertangkap mata Najma, jantungnya mendadak berdetak dengan lebih cepat, tangannya bahkan perlahan mendingin. Najma gugup, dia tidak menyangka akan bisa bertemu dengan Ibrahim lagi.
Acara resepsi yang di adakan di desa neneknya membuat Najma takjub. Begitu sederhana dan simple. Acara resepsinya diadakan di depan rumah si pengantin pria. Halaman depan rumah si pengantin pria diatapi oleh anyaman daun kelapa. Ini baru pertama kali Najma melihat hal seperti ini.
“Kenapa orang-orang enggak ngeliatin surat undangan mereka?” tanya Najma setelah sadar dirinya masuk dengan mudahnya, bahkan orang-orang di belakangnya juga masuk dengan santainya.
“Orang sinikan semuanya saling kenal, jadi enggak perlu surat undangan deh.” jawab Liana dengan bangganya.
“Begitu ya.” Sudah masuk ke dalam, Najma tidak menyia-nyiakan waktunya untuk mencari keberadaan Ibrahim. Mata Najma dengan liar memandang ke segela arah, dia berharap menemukan sosok Ibrahim di antara tamu undangan.
“Kak, yuk kasih ucapan selamat ke pengantinnya.”
Belum saja Najma menjawab ucapan Liana, Liana langsung menarik tangan Najma begitu saja. Jadilah Najma ikut berbaris bersama orang-orang yang baru datang untuk bersalaman dengan pengantin dan keluarganya. Sebagai orang asing yang tidak mengenal mempelai dan keluarganya, Najma hanya bisa tersenyum dan segera berlalu ketika gilirannya selesai.
“Yuk ambil makan,” ajak Liana.
Di tempat makan barulah Najma mengerti kenapa orang-orang yang datang tidak akan mengambil makanan yang berlebihan karena semua makanannya sudah di masukkan ke dalam kotak dan satu orang akan mendapatkan satu kotak makanan.
Benar-benar sangat irit, pikir Najma.
“Benerkan Kak kalau kita enggak akan kehabisan makanan?”
Senyum lebar Liana membuat Najma meliriknya dengan tatapan malas.
“Iya deh terserah kamu. Duduk yuk, capek.”
Najma menarik tangan Liana. Najma mencari tempat duduk yang memiliki tempat yang strategis untuk melihat tamu yang datang. Duduk dan menunggu sosok Ibrahim yang akan datang. Sampai saat ini Najma masih saja belum melihat sosok Ibrahim.
“Liana, Kak Najma,” ucap Siti. Dia mengambil duduk di samping Liana.
“Hallo Kak Najma.” Elia mengerlingkan sebelah matanya ke arah Najma sebelum dia duduk di samping Siti.
Kerlingan yang diberikan Elia membuat Najma ingin sekali mencibir bagaimana sikap sok akrab dan sok gaulnya Elia. Najma mencoba mengabaikan Liana dan teman-temannya itu. Sekarang Najma ingin memberikan seluruh fokusnya untuk mencari keberadaan Ibrahim.
Najma tidak henti-hentinya melihat ke arah pintu masuk. Dia benar-benar berharap Ibrahim muncul dari sana, tapi hingga makanannya habis, dia tidak kunjung menemukan sosok Ibrahim.
Najma melirik Liana, haruskah dia menanyakan ini pada Liana? Tapi apa yang akan dia tanyakan? Dan juga, keberadaan Elia dan Siti di samping Liana jelas tidak bagus jika dia ingin menanyakan tentang Ibrahim. Sekarang Najma tidak punya pilihan lain selain menunggu keajaiban datang, di mana Ibrahim akan masuk ke dalam tempat acara.
Cukup lama Najma di sana hingga nenek dan juga bibinya datang untuk pulang bersama. Saat itu Najma tidak bisa menahan sedihnya. Sosok Ibrahim seakan ditelan bumi. Sampai pulang pun Najma tak punya kesempatan untuk bertanya pada Liana.
Yang sekarang Najma rasakan melebihi menelan pil pahit. Ibrahim tidak datang ke acara resepsi, itu faktanya sekarang. Jelas-jelas saat acara akad tadi Ibrahim datang, bahkan dia sampai mengaji di sana. Jika dia mengambil bagian sepenting itu, harusnya dia juga akan datang ke acara resepsi bukan?
Najma juga yakin jika Ibrahim bukan orang yang memang di sewa untuk mengaji di acara pernikahan itu karena Liana mengenal Ibrahim. Yang melangsungkan pernikahan juga anak seorang ustaz, jadi tidak mungkin mereka akan menyewa seseorang untuk mengaji. Tapi mengingat suara Ibrahim yang kelewat merdu, membuat Najma seketika terdiam. Kemungkinan Ibrahim memang disewa bisa saja terjadi, buktinya Ibrahim tidak terlihat di acara resepsi tadi.
Memikirkan itu membuat kepala Najma berdenyut. Dia memijat kepalanya yang mendadak terasa pening. Kenapa apa yang diinginkannya tidak pernah terkabulkan? Keinginannya hanya sangat sederhana, dia hanya ingin bertemu dengan Ibrahim. Tapi kenapa malah dia tidak bisa bertemu Ibrahim.
“Sakit?”
Suara neneknya yang terdengar dekat membuat Najma tersadar.
“Enggak,” jawab Najma singkat.
“Nanti Nenek buatkan s**u jahe untukmu.”
“Enggak usah, aku mau langsung tidur aja.”
Najma sudah tidak berniat lagi untuk melakukan apapun. Sekarang dia merasa sangat sedih sekali. Dia butuh waktu untuk sendiri. Terbukti begitu sampai rumah, Najma langsung mengurung dirinya di kamar.
Saat dia melihat Ibrahim untuk pertama kalinya, seharusnya dia bersikap biasa saja. Memikirkan seseorang itu sangat menyakitkan bagi Najma. Dia sudah dengan percaya dirinya akan bertemu Ibrahim, tapi apa yang dia dapatkan? Tidak ada.
Suara gagang pintu yang coba dibuka membuat Najma segera mengambil posisi memunggungi pintu masuk. Dia tidak ingin melihat neneknya sekarang.
“Minum s**u jahenya dulu, terus istirahat.”
“Iya.”
Tidak ada pembicaraan yang berlanjut setelah itu. Siapa yang menyangka jika neneknya tidak akan bertanya banyak hal dan langsung pergi begitu saja. Ini yang diinginkan Najma, neneknya langsung pergi tanpa mengajaknya berdebat.
Tidak bertemu Ibrahim membuat semua rasa kesal Najma berkumpul jadi satu. Ingatan akan ketidakadilan yang selalu dia dapatkan dalam hidupnya membuat Najma ingin berteriak.
Kapan dia bisa bahagia? Kenapa dia tidak bisa mencium aroma kebahagiaan itu? Apa dia tidak diperbolehkan untuk hidup?
Semua keemosionalan itu membuat Najma akhirnya menangis. Dia sudah tidak kuat lagi rasanya. Dia ingin pulang saja, tapi orangtuanya bahkan tidak meneleponnya. Jika mereka sayang padanya seharusnya mereka menelepon lebih dulu, sesibuk apapun mereka, bukannya menunggu untuk ditelepon.