Bab 11

1658 Words
Rida perlahan berjalan menuju kamar Najma. Azan asar sudah berkumandang dari beberapa jam lalu dan sekarang Rida harus membangunkan Najma untuk salat. Sudah cukup waktu untuk Najma beristirahat. Rida akan terus mengingatkan Najma untuk salat hingga Najma bisa melakukannya atas kesadarannya sendiri.    Tiba di dalam kamar Najma, Rida masih melihat s**u jahe buatannya yang tidak diminum Najma sama sekali. Sudah lewat setengah jam dari Rida memberikannya pada Najma, seharusnya s**u jahe itu sudah habis.   Rida duduk di pinggir tempat tidur. “Najma, bangun.”   Tidak ada jawaban sama sekali dari Najma. Rida menghela napas kemudian kembali memanggil cucunya, namun kali ini Rida memberikan goyangan pada badan Najma agar Najma bisa lebih mudah sadar.   “Enghhh….” Erengan itu terdengar keluar dari mulut Najma.   Mendengar erengan Najma yang tidak terdengar seperti biasanya membuat Rida menelentangkan tubuh Najma. Hidung dan mata Najma tampak memerah, jejak-jejak air mata tempak jelas di wajah dan juga sarung bantal yang digunakan Najma. Ketika tangan Rida berada tepat di atas dahi Najma, hawa panas perlahan tersalurkan dari sana.   “Demam,” gumam Rida. Padahal sebelum ini Najma tampak baik-baik saja, tapi tiba-tiba dia langsung jatuh sakit seperti ini. Tanpa pikir panjang lagi, Rida segera pergi ke dapur untuk membuat kompres agar demam Najma turun. Setelah menaruh kompres yang dibuatnya, Rida kembali ke dapur untuk mengambil obat penurun panas dan air hangat agar begitu Najma bangun dia bisa minum obat penurun panas.   “Engh… enggak suka,” ucap Najma lemah. Tangan Najma bahkan berusaha membuang kain kompres yang ada di atas keningnya itu. Segera saja Rida mengamankan kain itu.   “Ya udah, tapi harus bangun buat minum obat dulu.”   Najma menggeleng lemah. “Aku enggak sakit,” racaunya.   “Najma,”   “Kalian enggak pernah sayang aku!” pekik Najma keras.   “Kenapa kamu berpikir kalau Nenek tidak sayang kamu?”   “Ne…Nenek keluar,” katanya lemah.   “Minum obat dulu baru Nenek keluar.”   Cukup lama Najma merespons ucapan itu, dia perlahan membuka sedikit matanya dan mencoba untuk bangun. Rida langsung sigap membantu Najma untuk duduk. Rida memberikan obat itu dan Najma langsung menenggaknya.   “Istirahat, panggil Nenek kalau butuh sesuatu.” Rida kemudian pergi dari kamar Najma.   Sepeninggalan neneknya, Najma kembali merebahkan tubuhnya. Cahaya silau darri lampu kamar membuat Najma mengambil bantal dan menutup wajahnya. Dia sangat lelah sekarang. Dia bahkan bisa merasakan panas ditubuhnya. Ketika mencoba bangun tadi, Najma merasa kepalanya sangat pusing sekali, bahkan matanya terasa berat untuk dibuka.   Najma yakin jika sekarang matanya sangat bengkak. Ini kali pertamanya dia  menangis sampai seperti ini, yang bahkan sampai membuatnya jatuh sakit. Atau sebenarnya dia sudah sakit duluan dan baru sekarang terasa? Hari-harinya di desa ini terlalu berat. Sekarang yang dia butuh adalah waktu untuk beristirahat sekarang agar besok dia bisa kembali seperti semula.   Rasa pusing di kepalanya membuat Najma memutuskan untuk tidur lagi. Awalnya Najma sedikit kesusahan untuk tidur, tapi lama-kelamaan dia pun jatuh ke alam bawah sadarnya itu.     * * *   Najma terbangun dari tidurnya, entah sudah berapa lama dia tertidur, Najma tidak tahu itu. Najma memandangi sekelilingnya, dirinya ternyata masih berada di rumahnya. Menyadari dirinya yang ternyata masih berada di rumah neneknya membuat Najma sedih.   Tadi Najma bermimpi, bermimpi bahwa dia bisa pulang ke rumah dan kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Mimpinya tadi jelas merupakan refleksi dari keinginannya untuk pulang. Sungguh keinginan yang sederhana namun tidak bisa Najma dapatkan untuk saat ini.   Najma menghela napas lelah. Dia mencoba melihat pukul berapa sekarang. Karena penglihatannya yang masih buruk, Najma memicingkan matanya tajam. Setelah berusaha, Najma akhirnya bisa melihat angka berapa yang tertera di jam dinding itu. Pukul 3, seingat Najma dia sudah melewatkan asar, jadi ini tidak mungkin pukul 3 sore. Ini jelas pukul 3 dini hari dan Najma tak menyangka jika dirinya tidur selama itu.   Sesuatu yang terasa berada tepat di atas keningnya membuat Najma mengernyit. Ketik tangan menyentuh itu, Najma sadar jika itu sebuah kain. Baru saja Najma hendak membuang kain itu, pintu kamarnya terdengar akan di buka dan hal itu seketika membuat Najma menutup matanya. Dia berpura-pura tidur.   Diam dan tak bergerak, itulah yang Najma lakukan saat ini. Dia berusaha berakting seperti seorang yang memang tengah tidur. Tiba-tiba kain yang ada di atas keningnya itu diambil dan Najma bisa mendengar suara gemerisik air. Tak lama setelah itu Najma kembali merasakan kain itu tepat di atas keningnya, tapi kali ini terasa basah dan hangat.   Cukup lama Najma diam menunggu apa yang selanjutnya neneknya lakukan hingga akhirnya Najma mendengar suara langkah kaki yang menjauh dan pintu kamar yang tertutup. Setelah memastikan semuanya terasa tenang, barulah Najma membuka matanya. Dia menyentuh kain yang ada di atas keningnya. Ini jelas ulah neneknya, tapi kenapa dia sampai melakukan ini saat dini hari seperti ini? Hal seperti ini Najma tidak pernah dapatkan dari papa dan mamanya.   Najma menghela napas, dia membiarkan kain hangat itu di keningnya. Ini masih terlalu pagi untuk dia bangun dan nanti pasti neneknya akan datang lagi untuk membangunkannya untuk pergi salat berjamaah. Membayangkan dirinya yang dibangunkan dalam keadaan yang mengantuk berat membuat Najma memutuskan untuk tidur lagi.     Baru sebentar rasanya Najma tidur dan dia terbangun karena merasa kaget, saat dia memperhatikan jam dinding, siapa sangka jam dinding menunjukkan pukul 6 pagi. Najma bahkan sampai mengucek-ngucek matanya untuk memastikan apa yang dia lihat itu nyata atau tidak.   Najma memperhatikan pintu kamarnya dan pintu itu tertutup dengan rapatnya. Najma merasa aneh karena neneknya yang tidak membangunkannya untuk salat. Najma menggeleng, dia tidak harus memikirkan hal ini bukan? Bagus jika neneknya mulai tidak memaksakan kehendaknya. Siapa yang menyangka jika sakitnya ini bisa membuat neneknya luluh dan tidak memaksanya lagi.   Pagi ini Najma sudah merasa jauh lebih baik dibandingkan tadi malam. Rasa panas di tubuhnya pun sudah tidak ada dan ketika dia mencoba bangun, rasa pusing tidak terasa sama sekali. Seperti harapannya, dia sembuh juga pagi ini.   Dengan perasaan yang jauh lebih baik dari kemarin Najma keluar dari kamarnya. Saat akan ke kamar mandi Najma berhadapan dengan neneknya.   “Sudah merasa lebih baik?”   Najma mengangguk. “Ya seperti yang Nenek lihat.” Najma mencoba untuk terlihat sebiasa mungkin di hadapan neneknya.   “Ya sudah kalau gitu sekarang kamu salat subuh.”   Ucapan neneknya itu sukses membuat Najma melotot. Dia melihat sinar matahari yang masih tampak malu-malu dari jendela yang terbuka. Ini jelas pukul 6 pagi dan dia malah disuruh salat oleh neneknya?   “Nek, ini udah jam 6 dan subuh udah lewat.”   “Kamu baru bangun dan jadi masih bisa salat, sana salat.”   “Ya Allah, Ne….”   “Sana salat Najma.”   Najma kira neneknya berubah, tapi tetap saja dia seperti biasanya. Dengan gemas Najma berucap, “Iya, iya.”   Najma benar-benar melakukan apa yang diperintahkan oleh neneknya. Entah kenapa Najma lebih tidak bisa membantah neneknya dibandingkan membantah mamanya. Neneknya jelas lebih sadis dibandingkan mamanya yang acuh tak acuh itu.   Najma akhirnya selesai melakukan salat subuh. Setelah itu dia sudah dipanggil untuk sarapan bersama seperti hari-hari sebelumnya. Najma juga sudah menunggu waktu untuk sarapan ini karena dia belum makan dari semalam.   Nasi dan lauk pauknya masih hangat, Najma sudah terbiasa dengan hal ini sekarang. Nasi dan lauk yang selalu hangat selalu menyapa Najma saat sarapan, hal ini tidak pernah dia temui di rumahnya. Biasanya Najma selalu sarapan dengan s**u hangat yang kadang ditambah sereal atau roti bakar.   Rasa laparnya ternyata berbanding terbalik saat Najma mulai menyantap sarapannya. Baru beberapa suap saja dia sudah merasa eneg dan tidak bernafsu.   “Makan yang banyak, jangan sampai perutmu kosong karena sarapan itu sangat penting.”   “Aku enggak begitu nafsu makan,” aku Najma.   “Sarapan sedikit saja, yang penting perutmu tidak kosong.”   Najma memaksakan dirinya untuk menghabiskan semua yang ada di piringnya. Diam-diam Najma memperhatikan neneknya. Tidak terlihat sama sekali raut lelah atau mengantuk itu.   Nenek mengompresnya pukul 3 pagi tadi, neneknya juga pasti bangun lagi sebelum subuh dan setelah subuh dia masak. Yang menjadi pertanyaan Najma, apa neneknya tidak lelah? Apalagi Najma tahu jika neneknya sudah terlalu tua dan semakin tua bukankah tubuh membutuhkan istirahat yang banyak?   Sayangnya pertanyaan itu tidak Najma utarakan. Dia memilih untuk diam dan melanjutkan makannya hingga sarapan pun selesai. Karena ini waktu santainya, Najma memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Dia duduk termenung di depan jendela kamar. Di pagi hari yang setenang ini Najma bisa mendengar suara bising air yang mengalir dari belakang.   “Nenek pasti lagi cuci piring,”gumam Najma.   Mata Najma tak sengaja menatap keranjang pakaian kotornya. Semua isinya tidak ada di sana. Kemana semua pakaian kotornya? Najma bangun dan hendak keluar kamar dan sadar akan keberadaan keranjang pendek. Di keranjang itu terdapat baju-bajunya yang sudah selesai dilipat.   Najma sadar jika dia di sini tidak pernah dipaksa untuk beres-beres rumah oleh neneknya, bahkan sekarang bajunya juga dicucikan oleh neneknya.     “Aku bingung.” Najma memutuskan untuk merebahkan tubuhnya.   Sekitar 10 menitan Najma rebahan, dia lelah tidur. Najma pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Tiba di ruang depan, Najma melihat sosok neneknya yang menyapu. Tidakkah neneknya terlalu banyak melakukan kegiatan dalam waktu yang berturut-turut? Apa tubuh tua itu tidak kelelahan?   Najma yang tak sengaja melihat bibinya datang, lantas buru-buru Najma masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak suka melihat bibinya, apalagi setelah ucapan bibinya yang mengatakan dia memberikan pengaruh yang buruk pada Liana, yang benar saja.   Najma pura-pura tidur. Dia menutup tubuhnya dengan selimut. Tampak sekali Najma tidak ingin berurusan dengan bibinya. Dalam keadaan pura-pura tidur, Najma menajamkan indera pendengarannya. Langkah kaki terdengar disusul dengan bunyi pintu yang dibuka.   “Ini Bibi datang bawain kamu roti, ini masih hangat. Jadi jangan lupa di makan.”   Terdengar helaan napas kemudian langkah kaki bibinya terdengar menjauh dan menjauh. Suara deritan pintu kemudian terdengar.   “Bibi tahu kamu pura-pura tidur, tapi karena Bibi sibuk pagi ini, jadi bibi tidak punya waktu bicara sama kamu.”   Najma sontak membuka matanya saat mendengar pintu yang tertutup. Dia memandangi pintu kamarnya dengan malas. Beralih dari pintu, Najma memandangi kue yang dibawakan oleh bibinya.   “Murahan,” cibir Najma pada kue yang dibawa oleh bibinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD