Efek mengalami demam tadi malam, Najma jadi tidak bisa pergi ke mana-mana. Baru setengah hari diam di rumah Najma sudah tidak tahan. Dia ingin keluar rumah tapi nenek malah melarangnya dengan alasan dia belum sembuh sepenuhnya dan lebih beristirahat selama satu hari penuh di rumah. Najma yang memang tidak bisa membantah mau tak mau dia harus diam seharian. Setidaknya dia ditemani Liana, sehingga neneknya tidak begitu mengganggunya.
Najma memandangi Liana yang tampak sibuk mengerjakan PRnya. Baru kali ini Najma melihat anak yang sudah mengerjakan PR setelah pulang sekolah. Kebanyakan anak-anak sekolahan, mereka akan mengerjakan PR saat besoknya akan dikumpulkan, itupun kadang dikerjakan saat di sekolah.
Semakin lama Najma memperhatikan Liana, dia akhirnya bosan juga. “Enggak bisa apa PRnya dikerjain nanti aja.”
“Ini PRnya baru dikasih tadi, terus besok ternyata mesti dikumpulin.”
“Ya kerjain pas malem Kek.”
“Enggak bisa Kak, malem aku harus pergi ngaji, terus belajar.”
Najma menghela napas pasrah. “Oke deh, kerjain lagi sana.”
Najma mencoba mengabaikan sosok Liana namun keberadaan Liana sama sekali tak bisa dia elakkan. Najma pun jadi penasaran dengan PR Liana yang tidak selesai-selesai. Begitu melihat PR Liana, Najma yang bisa dibilang baru selesai mengerjakan ujian nasionalnya jelas masih mengingat materi-materi pelajaran yang sudah dia kerjakan, termasuk yang sekarang dikerjakan Liana. Sejauh ini semua yang dikerjakan Liana itu benar semuanya.
“Heh, Liana,” panggil Najma.
“Kenapa Kak?”
Najma terdiam, dia sendiri mendadak bingung. Kenapa dia malah memanggil Liana?
“Enggak jadi,” ucap Najma kemudian.
Najma sendiri bingung kenapa dia bisa memanggil Liana. Tentu ini bukan karena dia yang ingin mengerjakan tugas Liana. Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan, namun Najma lupa itu apa. Karena merasa terlalu aneh, Najma mencoba untuk mengingat kembali apa yang dia lupakan.
Liana tidak sengaja melirik Najma dan siapa yang tidak khawatir melihat Najma yang seperti menahan sakit. “Kakak mending tidur di kamar deh. Kakak keliatan enggak baik-baik aja.”
“Pelanin suaramu,” tegur Najma. Jika sampai nenek mendengar ucapan Liana ini, bisa-bisa dia akan ditahan sampai waktu yang tidak ditentukan. Najma tidak bisa membiarkan ini terjadi. Bisa-bisa dia jadi gila jika terus berada di rumah.
“Tapikan Kakak keliatan sakit.”
Najma berdecak, bukankah sekarang dia terlihat sangat sehat sekali? “Aku sudah sembuh, Liana.” Najma menekankan kata sembuh dan nama Liana agar bocah di depannya ini tidak berkata yang tidak-tidak lagi
“Terus tadi Kakak kenapa?”
“Aku lagi berpikir. Emangnya aku enggak boleh berpikir?”
Liana menggeleng, tentu saja Najma bebas berpikir, tapi ekspresi yang dikeluarkan Najma lebih terlihat seperti menahan sakit.
“Isss, nyebelin banget sih.” Jika saja Najma bisa bertahan sendirian di tempat desa ini, dia tidak akan membutuhkan Liana di sampingnya. Sayangnya sekali desa ini terlalu berat untuk dihadapi Najma seorang diri. Dia butuh teman yang bisa membuat nenek tidak banyak menyuruhnya.
“Kak Najma kesel?”
Apa hal itu harus Liana tanyakan? Jelas sekali dia kesal dan Liana malah tidak peka dengan hal itu. Sikap polos Liana yang seperti ini benar-benar membuat Najma geram. Dengan senyum terpaksa yang Najma perlihatkan, diapun berucap, “Enggak dong, masak aku kesel.”
“Alhamdulillah deh kalau Kak Najma enggak kesel.”
Sekali lagi Najma geleng-geleng kepala. Liana memang polos, sama seperti tampangnya yang polos khas anak desa. Ngomong-ngomong tentang tampang Liana yang polos, tiba-tiba terbesit di pikiran Najma untuk mendandani Liana. Daripada tidak melakukan apapun, lebih baik dia mendandani Liana saja bukan?
“Li, masih lama enggak?”
“Empat nomer lagi Kak.”
Najma berdecak kesal. Jika dia sampai menunggu Liana mengerjakan semuanya, bisa-bisa akan memakan waktu lama. Kapan mereka akan main kalau begini? “Sini, aku yang kerjain.” Najma merebut buku Liana.
“Pulpennya sini juga.” Pulpen yang hendak Najma ambil tertahan karena Liana memegang pulpen itu dengan erat.
“Emangnya Kakak bisa?” Liana tampak takut sekali.
“Kamu ngeraguin kemampuan aku?” Najma ingin tertawa melihat ekspresi Liana. Tidakkah ibu dan anak ini terlihat sama? Mereka sama-sama memandanginya dengan sebelah mata.
Jelas ini tidak bisa Najma diamkan begitu saja. “Kalau yang aku jawabin salah, aku bakalan nurut apa yang kamu suruh, begitupula sebaliknya. Ingat ini.”
“Kak, jangan taruhan lagi ih. Liana enggak mau, dosa.” Hal seperti ini tidak pantas untuk dijadikan taruhan. Liana tidak ingin jika taruhan ini memiliki dampak yang buruk, entah itu untuknya dan juga bagi kakak sepupunya.
“Ini hanya antara kita berdua Liana. Aku Kakak Sepupumu loh, jadi kamu enggak usah takut.”
Liana diam dengan kepala penuh pertanyaan. Apa hal ini boleh dia lakukan? Jika tidak, pasti Najma akan marah dan tidak mau bermain dengannya.
“Ini enggak akan merugikan kita, bahkan ini akan menguntungkan kita berdua,” sambung Najma.
Bujukan Najma sukses besar, Liana akhirnya mengangguk dan membiarkan Najma mengerjakan PRnya. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Najma segera mengerjakan tugas Liana. Dia menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Dia tidak boleh membiarkan ada kesalahan sedikitpun. Dia yang akan menang di taruhan ini dan akan membuat Liana menuruti semua keinginannya.
Dalam diam Liana memperhatikan Najma mengerjakan PRnya itu. Najma terlihat sangat cepat dalam mengerjakan PRnya, bahkan Najma lebih pintar dari yang Liana bayangkan. Ucapan ibunya pun seperti omong kosong saat Liana melihat Najma seperti ini.
“Udah ni, lebih cepet daripada kamu yang kerjainkan?” Najma menyodorkan buku itu dengan perasaan bangga. Lihat saja besok, semua yang dia kerjakan akan mendapatkan nilai yang sempurna.
Liana hendak membuka bukunya namun Najma kembali menutup buku itu. “Jangan diperiksa, bakalan lama.”
Najma berdiri, dia kemudian menarik Liana agar mengikutinya. Dibawanya Liana menuju kamar mandi. Liana yang dibawa ke kamar mandi jelas bingung. Apa yang akan mereka berdua lakukan di kamar mandi?
“Cepet cuci muka,” perintah Najma.
“Buat apa, Kak?”
“Udah cuci aja.”
Seperti perintah Najma, Liana mencuci mukanya. Setelah selesai Liana kembali ditarik Najma. Kali ini Najma membawa Liana menuju kamarnya. Di dalam kamar Najma memberikan tisu untuk Liana mengelap wajahnya.
Melihat cara Liana yang mengelap wajahnya dengan lambat, sukses membuat Najma gregetan. Memang tidak akan pernah ada hal yang akan membuatnya tenang jika berurusan hal itu dengan Liana.
Najma menarik tisu baru, dia menggantikan Liana untuk mengelap wajah basah itu. “Gerakannya yang cepet tapi tetap harus lembut.”
“Emangnya kita mau ngapain Kak?” tanya Liana yang masih tidak tahu apa yang saat ini tengah mereka lakukan.
“Dandanin kamu,” jawab Najma santai.
“Seperti main dandan-dandanan?” tanya Liana.
Najma mengangguk. “Iya, serukan? Jadi kamu diem aja ya.”
Liana mengangguk mengiyakan. Siapa yang tidak mau secantik kakak sepupunya ini? Najma adalah gadis tercantik yang pernah Liana lihat. Najma yang sukarela mendandaninya jelas sebuah kesempatan emas yang tidak boleh di lewatkan. Selain bisa didandani, menjadi lebih dekat dengan kakak sepupunya adalah yang utama bukan?
Acara mendandani Liana pun dimulai. Di saat didandani, Liana sangat patuh akan apa yang Najma suruh. Hal ini tentu membuat Najma jadi lebih gampang mendandani Liana dan bisa selesai dengan cepat. Selain itu, hasil akhirnya pun sesuai dengan harapan Najma.
Bibir merah merona, pipi yang sedikit merah, kelopak mata dengan warna pink. Liana ternganga melihat dirinya. “Wah, Kak Najma jago banget,” puji Liana.
“Jelas dong.” Najma tersenyum dengan bangganya.
“Liana?”
Sontak saja Liana kaget mendengar suara ibunya yang memanggil.
“Iya Bu?”
“Ayo selesein mainnya. Ada tempat yang harus kita kunjungi.”
“Iya Bu, tunggu bentar ya.”
“Iya, tapi kamu yang cepat.”
Liana panik karena sekarang wajahnya full make up. “Kak, bantu apusin.”
“Ya ke kamar mandilah sana.”
Liana ragu untuk keluar dari kamar. Jika ibunya melihat dandanannya yang seperti ini, pasti dia akan marah besar. “Kak, liatin Ibu ada di mana,” pinta Liana dengan wajah memelasnya.
Wajah memelas itu membuat Najma mau tidak mau keluar untuk melihat situasi. Dia pergi ke ruang depan dan di sana Najma melihat bibinya yang tengah berbincang di teras depan rumah. Najma segera memberi tanda pada Liana untuk dia segera pergi ke kamar mandi.
Suara pintu kamar mandi yang ditutup dengan keras itu seakan memberi tanda Najma jika tugasnya sudah selesai. Baru saja Najma hendak masuk ke kamarnya, suara bibinya terdengar menyapa indra pendengarannya yang membuat Najma diam.
“Najma, Liana mana?”
Najma memperhatikan wajah bibinya yang tampak sekali tidak sabaran. Wajah itu terlihat sangat menyebalkan di mata Najma sekarang. “Di kamar mandi,” ucap Najma malas.
“Suruh dia untuk lebih cepat, Bibi sudah telat soalnya.”
Najma diam tidak mengiyakan ucapan itu. Najma tidak suka dengan sifat itu, seenaknya saja menyuruh dengan nada seperti itu. Setidaknya jika menginginkan sesuatu, bibinya itu harus berucap dengan nada yang manis.
Najma tidak tahan lagi melihat sosok bibinya itu. Najma yang lagi-lagi hendak masuk ke kamarnya seketika terdiam. Kali ini bukan suara bibinya yang membuat Najma mengurungkan langkah kakinya, melainkan suara televisi. Suara televisi yang sukses membuat jantung Najma berdetak lebih cepat.
“Jadi kisah Nabi Ibrahim as ini dimulai dari….”
Satu nama yang sukses membuat Najma ingat apa yang sudah dia lupakan. Sekarang Najma ingat apa yang ingin dia tanyakan pada Liana. Pertanyaan yang Liana saja yang bisa memberikan jawabannya. Jawaban yang tentu saja tentang sosok yang bernama Ibrahim, laki-laki dengan suara merdu itu.
Dengan langkah secepat kilat Najma pergi menyusul Liana yang ada di kamar mandi. Saat Najma tiba, Liana baru saja keluar dari kamar mandi.
“Liana, kamu tahu Ibrahim kan?” Ini yang ingin Najma tanyakan sedari tadi.
“Liana? Kamu masih lama di sana? Nanti Ibu tinggal loh.” Seruan itu tentu saja membuat Liana panik.
Liana mencoba mengeringkan wajahnya dengan bagian bawah bajunya. “Iya Bu, tunggu,” jawab Liana.
Najma yang diabaikan Liana tampak sangat kelut sekarang. Dia sudah berada di titik teratas rasa penasarannya. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. “Li, kamu tau Ibrahim yang waktu itu ngajikan?”
“Iya tau Kak, emangnya kenapa?” Liana berjalan dengan cepat meninggalkan Najma. Najma yang tidak mau kehilangan informasipun menyusul Liana.
“Kasih tahu aku dia orang mana,” ucap Najma cepat.
Di ruang depan Liana membereskan barang-barangnya yang tadi sempat dia tinggalkan.
“Liana?” Kembali panggilan itu terdengar yang membuat Liana semakin panik.
“Ya Bu, ini Lia keluar.”
Najma menahan tangan Liana. Dia harus mendapatkan penjelasan “Liana, jelasin dulu.”
“Kak Ibrahim orang sini, rumahnya bahkan enggak jauh dari sekolahku. Biasanya kalau ada yang perlu di fotokopi, kita pergi ke rumah Kak Ibrahim.”
“Liana ayo.”
“Kak, aku duluan ya.”
Mau tidak mau Najma melepaskan pegangannya, dia membiarkan Liana pergi. Kenapa baru sekarang dia teringat untuk menanyakan Ibrahim. Kenapa tidak dari awal saja. Sekarang dia hanya punya informasi jika rumah Ibrahim dekat sekolah Liana dan rumah Ibrahim punya tempat fotokopian.
Masalahnya , di mana sekolah Liana? Najma bahkan tidak pernah ke sekolahan Liana.
Yang Najma ingat, Liana selalu pulang dengan jalan kaki dan itu melewati rumah nenek. Tidakkah itu berarti jika sekolah Liana itu dekat? Tidak mungkin sampai berkilo-kilo meter jauhnya karena Liana selalu pulang dengan jalan kaki.
Dengan dugaan itu, Najma yakin jika dia pasti bisa mencari keberadaan Ibrahim. Desa sekecil ini pasti tidak akan bisa menyembunyikan Ibrahim lebih lama lagi. Besok Najma akan memulainya. Dia akan mencari keberadaan Ibrahim sampai lelah.
Kali ini Najma 100% yakin bisa bertemu dengan Ibrahim.