Bab 5

1819 Words
Gazebo di depan rumah menjadi tempat Najma merebahkan tubuhnya sejak pulang dari pasar. Semilir angin yang terasa sejuk membuat Najma betah berlama-lama di depan rumah dan tidak memperdulikan tatapan orang yang menatapnya dari luar pagar rumah, pagar rumah yang hanya sebatas pinggang dan terbuat dari tanaman hidup membuat orang dapat melihat dengan mudah ke perkarangan rumah.    Najma melirik buku panduan salat yang tadi dibeli neneknya. Tidak ada keinginan untuk Najma membaca buku panduan salat itu. Neneknya terlalu sadis karena sudah memberinya tugas untuk mempelajari panduan salat dan harus mempraktikkannya.   Buku yang baru 10 menit lalu Najma abaikan akhirnya dia ambil lagi. Dia kembali membaca apa yang menjadi tugasnya itu. Membacanya berulang-ulang berharap jika dia bisa menghafal semua doa yang sebenarnya dulu pernah Najma hafali karena harus ikut praktik salat di sekolah.   Baru membacanya selama 5 menit, konsentrasi Najma sudah buyar karena mendengar suara ramai. Najma buru-buru bangun dari rebahannya karena penasaran. Pembuat keributan itu akhirnya muncul. Mereka ternyata anak-anak sekolah dasar yang baru saja pulang sekolah.   Melihat anak-anak yang memakai seragam merah putih membuat Najma jadi merasa bangga karena dia sudah tidak lagi menggunakan seragam itu. Menjadi anak sekolah dasar terlalu menyebalkan bagi Najma karena sering dipandang sebelah mata oleh orang-orang di internet.   Dan bisa kita lihat bagaiman Najma sangat senang sekali karena dia akhirnya melepas statusnya sebagai anak sekolah dasar. Belum ada pengumuman kelulusan memang, tapi Najma sudah sangat yakin jika dia akan lulus dengan nilai ya mungkin cukup baik.   “Kak Najma!”   Najma memicingkan matanya karena mendengar seruan nyaring yang memanggil namanya. Dari arah depan sana matahari terlalu silau sehingga Najma tidak begitu melihat jelas sosok yang memanggilnya. Semakin mendekat Najma akhirnya bisa melihat ekspresi Liana yang tampak bersemangat mendekatinya. Liana tidak sendirian, dia membawa dua orang temannya.   Liana akhirnya masuk ke dalam pekarangan rumah dan menghampiri Najma yang masih di gazebo. Dua teman Liana juga tidak ketinggalan ikut. Sesampainya di depan Najm dengan riangnya Liana berucap, “Siti, Elia, kenalin, ini Kakak sepupu Lia, namanya Kak Najma.”   Ekspresi takjub tidak bisa terbendung dari wajah kedua teman Liana yang bernama Siti dan Elia. Saking takjubnya, mereka berdua bahkan tidak berkedip.   “Wah, Kak Najma cantik ya.”   “Iya, lebih cantik dari yang kamu ceritain.”   Najma mengernyitkan alisnya. Apa ini, dia tentu bukan binatang dari kebun binatang yang dipamerkan bukan? Dan untuk apa Liana menceritakan dirinya pada teman yang  bahkan dipertemuan pertama Najma tidak ingin bermain dengan mereka.   “Ini temen Lia, Kak. Mereka ke sini karena mau kenalan sama Kakak.”     Dua gadis itu tampak saling senggol sebelum gadis berponi itu mengulurkan tangannya ke Najma. “Elia,” ucapnya.   Najma menatap uluran tangan itu. Ekspresi penuh harap itu membuat Najma mau tidak mau menerima uluran tangan itu. Saat berjabat tangan itu, tangan Najma dijabat dengan eratnya. Saking eratnya, Najma sendiri tampak kaget tak percaya dengan apa yang sekarang dia alami. Agar bisa terlepas dari tangan Elia, Najma sampai harus menarik tangannya.   Baru saja tangan Najma terlepas dari gadis yang bernama Elia, sekarang gadis yang memakai kerudung sama seperti Liana yang sudah pasti bernama Siti itu menarik dengan paksa tangan Najma dan melakukan jabat tangan.   “Nama aku Siti. S I T I, Siti. Salam kenal ya Kak.”     Tangan Siti yang sekarang menjabat tangannya sama kuatnya dengan Elia. Untuk bisa lepas dari jabatan tangan itu Najma harus menarik tangannya lagi. Begitu terlepas Najma langsung mengelus tangannya, berharap dengan apa yang dilakukannya membuat dua teman Liana malu atas apa yang mereka perbuat. Sayangnya mereka berdua malah cengengesan. Tingkah kedua teman Liana yang tidak tahu malu itu membuat Najma ingin sekali mengusir dua orang aneh di depannya ini.   Siti tampak membisikkan sesuatu yang penting pada Elia dan Najma hanya bisa memicingkan matanya curiga. Apa yang akan mereka berdua rencanakan sekarang. Setelah acara berbisik itu, yang bernama Elia pun berucap, “Lia, kita mau pulang dulu, nanti jam 1 atau 2 kita ke datang lagi buat main.”   “Yah udah deh, nanti jangan lupa ya.”   “Iya, Daah Kak Najma.” Elia tersenyum dengan lebarnya.   “Pulang dulu ya Kak.” Siti tersenyum malu-malu pada Najma.   Tidak ada jawaban dari Najma, dia terlalu kaget mendengar jika dua gadis aneh itu akan datang main. Najma tidak ingin bermain bersama mereka, hari-harinya akan sangat melelahkan jika itu terjadi.   Tanpa sadar Najma melirik Liana dan mendapati Liana yang tersenyum malu-malu. “Kenapa?” tanya Najma ketus.   “Kak Najma enggak marahkan kalau Siti sama Elia ikut main juga?” Liana sangat ingin bermain dengan Najma dan saat dia mendengar perintah untuk menemani Najma bermain selama Najma di sini, Liana tentu saja tidak menolak hal itu. Hanya saja akan lebih bagus jika mereka main bersama yang lainnya juga, jadi Liana memberitahu temannya lebih dahulu tanpa menanyakan pendapat Najma.   “Udah terlanjur juga.” Najma sebenarnya tidak ingin pergi bermain, apalagi bersama dua teman Liana itu. Sayangnya Najma tidak punya pilihan karena jika dia terus-terusan di rumah, neneknya pasti akan memberikan banyak siksaan lahir dan batin.   “Beneran?”   Najma mengangguk malas. “Asal jangan main yang aneh-aneh.”   “Enggak akan kok, Kak.”   “Ya, ya, ya, terserah kamu saja.” Permainan apa yang bisa Najma harapkan di desa seperti ini? Najma hanya bisa mendengus geli melihat Liana yang bersemangat.   “Ya udah, Lia pulang dulu Kak, nanti Lia dateng lagi.”   “Ya, sana pulang,” ucapnya dengan tak bertenaga.   Liana kemudian pergi, dari luar pagar Liana masih saja memandangi Najma dengan senyum yang merekah. Najma benar-benar tak mengerti kenapa bocah itu bersikap seperti itu, padahal kemarin Liana tampak biasa-biasa saja. Najma harap jika Liana tidak akan menjadi beban untuknya.   Baru saja Najma hendak merebahkan tubuhnya, sebuah seruan terdengar dari arah rumah dan tanpa menoleh Najma sudah tahu siapa itu.   “Ingat pelajari sampai paham, bentar lagi Nenek akan mengetesmu!”   “Iyaaa!” teriak Najma lalu mengambil kembali buku panduan salat yang tadi sempat dia baca.   “Menyebalkan,” desis Najma.   Dalam gumaman Najma mulai melafalkan bacaan-bacaan panduan salat yang harus dia hafalkan agar tidak mendapatkan amukan neneknya. Dibandingkan beberapa jam yang lalu, sekarang Najma lebih fokus karena hari sudah sangat siang dan waktu salat hampir dekat dan itu tandanya Najma tidak punya banyak waktu untuk menghafalkan apa yang neneknya suruh.   Berpuluh-puluh menit berlalu hingga tiba saatnya Najma dipanggil oleh neneknya untuk mengetes bacaan salatnya. Najma awalnya mengira dia hanya perlu melafalkan saja bacaannya, tapi ternyata dia juga harus mempraktikkan semua gerakan salatnya. Untuk bergerak menghampiri neneknya ke dalam rumah saja Najma malas, ini lagi dia mesti memperagakan salat zuhurnya.   “Ayo mulai, kenapa malah diam.” Rida yang duduk di kursi kesayangannya di ruang tengah dan Najma sudah berdiri di atas sajadah, bersiap untuk mempraktikkan salat.   “Ya ini mau mulai.”   Najma melantunkan niat untuk salat zuhur dengan cukup keras. Najma bisa cukup lancar melafalkan niat salat karena Najma membaca huruf latin yang ada di buku panduan salat.     “Itu bacaannya masih salah, ulang,” perintah Rida dan Najma pun mengulang bacaannya hingga benar. Efek pernah praktik salat, Najma jadi sedikit lebih mudah menghafal lagi apa yang sudah dia lupakan kemarin. Tidak sepenuhnya benar memang karena beberapa ayat Najma membacanya dengan salah karena dia membacanya dari huruf latinnya.   Begitu Najma rukuk, Rida segera bangun dari duduknya dan membenarkan posisi tangan Najma yang sedikit melenceng. “Ingat posisinya di sini.”   Najma hanya bisa pasrah setiap neneknya membenarkan gerakan salatnya. Tidak sampai di sana kesalahan yang Najma perbuat.   “Cara dudukmu salah, posisi jempolmu juga salah.” Rida duduk tepat di depan Najma, Rida kemudian mempraktikkan bagaimana cara duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir yang benar pada Najma.   “Sekarang kamu coba,” perintah Rida setelah selesai memberi contoh.   “Ini masih salah,” tegur Rida.   “Tapi ini sakit, Nek. Enggak nyaman banget.” Najma merasa tidak nyaman dengan cara duduk yang diajarkan neneknya.   “Setelah terbiasa ini enggak akan sakit.” Rida membenarkan posisi kaki Najma. “Tahan seperti ini,” katanya.   Pasrah, Najma hanya bisa pasrah saat jemarinya harus ditekan oleh neneknya. Hingga akhirnya Najma berhasil menyelesaikan semua rukun salat yang neneknya minta. Begitu salam selesai Najma mendesah lega.   “Selesei, aku mau istirahat dulu.”   “Coba diulang dari awal,” perintah Rida yang sukses membuat Najma melongo.   “Lha, tadikan udah!” Saking tidak terimanya Najma disuruh ulang, suara Najma sampai meninggi.   “Nenek cuman mau liat hasil yang sudah Nenek benarkan.”   Kedua tangan Najma tampak terkepal erat. Najma tampak ingin meledak namun dia mencoba menahan dirinya untuk tidak bertindak lebih jauh. Dengan penuh keterpaksaan Najma bangun dan mengambil posisi untuk mengulang praktik salatnya. “Iya ini diulang, biar Nenek puas.”   “Ya sudah, ayo mulai.”   Sesuai perintah neneknya, Najma akhirnya mengulang lagi praktik salat yang dilakukannya. Najma terlihat lebih lancar dibandingkan tadi, ya tentu saja dalam hukum tajwidnya Najma masih salah karena membaca Al-Qur’an saja dia belum bisa. Untuk gerakan salat sendiri, Najma sudah bagus.   “Kamu cepat mengerti juga ya.”   “Akukan emang pinter kali Nek,” balas Najma dengan bangganya.   “Nanti Nenek akan ajarkan baca iqro dan menghafal surah-surah pendek, biar bacaan salat kamu benar.”   “Nek, aku capek loh.”   “Nenek tidak bilang akan melakukannya sekarang.”   “Ya udah aku mau tidur dulu.” Najma hendak beranjak dari tempatnya namun tangannya ditahan oleh neneknya.   “Sebentar lagi zuhur, salat dulu baru tidur.”   Emosi Najma serasa dipermainkan di sini. Najma tidak bisa membantah neneknya sama sekali, apalagi dengan hal yang berhubungan dengan agama. Entah sampai kapan kesabarannya akan bertahan.   Azan zuhur berkumandang tak lama setelah Najma selesai melakukan praktik salat. Kali ini Najma senang karena neneknya tidak mengajaknya salat ke masjid. Ternyata neneknya memiliki limit untuk melakukan sesuatu, sekarang kaki neneknya sedang sakit dan tidak bisa berjalan ke masjid.   Salat kali ini Najma sudah bisa mengetahui bacaan-bacaan apa saja yang harus dia lafalkan. Begitu salam Najma langsung beranjak dari tempat salat dan tidak memperdulikan neneknya yang masih diam berdoa. Najma sudah kepanasan sedari tadi dan jika lebih lama lagi di sana Najma bisa pingsan di sana.     Baru saja Najma ingin masuk ke kamar, suara salam terdengar nyaring.   “Assalamualaikum.”     Najma diam tidak bereaksi, apa dia perlu lihat ke luar? Tapi setelah sadar jika suara salam itu terdengar seperti suara Liana, Najma memilih diam kemudian masuk ke kamarnya. Najma yang baru saja merebahkan tubuhnya merasa jika seharusnya dia di dalam kamar saja dari tadi karena lebih nyaman walau sedikit lebih panas.   “Kak Najma….” suara yang riang itu seketika menyapa indra pendengaran Najma yang tengah menikmati suasana kamarnya.   “Bisa enggak kalau masuk tu jangan ngagetin,” teriak Najma kesal.   “Lia enggak ngagetin kok.”   “Ya itu menurut kamu, sekarang kamu mau apa?” tanya Najma.   “Tadikan Kakak bilang mau main,” jawab Liana dengan senyum yang mengembang dengaan lebarnya.   “Kamu dateng kecepetan, ini bahkan belum jam satu.”   “Tapi Lia udah mau ketemu Kak Najma.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD