“Ada tanggapan, ide, atau saran dari Anggi dan Rena?” Pak Boediono mengangkat sedikit lengannya, seakan mempersilakanku untuk mengucap sepatah dua patah kata di acara perpisahan sekolah. Aku hendak aku membuka mulut untuk menanggapi. “Rena ini memiliki kemampuan khusus, sama dengan Maria dan Lenka.” Sang Wapres malah memotong ucapanku. Padahal barusan dia mempersilakanku untuk berbicara. Dan pertanyaan itu juga datang dari dirinya. “Jadi saya meminta bantuannya untuk membantu tim Kemensup,” lanjut Pak Boediono tak sopan. Sambil menahan jengkel, pandanganku kemudian menoleh ke sebelah kanan, lebih tepatnya menatap Gicchi. Seingatku Gicchi, Kakek Ivan, dan Pak Boediono berada di ruang panik selama serangan berlangsung. Lantas dari mana mereka tahu tentang kemampuan khusus Rena? “Ah,

