Hari ini Kiara akan mati.
Tidak… kalian tidak salah baca. Ini adalah kenyataannya.
Semuanya berawal dari pagi di kota baru yang terasa berbeda—lebih bising, lebih cepat, dan tentu saja… lebih asing.
Kiara berdiri di depan gedung tinggi berlapis kaca, jemarinya mencengkeram tali tas sedikit lebih erat dari seharusnya. Pantulan dirinya terlihat samar di permukaan kaca—rapi, profesional, dan… berusaha terlihat baik-baik saja.
“Nama saya Kiara, sekretaris baru Bapak.”
“Nama saya Kiara, sekretaris baru Bapak.”
“Nama saya Kiara, sekretaris baru Bapak.”
Kalimat itu sudah tak terhitung berapa kali ia ulang di dalam kepala.
Jujur saja, hari pertama bekerja selalu membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Padahal ia bukan lagi pemula. Dua tahun pengalaman sebagai sekretaris di perusahaan kecil seharusnya cukup membuatnya percaya diri.
Namun ini berbeda.
Byfood—perusahaan manufaktur makanan dan minuman yang sedang mendominasi pasar—jelas bukan tempat yang bisa dianggap remeh.
“Ayo, Kiara. Kamu pasti bisa.”
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Gugup tidak akan menyelesaikan apa pun.
Hari pertamanya… dimulai sekarang.
...
“Kiara, ya?”
Mendengar namanya dipanggil, Kiara langsung menoleh. Seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan senyum hangat. “Saya dari HR. Tante kamu sudah banyak cerita.”
Kiara membalas senyum itu sopan. “Iya, Bu. Terima kasih sudah membantu prosesnya.”
Ia sedikit merasa malu. Meskipun tetap mengikuti proses seleksi seperti kandidat lain, tidak bisa dipungkiri bahwa rekomendasi dari tantenya cukup membantu hingga ia bisa berada di posisi ini—menggantikan sang tante yang harus pindah ke luar negeri bersama suaminya.
“Direktur Marketing kita sudah menunggu. Kamu langsung ke ruangannya saja, ya.”
Menunggu?
Jantung Kiara berdegup sedikit lebih cepat.
Hari pertama, dan ia langsung bertemu atasan utamanya.
Bagus. Profesional. Tenang.
Setelah meyakinkan diri, Kiara mengangguk dan melangkah mengikuti arah yang ditunjukkan.
Pintu bertuliskan “Marketing Director” berdiri di ujung koridor. Langkah Kiara melambat. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Sesuatu yang tidak ia mengerti… tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Ia menggeleng pelan, ini hanya gugup.
Dengan satu tarikan napas panjang, Kiara mengetuk pintu itu.
“Masuk.”
Suara itu, datar, rendah, dan entah kenapa… terasa familiar.
Kiara membuka pintu.
Dan dalam satu detik, dunianya berhenti.
Wajah itu.
Manik mata gelap yang tampak sayu namun tajam, rahang tegas, dan hidung yang mancung—Kiara jelas mengenal wajah itu dengan sangat baik.
Pria itu duduk di balik meja kerjanya, mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Satu tangannya memegang lembaran kertas, sementara matanya perlahan terangkat menatap Kiara.
Tatapan mereka bertemu dan napas Kiara… terhenti.
Tidak, ini tidak mungkin.
Semua terlalu sama. Suara, wajah, bahkan cara menatapnya—semuanya identik dengan pria yang menghancurkan hatinya dua tahun lalu.
Ingatan lama itu menyeruak tanpa izin.
Masa kuliah. Tawa yang dulu terasa hangat. Bunga pertama yang ia terima. Rasa bahagia yang sempat ia yakini sebagai cinta.
Dan pengkhianatan… yang menghancurkan semuanya.
Apa semesta sedang mempermainkannya?
Mempertemukan kembali dengan mantan kekasihnya… dalam situasi seperti ini?
"Sudah menatapnya?"
Suara dingin itu menarik Kiara kembali ke kenyataan.
Ia tersentak.
Matanya masih menatap pria di depannya, seolah takut kalau ia berkedip, sosok itu akan berubah… atau justru semakin nyata.
“Sa—saya…”
Suara Kiara tercekat. Ini bukan dia.
Tidak.
Tatapannya berbeda. Dulu, tatapan itu selalu hangat. Menggoda. Penuh kehidupan.
Tapi yang ini…
Dingin. Tajam. Terukur.
Seperti tidak pernah mengenalnya.
Pria itu meletakkan kertas yang digenggamnya pelan di meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kalau sudah selesai, Perkenalkan diri kamu," ucapnya datar, "saya tidak punya banyak waktu." Tegasnya diakhir. Nada bicaranya tenang, tapi ada tekanan halus di dalamnya.
Kiara menelan ludah. Memaksa dirinya untuk kembali ke peran.
Profesional. Tenang. Tidak goyah.
“Saya Kiara,” katanya akhirnya, meski suaranya masih sedikit bergetar. “Sekretaris baru bapak.” Ucap Kiara yang akhirnya bisa mengeluarkan kalimat yang sudah ia latih sejak pagi buta.
Pria itu mengamatinya beberapa detik.
Lama.
Seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlihat.
“Kiara…” ulangnya pelan.
Sepanjang kesunyian itu Kiara juga menebak-nebak. Sampai kapan pria didepannya ini akan pura-pura tidak mengenalnya? Terlalu malu karena berselingkuh dimasa lalu? Atau karena merasa angkuh karena dia adalah atasan Kiara? Apapun itu Kiara tidak menyukainya. Perperangan ini hanya akan membuahkan dua hasil.
Kematian Kiara, atau... dia.
"Baiklah, saya harap kamu bisa segera menyesuaikan ritme kerja saya. Saya benci seseorang yang lelet dan ceroboh." Ujarnya memberi wejangan setelah banyak menimbang. "Jika tak ingin dipecat, saya harap kamu berhati-hati." Tambahnya lagi membuat darah di kepala Kiara mendidih.
Ini namanya mengejek terang-terangan. Kiara tahu bahwa saat masa kuliah dia terkenal ceroboh, tapi dua tahun sudah cukup banyak merubahnya. Dia bukan lagi gadis manja yang duduk dibangku kuliah, dia sudah sepenuhnya menjadi wanita dewasa yang penuh wibawa.
Mantan sialan.
Berbanding terbalik dengan isi hati, Kiara melemparkan senyuman yang ramah sekali. "Baik bapak, akan saya ingat." Ucapnya dengan nada yang lebih tenang menutupi perasaan yang campur aduk.
Setelah itu obrolan berlalu dengan cukup baik, walau sesekali Kiara gagal fokus karena lagi-lagi wajah itu membangkitkan kenangan masa lalu. Setalah membahas ini dan itu terkait pekerjaan dan jadwal, Kiara pamit ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang baru saja mereka bahas.
"Tunggu."
Suara itu mencegat kepergiannya. Kiara menoleh, "ada tambahan lagi, pak?" Tanya Kiara memastikan.
Entah kenapa pria itu tampak sedikit ragu, "saya hanya ingin memastikan. Apa sebelumnya kita saling kenal?"
Tubuh Kiara membeku. Apa pria ini ingin membuat Kiara mengakui hubungan mereka dimasa lalu terlebih dahulu? Jangan harap!
"Tidak." Jawab Kiara singkat dan agak sedikit ketus. Menurut Kiara, jika ingin pura-pura tidak kenal maka lakukan sampai akhir. Apa maksudnya bertanya begitu! Kiara semakin membenci pria yang duduk didepannya saat ini.
Namun sepersekian detik setelahnya Kiara kembali sadar. Bahwa status mereka saat ini adalah bos dan sekretaris. "Maksud saya, sebagai sekretaris tentu saja saya sudah banyak mendengar tentang bapak. Tapi... jika kita saling mengenal secara pribadi, tentu saja tidak, pak." Jelasnya dengan cepat tak ingin kehilangan pekerjaan dihari pertama.
Pria itu bangun dari duduknya. Langkahnya pelan, namun suara pantulan dari sepatu pantofel itu menyebar di ruangan.
Napas Kiara sesak. Jantungnya berdegup semakin kencang. Jarak ini... terlalu dekat.
"Jika memang begitu..." ucap pria itu perlahan sembari sedikit menunduk, menyamakan tingginya dengan Kiara yang sedikit lebih pendek. "Berhenti menatap saya seolah saya adalah pria b******n. Saya bahkan tidak mengenal kamu."
Gawat! Apa Kiara ketahuan?