2. Bukan Dia?

1008 Words
Langkah Kiara terasa lebih cepat dari biasanya. Kiara yakin, jika di depan sana adalah garis finish dari lomba lari maka ia adalah pemenangnya. Kiara kembali melirik pada pintu ruang Direktur Marketing yang baru saja tertutup. Jantungnya berdetak tak karuan dengan napas yang bahkan belum sepenuhnya kembali normal. "Saya bahkan tidak mengenal kamu." Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Datar, tegas dan tanpa ragu. Seolah-olah... kenangan berpacaran selama tiga tahun sirna begitu saja dari ingatan pria itu. Kiara berhenti di tengah koridor, satu tangannya refleks menekan d**a. "Gila... " gumamnya pelan. Ini jelas tidak masuk akal. Wajah bahkan suaranyapun sama. Selain itu... cara pria itu menatap tidak ada bedanya. Kalau itu bukan Govin... lalu siapa? "Kiara?" Suara seseorang membuatnya menoleh. Wanita HR tadi kembali menghampirinya. "Kamu gapapa? Mukamu pucat." Kiara tersenyum tipis mendengarnya, berusaha terlihat baik-baik saja. "Gapapa buk, masih adaptasi." Jawabnya sembari tersenyum kikuk. "Wajar, hari pertama memang biasanya begitu." Kiara mengangguk, meski pikirannya masih kacau. "Pak Govan, menurut kamu orangnya gimana?" Tanya wanita itu lagi, seolah penasaran. Govan? Bukannya Govin, tapi Govan? "Maksud ibuk, pak Govin?" Ujar Kiara memastikan bahwa yang salah disini bukanlah dirinya. Wanita HR itu tampak bingung. "Kok Govin sih? Govan, Govan Hardana." Jawabnya dengan yakin memperbaiki kesalahan Kiara. Jadi nama dia sekarang Govan? Dia mengganti namanya? Untuk Apa? Kiara sungguh berkecamuk di dalam batinnya. Wajah itu adalah milik dari pria yang pernah ia cintai selama tiga tahun, Kiara tak mungkin lupa. Tapi kenapa pria itu mengganti namanya? Tujuannya apa? Lalu aneh sekali, bukannya mengganti seluruh namanya, pria itu hanya mengganti satu huruf saja. Kiara sungguh tidak mengerti. "Kiara?" Kiara tersentak, ia lupa bahwa wanita ini sebelumnya tengah bertanya kepadanya. "Profesional," jawabnya singkat. Ini satu-satunya kata aman yang terpikirkan oleh Kiara saat ini. Meja kerja Kiara berada tidak jauh dari ruang direktur. Rapi, minimalis, dan sudah dipersiapkan dengan baik—bahkan ada beberapa berkas yang sudah menunggunya. Kiara duduk perlahan, tangannya masih dingin. Ia menatap kosong ke layar komputer, tapi pikirannya kembali melayang. Govin Hardana. Nama itu muncul begitu saja. Dua tahun lalu, nama itu adalah segalanya bagi Kiara. Dan hari ini... nama itu kembali menghantuinya. Tanpa sadar, Kiara membuka pencarian di internet. Jarinya bergerak cepat, mengetik sesuatu yang bahkan ia sendiri ragu. Govan Hardana. Enter. Beberapa hasil langsung muncul. Profil perusahaan, artikel bisnis, foto-foto formal, semuanya terpampang jelas di layar. Kiara menelan ludah. Dia bersumpah... itu sungguh dia—pria yang berpacaran dengannya dua tahun yang lalu. Wajah itu adalah milik mantan kekasihnya, tidak ada keraguan lagi. Kiara mengklik bagian profil dari pria itu. Govan Hardana—Marketing Director Byfood. Matanya bergerak cepat membaca. Latar belakang pendidikan... luar negeri. Riwayat kerja... bersih, rapi, dan profesional. Ini jelas Lucu. Luar negeri apanya?! Mereka berkuliah di universitas yang sama! Apa pria ini mengarang semua profilnya? Bukannya mendapatkan jawaban Kiara malah semakin kebingungan saat ini. Kembar? Kata itu seketika muncul. Namun Kiara langsung menggeleng menepis kemungkinan tersebut. Selama tiga tahun berpacaran bersama Govin, bukan sekali dua kali Kiara bertemu dengan keluarga pria itu. Kiara bahkan pernah ikut liburan bersama keluarga mereka. Hanya ada mama Govin dan ayah tirinya, tak ada saudara kembar... tak ada pria bernama Govan. "Kenapa kamu kelihatan seperti menyelidiki kasus kriminal?" Kiara tersentak. Seorang karyawan wanita berdiri di samping mejanya sambil tersenyum penasaran. "Eh... ga, kok," Kiara buru-buru menutup layar. "Tenang aja, aku ga akan lapor ke siapa-siapa," goda wanita itu. "Aku Rima, dari tim marketing." Ujarnya lagi memperkenalkan diri. "Kiara," balas Kiara singkat sambil tersenyum kaku. Rima melirik ke arah ruang direktur, lalu kembali ke Kiara. "Udah ketemu Pak Govan?" Kiara diam sebentar. "Udah." "Dan?" Kiara menghela napas pelan. "Dingin," jawabnya yang kali ini jujur. Kiara pikir tak ada salahnya juga mengungkapkan isi hatinya kepada karyawan lain. Rima langsung tertawa kecil. "Itu sih semua orang juga tahu." Ujarnya disela tawa. "Memang dia selalu seperti itu?" Tanya Kiara mencoba menggali informasi. "Hmm... " Rima berpikir sejenak. "Dia tegas, perfeksionis, dan ga suka basa-basi. Tapi anehnya, dia juga ga pernah benar-benar salah. Mangkanya, karyawan disini ga bisa bener-bener binci sama pak direktur kalau lagi marah-marah." Kiara menyeringit. "Dan satu lagi," lanjut Rima. "Dia tipe yang ga gampang dekat sama orang." Entah kenapa, kalimat itu terasa... aneh. Karena Govin yang Kiara kenal dulu justru kebalikannya. Hangat, mudah bergaul, dan penuh perhatian. Jadi... mereka benar-benar berbeda? ... "Kiara." Suara itu, sekali lagi berhasil membuat tubuh Kiara menegang. Ia menoleh cepat, dan di sana... berdiri pria itu. Govan Hardana. Hawa ruangan itu seketika terasa dingin, seolah kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat udara di seketar berubah. "Masuk," ucapnya singkat, mengarah ke ruangannya. Tanpa menunggu jawaban atau bahkan respon dari Kiara. Kiara berdiri perlahan. Langkahnya terasa berat. Tidak, dia tidak takut kepada Govan. Hanya saja... ia masih belum siap jika harus menghadapi wajah itu lagi. Begitu pintu tertutup, suasana kembali sunyi. Govan berdiri di dekat meja, tidak langsung duduk. "Mulai hari ini, kamu yang pegang jadwal saya," katanya langsung ke inti. "Semua meeting, revisi, dan koordinasi harus lewat kamu." Kiara mengangguk. "Baik, pak." Jawabnya lemah. Ia berusaha fokus. Profesional. Jangan lihat wajahnya terlalu lama. Jangan ingat masa lalu. "Dan satu lagi," lanjut Govan yang membuat Kiara refleks mendongak. Tatapan mereka bertemu lagi. Sial! "Kalau ada sesuatu yang mengganggu pekerjaann kamu," ucapnya pelan, "selesaikan secepatnya." Nada suaranya datar. Tapi entah kenapa, Kiara merasa sedang... disindir. Atau mungkin... diuji? "Tidak ada, Pak," jawab Kiara cepat. Atau mungkin... terlalu cepat? Hening. Govan menatapnya beberapa detik. Lalu... "Bagus." Ujarnya singkat. Entah kenapa ada kesedihan kecil yang timbul di hati Kiara. Seolah paham, tertanya... pria ini memang tidak mau membahas mesalalu mereka. Haruskah Kiara mengikuti permainannya saja? Pura-pura tidak kenal? Kiara pikir dia juga bisa melakukannya. Kiara menggenggam tangannya pelan. Ia harus yakin, dia bukan lagi Govin yang Kiara kenal. Dia bukan pria yang menghancurkannya. Dia bukan masa lalunya. Tapi... Kenapa setiap kali mereka berhadapan, hatinya tetap bereaksi seolah-olah itu adalah orang yang sama? Di luar ruangan itu, hidup terus berjalan, waktu terus berputar. Tapi bagi Kiara, hari pertamanya belum benar-benar dimulai, karena pertanyaan itu masih menggantung di kepalanya. Govan Hardana... Bukan dia. Atau justru... dia yang berusaha menjadi orang lain?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD