Hujan dan Kalimat Terakhir
Suara hujan mengguyur lembut di luar jendela, menabuh atap rumah seperti melodi pengantar senja. Irama air yang jatuh dari langit itu berpadu dengan aroma tanah basah yang menembus celah-celah kaca, menciptakan nuansa teduh di dalam ruang keluarga yang hangat dan nyaman.
Zelia duduk bersandar malas di ujung sofa, tubuhnya setengah tenggelam di antara tumpukan bantal. Kaki kanannya berselonjoran di atas bantal duduk yang warnanya sudah mulai pudar, sementara tangan kirinya memeluk guling kecil bermotif garis-garis. Di tangannya, layar ponsel terus menyala, memantulkan cahaya biru ke wajahnya yang tenang. Sesekali alisnya berkerut, entah karena pesan chat yang membingungkan, atau video yang terlalu panjang dan membosankan.
Di sisi lain sofa, Juina duduk bersila dengan santai dengan pajama yang menghangatkan tubuhnya. Sebuah novel bersampul cokelat matte bertengger manis di pangkuannya, sebuah novel yang membuatnya ketagihan akhir-akhir ini. Halaman terakhir baru saja dilewatinya. Jari telunjuknya mengelus pelan sudut halaman, seolah berat untuk membiarkan cerita itu benar-benar berakhir. Matanya menatap lurus ke kalimat terakhir yang tertulis di lembar penutup, bibirnya sedikit terbuka, membeku dalam diam.
Lalu, dengan suara yang pelan dan sedikit patah, Juina bergumam, “Apa mereka berakhir seperti ini?”
Suara itu memecah ketenangan sore, menyusup ke telinga Zelia dan mengalihkan fokusnya dari dunia digital.
“Bisakah Kakak baca novelnya dalam diam?” keluh Zelia tanpa menoleh, suaranya datar namun cukup jelas menunjukkan gangguan.
“Tidak bisa, Zel,” balas Juina sambil menggeliat resah. Ia mendesah panjang, menutup lembaran novelnya. “Ending-nya bukan gayaku.” Nada suaranya penuh frustrasi, seolah dia baru saja kehilangan sesuatu yang penting.
Zelia hanya menghela napas, lalu kembali menunduk pada ponselnya. Jarinya menggulir layar tanpa minat yang utuh.
Beberapa detik hening berlalu, hanya diisi suara rintik hujan yang semakin deras. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama.
“Zel,” panggil Juina lagi, kali ini suaranya lebih lembut, namun ada ketegasan yang tak biasa. Seperti nada yang disengaja untuk menarik perhatian.
Zelia tak langsung menoleh. “Hmm?” sahutnya asal, jari-jarinya masih sibuk di layar, tak berniat mengangkat wajah.
Juina memiringkan tubuh, menyandarkan sikunya ke lengan sofa, dan menatap Zelia dengan senyum kecil penuh siasat. Lalu, dengan intonasi dramatis dan penekanan yang disengaja, ia membaca kalimat terakhir dari novelnya:
“Waktu itu... kita terlalu sibuk melindungi diri sendiri sampai lupa memahami. Mungkin memang bukan salah siapa-siapa.”
Zelia mengerjap. Tangannya berhenti bergerak. Ia perlahan menengadah, menatap kakaknya dengan ekspresi bingung dan geli.
“Apaan sih?” tanyanya sambil meringis kecil. “Drama banget sih, Kak.”
Juina hanya tersenyum, lalu bersandar kembali ke sandaran sofa, memeluk novelnya erat-erat seolah buku itu adalah selimut musim dingin. Ia memandang ke langit-langit dengan tatapan kosong yang penuh makna. “Kakak tidak tahu kenapa, tapi kalimat ending-nya tuh... jleb banget ya? Kayak... kita tuh kadang terlalu sibuk mikirin diri sendiri sampai lupa kalau orang lain juga berjuang.”
Zelia memutar bola matanya dan mencibir halus, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. “Aku tidak mengerti maksud Kakak.”
“Kamu tidak akan mengerti,” balas Juina cepat, kali ini dengan nada sok tahu dan ekspresi seperti tokoh wanita dewasa dalam drama romansa. Dahinya bertumpu pada lengan yang menopang kepala, dan ia menggeleng pelan, dramatis sekali, seakan sedang memikirkan masa lalu yang menyakitkan.
Zelia memandangi kakaknya seperti sedang menonton film yang tidak masuk akal. “Kakak terlalu tenggelam dalam dunia fiksi. Berhentilah baca novel.” Ucapnya datar diikuti desahan mencibir.
“Bukan itu intinya, Dek,” balas Juina cepat, tapi suaranya menggantung, seperti tak tahu harus menjelaskan mulai dari mana dan seperti apa.
Zelia akhirnya bangkit dari posisi rebahannya. Ia duduk bersila di sebelah kakaknya, menatap wajah Juina yang penuh konflik batin. “Jadi maksud Kakak apa?”
Juina mendesah pelan. “Ending-nya terlalu menggantung. Bukan happy ending yang Kakak suka.”
“Ending-nya mereka pacaran, menikah, atau bagaimana?” Zelia akhirnya mulai tertarik, meski nadanya masih terdengar skeptis.
Juina menggeleng perlahan. “Setelah semua pasang surut yang mereka lewati, mereka memilih jalan masing-masing. Berpisah? Dengan baik-baik? Apa itu masuk akal?”
Zelia memiringkan kepala, mencoba memahami. “Bukannya itu bagus?”
“Bagus sih. Tapi mereka terlalu... euh.” Juina menggerakkan tangannya di udara, mencari kata yang tak kunjung datang. Frustrasi tergambar jelas di wajahnya.
“Layangkan saja protes ke penulisnya. Kalau kakak tidak suka dengan endingnya?” celetuk Zelia sambil melirik sampul novel kakaknya, ia tak tahu harus menanggapi bagaimana lagi.
Juina melirik sekilas, senyumnya berubah menjadi jahil. “Haruskah?” ujarnya sambil menjentik pelan lengan Zelia.
Zelia menghela napas pendek dan menyandarkan kepala ke punggung sofa. Hujan di luar makin deras, seperti ingin menekankan jeda panjang yang menggantung di antara kata-kata terakhir novel itu.
Juina kembali bersuara. Kali ini nadanya lebih dalam, lebih jujur. “Kakak tidak akan bisa seperti itu. Mana ada yang namanya berpisah dengan senyuman...”
“Tapi kan Kakak bilang, mereka punya alasan masing-masing,” Zelia mencoba mengimbangi.
“Terdengar indah, tapi kenyataannya... mereka cuma tidak tahu cara mengekspresikan perasaan mereka dengan jujur.” Protes Juina, matanya menatap kosong ke dinding, seakan melihat pantulan diri tokoh utama dalam dirinya sendiri.
Zelia semakin bingung dengan ucapan Juina. "Mungkin saja mereka sudah lelah dengan hubungan mereka. Menyerah juga pilihan kak. Bukan keputusasaan."
Juina menatap adiknya sambil mengerjap pelan, tidak percaya dengan ucapan adiknya. "Sejak kapan kamu tumbuh sebesar ini, Dek. Dimana kamu belajar kalimat seperti itu?"
“Entahlah.” Zelia mengangkat bahunya, malas berdebat.
Juina melirik, lalu tertawa kecil. “Kamu punya seseorang yang kamu suka yah!"
"Tidak ada." balas Zelia datar.
"Kakak harap kamu tidak berakhir seperti hubungan mereka.” sambung Juina yang meletakkan novelnya di meja.
Zelia menatap kakaknya lama, tak tahu harus tertawa atau kesal. “Kakak sehat, kan?”
Tapi Zelia tidak tahu, tidak akan pernah tahu, bahwa kalimat penutup novel itu seakan sedang meramal dirinya sendiri.
“Waktu itu... kita terlalu sibuk melindungi diri sendiri sampai lupa memahami. Mungkin memang bukan salah siapa-siapa.”
Kalimat itu akan menjadi bagian dari masa depan Zelia Hekereni, tiga tahun dari sekarang.
Seseorang akan datang, singgah, dan pergi tanpa pamit. Dia pergi bukan dengan tangis, bukan pula dengan amarah, hanya menggantung di ambang waktu dan tenggelam dalam diam.
Seseorang yang akan menjadi bagian dari cerita remajanya. Seseorang yang hanya tinggal sebagai nama di memori... dan sebuah kalimat yang tak pernah benar-benar selesai.
Kemudian hadir tanpa peringatan. Menyapa Zelia dengan senyuman yang sama saat pertemuan pertama mereka. Zelia tidak tahu harus bagaimana. Haruskah dia gembira bertemu kembali dengannya atau marah karena kemunculannya yang tiba-tiba.