bc

Revan: Melawan Mafia

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
family
HE
friends to lovers
arrogant
badboy
kickass heroine
mafia
gangster
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
no-couple
serious
mystery
scary
bold
campus
city
highschool
childhood crush
war
like
intro-logo
Blurb

Di siang hari, Revan Novandra hanyalah mahasiswa biasa yang sering datang ke kelas dengan wajah lebam dan tubuh penuh luka. Namun saat malam jatuh, ia adalah pembalap jalanan berdarah dingin dan petarung underground fightclub yang bertaruh nyawa demi menyembunyikan rahasia kelam kehidupannya.

Ketenangan Revan mulai terusik ketika sebuah tugas kampus memaksa dirinya berpasangan dengan Clara Anindya—mahasiswi anggun pemilik BMW M3 yang perlahan melihat menembus benteng dingin Revan. Di balik bekas-bekas luka di jemari dan wajah Revan, Clara menemukan kepedulian yang jujur.

Namun, masa lalu tak pernah benar-benar mati. Vipera & CO.—sindikat mafia berdarah dingin dari masa lalu keluarga Revan—kembali melancarkan teror. Ketika armada SUV hitam musuh mulai mengintai dan menjadikan Clara sebagai target umpan, Revan tahu melarikan diri bukanlah pilihan.

Bersama aliansi superbike dan deretan mobil high-performance, Revan harus mengendalikan jalanan malam. Di antara raungan mesin V8 Mercedes-AMG C63, dentuman pertarungan tangan kosong yang menguras fisik, dan bahaya yang mengintai di setiap tikungan, Revan bertarung demi satu janji, membawa pulang wanita yang di cintanya hidup-hidup.

chap-preview
Free preview
Memar Di Balik Ruang Kelas
Suara angin dari pendingin ruangan yang pelan sama sekali tidak mampu mengusir hawa pengap yang menyelimuti Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pukul sepuluh pagi, matahari mulai membakar aspal area parkiran luar dengan terik yang menyengat. Di dalam ruang kuliah lantai dua, suasana terasa hening. Hanya terdengar suara ketukan spidol di atas papan tulis putih, bercampur dengan suara dosen paruh baya yang sedang menerangkan teori manajemen risiko di depan kelas. Di barisan paling belakang, tepat di sudut remang dekat jendela yang berdebu, Revan duduk menyandar kaku. Punggungnya yang tegap tertempel pada sandaran kursi yang cukup empuk, mencoba mencari posisi yang paling tidak menyakitkan bagi tubuhnya yang lebam. Setiap kali menarik nafas agak dalam, ada rasa nyeri yang menjalar dari tulang rusuk bagian kiri, bekas hantaman keras siku lawan bertarungnya di arena fightclub tadi malam. Revan menurunkan sedikit pandangannya, menatap jemari tangannya sendiri yang bertumpu di atas paha. Sendi-sendi jari tangannya bengkak, memerah, dan di beberapa bagian kulitnya terkelupas memperlihatkan luka yang masih belum kering. Luka-luka itu dipaksa bersembunyi di balik lengan hoodie hitamnya yang terlihat agak kusam. Wajahnya yang tampan dengan garis rahang yang tegas kini dihiasi lebam kebiruan di pelipis kiri, sementara sudut bibirnya robek kecil, menyisakan bekas darah kering yang belum sempat ia bersihkan dengan sempurna. Ia mengusap wajahnya kasar, meringis kecil saat ujung jarinya tak sengaja menekan memar di pipinya. Kelopak matanya terasa berat. Napasnya terengah halus, menyisakan rasa lelah luar biasa yang menjalar hingga ke tulang. Baginya, kehidupan perkuliahan ini hanyalah panggung sandiwara tempat ia berpura-pura menjadi manusia normal. Di luar ruangan ber-AC ini, dunia Revan adalah jalanan malam yang dingin, raungan mesin mobil, dan deretan taruhan untuk menyambung hidup. Tak jauh dari posisi Revan, tepat di barisan ketiga dari depan, Clara duduk dengan tegak. Rambut panjangnya yang halus tergerai rapi, memantulkan cahaya lampu ruangan. Ia mengenakan pakaian kasual yang simpel namun terlihat elegan, sebuah kardigan rajut berwarna krem yang membalut kemeja putih bersihnya. Clara adalah tipikal mahasiswi teladan yang jarang sekali membuat masalah. Langkah kakinya selalu teratur, catatannya selalu paling rapi, dan kehidupannya tampak begitu tenang tanpa gangguan. Namun, fokus Clara pagi itu terganggu. Sejak awal jam kuliah dimulai, gerakan-gerakan kecil dari pojok belakang kelas terus mencuri perhatiannya. Clara berkali-kali melirik pelan lewat sudut matanya. Ia memperhatikan Revan, teman sekelasnya yang jarang sekali berbicara, sangat individualis, dan terkenal sering membolos. Bagi Clara dan kebanyakan mahasiswa lainnya, Revan adalah sosok misterius yang terkesan dingin, arogan, dan berbahaya untuk didekati. Namun pagi ini, Clara tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia melihat jelas bagaimana Revan meringis pelan setiap kali mencoba memperbaiki posisi duduknya. Clara memperhatikan bekas goresan panjang di leher cowo itu, serta lebam biru di pelipisnya yang sangat kontras dengan kulit wajahnya. 'Kenapa dia selalu dateng dengan luka baru?' batin Clara, jemarinya memutar-mutar pena di atas buku catatan. Ada rasa risih sekaligus iba yang aneh menyusup kedalam hatinya. Clara tahu betapa kerasnya rumor yang beredar tentang Revan di kampus, bahwa cowo itu sering terlibat tawuran atau ikut geng motor yang berbahaya. Tapi melihat Revan yang duduk sendirian menahan sakit di sudut ruangan tanpa ada satu pun teman yang peduli, membuat Clara merasa ada sesuatu yang jauh lebih kelam dari sekadar kenakalan remaja biasa. Suara bel panjang berbunyi di koridor, menandakan jam kuliah pertama telah usai. Suasana kelas yang tadinya hening seketika pecah oleh suara gesekan kaki kursi dan riuh perbincangan mahasiswa yang mulai merapikan tas. Dosen di depan merapikan berkas-berkasnya lalu melangkah keluar ruangan. "Oke guys, jangan lupa minggu depan ada tugas kelompok!" teriak salah satu mahasiswa di depan pintu. Revan tidak mempedulikan keramaian itu. Ia menghela napas panjang, mencoba berdiri perlahan dari kursinya. Nyeri di rusuknya kembali menyengat, membuat gerakannya agak tertahan. Ia menyampirkan tas punggung hitamnya di salah satu bahu, lalu berjalan pelan menundukkan kepala menyusuri lorong di antara deretan meja, ingin cepat keluar dari tempat itu. Saat Revan berjalan melewati meja barisan ketiga, langkahnya terhenti sejenak ketika sebuah buku catatan tebal tak sengaja tersenggol oleh tasnya dan jatuh meluncur ke lantai. Klak! Revan menghentikan langkahnya. Ia menunduk dan melihat buku catatan bersampul merah muda itu tergeletak di dekat sepatunya. Clara yang sedang merapikan alat tulisnya langsung menoleh, terkejut. "Ah, maaf..." suara Revan terdengar berat dan agak serak, khas suara orang yang kelelahan hebat. Revan membungkuk pelan untuk mengambil buku itu. Namun saat tangannya terulur, lengan hoodienya terangkat agak tinggi. Clara yang berdiri tepat di samping mejanya refleks menunduk untuk mengambil bukunya sendiri. Di saat itulah, mata Clara terpaku pada pemandangan di depan matanya. Sendi-sendi jari tangan Revan yang tampak bengkak kebiruan, dengan balutan perban kusam yang mulai terlepas di pergelangan tangannya. Di bawah perban itu, terlihat sayatan tipis yang masih memerah. Clara mematung seketika. Napasnya tertahan. Jarak yang sangat dekat itu membuatnya bisa melihat jelas betapa parahnya bekas-bekas luka di tubuh cowo itu. Bahkan samar-samar tercium wangi lembut antiseptik bercampur aroma parfum yang khas dari hoodie tebal yang dikenakan Revan. Revan menyerahkan buku catatan itu kepada Clara. Matanya yang tajam dan sedikit sayu menatap langsung ke dalam bola mata Clara selama satu detik. Tatapan mata Revan begitu dingin, namun menyimpan kelelahan emosional yang sangat dalam. "Ini buku lu," ucap Revan singkat tanpa nada. Clara menerima buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tangannya tak sengaja menyentuh ujung jari Revan yang dingin dan kasar. "E-eh, iya... makasih, Van," jawab Clara dengan suara pelan yang hampir tertahan di tenggorokan. Revan tidak menjawab lagi. Ia hanya mengangguk tipis, menarik kembali tangannya untuk menyembunyikannya ke dalam saku hoodie, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruang kelas dengan kebiasaan jalannya yang terlihat sedikit pincang. Clara berdiri mematung di samping mejanya, matanya terus memandang punggung Revan yang semakin menjauh melewati koridor kampus yang mulai ramai. Clara memegang buku catatannya erat-erat di d**a. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, bukan karena terpesona, melainkan karena rasa cemas dan penasaran yang tiba-tiba membakar pikirannya. Ada rahasia besar yang disembunyikan oleh cowo itu di balik luka-lukanya. Dan entah mengapa, Clara merasa kehidupan tenang yang selama ini ia jalani, perlahan mulai tersentuh oleh bayang-bayang kelam yang dibawa oleh sosok bernama Revan. Revan melangkah keluar dari gedung fakultas, menembus terik matahari siang yang menyengat kulit. Ia menyusuri jalan setapak menuju area parkiran luar yang terletak di belakang gedung laboratorium tua, tempat yang jarang dilewati mahasiswa lain. Langkah kakinya terhenti di samping sebuah mobil sport coupe berwarna hitam satin matte yang terparkir menempati sudut paling sepi. Mercedes AMG C63 Coupe milik Revan berdiri gagah di bawah naungan pohon tua. Bodi mobil bergaya muscular itu tampak misterius namun menyimpan beberapa goresan halus di bagian bumper depan, sisa aksi kejar-kejaran dan manuver berbahaya di jalanan malam tempo hari. Mobil ini adalah satu-satunya peninggalan paling berharga yang berhasil diselamatkan dan dibangun kembali oleh ayahnya, sekaligus senjata utama Revan saat harus bertahan hidup di jalanan. Revan menempelkan jarinya ke sensor pintu, lalu masuk ke dalam kabin mobil berbalut kulit alcantara yang menghembuskan aroma mewah khas kendaraan eropa. Ia menutup pintu rapat-rapat, mengisolasi dirinya dari dunia luar. Brak! Ia menyandarkan kepalanya ke headrest jok balapnya, memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa sakit di tubuhnya seolah meluap begitu ia berada di ruangan pribadinya ini. Revan menghembuskan napas berat. Tangannya meraba ponsel di dalam saku hoodie, lalu menekan satu tombol panggilan cepat. Hanya butuh dua kali nada panggil sebelum suara khas mesin komputer dan ketukan keyboard terdengar dari seberang telepon. "Yo, van. Lu udah kelar kelas?" suara Dion, sahabatnya yang memegang kendali sistem teknologi dan peretasan aliansi jalanan mereka, terdengar langsung di speaker mobil. "Udah," jawab Revan pendek, suaranya parau. "Gimana situasi rumah?" Hening sejenak di ujung telepon. Suara ketukan keyboard Dion mendadak melambat. "Bokap lu baru aja kontak gue lewat chat khusus. Dia bilang... ada dua mobil asing tanpa plat nomor yang sempet jalan pelan di depan garasi rumah lu tadi pagi. Kaca mereka gelap banget, Van." Mata Revan seketika terbuka lebar. Aura dingin dan berbahaya langsung terpancar dari sorot matanya. "Mereka makin berani mendekat," bisik Revan, jemarinya mencengkeram erat lingkar kemudi Mercedes AMG-nya hingga kuku-kuku jarinya memutih. "Anak-anak motor udah gua suruh standby di radius dua kilometer dari rumah lu," lanjut Dion dengan nada serius. "Raka juga udah siapin Supra Mk5 sama R34 di bengkel tua kalo sewaktu-waktu kita butuh pengalihan rute. Tapi Van... lu harus ati-ati. Gue dapet bocoran dari sinyal radio, sindikat yang nyari bokap lu itu bukan cuma penjahat biasa. Orang-orang ini profesional. Mereka punya armada SUV tebal dan mereka ngga main-main." "Gue tau," potong Revan tegas. Ia menekan tombol engine start-stop. Seketika raungan gemuruh khas mesin V8 dari kap Mercedes AMG C63 itu menggelegar di parkiran yang sepi, suara getarannya membelah udara siang yang panas. "Jaga bokap sama nyokap gue. Gue balik sekarang." "Sip. Stay safe, Bro. Kalo ada apa-apa di jalan, langsung pencet tombol darurat di panel dasbor. Sistem gua bakal langsung kunci CCTV lalu lintas buat bikin rute kabur lu bersih," pesan Dion sebelum memutus sambungan telepon. Revan melempar ponselnya ke jok samping. Ia mengusap kasar bekas darah di sudut bibirnya, lalu menatap lurus ke arah jalanan luar kampus melalui kaca depan. Bayangan wajah ayahnya yang penuh rasa cemas, ibunya yang selalu menangis ketakutan setiap kali ada suara ketukan pintu di malam hari, serta ingatan akan dosa masa lalu keluarga yang tidak pernah ia perbuat terus berputar menghantui pikirannya. Ia menginjak pedal gas. Ban belakang Mercedes AMG itu berdecit keras membakar aspal parkiran, meninggalkan jejak asap tipis saat mobil sport hitam itu hendak keluar dari parkiran, menghadapi badai teror yang kini resmi dimulai.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.5K
bc

Orang Ketiga

read
36.8K
bc

NIKAH??? BOHONGAN???!!!

read
3.3K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
17.5K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
4.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.3K
bc

Babysitter Canduku

read
20.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook